Zahra Salsabila


Sosok wanita memang boleh jadi memiliki pemikiran yang rumit untuk dipahami. Walaupun wanita terkesan lemah lembut dan patuh terhadap aturan-aturan yang membelenggunya, namun hal tersebut dilakukan semata-mata hanya karena mereka tidak memiliki cukup keberanian untuk melawan aturan-aturan tersebut atau yang dapat dikatakan sebagai penindasan. Dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dan novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi, yang walaupun temanya sangat jauh berbeda, namun memiliki tokoh utama wanita yang dominan dalam mengungkapkan jalan pikirannya dan juga kemauan yang kuat untuk mengubah hidupnya. Salah satu cara yang ditempuh para tokoh utama wanita tersebut adalah dengan melawan segala bentuk penindasan yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Gadis Pantai menceritakan tentang kehidupan seorang anak perempuan yang dalam novel ini dinamakan Gadis Pantai yang tinggal di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah. Suatu hari, ia dinikahkan dengan sang penguasa yang disebut Bendoro. Dengan terpaksa, Gadis Pantai harus meninggalkan rumahnya, orang tuanya, kampungnya, dan semua yang ia kenal, yang selama ini membahagiakannya. Namun, Gadis Pantai tidak dinikahkan langsung dengan Bendoro, melainkan dengan sebilah keris. Setelah menikah, akhirnya Gadis Pantai dibawa ke tempat kediaman Bendoro, sosok yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.

Di kediaman Bendoro, Gadis Pantai dilayani sepenuh hati oleh wanita paruh baya yang disebut Bujang. Segala sesuatu yang diperlukan Gadis Pantai disediakan oleh Bujang. Pada suatu saat, Gadis Pantai akhirnya mengerti mengapa ia dinikahkan dengan sebilah keris, bukan dengan Bendoro-nya langsung. Itu karena perbedaan derajat mereka. Pernikahan seperti itu dianggap wajar karena Bendoro hanya membutuhkan gadis-gadis yang derajatnya di bawah seperti Gadis Pantai hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja. Ketika gadis-gadis itu melahirkan seorang bayi, maka selesailah tugas mereka dan mereka akan diusir dari kediaman Bendoro. Gadis Pantai menjadi sedih dan tidak menginginkan hal itu terjadi. Apalagi kegiatan Bendoro yang mengharuskan ia jarang berada di rumah membuat rasa rindu dan cemburu muncul dalam hati Gadis Pantai.

Beberapa lama kemudian, Gadis Pantai diketahui hamil. Gadis Pantai sedih karena ia tahu bahwa ia akan dipisahkan dengan anaknya. Ayah Gadis Pantai juga akhirnya tahu bahwa anaknya hanya dimanfaatkan untuk itu. Maka ia juga sedih dan sangat menyesal. Ternyata setelah Gadis Pantai melahirkan, anaknya perempuan. Bendoro pun akhirnya menceraikan Gadis Pantai dan mengusirnya walaupun Gadis Pantai telah mengiba-iba padanya. Akhirnya Gadis Pantai memutuskan untuk tidak kembali ke kampung halamannya, melainkan mencari Bujang yang ia sayangi yang diusir oleh Bendoro.

Sedangkan Perempuan di Titik Nol menceritakan tentang seorang perempuan bernama Firdaus yang lahir dari keluarga miskin. Setelah ayah dan ibunya meninggal, ia akhirnya dibawa oleh Pamannya ke Kairo dan disekolahkan disana. Setelah Firdaus lulus sekolah, Pamannya tidak memiliki uang untuk membiayai sekolah Firdaus di perguruan tinggi. Akhirnya, istri pamannya mengusulkan agar Firdaus dinikahkan dengan pamannya yang duda berusia enam puluh tahun bernama Syeikh Mahmoud. Hidup Firdaus sangat tersiksa karena Syeikh Mahmoud kerap memukulinya hanya karena masalah sepele.

Akhirnya Firdaus kabur dari rumah dan setelah itu hidupnya dipenuhi berbagai lika-liku dan ia kerap diperlakukan seenaknya atau bahkan disiksa oleh laki-laki. Suatu saat ia menemukan kepercayaan dirinya dan menjadi pelacur yang sukses. Setelah sukses menjadi pelacur, Firdaus terlibat perkelahian dengan Marzouk, germonya. Sampai akhirnya Marzouk mati di tangan Firdaus. Para polisi menjebloskan ia ke penjara, namun Firdaus tidak pernah merasa salah. Ia terus menyalahkan lelaki dan menyebut bahwa lelaki lah yang penjahat.

Dari dua sinopsis novel di atas tentu saja terdapat perbedaan yang mencolok. Gadis Pantai yang tidak tahu apa-apa dipaksa untuk menikah dengan Bendoro, namun kemudian diusir karena Bendoro hanya membutuhkan anaknya sedangkan Firdaus dari Perempuan di Titik Nol yang terus menerus melakukan pencarian jati dirinya karena ia memiliki pengalaman hidup yang pahit sejak kecil.

Gadis Pantai adalah perempuan yang malang karena ia tidak pernah mengenyam pendidikan, ia mudah dibodohi. Begitu juga keluarganya. Ia tidak mengetahui bahwa ia hanya dimanfaatkan Bendoro untuk diambil anaknya. Ia selama ini terbuai dengan kebaikan dan kelembutan yang disajikan oleh Bendoro. Ia sendiri akhirnya mengetahui hal tersebut dari Bujang, walaupun Bujang tidak bermaksud untuk memberitahunya karena Bujang tahu, hal itu akan menyakiti hati Gadis Pantai. Kemudian Gadis Pantai juga tak dapat berbuat apa-apa karena derajatnya jauh di bawah Bendoro. Apalagi ia hanya dinikahkan dengan sebilah keris yang dijadikan simbol. Pada akhirnya, Gadis Pantai hanya menjadikan pengalaman hidupnya yang pahit sebagai pelajaran.

Sedangkan Firdaus mengajarkan pada kita bahwa perempuan kerap ditindas. Ditindas oleh pendidikan yang terbatas, ditindas oleh norma wajar perjodohan, ditindas oleh hukum, dan tentu saja yang paling jelas adalah ditindas oleh lelaki atau dalam hal ini patriarki. Oleh karena itu Firdaus memutuskan untuk menjadi pelacur karena ia pikir bahwa pelacuran dilakukan untuk melawan sistem yang menindas. Para lelaki yang awalnya menindas Firdaus karena ia tak memiliki kuasa apa-apa, akhirnya berada di bawah Firdaus karena ia memasang harga yang mahal atas tubuhnya dan para lelaki menjadi selalu membutuhkannya. Selain mendapatkan kepuasan batin karena keadaan kini berbalik, Firdaus juga mendapatkan harga diri, menjadi kaya, dan termasuk ke dalam kalangan elite. Sayangnya, semua itu tidak dipandang di mata hukum—dalam novel ini polisi, karena Firdaus tetap dijebloskan ke dalam penjara walaupun Firdaus merasa bukan ia yang salah, namun Marzouk tetap memiliki kuasa yang lebih di mata polisi sehingga para polisi membelanya.

Kedua tokoh utama dari kedua novel tersebut menggambarkan bahwa perempuan memang lebih sering ditindas. Gadis Pantai dan Firdaus sama-sama ditindas oleh pendidikan yang terbatas—walaupun Firdaus lebih beruntung karena masih sempat mengenyam dunia pendidikan. Lalu, keduanya juga ditindas oleh hukum. Gadis Pantai tidak dapat menuntut Bendoro karena pernikahannya tidak dianggap sah dan juga derajat serta kekuasaan Bendoro yang tinggi, sedangkan Firdaus ditindas oleh hukum karena pekerjaannya yang walaupun memberikan ia kepuasan dan harga diri, namun lawannya yang lebih berkuasa. Dalam kedua novel ini juga menggambarkan bahwa kekuasaan hanya milik orang yang memiliki banyak uang. Bendoro tidak dianggap salah oleh hukum karena ia penguasa suatu tempat, begitu juga Marzouk yang selalu melimpahkan uang untuk polisi agar ia selalu dianggap benar di mata hukum. Selain sama-sama ditindas oleh pendidikan dan hukum, mereka berdua juga ditindas oleh lelaki, atau dalam hal ini patriarki. Bedanya, jika Gadis Pantai hanya ditindas oleh satu lelaki yaitu Bendoro, Firdaus ditindas oleh banyak lelaki. Itulah mengapa ia memilih bekerja sebagai pelacur agar keadaan berbalik menjadi ia yang menindas para lelaki. Sayangnya, Gadis Pantai lebih pasrah dalam melihat hidupnya, sedangkan Firdaus muncul sebagai wanita pemberani yang menyerukan hak-haknya dan ia telah merasa puas karena impiannya untuk melawan penindasan tersebut sempat berhasil.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s