Nicko Pratama Suhendar


  1. Gadis Pantai yang Membuat Cinta Akan Parasnya

Sejarah memang aduhai untuk dicari kebenarannya. Dan begitu pula sastra, yang di dalamnya berisi tulisan-tulisan indah untuk dinikmati secara bijak dan dewasa. Namun, sebuah kesusastraan yang menuliskan sebuah cerita, dengan objek sejarah yang dituliskan secara aduhai, maka ─ maka begitu nikmat, untuk dibaca dan dinikmati.

Berbicara mengenai Sejarah dan Sastra, tidak jarang pula ─ banyak sastrawan kita yang menulis cerita-cerita fiksi, namun melatar belakangi sejarah itu sendiri. Baik itu sejarah di dalam negeri, maupun luar negeri. Pramoedya kita bisa contohkan, mengenai novel yang Ia ciptakan ─ Gadis Pantai. Pembaca seolah dibuat masuk ke dalam latar belakang peristiwa itu terjadi. Kita tahu, Pram seorang Sastrawan yang memang gila pada zamannya. Berkisah tentang seorang wanita muda, yang mengharuskan menikah dengan seorang Bendoro, untuk tuntutan menjadi tulang punggung keluarga. Ya, tentu saja ─ jika faktor ekonomi memang terlalu mengakar sampai anak cucu kita. Perjodohan yang berlangsung indah dan aduhai itu, tergambarkan begitu rapih dibuat Pram. Sebilah keris yang menjadi alat untuk melamar si Gadis Pantai. Tentu saja kita tahu, jika keris memang senjata khas masyarakat Jawa. Dan terkhusus jika berbicara hal yang magis atau terlewat mitos, keris memang mempunyai kekuatan supranatural dan menjadikan masyrakat Jawa harus menggunakan ritual-ritual adat, untuk menggunakan sebilah keris.

Tapi, cobalah kita berpikir lebih dalam lagi. Apa mungkin, jika seorang Bendoro, atau seorang Priyayi pada masa itu dengan mudahnya melamar seorang Gadis dari pesisir pantai, hanya menggunakan sebilah keris?

Pasti-lah, di balik semua itu ─ Pram mencoba memberikan sebuah anggapan, jika memang terjadinya sebuah Hegemoni pada saat pelamaran itu. Jika Dominasi, menggunakan kekerasan. Tentu tidak mungkin, jika seorang Priyayi melakukan hal sepintar itu. Lalu, Ia gunakanlah Hegemoni, yaitu perebutan ─ dalam konteks ini, ialah hati si Gadis tersebut. Namun, menggunakan sebilah keris yang bermaksudkan, jika si Gadis itu memang teramat pantas jika menggunakan sebilah keris saja. Bukan dengan emas, berlian, atau malahan dengan menggunakan uang beribu-ribu gulden.

Sangat menarik memang, jika seorang Priyayi hanya menikahi seorang Gadis pesisir Pantai, hanya untuk sebuah latihan saja. Lihat-lah pada beberapa halaman terakhir, jika kita sama-sama membaca novel Gadis Pantai. Sepertinya, si penulis ─ yakni, saya sendiri akan sedikit terkritik oleh para pembaca tulisan ini. Sebab, mengapa tidak diberikan beberapa kutipan di dalam tulisannya? Ah, terlalu biasa nampaknya. Sebab nantinya, para pemburu tugas akan bersikeras membaca tulisan ini, dan berharap ada beberapa kutipan dari novel tersebut, lalu dengan mudahnya tulisan ini disalin, dan berharap sebuah wawasan luas dari si pembaca yang tidak membaca.

Jika kita berbicara latar tempat dari cerita tersebut, bukan bermaksud untuk mengarang-ngarang tulisan. Namun, Pram menuliskan jika ada sebuah jalanan yang panjang dan dibuat oleh Daendels. 1000Km panjangnya. Ya, tentu saja kita bisa tahu akan sejarah ini nantinya, cobalah kita lihat, dari tulisan Pram berikut, jika kita memang sama-sama senang dengan membaca, Jalan Raya Pos yang menghubungkan Anyer – Panarukan sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Jadi, bisa saja latar tempat dari cerita ini ada di Jawa Tengah, Barat, ataupun Timur. Ya, tentu saja daerah-daerah yang di dekatnya ada sebuah pesisir pantai. Pram juga sempat mengisi narasi di film yang dibuat oleh Pemerintah Belanda. Yakni, De Groote Postweg (Jalan Raya Pos) yang diputar di gedung-gedung bioskop Belanda pada tahun 1996.

Ketika kita memang sama-sama membaca novel ini, di cerita tersebut kita bisa mengetahui, jika agama memang sulit untuk dirasakan para masyarakat pesisir pantai. Hingga akhirnya si Bendoro menyuruh si Gadis, untuk memanggilkan guru ngaji untuk masyarakat pesisir. Walaupun pada akhirnya, para masyarakat itu tidak ada waktu untuk mengaji, sebab hari-harinya hanya dihabiskan untuk menangkap ikan di laut.

Pada akhir cerita,terbilang sangat dramatis. Seperti cerita-cerita cinta pada masa sekarang ini. Bukan bermaksud menyamakan, terlebih membandingkan. Namun, terlihat jelas jika seorang Priyayi yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi, dibanding hanya seorang istri yang berasal dari daerah pesisir. Seorang Priyayi itu tentu saja mempunyai seorang kuasa yang lebih tinggi darinya. Percakapan dengan seorang wanita asal Demak contohnya. Terlihat si Bendoro itu takut, dan harus siap menerima ucapan apapun.

Gadis Pantai yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menunduk jika Bendoro berkata apa saja. Apa mungkin, jika budaya Patriarki sangat-lah  berlaku pada saat itu? Dan kiranya, apakah budaya Patriarki, juga masih berlaku hingga saat ini? Di saat wanita harus diam, tunduk, dan takluk terhadap kekuasaan laki-laki.

2. Firdaus, Wanita Dengan Harga Tinggi Ia Disukai

Dari Pulau Jawa, kita beralih ke tanah kairo, Mesir. Nawal El-Saadawi, yang awalnya saya kira seorang lelaki tulen, dan salah tafsir terjadi di antara beberapa pembaca awam lainnya. Seorang perempuan muda ─ pada saat itu. Ialah seorang dokter, yang sedang meneliti penyakit saraf (neurosis) untuk tulisan terbarunya.

Mesir memang negara yang indah, untuk melihat bagaimana jernihnya sungai Nil yang membentang sepanjang Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, juga Mesir. Namun, apakah Mesir terlihat begitu indah juga, ketika membaca tulisan seorang Dokter yang berjudul Women At Point Zero atau dengan bantuan terjemahan, kita bisa mengartikannya sebagai Perempuan di Titik Nol, yang diterjemahkan oleh Amir Sutaarga.

Firdaus, nama seorang tokoh utama pada Prosa tersebut. Lagi-lagi, saya dan beberapa pembaca awam terkecoh akan nama yang diberikannya. Firdaus, ialah seorang wanita cantik yang awalnya tinggal bersama orang tuanya di sebuah Desa, lalu ketika orang tuanya meninggal, Ia ikut Pamannya pergi ke Kairo untuk bersekolah. Sebelum peristiwa pembawaan si Paman ke Kairo. Firdaus memang lebih senang, dan merasa nyaman jika sedang bersama Pamannya, dibandingkan bersama Ayahnya. Seorang Paman yang dengan sengaja, membuka Galabeya (Jubah longgar dan panjang sampai ke tumit) Firdaus dari kaki hingga ke paha wanita muda itu, dan memainkan dan mengelus paha Firdaus jika keadaan sedang tenang, namun jika terdengar suara langkah kaki sedikit saja, si Paman langsung memalingkan tangannya, kembali seperti semula.

Firdaus memang pernah merasakan kenikmatan itu sebelumnya, bersama seorang pria muda bernama Mohammadain, di tumpukan jerami. Seorang wanita muda, yang sudah merasakan kenikmatan orang dewasa di saat umurnya masih ingin bermain boneka. Dan bukan tidak mungkin, jika si Paman ingin lebih dari sekadar memegang dan mengelus paha Firdaus. Seorang lelaki, dan ditambahnya hasrat birahi. Tentu, hal yang lumrah untuk seorang lelaki melampiaskan nafsunya itu terhadap kemenakannya itu.

Benar saja, dengan aduhainya si Paman bertelanjang dada dengan Firdaus di sebuah ranjang, dan menggoyangkan bagian tubuh yang penuh dengan lemak itu, ke belakang dan ke depan.

Firdaus, seorang wanita yang dengan pertumbuhan usianya, menjadi seorang wanita dewasa. Tubuhnya yang molek dan aduhai memang sering kali membuat para lelaki, menjadi nafsu birahi.

Para lelaki Mesir, seolah beranggapan jika seorang wanita hanya pantas untuk dijadikan seorang pelacur saja. Setiap kali Firdaus mencoba kabur dari rumah Paman, Ibrahim Di’aa Syaikh Mahmoud, dan lelaki lainnya. Ia sering mendapat perlakuan kasar hingga perlakuan kasar itu dianggap hal yang lumrah bagi kebanyakan orang di sana. Perjodohan yang berhasil buruk, menginap dan menetap yang berakhiran lebih buruk, sampai di jual oleh seorang Mucikari dan tanpa sadar Firdaus, santai saja menjalaninya. Seolah si mucikari wanita itu, memang berbuat baik pada dirinya.

Sampai suatu ketika, Firdaus mendapatkan perlakuan kasar dan ancaman dibunuh oleh seorang lelaki yang biasa disebut dengan Germo. Firdaus merasa tersiksa, baik fisik maupun batin. Ijazah yang dihasilkan oleh pendidikannya di sekolah dasar dan menengah, seolah tidak mampu berbuat banyak untuk kehidupannya.

Ketika Firdaus menyadari, jika membunuh ialah hal yang pasti. Memang setiap orang harus mati, namun bagaimana caranya agar kematian tidak membututi kita selama cinta akan kehidupan masih terus kita nikmati. Membunuh seorang Germo dengan menancapkan sebilah pisau ke arah tenggorok dan dada selama tiga kali berturut. Bentuk kekesalan yang selama ini terpendam, ke luar bagai dunia baru yang Ia temui. Seperti kapas Ia merasa ringan, dan seperti bayi baru lahir Ia saat itu. Tidak ada dosa di balik pembunuhannya, Ia pikir.

Seorang Saudagar kaya, mampu membayarnya hingga 3000 pounds. Bagi mereka di tanah Mesir sana, uang sejumlah itu tidak artinya sama sekali. Bisa jadi, itu hanya sebagai membeli makan untuk satu malam saja. Perlakuan Firdaus terhadap saudagar kaya nampak tidak terlalu kasar, namun karena seorang Priyayi memang mempunyai kekuasaan yang lebih, ditangkapnya Ia, dan atas pengakuannya, jika Ia seorang pembunuh ─ maka Ia harus dijatuhi hukuman mati di negerinya sendiri. Firdaus bisa saja terbebas dari hukuman, atau mendapat pengurangan hukuman itu. Dengan syarat, Ia harus meminta maaf terhadap pemerintah atau pejabat-pejabat tinggi yang bagi Firdaus, mereka sama saja. Jika Ia menuruti, akan bernasib buruk seperti yang sudah terjadi pada kehidupan sebelumnya.

Bentuk kekerasan pada wanita, kerap kali terdengar ─ dalam, maupun luar negeri. Seolah perempuan memang tidak begitu berarti bagi laki-laki. Bukan bermaksud untuk menjadi Feminisme. Namun, hargai-lah wanita itu dengan cinta dan kasih sayang, bukan hanya iming-iming uang dan cinta satu malam saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s