Nopriandi Saputra

 


Karya sastra merupakan buah hasil pemikiran dan imajinasi dari seseorang. Salah satu karya sastra yang memakan banyak waktu untuk penyelesaiannya ialah novel. Kebanyakan  pengarang membuat sebuah novel tidak akan selesai pada jangka waktu yang dekat, ada yang mencapai tahunan untuk membuat sebuah novel, bahkan untuk membuat sebuah novel seorang pengarang bisa sampai harus berada ditempat tidak biasa supaya semua pemikiran dan imajinasinya ikut keluar. Salah satunya ialah novel yang saya akan bahas ini.

Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dan Perempuan di Titik Nol karya Nawal al Saadawi ialah novel yang menceritakan tentang seorang perempuan yang mendapatkan penindasan akibat kesenjangan sosial dimasanya. Hanya saja sudut pandang cerita pasti berbeda, karena kedua penulis novel ini berbeda jenis kelamin dan latar belakang.

Novel Gadis Pantai merupakan novel yang diciptakan Pram ketika ia menjadi tahanan di pulau Buru. Novel ini membahas tentang seorang anak yang masih berusia 14 tahun yang disebut Gadis Pantai. Ia merupakan anak dari kampung nelayan yang memiliki kondisi ekonomi yang sulit.

Ada seorang Bendoro dari kota yang akan mengawininnyasecara paksa. Setelah menikah dengan Bendoro, Gadis Pantai banyak bertanya dan membandingkan kondisi kota tempat ia tinggal sekarang dengan desanya dahulu, menurutnya masyarakat kota sering menyia-nyiakan orang yang yang memiliki strata sosial lebih rendah. Kaum-kaum dengan strata sosial yang lebih rendah semuannya akan dirampas, begitu juga dengan Bendoro, ia hanya menjadikan Gadis Pantai sebagai seorang Selir yang jika sudah punya anak akan dibuang menjadi gadis kampung lagi.

Gadis Pantai menyandang gelar Mas Nganten. Istilah ini merupakan istilah bagi perempuan yang melayani kebutuhan seks para priyayi sampai mereka tersebut memutuskan untuk menikah dengan perempuan dari golongan yang sederajat.

Tidak jauh beda dengan novel Gadis Pantai. Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal ini bertema tentang penindasan akibat kesenjangan sosial. Nawal merupakan penulis yang memperjuangkan hak-hak wanita, salah satu contohnya dapat tercermin didalam novel Perempuan di Titik Nol ini. Novel ini merupakan cerita nyata karena penulis langsung terjun kepenjara bertemu dengan seorang wanita yang dijatuhi hukuman gantung karena membunuh seorang germo.

Firdaus yang merupakan anak dari petani miskin yang tinggal bersama orang tuanya sering mendapatkan tindakan kekerasan sejak kecil oleh ayahnya, bukan hanya Firdaus yang mendapatkan kekerasan, melainkan ibunya juga sering diberikan perlakukaan seperti itu. Setelah orang tuanya meninggal dunia Firdaus tinggal bersama pamannya. Keadaan yang tidak jauh berbeda seperti ia tinggal bersama orang tuanya itu terjadi lagi ketika ia tinggal dengan pamannya. Ia disekolahkan oleh pamannya sampai SMP. Disana ia sering mendapatkan tindak asusila dari pamannya dan teman-temannya.

Setelah ia tinggal dirumah pamannya, ia dijodohkan oleh seorang laki-laki tua bernama Syekh Mahmoud. Dia adalah orang yang kaya, tetapi mimiliki bisul yang besar dan banyak diwajahnya. Pada awalnya rumah tangga Firdaus berjalan baik-baik saja, namun lama-lama suaminya melakukan kekerasan fisik kepadanya, Firdaus pun kembali pulang kerumah pamannya, tetapi ia balik kerumah suaminya lagi dan mendapat kekerasan fisik lagi dari suaminya. Akhirnya Firdaus melarikan diri dari rumah suaminya dengan membawa ijazah SD dan SMP-nya, dan berharap mendapkan pekerjaan.

Didalam perjalanannya disuatu kafe ia bertemu dengan Bayoumi dan tinggal dirumahnya. Pada awalnya Bayoumi sangat baik dan perhatian kepada Firdaus, tetapi sama seperti apa yang terjadi dirumah paman dan suaminya, Bayoumi melakukan tindak kekerasan dan asusila kepada Firdaus, bahkan ia membawa teman-temanya untuk menikmati tubuh Firdaus. Lalu ia melarikan diri dari rumah itu.

Setelah semua yang terjadi, Firdaus memutuskan menjadi pelacur. Memiliki wajah yang cantik dan badan yang bagus tidak sering ia mendapatkan bayaran yang mahal dari tamu-tamu lelakinya.

Firdaus sempat tobat menjadi seorang pelancur, karena ia mendapatkan pekerjaan dikantor. Selang berapa lama, ia kembali lagi menjadi seorang pelacur, dikarenakan ia patah hati kepada teman kerjanya dikantor.

Setelah ia menjadi pelacur lagi ia membunuh seorang germo dengan cara menusuknya berkali-kali dan menyerahkan dirinya ke polisi.Setelah ia masuk penjara Ia merasa baru mendapatkan kebebasan, karena dengan ini tidak ada yang mengusik hidupnya lagi.

KesamaannovelGadis Pantai dan Perempuan di Titik Nol ialah sama-sama menceritakan tentang hilangnya moralitasseorang perempuan miskin yang ingin mendapatkan haknya sebagai seorang perempuan,bahkanmereka menjadi orangyang tertindas jika hidup dengan strata sosial yang rendah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s