Nita Oktaviya


Berbicara mengenai karya sastra yang ada di dunia, kerap kali kita jumpai hal-hal serupa yang terjadi di negara yang satu maupun dengan negara lainnya. Terutama di negara-negara berkembang, pastilah mengalami situasi yang sama, pengalaman yang sama, dan tantangan yang sama. Sebab keberadaan karya sastra tidak lain sebagai cerminan masyarakat yang ada di suatu tempat. Apalagi jika sebuah karya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, tentunya menjadi konsumsi banyak orang sehingga mampu diintrepretasi sedemikian rupa.

Karya-karya yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa tentunya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembacanya sehingga dapat menjangkau ke berbagai negara, tentunya bacaan tersebut menjadi bacaan yang memiliki nilai, serta sudah menimbulkan reaksi di antara pembaca. Reaksi tersebut bisa saja berupa kegeraman, kegelisahan, atau melahirkan sebuah pandangan.

Berkenaan dengan hal tersebut, karya sastra yang telah di terjemahkan ke berbagai bahasa salah satunya ialah novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Karya yang ditulis oleh sastrawan Indonesia ini terbit pada tahun 1987 bersamaan dengan rezim Orde Baru, sempat dilarang terbit karena berkenaan dengan nama pengarangnya, Pramoedya, itu sendiri. Namun, novel ini telah di terjemahkan ke dalam bahasa Belanda dengan judul Het Meisje van het Stran, dan bahasa Inggris dengan judul The Girl from the Coast. Terlepas darimana karya tersebut di terjemahkan, novel ini berisikan cerita mengenai seorang perempuan yang diilhami dari kehidupan keluarga sang penulis, tepatnya nenek Pramodeya. Cerita yang ditulis dengan mengambil tema mengenai Perkawinan Paksa ini ditulis sesuai dengan konteks zaman yang terjadi di sekitar tahun 1980-an dengan mengambil latar belakang kehidupan seorang anak gadis dari keluarga nelayan yang kemudian dijodohkan dengan keluarga priyayi. Alur yang digunakan tentunya sangat pelik, alur maju dengan berbagai permasalahan perbedaan kelas sosial menjadikan novel ini begitu kentara memperbincangkan pengaruh dari adanya kawin paksa.

Karya (hampir) serupa juga pernah diterbitkan oleh sastrawan dari Mesir, Nawal El Saadawi, dengan novel yang berjudul Perempuan di Titik Nol. Novel yang berasal dari negera Arab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia dalam upaya memperkenalkan sastra arab di negara-negara berkembang. Dalam penerbitannya, novel ini sudah di cetak untuk yang kesebelas kalinya di Indonesia dengan artian bahwa novel ini dapat menemukan relevansinya dengan negara ini. Novel yang ditulis oleh seorang penulis feminis, menceritakan pengalamannya ketika ia berkunjung ke penjara saat menjenguk suaminya yang menjadi tahanan politik di penjara Qanatir. Saat itu ia bertemu dengan seorang dokter di penjara wanita Qanatir sehingga ia tak dapat menahan hasratnya untuk berbagi cerita. Sang dokter kemudian menceritakan mengenai seorang narapidana perempuan  yang sedang menunggu hukuman mati akibat membunuh laki-laki. Hati Nawal tersentak ketika mendengar bahwa ada seorang wanita membunuh. Kemudian lahirlah novel Perempuan di Titik Nol yang mengisahkan si narapidana, Firdaus, yang dihukum mati akibat membunuh seorang laki-laki. Novel ini mengisahkan seluruh perjalanan kehidupan Firdaus yang sejak kecil sudah mengenal seks, lalu dipaksa kawin dengan seorang laki-laki tua, sampai pada lika-likunya selalu menemui bermacam-macam laki-laki yang ‘menindihi’ tubuhnya. Firdaus pun mengambil kesimpulan bahwa menjadi pelacur jauh lebih baik daripada seorang suci yang sesat. Sampai pada akhirnya, ia dipenjara akibat membunuh seorang germo yang tidak mau bersetubuh dengannya.

Kedua karya tersebut menjadi asyik kiranya ketika diperbincangkan isinya, sebab keduanya membicarakan hal yang pelik, yaitu mengenai perempuan. Perempuan yang dibahas dalam keduanya bukanlah kedudukannya yang lumrah diantara laki-laki, namun perlakuan sosial yang membuat keberadaan perempuan menjadi suatu masalah. Berangkat dari penciptaannya, keduanya memang sama-sama dilahirkan dari pengalaman pengarangnya, meskipun bukan pengalaman yang dialaminya sendiri melainkan pengalaman orang terdekat di dalam hidup sang pengarang.

Pramoedya menceritakan tokoh utamanya yang bernama Gadis Pantai menggunakan sudut penceritaaan perempuan di Indonesia yang berstatus sosial sebagai anak nelayan, yang kemudian menjadi istri bendoro. Keadaan ini lantas membuat Gadis Pantai menjadi disegani, meskipun perkawinannya karena paksaan orangtuanya. Gadis Pantai dipinang dengan menggunakan sebilah keris sebagai simbolik bagi priyayi untuk menikahi seorang gadis yang kastanya lebih rendah. Pada saat itu, keris bukan menjadi unsur magis sebab keberadaannya merupakan suatu perwakilan sang bendoro untuk mempelai istrinya tersebut. Gadis Pantai yang pada saat itu masih berusia empat belas tahun tidak tahu peran sesungguhnya sebagai seorang istri, sampai dua tahun setelahnya ia diusir dari rumah Bendoro karena melahirkan seorang putri yang tentunya tidak dapat dijadikan pewaris tahta. Novel Gadis Pantai begitu memperlihatkan secara jelas tentang bagaimana status sosial menjadi point penting, sebab hal tersebut memberi pengaruh sejauh mana Gadis Pantai mendapat perlakuan, baik di dalam rumah Bendoro maupun di kampungnya sendiri.

Lain halnya dengan novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Shadawi. Novel Perempuan di Titik Nol menceritakan perempuan dalam merebut hak-haknya, lebih penting lagi untuk mendapat perubahan nilai dan sikap kaum lelaki. Dalam penceritaannya, Nawal membuat novel yang merupakan kritik sosial yang menyentil negara Mesir dalam menangani kepincangan-kepincangan antara laki-laki dan perempuan. Novel ini diangap kritikan yang pedas, karena mendapat reaksi dari berbagai pembaca perempuan di Mesir, tentang bagaimana pembacanya mulai merasakan hak-hak serupa sebagai perempuan.

Pada keduanya, meskipun novel yang diciptakan berasal dari dua negara yang berbeda, tetapi dapat pula ditemukan relevansinya sebab sama-sama menceritakan kondisi sosial yang ada di negara berkembang. Novel Perempuan di Titik Nol yang dikarang oleh Nawal El Shadaawi sendiri mempunyai relevansinya di Indonesia, yakni laki-laki Indonesia hendaknya mengambil pelajaran dari tokoh Firdaus agar menjalankan hak sebagai kelelakiannya sebagai suatu tindakan otoriter, dalam artian menjadikan perempuan sebagai ‘makanan’ dalam status perkawinan saja. Lebih dari itu, semoga saja laki-laki dan perempuan di Indonesia mampu terbuka dalam melihat kedudukan perempuan di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s