Agustiana Fajri


Berbicara tentang karya sastra memang tidak pernah membosankan. Karya sastra yang lahir bukan dari langit selalu menyuguhkan hal menarik untuk di tafsir, dalam kesempatan kali ini kita akan membandngkan dua karya sastra dari dua penulis yang berusaha mengangkat feminismi dalam karyanya tersebut.

Karya sastra yang mengangkat Kehidupan sosial selalu mengetuk hati pembacanya, karena setiap manusia pada dasarnya selalu ingin diperlakukan dengan baik. Karya sastra merupakan potret kehidupan yang mencoba di munculkan untuk diberitahukan bahwa masih ada hal yang menarik untuk dikaji yang mungkin selama ini belum ada penyelasian atau bahkan tidak di permasalahkan oleh pihak-pihak yang berwajib untuk menyelesaikan masalah tersebut. Maka dari itu tugas utama seorang sastrawan adalah menyampaikan kegundahan kepada kehalayak sehingga permasalahan yang di anggap universal dan menyusahkan sebagaian kalangan tersebut segera mendapatkan perhatian, walaupun dalam prosesnya pasti banyak rintangan yang harus dilalui untuk memunculkan permasalahan tersebut sehingga sampai pada tujuannya.

Dalam hal ini saya akan menyuguhkan dua karya sastra yang mengangkat permasalahan sosial yang lebih menitik beratkan pada kelas sosial. Pramodya Ananta Noor dalam Novelnya yang berjudul Gadis Pantai yang kurang lebihi menceritakan tentang seorang gadis yang meninggalkan kampung halamannya, sebuah kampung nelayan, karena harus pergi ke kota untuk tingga di rumah Bendoro. Gadis Pantai yang masih sangat gadis belum begitu memahami apa itu pernikahan, akan tetapi dia harus mengikuti kemauan orangtuanya yang tidak bisa menolak permintaan Bendoro yang saat itu sebagai seorang Bangswan. Ketika pernikahan berlangsung, Gadis Pantai hanya disandingkan dengan sembilan keris tanpa kehadiran Bendoro disampingnya. Singkat cerita, Gadis Pantai pun harus menyesuaikan kehidupan yang biasanya sebagai seorang anak nelayan yang miskin dengan kehidupan seadanya tiba-tiba harus tinggal di rumah Bendoro yang besar dan luas. Maka dari itu ada seorang bujang perempuan yang di tugaskan Bendoro untuk mengajari Gadis Pantai agar cepat beradaptasi dengan kehidupan mewah dan meninggalkan kebiasaan kampungnya tersebut. Setelah beberapa lama kemudian Gadis Pantai merasa tidak nyaman tinggal bersama Bendoro, begitu pun Bendoro yang menganggap pernikahannya dengan Gadis Pantai ini sebagai percobaan, maka tidak diperdulikannya pula ketika Gadis Pantai pergi ke kampung halamannya. Dalam perjalanan menuju kampung, Gadis Pantai merasa lepas, dunianya bertambah luas, tidak seperti di ruamah Bendoro. Pada akhirnya keputusan pun diterima ayah Gadis Pantai dari Bendoro, setelah datangnya surat dari Bendoro yang menyatakan bahwa Bendoro menceraikan Gadis Pantai. Gadis Pantai terkejut mendengar keterangan dari ayahnya bahwa ia telah diceraikan. Pada suatu hari Gadis Pantai pun datag ke rumah bendoro untuk  membwa anaknya pulang ke kampung bersamanya, tetapi dilarang oleh Bendoro. Hati Gadis Pantai sangat sedih dan malu. Ia mengambil keputusan untuk tidak pulang ke kampung, tetapi akan pergi ke Blora, ke tempat bujang perempuan yang terusir.

Sedangkan, Novel karya Nawal El-Saadawi yang berjudul “Perempuan Dititik Nol” menceritakan seorang wanita yang bernama Firdaus. Ayah seorang petani miskin yang buta huruf dan kasar. Firdaus sering membantu orang tuanya di ladang. Dari kecil Firdaus hidup dalam tekanan dan sudah mendapatkan perlakuan asusila dari temannya yang bernama Muhammadain dan pamannya. Setelah orang tuanya meninggal, Firdaus tinggal bersama pamannya di Kairo. Firdaus semakin mendapatkan tindak asusila dan pamannya. Disana Firdaus disekolahkan sampai SMP, Firdaus adalah anak yang pandai, dia mendapat peringkat ke-2 disekolahkan dan ke-7 di seluruh negeri. Untuk membalas budi pamannya, Firdaus menikah dengan seorang laki-laki yang bernama Syekh Mahmoud, dia seorang yang kaya, memiliki penyakit bisul yang berbau busuk dan dia sangat perhitungan. Awalnya rumah tangga Firdaus berjalan dengan baik, namun lama-lama kekerasan pun dilakukan oleh suaminya. Firdaus pernah melarikan diri ke rumah pamannya tapi tak lama ia kembali ke rumah suaminya lagi. Akan tetapi kekerasan tetap kembali terjadi, hingga pada akhirnya Firdaus memutuskan untuk meninggalkan rumah suaminya tersebut. Dengan mukan memar dan ijazah SD-SMP yang di bawanya Firdaus berharap menemukan pekerjaan yang baik. Pada suatu hari Firdaus bertemu dengan Bayoumi dan akhirnya tinggal serumah dengannya. Pada awalnya Bayoumin adalah seorang laki-laki yang baik, akan tetapi lama-kelamaan perilakunya sama seperti ayah dan suami Firdaus yang sering melakukan kekerasan dan berbuat asusila. Dalam kesulitan tersebut Firdaus bertemu dengan Sharifa seorang pelacur yang sangat cantik. Disinilah Firdaus mulai memasuki dunia pelacuran, dia melayani setiap tamu yang sudah dijadwalkan oleh Sharifa tanpa mendapatkan uang. Sampai pada suatu hari ada seorang Germo laki-laki yang meminta Firdaus menikahinya. Awalnya Firdaus enggan menikahi Germo tersebut namun dengan berat hati ia menyetujuinya. Karena Firdaus tidak menyukai keadaan saat itu, ia memutuskan untuk pergi, namun lelaki Germo itu sudah ada di depan pintu, percekcokanpun tak terhindarkan lagi, mereka saling beradu mulut. Karena merasa geram, lelaki Germo pun mengambil pisau yang ada di dalam kantungnya, tatapi Firdaus dengan cepat menangkis dan membalikan pisau itu kepada leher si Germo, lalu Firdaus meninggalkan tempat kejadian. Setelah kejadian itu Firdaus bertemu dengan pangeran Arab dan mereka berkencan, ketika itu Firdaus menceritakan bahwa dia telah membunh, tapi dia bukan penjahat, dia hanya membunuh penjahat. Karena pangeran arab tidak percaya, Firdaus menampar pipi pangeran Arab. Pangeran Arab pun sangat marah dan merasa terancam, hingga akhirnya polisi memasukan Firdaus ke penjara. Mereka menghukum Firdaus seumur hidup karena mereka takut jika Firdaus bebas semua kodok dan kehidupan mereka tidak akan aman. Sebenarnya Firdaus bisa bebas dengan meminta pengampunan ke Presiden namun Firdaus menolak dan berkata: “Jika saya keluar lagi dan memasuki kehidupan yang menjadi milikmu, saya tidak akan berhenti membunuh.” Akhirnya mereka memutuskan menghukum gantung Firdaus.

Dua karya sastra tersebut menyuguhkan permasalahan sosial yang sangat menarik, dimana kemerdekaan selalu menjadi milik kelas atas yang dalam hal ini adalah penguasa. Nawal El-Saadawi mengkritik pedas keadaan sosial pada masa itu, dimana perempuan yang minoritas pada daerah tersebut harus pasrah dan dipaksa mengalah dengan kekuasaan yang salah kaprah yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri tanpa pernah mempertimbangkan dan melihat masyarakat dibawahnya. Maka dari itu ketika Firdaus diberi kebebasan untuk mengajukan pengampunan kepada Presiden agar tidak mendapatkan hukuman seumur hidup, Firdaus memilih untuk menolak kebebasaan meminta pengampuanan tersebut, karena semuanya dirasa percuma, hukum tidak akan pernah berpihak pada kebenaran monoritas pada saat itu, dan hukum selalu membela orang-orang jahat yang bersembunyi dibalik tajamnya hukum.

Gadis Pantai karya Pramodya Ananta Noor pun mengangkat permasalahan yang hampir mirip dengan Perempuan Dititk Nol karya Nawal El-Saadwai. Dalam Gadis Pantai karya Pramodya tersebut diangkat suatu permasalahan bahwa masyarakat kelas bawah tidak punya pilihan lain untuk menerima permintaan orang-orang kelas atas dan memiliki kekuasaan, karena dianggap semuanya akan menjadi lebih baik ketika sudah ada dalam genggaman orang-orang yang berkuasa. Kasus yang sangat menarik yaitu dimana orangtua Gadis Pantai menyerahkan anaknya untuk dinikahi Bendoro yang kala itu adalah seorang Bangsawan, ketika pernikahan itu dilaksanaka, setelah beberapa lama akhirnya pernikahan itu pun hancur, Gadis Pantai yang merasa tidak mendapatkan kebahagiaan dan kebebasaan dari pernikahanya dengan Bendoro merasa gembira ketika Bendoro menceraikannya lewat surat yang dikirim ke kampungnya dan diterima oleh orangtua Gadis Pantai.

Perempuan Dititik Nol memberikan tamparan yang sangat keras agar para penguasa mengahargai orang-orang minoritas yang selalu berjuang untuk hidup akan tetapi harus selalu tertindas karena perlakuan kaum mayoritas yang semena-mena. Sedangkan Gadis Pantai memberikan pelajaran kepada para orangtua bahwa harta dan kekuasaan bukanlah segalanya yang bisa membuat bahagia, karena pada kenyataanya orang-orang bangswan dan penguasa selalu berbuat semena-mena pada kaum bawah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s