Ibnu Hafizh Baihaqi

           


            Sebuah karya sastra, adalah sebuah seni dimana penikmat karya sastra disebut pembaca. Dalam sebuah karya sastra, dipastikan terdapat konflik yang menjadikan karya itu lebih menarik ketika dibaca. Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas konflik dalam dua novel yang menurut saya sangat luar biasa yaitu Gadis Pantai dan Perempuan di Titik Nol.

Terlebih dahulu saya akan memaparkan mengenai sebuah prosa berjudul Gadis Pantai. Berkisah tentang seorang gadis yang dalam novel ini disebut sebagai gadis pantai. Terlahir sebagai anak pesisir, sudah pasti membuat kehidupannya tidak berkecukupan. Akhirnya dia dinikahkan oleh Bendoro atau priyai yang bernama Agus Rahmat. Sungguh sial yang dialami oleh gadis pantai, karena dia hanya dijadikan “mainan” sex oleh sang Boendoro. Segala tekanan berkecamuk di dalam hati sang Gadis Pantai.

Setelah sekian lama, sang Gadis pantai hamil dan memiliki keturunan. Namun sungguh disayangkan, anak yang dilahirkannya adalah perempuan. Bertentangan dengan keinginan san Bendoro yang menginginkan anak lelaki sebagi penerusnya. Ketika sang Bendoro menolak anak itu, muncullah perlawanan dari sang Gadis Pantai. Dia melakukan perlawanan semata-mata karena telah lama memendam kegetiran. Sang Gadis Pantai pun pergi dan kembali ke desa.

Perlawanan yang dilakukan oleh Gadis Pantai berbeda dengan yang dilakukan oleh tokoh dalam novel Perempuan di Titik Nol. Tokoh utama yang bernama Firdaus, seorang wanita penghibur, menyuguhkan perlawanan yang berbeda ketimbang sang Gadis pantai.

Diceritakan, Firdaus adalah seorang perempuan yang mengalami penindasan dalam bentuk seks oleh kehidupan disekitarnya. Ketika masih kecil, dia sempat di gilir oleh teman-temannya. Tak ketinggalan, anggota keluarganya yaitu pamannya pun ikut menancapkan gairah ke tubuh Firdaus. Bahkan, polisi pun menyetubuhinya. Sempat pula dia dijadikan pelacur tanpa bayaran sampai ketika dia kabur dan dibawa pulang lelaki kaya, itulah pertama kali firdaus melayani seorang lelaki kemudian diberi upah.

Saya berpendapat bahwa memang, ketika pertama kali dibayar, Firdaus menyadari potensinya sebagai pelacur. Maka diapun menekuni pekerjaan itu sampai suatu ketika, ketika batinnya sudah sangat lelah dan membutuhkan pelampiasan, dia membunuh seorang germo. Itulah bentuk perlawanan yang dilakukan oleh Firdaus, walaupun di akhir cerita, Firdaus harus dihukum mati karena pembunuhan yang dilakukannya itu.

Kedua novel tersebut, menyajikan sesuatu yang tabu pada masa itu, yaitu perempuan yang melawan kehendak laki-laki. Seperti dikutip dalam lagu ciptaan Ismail Marzuki “ Wanita di jajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu”. Pada zaman itu, wanita adalah symbol kecantikan, keeleganan, juga symbol kepatuhan dimana wanita harus menurut dengan apa yang dikatakan lelaki. Namun, dua novel ini menyajikan perlawanan yang dilakukan oleh wanita, pada masa itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s