Kevin Ramadhan Bagaskara


Bumi telah menjadi tempat dimana makhluk-makhluk tuhan bermukim. Yang paling utama adalah manusia. Peradaban manusia diawali dengan kehadiran sosok manusia yang bernama Adam dan Hawa dan pada saat itu pun manusia digolongkan menjadi dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Kehadiran laki-laki-dan perempuan telah menjadi perbedaan yang krusial dalam eksistensi manusia. Dalam kisahnya juga diceritakan bagaimana anak adam berseteru memperebutkan saudara perempuannya sendiri yang berujung pada kematian. Kisah tersebut mencerminkan bahwa laki-laki mempunyai kuasayang lebih kuat dibandingkan perempuan. Perempuan menjadi objek dari lahirnya kekuatan laki-laki. Akan tetapi, keistimewaan perempuan dibalik berkuasanya laki-laki yaitu mereka dapat memanipulasi kekuatan yang dilimpahkan kepada perempuan. Mereka dapat menjadikan laki-laki menjadi boneka untuk perempuan Hasrat laki-laki yang dalam terhadap perempuan memang telah menjadi hak veto untuk kaum laki-laki yang pasti berlanjut sampai mereka menurunkannya pada keturunan selanjutnya. Hidup manusia terpisah oleh gender baik dari tingkah laku, budaya, peranan, maupun tanggung jawab mereka terhadap masyarakat.

Pramoedya Ananta Toer seorang maestro sastra yang menjadi salah satu sastrais angkatan lama. Karyanyatelah berhasil dikenal oleh semua kalangan kala itu dan dirinya pernah menerima penghargaan Nobel atas karya-karyanya setelah dia wafat. Pram sebutannya, dalam proses keberhasilannya dia mengalami keluar-masuk penjara karena dicurigai karya-karyanya yang menginspirasi masyrakat berbau komunisme, Pram dianggap sebagai pemberontak. Sebagian besar karyanya juga menggambarkan realita masyarakat kala itu yaitu para priyayi dan perempuan. Salah satu novel yang mengangkat tentang perempuan adalah Gadis Pantai. Menceritakan seorang perempuan biasa yang tingggal di sebuah perkampungan nelayan. Gadis Pantai dipaksa menikah dengan seorang bangasawan, Bendoro. Akibat dari pernikahan yanng dipaksakan itu menimbulkan konflik yang merugikan orang yang kalah. Meskipun pada mulanya ada keraguan, Gadis Pantai dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan kaum priyayi. Ia mulai menaruh harapan pada suaminya si Bendoro. Puncak ketidakharmonisan Gadis Pantai dengan Bendoro adalah diceraikannya Gadis Pantai oleh Bendoro ketika bayinya berusia tiga setengah bulan. Gadis Pantai terkejut mendengar keterangan ayahnya bahwa ia telah diceraikan. Ia ingin membawa anaknya pulang ke kampung bersamanya, tetapi dilarang oleh Bendoro. Hati Gadis Pantai sangat sedih dan malu. Ia mengambil keputusan untuk tidak pulang ke kampung, tetapi akan pergi ke Blora, ke tempat bujang perempuan yang terusir.

Berbeda dengan Nawal El Sadaawi yang menggambarkan kisah perempuan dari sudut pandangnya sendiri. Nawal adalah seorang penulis feminis yang berasal dari Mesir. Keberhasilannya sama baiknya dengan Pramoedya Ananta Toer. Salah satu novelnya yang mendunia adalah Perempuan Di Titik Nol . Sebuah novel yang mengangkat cerita tentang seorang perempuan yang bernama Firdaus. Sejak kecil hingga remaja firdaus mengalami hidup yang penuh kegetiran. Dia sempat dinikahkan dengan saudagar tua penyakitan yang suka menyiksa dirinya. Pertemuan Firdaus dengan laki-laki menyebabkan dia untuk berusaha berada diatas derajat laki-laki. Tetapi harus diakhiri dengan kekecewaan yang membawanya ke dunia pelacuran. Firdaus mempunyai segalanyasampai suatu waktu ada seorang laki-laki yang menawarinya pekerjaan, tetapi dia menolak dan laki-laki tersebut mencoba menyakiti Firdaus. Firdaus terlebih dahulu menikam laki-laki tersebut dan kabur.dia bertemu lagi dengan seorang pangeran Arab dan menceritakan dirinya telah membunuh seorang laki-laki. Dia dilaporkan ke polisi dan dia divonis hukuman mati. Firdaus menolak grasi untuk dirinya, dikarenakan dia sudah muak berurusan dengan laki-laki sampai dia mati.

 

Kedua Novel tersebut (Gadis Pantai dan Perempuan di Titik Nol) mempunyai fokus atau perhatian yang sama berideologikan feminisme. Perjuangan perempuan untuk bertahan hidup yang pada akhirnya terbuang atau mati. Perlakuan yang tidak manusiawi terhadap perempuan sangat terlihat jelas pada kedua novel ini. Tuntutan atas persamaan gender diperjuangkan oleh tokoh Gadis Pantai dan Firdaus. Mereka menentang adanya kaum laki-laki. Menikah hanyalah status yang dirangkai untuk mmempertahankan kekuasaan laki-laki dan memandang rendah perempuan, karena tugas perempuan hanyalah melayani suami dan mengurus rumah tangga tanpa upah dan tanpa mengeluh sedikitpun. Yang mebedakan antara tokoh Gadis Pantai dengan Firdaus adalah tingkat kekejaman. Firdaus mengalami banyak tindak kekerasan bahkan kejam dari laki-laki sedangkan Gadis Pantai hanya mengalami konfik harga diri dan tidak mengalami hidup seironi Firdaus. Kedua novel tersebut dibangun atas latar budaya yang sejajar dengan zamannya. sehingga membuat para penulis seperti Pramoedya Ananta Toer dan Nawal El Saadawi bangkit untuk menyadarkan perempuan dari penindasan yang terjadi kala itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s