FEBRI IRIDAN


 

Karya sastra tidak jatuh begitu saja dari langit, banyak faktor yang membuat karya sastra itu memiliki nilai estetika tersendiri yang di bangun dan di buat oleh penulis nya, salah satu faktor penting ialah kehidupan masyarakat sekitar yang di alami penulis dan ideologi penulis itu sendiri, sehingga karya sastra yang kali ini berbentuk novel tersebut bukan saja hiburan semata namun memiliki nilai-nilai tersembunyi yang diharapkan sang penulis di pahami secara tersirat oleh pembaca.

Membandingkan 2 karya sastra tentulah bukan perkara mudah, karna seperti yang sudah di katakan sebelumnya di paragraf awal, setiap karya sastra memiliki keunikan tersendiri,sehingga membandingkan karya sastra yang dalam hal ini “gadis pantai “ karya pram dan “perempuan di titik nol” karya el sadawi tentu cukup rumit dan sulit tentunya.

Gadis pantai seperti karya karya pram lain nya tentu sarat dengan aspek sosial budaya yang nyata pada zaman nya,dimana ia mengangkat patriarki “kebablasan” masyarakat pada zaman tersebut yang seolah membuat masyarakat lupa akan kebaikan dan khodrat  adat dan budaya masyarakat, yang sesungguhnya berniat baik demi menjaga adat ketimuran yang telah mendarah daging di masyarakat indonesia pada zaman dimana gadis pantai itu berseting.

Pada zaman itu wanita seperti “tidak” dalam kehidupan hanya menjadi pelengkap kehidupan , hanya menuruti keinginan orang tua tanpa memiliki kuasa atas diri nya tersendiri, belum lagi pembagian kelas hasil dari patriarki yang telah mengakar membuat tokoh “gadis pantai” seolah seperti mayat hidup yang takdir dan jalan hidup nya di tentukan oleh orang lain di sekitarnya

 

Bagaimana gadis pantai yang berasal dari rakyat biasa di nikahi oleh bendoro hanya sebagai percobaan dan pelampiasan dari sang bendoro , lalu bagaimana pada zaman itu para bangsawan dengan serta merta mengatur dan mengambil segala sesuatu dari rakyat biasa berkat sistem feodalisme yang telah lama terjadi.

Dan pram seperti kebanyakan karya karya nya berusaha “menyentil” orang orang atau masyarakat umum terlebih pembaca  lewat jalan hidup tokoh aku dan alur cerita serta seluruh unsur pendukung dalam novel gadis pantai tersebut

Perempuan di titik nol meskipun berasal dari negara yang berbeda dan pengarang yang berbeda sesungguhnya mengangkat hal yang sama yaitu ketidakadilan gender berbalut sistem patriarki kebablasan yang sudah mendarah daging di masyarakat yang dalam kasus perempuan di titik nol adalah masyarakat arab

Meskipun tak serupa-serupa amat namun kedudukan wanita di masa saat novel perempuan di titik nol di buat mirip dengan keadaan dengan gadis pantai, wanita arab memiliki sedikit sekali hak di bandingkan laki laki,situasi yang saat ini mungkin juga belum banyak berubah, bahkan untuk sekedar keluar rumah dan menyetir mobil sekali pun wanita arab sangat sulit melakukannya , karna terdapat berbagai macam larangan dan syarat tertentu

Semua itu terungkapkan oleh tokoh firdaus yang memang sedari awal sudah bernasib buruk karna di tinggal ke dua orang tua nya meninggal , lalu harus menghadapi kenyataan bahwa dia sebagai perempuan di kalangan masyarakat arab pada umumnya harus mengikuti perintah dan kehendak laki laki di sekitarnya dalam hal ini paman yang memang telah merewatnya

Alur kisah dan kehidupan firdaus yang kelam dan akhirnya berakhir teragis sebenarnya menggambarkan perjuangan wanita arab secara umum demi menuntuk hak dan kesetaraan gender dalam kehidupan nyata sehari hari, lewat sebuah kata kata terakhir dari tokoh firdaus yang berkata “ setiap orang harus mati ,saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu  kejahatan yang kau lakukan “ dari kata kata itu tersirat simbol perlawanan yang ingin di utarakan penulis lewat tokoh firdaus untuk kehidupan masyarakat di dunia arab pada khususnya dan dunia pada umumnya

Bagaimana kata kata itu meninggalkan kesan akan sebuah kebebasan , sebuah keinginan untuk menentukan diri sendiri dan simbol bahwa mereka kau wanita ingin mempunya tanggung jawab dan hak kendali atas hidupnya sendiri dan bukan bergantung akan orang lain terkhusus laki-laki .

Kedua penulis baik itu pramoedya ananta toer dan nawel el – sadawi pada akhirnya sama sama membuat buku gadis pantai dan perempuan di titik nol karna ingin mengkritik “patriarki kebablasan” yang terjadi di masyarakat jawa pada zaman tersebut atau perbedaan hak dan status sosial yang amat jauh di masyarakat arab pada zaman itu dan mungkin kini pun tau jauh berbeda

 

Kesadaran akan kesamaan gender yang sering di utarakan oleh kartini atau penggiat hak asasi manusia pada zaman ini mungkin tergambarkan oleh kedua novel ini entah itu karna pram dan nawal adalah seorang penganut feminisme karna kedua buku ini , ah menurut saya tidak juga, semua kembali ke penilaian masing masing karna  sekali lagi kita tak bisa menilai sesuatu dari sudut sempit melaikan sedut yang jauh lebih besar.

Karya sastra yang jika di liat sekilas hanya hiburan semata ternyata menyimpan sebuah hal yang besar , karna menurut saya  sastra adalah ilmu abstrak tentang nilai sebuah kehidupan berbalut fiksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s