Mia Karnia Sari


Sastra dan perempuan adalah dua hal yang senantiasa beriringan, indah dan saling menggenapkan. Seperti hal mutlak mengawinkan sastra dengan perempuan. Terbukti dari tumpukan-tumpukan novel di seluruh dunia yang mengizinkan perempuan menjadi sosok yang banyak mendapat sorotan. Bukan sesuatu yang mudah dipungkiri bila pada akhirnya para novelis memilih perempuan untuk dibingkai manis dalam lembar-lembar tulisannya. Perempuan dapat dikatakan sebagai hiasan mahamegah dalam sebuah novel. Meski tidak semua novel menuliskan kemegahan sosok perempuan. Hal tersebut bukan serta merta akan menurunkan derajat martabat perempuan dalam masyarakat, sebab tulisan-tulisan yang menyebut perempuan sebagai tokoh utama memiliki makna yang lebih mulia. Merepresentasikan kehidupan seorang perempuan hingga pembelaan terhadap hak-hak dan kemerdekaan perempuan, misalnya.

Mengulas seputar perempuan mengingatkan saya pada dua sosok perempuan dalam dua judul novel yang berbeda. Ialah novel “Gadis Pantai” yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan novel “Perempuan di Titik Nol” hasil tulisan Nawal El Sadawi. Gadis Pantai adalah novel yang mengisahkan tentang kerumitan seorang perempuan belia dalam menjalani kehidupannya sebagai perempuan yang hanya dijadikan sarana mencicipi sebuah perkawinan sebelum terselenggara perkawinan seutuhnya. Di latar belakangi oleh kemiskinan serta ketidakberdayaan perempuan Jawa yang begitu nyata tergambar. Tokoh perempuan belia berdarah Jawa ini telah dihadirkan oleh Pramoedya dengan begitu asli dan lekat dengan cita rasa kejawennya. Novel ini menggariskan hidup sosok perempuan belia dari golongan rakyat miskin yang dikawinkan dengan seorang lelaki dari golongan priyayi. Hidup dengan bersuamikan priyayi ternyata bukan soal bahagia saja nyatanya. Derita dan perihnya dibuang oleh suami sendiri adalah beban hidup yang menimpa Gadis Pantai. Latar belakang sosial tak pernah berhasil mengelabuhi perkawinan yang terjadi antara lelaki golongan priyayi dengan seorang Gadis Pantai. Hingga pada akhirnya keduanya saling lepas melepaskan ikatan yang sempat menyatukan mereka dalam nuansa perkawinan.

Ulasan mengenai perempuan yang kedua saya jumpai pada novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Sadawi. Memiliki latar timur tengah, novel ini ditulis Nawal dengan melibatkan sosok perempuan bernama Firdaus. Hari-hari yang dimiliki Firdaus nyaris mirip dengan yang terjadi pada sosok Gadis Pantai dalam novel karya Pramoedya. Penindasan menjadi warna kelabu dalam kisah hidup Firdaus. Kekejaman hidup terpapar jelas bila dilihat dari sudut seorang Firdaus dalam mengarungi besarnya gelombang  ketika berada di bahtera rumah tangga. Perbedaan kelas sosial antara Firdaus dengan suaminya turut menjadi penyumbang dalam perpecahan yang menimpa perkawinan antara keduanya. Pada kurun waktu yang terjadi kemudian, kelamnya penindasan yang dilakukan oleh suaminya sendiri, malah melahirkan kesadaran baru bagi Firdaus. Bahwa hidup bukan saja perihal mengejar tingkatan kelas sosial yang tinggi supaya memiliki kehidupan yang berharga, namun soal bagaimana cara kita memperlakukan kenyataan hidup dengan keberanian yang sungguh-sungguh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s