Ulya Yurifta


Berbicara masalah sastra tidak akan ada habisnya selama peradaban manusia tetap berlangsung. Karya sastra tidak pernah terlepas dari manusia itu sendiri sebagai pencipta. Terlebih ketika kita membicarakan tentang perbandingan novel, Perbandingan atau membandingkan karya sastra dilakukan dengan disiplin ilmu, yakni sastra bandingan. Membandingkan dua karya sastra atau lebih menjadi objek kajian sastra bandingan. Jadi, sastra bandingan adalah kegiatan membandingkan dua karya sastra atau lebih minimal dari dua negara yang berbeda Kegiatan membandingkan itu tidak hanya dibandingkan dari satu unsur saja, tetapi secara keseluruhan.

Dalam kesempatan ini, penulis mencoba memaparkan perbandingan novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dengan novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal El-Saadawi. Sebelum membandingkan dari kedua novel tersebut, penulis akan menceritakan sinopsis dari kedua novel.

Dimulai dari novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Menceritakan seorang gadis yang di namakan Gadis Pantai, berasal dari kampung nelayan di Rembang, Jawa Tengah yang dinikahkan pada seorang priyayi, disebut Bendoro. Di usianya yg masih sangat muda, bahkan saat itu umurnya belum genap 17 tahun. Kemudian setelah dia menjadi istri Bendoro dia mendapat sebutan, Bendoro Putri atau Mas Nganten. Mas Nganten adalah nama lain dari selir atau gundik.

Saat setelah menikah, kehidupanGadis Pantai selama menjadi istri Bendoro berubah total, tidak bahagia. Semua gerak-geriknya dibatasi. Meski keadaannya sekarang sudah terhormat, tinggal di rumah mewah, serba berkecukupan dan tidak perlu melakukan pekerjaan berat seperti yang dulu dia kerjakan semasa tinggal di kampung nelayan. Gadis Pantai tidak merasakan perasaan yang bahagia, dia kesepian dan tidak memiliki teman bicara. Bahkan suaminya sendiri pun, Bendoro, jarang pulang apalagi mengajaknya berbicara.

Kehidupan yang serba tidak enak dalam gedung yang besar itu membuat Gadis Pantai merasa rindu akan kampung halamannya. Dia ingin pulang kembali ke kampungnya. Tetapi, apa mau dikata pelayan tualah yang selalu memuluhkan hatinya agar tidak kembali ke kampungnya sendiri. Setahun berlalu Gadis Pantai semakin dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang memaksanya harus begitu rupa. Tidak ada kejadian yang merasa dirinya atau keluarga Bendoro terganggu. Hal ini karena masing-masing memiliki tugas dan kewajiban berbeda, serta martabat yang berbeda.

Suatu ketika, Gadis Pantai mendapatkan musibah, yaitu kehilangan dompet yang berisi uang. Gadis Pantai kebingungan untuk mengadukan hal tersebut kepada Bendoro. Sedangkan yang dicurigainya adalah masih kerabat Bendoro sendiri, setelah ditanyai dia tidak mengaku, malahan temannya yang lain ikut membelanya dan sebaliknya menghina pada Gadis Pantai. Namun pelayan tua yang menemani Gadis Pantai mengadukannya pada Bendoro. Pada saat itu juga, Bendoro murka karena mengetahui kalau pelakunya adalah orang yang ada di dalam rumah. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengusirnya dari gedung itu bersama dengan pelayan tua yang mengadukannya. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa terpukul karena dia tidak memiliki lagi teman untuk mencurahkan perasaanya. Saat pelayan tua itu pergi, diganti dengan pelayan yang baru, yaitu Mardinah namanya.

Sifat dan kelakuan Mardinah sendiri berbeda dengan pelayan tua itu. Ia bukan hanya ingin menjadi pelayan saja, namun mempunyai sifat jahat yaitu ingin menghancurkan hubungan pernikahan Gadis Pantai dengan Bendoro. Saat peristiwa itu diketahui oleh Gadis Pantai, ia semakin ingin pulang ke kampungnya, namun keinginan itu tidak membuat Bendoro menghalanginya, lalu pulanglah Gadis Pantai ke kampungnya dan di antar oleh pelayan barur, Mardinah.

Sampailah Gadis Pantai ke kampungnya, dan keadaan berubah drastis. Tetangga Gadis Pantai semua menunduk ketika bertemu dengannya, begitupun Ayahnya, yang dimana seperti bertemu dengan seorang pembesar. Kurang lebih tiga atau empat hari, rombongan Mardinah datang untuk menjemput Gadis Pantai. Dengan alasan Bendoro menyuruhnya pulang, padahal ada niat Mardinah yang jahat yaitu membunuh Gadis Pantai di perjalanan. Niat jahatpun diketahui oleh Ayah Gadis Pantai, dan akhirnya dengan niat jahat itu, Mardinah mendapat hukuman dari warga untuk kawin dengan lelaki yang paling malas di kampung itu, yang bernama si Dul Pendongeng. Mardinah dapat menerimanya dengan lapang dada.

Dalam perjalanan pulang, Gadis Pantai merasakan kalau dirinya sedang mengandung. Saat melahirkan pun kini telah tiba. Kelahiran Gadis Pantai dibantu oleh seorang dukun beranak kepercayaan Bendoro. Gadis Pantai melahirkan seorang anak perempuan yang mungil seperti ibunya sendiri. Namun bagi kalangan priyayi anak perempuan kurang diharapkan. Hal ini kelihatan setelah melahirkan, Bendoro tidak mau melihat keadaannya sehabis melahirkan. Apakah dia sehat atau tidak. Tidak pedulinya Bendoro dikarenakan anak yang baru dilahirkannya seorang perempuan.

Tiga bulan setelah dilahirkan, Bapak datang menjenguk Gadis Pantai secara tidak sengaja. Bapak dipanggil oleh Bendoro untuk menghadap. Namun setelah menghadap wajah Bapak tidak bahagia, Bapak murung tidak seperti biasanya. Kemudian Bapak menyuruh Gadis Pantai untuk segera membereskan pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam wadah.

Gadis Pantai merasa kebingungan kalau Bapak mengajaknya pulang. Namun, Bapak menjelaskan pada Gadis Pantai bahwa Bendoro telah menceraikannya, dan Gadis Pantai harus segera pulang dengan bapaknya. Gadis Pantai merasa terkejut, tapi apalah daya seorang sahaya seperti dia hanya menurut kehendak Bendoro.

Walaupun dengan perasaan berat, Gadis Pantai meninggalkan semua yang dimilikinya pada waktu digedung bersama Bendoro, termasuk anak gadisnya yang baru tiga bulan dia lahirkan. Dalam perjalanan pulang Gadis Pantai yang sudah berubah menjadi Mas Nganten enggan untuk pulang ke kampung halamannya. Perasaan malu menghantui dirinya. Meskipun bapaknya tetap memaksanya untuk pulang ke rumahnya.

Dilanjut dengan novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal El-Saadawi.

Firdaus lahir dari keluarga miskin. Ayahnya merupakan seseorang yang memiliki sifat egois dan pemarah yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Firdaus, saudara-saudaranya, dan ibunya tak lebih dari para budak bagi ayahnya. Dan akibat sifat ayahnya tersebut, saudara-saudara Firdaus satu demi satu meniggal karena kelaparan.

Pengalaman seksual Firdaus dimulai sejak ia masih anak-anak, yaitu dengan teman bermainnya yang bernama Muhammadain. Tidak hanya berhubungan dengan Muhammadain saja, ada orang kedua ialah pamannya, yang mencoba menyetubuhi Firdaus.

Paman Firdaus kuliah di Kairo, pada saat itu ayah dan ibu Firdaus meninggal, jadi, ia membawa Firdaus ke Kairo dan menyekolahkannya. Paman Firdaus menikah dengan puteri gurunya ketika Firdaus memasuki sekolah menengah. Dan saat itu Firdaus dimasukkan ke asrama sekolah.

Firdaus merupakan murid yang cerdas. Ia rajin membaca. Hingga kemudian ia lulus dari sekolah menengah dan pamannya membawanya pulang. Namun tak mungkin bagi pamannya untuk menyekolahkannya ke perguruan tinggi, atau mencarikannya pekerjaan hanya dengan modal ijazah sekolah menengah.

Isteri pamannya,tidak suka dengan keberadaan Firdaus di rumah mereka, mengusulkan untuk mengawinkan Firdaus dengan pamannya yang duda, bernama Syeikh Mahmoud. Firdaus kemudian menjadi isteri Syeikh Mahmoud, seseorang yangsudah berumur enam puluh tahun lebih yang di dagunya terdapat bisul yang selalu mengeluarkan aroma tidak sedap.

Hidup Firdaus jauh lebih tersiksa ketika menjadi isteri Syeikh Mahmoud. Syeikh Mahmoud suka memukulinya sampai berdarah hanya karena masalah sepele. Akhirnya Firdaus kabur dari rumah Syeikh Mahmoud, dan bertemu seorang lelaki bernama Bayoumi yang bersedia menampungnya. Pada saat itu mereka bercinta, dan Bayoumi tak pernah memukulnya. Sampai suatu ketika mereka bertengkar, Bayoumi memukul Firdaus dengan begitu keras, di wajah dan perut. Lalu Firdaus pingsan.

Bayoumi mengurungnya di sebuah kamar. Setiap malam Bayoumi menindihnya, dan Firdaus hanya bisa terpejam tanpa bisa merasakan apa-apa. Kemudian bukan hanya Bayoumi yang menindihnya, tapi juga teman-teman Bayoumi. Beruntung pada suatu hari tetangganya melihatnya lewat sela-sela pintu. Tetangganya itu menolongnya, dan ia akhirnya bisa keluar dari rumah Bayoumi.

Firdaus kemudian bertemu Sharifa, perempuan yang memberinya tempat tinggal yang nyaman, kamar yang wangi, kasur yang lembut, dan pakaian yang indah. Juga, para lelaki yang datang secara bergantian. Firdaus tidak sadar, bahwa dirinya telah dimanfaatkan Sharifa untuk menghasilkan uang. Salah seorang lelaki yang mendatangi kamarnya itulah yang kemudian menyadarkannya. Sekali lagi, Firdaus kabur dari tempatnya tinggal.

Waktu itu tengah malam. Di luar, seorang polisi memakainya dengan iming-iming satu pon serta ancaman dibawa ke kantor polisi jika menolak. Setelah polisi itu meninggalkannya tanpa memberinya uang satu pon yang telah dijanjikan, hujan turun. Kemudian seorang lelaki bermobil menawarkan tumpangan. Lelaki itu membawa Firdaus ke rumahnya yang mewah, memandikannya, dan menidurinya. Pagi harinya, saat Firdaus akan pergi, lelaki itu memberinya sepuluh pon. Uang pertama yang ia hasilkan dari pekerjaannya.

Berkat sepuluh pon itu, keberanian dan kepercayaan diri Firdaus mulai tumbuh. Ia mulai berani menolak dan memilih lelaki yang diinginkannya, dan memasang harga yang mahal atas tubuhnya. Firdaus merasa memiliki kebebasan, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan selama dua puluh tahun hidupnya. Ia kemudian menjadi pelacur yang sukses, yang memiliki sebuah apartemen, seorang koki, seorang manajer, rekening bank yang terus bertambah.

Saat itu, Firdaus mulai diberi tahu kalau apa yang ia lakukan selama ini tidak benar, ia merasa kalau dirinya tidak terhormat dan ia bekerja di sebuah perusahaan industri besar. Karena gajinya yang kecil, ia hanya bisa menyewa sebuah bilik kecil tanpa kamar mandi di sebuah gang kumuh. Di perusahaan tempat ia bekerja, terjadi kesenjangan yang lebar antara karyawan berpangkat tinggi dan karyawan rendahan. Banyak karyawati yang merelakan tubuh mereka pada para atasan agar lekas naik pangkat atau agar tidak dikeluarkan. Namun Firdaus tidak akan menghargai dirinya semurah itu, terlebih karena pengalamannya yang biasa dibayar dengan harga sangat mahal. Tidak seorang pun di perusahaan itu yang bisa menyentuhnya.

Di perusahaan itu juga ia kenal dengan salah seorang karyawan bernama Ibrahim, seorang revolusioner, memimpin komite rovolusioner yang memperjuangkan hak-hak karyawan rendahan. Mereka saling mengungkapkan cinta, bahkan tidur bersama. Firdaus menjadi cerah oleh cinta yang melenakannya. Namun perasaannya itu mendadak amblas ketika Ibrahim bertunangan dengan putri presiden direktur. Ini penderitaan paling sakit yang pernah ia rasakan. Selama menjadi pelacur, perasaannya tak pernah ambil bagian, namun dalam cinta, perasaanlah yang jadi pemain utama.

Firdaus memutuskan keluar dari perusahaan itu. Ia kembali menjadi pelacur. Pelacur yang sukses.

Tapi kemudian ia didatangi germo bernama Marzouk yang mengancamnya. Firdaus pergi ke polisi untuk mencari perlindungan, namun ternyata Marzouk punya hubungan yang baik dengan para polisi. Ia lalu mencoba lewat prosedur hukum, tapi ternyata undang-undang menghukum pelacur. Maka kemudian germo itu pun memperoleh bagian dari penghasilan Firdaus, bahkan jauh lebih besar.

Firdaus tidak tahan, ia mencoba pergi jauh, namun di depan pintu, Marzouk mencegatnya. Terjadilah perkelahian. Saat Marzouk menampar mukanya, Firdaus membalasnya. Keberanian yang selama ini tidak pernah ia miliki. Dengan keberanian itu pulalah, ketika Marzouk ingin mengambil pisau dari kantungnya, Firdaus cepat mendahuluinya, dan menikamkan pisau itu dalam-dalam ke leher Marzouk, mencabutnya, menusukkan ke dada Marzouk, mencabutnya lagi, lalu menusukkan lagi ke perut Marzouk, lalu menusukkannya ke hampir seluruh bagian tubuh Marzouk. Dengan perasaan lega, Firdaus meninggalkan tempatnya.

Di sudut jalan, seorang lelaki dengan mobil mewah mengajaknya ikut. Firdaus menolak. Lelaki, yang mengenalkan diri sebagai seorang pangeran Arab itu terus mendesaknya, terjadi tawar-menawar, hingga bertemu pada harga tiga ribu.

Firdaus masih marah ketika pangeran Arab itu menyerahkan uang. Maka uang itu ia cabik-cabik menjadi serpihan-serpihan kecil. Pangeran Arab itu heran, dan menduga bahwa Firdaus seorang puteri. Mereka terlibat perdebatan dan berujung pertengkaran. Pangeran Arab itu berteriak sampai datang polisi. Firdaus diborgol dan dibawa ke penjara.

Firdaus menolak untuk mengirim surat permohonan keringanan hukum karena menurutnya ia bukan pejahat, para lelakilah yang penjahat. Dan pada akhirnya, Firdaus di hukum mati.

Perbandingan novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dengan novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal El-Saadawi.

Dari sinopsis yang penulis paparkan diatas, sudah cukup jelas kalau cerita yang di atas itu merupakan cerita yang berasal dari negara yang berbeda, disini sudah ada satu perbandingan. Novel Gadis Pantai yang di buat oleh Pramoedya Ananta Toer ini dibuat pada tahun 1987 yang dimana Pram sendiri membuat Roman ini menceritakan kisah asli, yaitu kisah neneknya sendiri. Dan teruntuk novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal El-Saadawi ini dibuat pada tahun 1973, Dan pada tahun yang sama Mesir mengalami goncangan dahsyat dari pemerintahan Israel. Jadi ada perbandingan antara cerita yang dibuat oleh penulis sendiri, ada maksud tersendiri dalam novel yang dibuat pada saat itu.

Untuk masalah tokoh, tokoh utama sama-sama wanita. Yang dimana novel karangan Pram yaitu wanita; Gadis Pantai dan karangan Nawal yaitu; Firdaus.

Lanjut berbicara kedalam masalah perkawinan, dicerita kedua novel ini sama-sama terjadi kawin yang dipaksa.Dalamcerita Gadis Pantai,tokoh Gadis Pantai itu dikawinkan paksa oleh golongan ningrat. Lalu, perlakuan orang-orang sekitar menjadi berubah drastis, berkat Gadis Pantai yang menikahi Bendoro, lalu tetangga Gadis Pantai menjadi menghormati keluarganya. Padahal, secara realistis dari pemikiran Gadis Pantai itu ia ingin menjadi anak nelayan ketimbang mengininkan jadi istri ningrat.

Lain hal dengan Firdaus, novel Nawal ini berkisah ia itu dipaksa kawin oleh pamannya dari istri pamannya. Semenjak kawin, Firdaus merasakan diperlakukan kekerasan dalam hal seks dan kekerasan mental.

Dengan bahasa yang tajam, serta metafora-metafora yang indah, novel ini berhasil membuat saya terkagum-kagum pada kelihaian penulisnya, Nawal el-Saadawi, seorang dokter kebangsaan Mesir. Wajar jika karya ini juga masuk dalam 1001 Books You Must Read Before You Die.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s