Latifah


Katanya, Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Sebagaimana siang dengan malam, laki-laki dengan perempuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pasangan bisa berarti pelengkap bagi yang lain. Siang dengan mataharinya dan malam dengan bulannya saling melengkapi satu sama lain. Begitu pula yang terjadi antara laki-laki dan perempuan, seharusnya. Setidaknya begitu sebelum membaca sebuah literatur yang mengutip perkataan Aristoteles. Bahwa perempuan ialah laki-laki yang tidak sempurna. Sungguh kalimat yang cukup membuat tidur tidak nyenyak, khususnya bagi mereka yang merasa bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama. Pada kasus ini disebut feminis.

Secara biologis, memang sudah nampak jelas banyak perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dengan penis dan sperma sebagai alat reproduksi. Sedangkan perempuan memiliki vagina, sel telur, dan rahim. Sampai titik ini, seharusnya kita bisa dengan tenang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan saling melengkapi.

Dalam kamus feminis kita mengenal istilah gender yang diartikan sebagai suatu sifat yang telah melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi oleh sosial dan budaya melalui sejarah cukup panjang. Perbedaan gender ini yang nyatanya bukan lagi dilihat sebagai unsur pelengkap, melainkan sebagai alat untuk melakukan penguasaan terhadap lainnya, dalam hal ini laki-laki yang merasa superior terhadap perempuan. Bahkan literatur lain menyebutkan, perjuangan feminis pada dasarnya dilandasi rasa iri terhadap penis laki-laki. Sebab alat vital tersebut dinilai sebagai sumber keangkuhan laki-laki.

Berangkat dari pembacaan tersebut, maka seperti mendapat sebuah benang merah dari beberapa penulis yang kental berideologi feminis. Misalnya Nawal El Shadawi dalam Perempuan di Titik Nol. Ketiganya mengaitkan erat ketidakadilan gender pada ritual seks. Di mana dalam seks, perempuan tidak lebih dari sekadar objek guna memenuhi hasrat laki-laki.

Sebagaimana yang terjadi pada Firdaus, tokoh utamanya. Sejak kecil, ia telah mengalami kekerasan seksual bahkan oleh orang terdekatnya: paman. Berulang kali merasakan pemaksaan atas dirinya, membuat ia ingin lepas dari segala penindasan tersebut. Ia lebih memilih menjadi seorang pelacur yang baginya lebih merdeka daripada harus tunduk pada laki-laki dengan menjadi istri. Sudah tentu lembaga pernikahan baginya adalah upaya pelanggengan kekuasaan laki-laki terhadap perempuan.

Akan tetapi bicara ketidakseimbangan perlakuan antara laki-laki dan perempuan tidak bisa sekadar mengambinghitamkan prihal biologis saja. Apalagi bila kita kembali membahas gender, di mana sifat-sifat yang melekat bukanlah turun langsung dari Tuhan, melainkan sebuah bentuk yang dibuat nampak terencana oleh sekelompok masyarakat dengan tujuan tertentu. Kemudian muncul beragam aliran dari feminisme. Apabila feminisme liberal bicara tentang lingkup biologis, ada feminisme marxisme yang bicara kalau penindasan terhadap perempuan merupakan akibat dari kapitalisme.

Namun kedua aliran tersebut nyatanya tidak lantas dapat berfungsi sepenuhnya tatkala kita membaca salah satu karya Pramoedya Ananta Toer yang bertajuk Gadis Pantai. Penindasan perempuan nampak lengkap di sana, mulai dari biologis, sampai prihal pertentangan kelas pula. maka muncul istilah aliran feminisme sosialis yang merupakan sintesa antara feminisme liberal dengan feminisme marxisme.

Baik Firdaus maupun Gadis Pantai, merupakan contoh perempuan yang ‘terpaksa’ tunduk terhadap budaya yang terlanjur menghakimi mereka. Kedua tokoh ini mewakili perempuan-perempuan miskin (atau dimiskinkan) sebagai subordinat kehidupan. Meski sebenarnya, bicara mengenai kesenjangan gender, maka bicara tentang semua perempuan dari seluruh lapisan. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Soekarno dalam buku Sarinah, bahwa perempuan merupakan peraduan antara si dewi dan si tolol. Perempuan sudah seharusnya disimpan di dalam rumah, tidak memiliki akses bebas dalam segala bidang, mulai dari pendidikan apalagi prihal politik kekuasaan.

Hingga hari ini, kritik feminisme nampaknya belum menjadi ideologi usang dan masih relevan menjawab zaman, meski dibutuhkan ketajaman di berbagai sisi sebab sudah tak sama lagi. Sekarang mungkin sudah sedikit kita menemukan pemaksaan secara langsung terhadap perempuan untuk mengikuti apa yang diartikan sebagian kalangan sebagai kodrat. Namun nyatanya, kita masih dapat menemukan media-media yang justru membuat perempuan lantas bangga atas kecantikan dirinya meski berakhir sebagai objek dari sebuah kapitalisme.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s