Bismo Pratomo Y.

 

Wanita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang lemah lembut dan harus kita lindungi. Tapi banyak dari mereka yang tidak mendapat perlakuan yang layak dan tertindas. Mereka dilukai dan hanya dimanfaatkan sebagai pemuas nafsu belaka atau mungkin alat pembuat keturunan. Setelah mereka tidak berguna lagi, mereka pun dibuang begitu saja. Dalam karya sastra berikut ini juga menceritakan tentang wanita-wanita yang tertindas karena ketidakberdayaannya.

Karya sastra yang pertama yaitu novel “Gadis Pantai” yang ditulis oleh Pramoedya ananta. Novel “Gadis Pantai” ini bercerita tentang seorang perempuan yang dipanggil Gadis Pantai. Seorang gadis yang berusia 14 tahun yang memiliki kulit langsat, bertubuh kecil, matanya agak sipit dan hidung ala kadarnya. Gadis yang berkepribadian ceria dan bebas. Hari-harinya dia lewatkan dengan membantu orang tuanya yang nelayan, bermain dengan ombak dan laut di Kampung Nelayan. Namun, semua berubah saat ia harus menikah dengan Bendoro, seorang priyayi dari kota. Gadis Pantai merasa sedih karena harus meninggalkan kampung nelayan yang sangat dicintainya, Rembang. Demi memenuhi keinginan orang tuanya, Gadis Pantai bersedia. Bapak dan Ibu Gadis Pantai mengantar sampai ke kota menggunakan dokar. Sekarang, dia yang selama ini dipanggil dengan sebutan Gadis Pantai kini dipanggil menjadi Mas Nganten. Dalam sekejap, derajatnya naik dimata tetangganya. Gadis Pantai yang kini menikah dengan seorang priyayi dari kota harus membiasakan diri dengan kehidupan di sana. Dia tidak memeliki seorang teman pun di sana, hanya seorang bujang tua yang selalu menemaninya dan mengajarkan bagaimana menjadi seorang wanita besar di rumah itu. Singkat cerita setelah banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya selama 2 tahun tinggal di rumah itu, akhirnya Gadis Pantai mengandung.

Selama mengandung, Bendoro sangat jarang menemuinya. Padahal, Gadis Pantai sangat merindukannya. Setelah bayinya lahir pun Bendoro dapat dihitung berapa kali menjenguknya. Gadis Pantai tak tahu mengapa demikian. Bayinya perempuan, padahal Gadis Pantai mengharapkan bahwa bayinya adalah laki-laki. Bayinya amat mirip dengannya. Matanya sipit, hidung ala kadarnya juga.Berselang beberapa bulan. Bapak Gadis Pantai memenuhi undangan dari Bendoro. Bapaknya sangat senang karena dia punya cucu dan dia juga baru tahu bahwa Gadis Pantai telah mengandung dan melahirkan, sama seperti istrinya di rumah belum tahu karena tidak ada yang memberi kabar.

Setelah bapak Gadis Pantai menemui Bendoro, bapaknya langsung memeluk cucunya. Gadis PantaiĀ  yang terheran-heran langsung kaget dan sedih mengetahui dirinya sudah dicerai oleh Bendoro. Saat itu juga Gadis Pantai harus meninggalkan rumah serta anaknya. Gadis Pantai mengulur waktu dengan menyusui anaknya untuk yang terakhir kali. Gadis Pantai menyadari bahwa inilah akhir dari pengabdiannya pada Bendoro, pada suaminya. Gadis Pantai mempersembahkan anaknya pada Bendoro, namun Bendoro hanya menyuruhnya untuk meletakkan anaknya di ranjang. Gadis Pantai kaget, seperti itukah tindakan seorang ayah. Gadis Pantai menolak membawa perhiasan dan pesangonnya, Gadis Pantai bersihkeras untuk membawa turut anaknya untuk dia rawat, namun dilarang oleh Bendoronya. Bendoro mengusirnya dengan paksa.

Gadis Pantai tak kuasa melihat Ibunya serta tetangga yang begitu bangga dengan statusnya. Gadis Pantai meminta izin pada Bapaknya untuk ke selatan, ke Blora menemui wanita tua yang pernah menjadi bujangnya dulu. Gadis Pantai meminta uang sekadarnya pada Bapak. Setelah itu Gadis Pantai meninggalkan kampung nelayan untuk selamanya.

Karya sastra yang kedua adalah novel berjudul “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal el Saadawi. Novel ini bercerita tentang seorang perempuan yang bernama Firdaus yang memiliki kehidupan yang berat dan penuh dengan permasalahan. Ia mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh ayahnya. Setelah orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama pamannya. Pamannya sering melakukan pelecehan terhadapnya. Dan setelah pamannya menikah, ia terpaksa menikah dengan Syekh Makhmoud, pria tua yang kaya dan sangat pelit. Ia terpaksa menikah dengannya karena istri dari pamannya tidak menyukai kehadirannya di rumah pamannya itu dan dia terpaksa menerimanya karena ia merasa berhutang Budi pada pamannya. Karena tidak tahan dengan kehidupan bersama Syekh Makhmoud, akhirnya Firdaus lari dari sana. Hingga ia pun tiba di suatu tempat dan bertemu dengan seorang pria bernama Bayoumi. Awalnya ia kira Bayoumi adalah orang baik, tapi ternyata tidak. Bayoumi yang membawa Firdaus ke rumahnya sering melakukan hubungan seks dengannya, bahkan teman-teman Bayoumi juga memaksa Firdaus untuk melakukan hubungan seks dengan mereka.

Firdaus pun lalu kabur untuk yang kedua kalinya dan bertemu seorang perempuan cantik yang baik kepadanya. Tanpa sadar ia ternyata telah dijadikan pelacur oleh perempuan itu. Pada saat itulah ia sadar bahwa ia adalah pelacur yang memiliki harga tinggi. Ia pun pergi dari sana dan menjadi pelacur yang mandiri. Ia pun sempat sukses dengan profesi kepelacurannya itu. Ia juga sempat menjadi pegawai kantoran. Saat itu ia juga sempat jatuh Cinta dengan seorang pria, namun karena patah hati ia pun kembali menekuni profesi pelacurnya. Ia pernah berurusan dengan seorang germo yang pada akhirnya membuatnya masuk penjara karena membunuh germo itu. Sebenarnya pembunuhan itu terjadi secara tidak disengaja, saat itu Firdaus dan germo itu berkelahi, dan saat germo itu ingin mengambil pisau secara cepat Firdaus lebih dulu mengambilnya dan menusuk germo itu lebih dulu.

Akibat ulahnya itu, Firdaus pun di vonis hukuman mati. Sebetulanya dia mendapat grasi yang telah diusulkan oleh seorang dokter penjaranya kepada presiden, tapi dia malah menolaknya. Menurut Firdaus, vonis itu justru merupakan satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati.

Dari kedua novel itu bisa kita lihat bahwa kedua perempuan itu mengalami penindasan-penindasan dalam hidupnya. Hanya saja mungkin bedanya Firdaus sempat melakukan beberapa perlawanan dan menaikkan derajatnya dalam status masyarakat dengan usahanya sendiri menjadi seorang pelacur yang memiliki bayaran tinggi. Namun pada intinya tetap sama saja, mereka mengalami penindasan dan mereka tidak dapat berbuat banyak untuk merubahnya. Gadis Pantai yang ditindas oleh penindasan budaya dan Firdaus yang ditindas oleh penindasan pendidikan, penindasan moral, dan penindasan hukum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s