Claudia Putri


Pernikahan atau perkawinan umumnya adalah hal yang sakral, karena dilakukan oleh pasangan yang saling mengikat janji untuk hidup setia dengan pasangannya dan disaksikan beberapa saksi seperti keluarga dan kerabat dekat. Pernikahan juga dilakukan dengan maksud untuk meresmikan ikatan yang semakin kuat, dan mengenalkan kepada masyarakat bahwa pasangan telah melaksanakan norma yang ada, yaitu diantaranya adalah norma agama, norma sosial, dan norma hukum. Tidak jarang, dalam menemukan pasangan hidup, keluarga atau kerabat dekat mempunyai peran andil untuk mengenalkan perempuan atau laki-laki dengan calon pasangannya, atau yang biasa dikenal dengan perjodohan. Perjodohan kerap kali dipilih oleh orang ketiga, dan memicu sang calon yang tidak ingin menjadi terpaksa menerimanya.

Tema yang diangkat dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dan Perempuan di Titik Nol adalah sama-sama mengangkat isu pernikahan dan perjodohan. Hal yang melatar-belakangi inilah yang membuat para tokoh menemukan konflik sekaligus sebagai upaya mencari jati dirinya. Perempuan yang terpaksa menerima perjodohan dan kemudian menikah, lalu kemudian menemukan konflik demi konflik yang membuat karakter para tokoh menjadi terlihat lebih dalam.

Gadis Pantai adalah sebuah novel karangan Pramoedya Ananta Toer yang mengisahkan seorang gadis belia di kampung bernama Gadis Pantai yang tinggal di dekat laut dan merupakan seorang gadis yang miskin. Saat usianya memasuki empat belas tahun ia dinikahkan dengan seorang Bendoro yang merupakan orang kaya di Jawa. Perkawinan Gadis Pantai diwakilkan dengan sebilah keris dan disaksikan oleh ketua kampungnya.

“Tak pernah ia impikan di dunia ini ada bau begitu menyegarkan. Di Kampungnya ke mana pun ia pergi dan di mana ia berada yang tercium hanya satu macam bau: amis tepian laut.” Gadis Pantai, halaman 20.

“Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup.” Gadis Pantai, halaman 6.

Perempuan di Titik Nol adalah sebuah novel karangan Nawal El Sadawi yang mengisahkan seorang gadis miskin bernama Firdaus, anak dari petani. Ketika orangtua Firdaus meninggal, ia diasuh dengan pamannya, dan kerap kali menerima pelecehan seksual, seperti saat dibacakan buku cerita paha Firdaus kerap diraba-raba. Saat Firdaus lulus sekolah dan berusia delapan belas tahun, bibinya menjodohkan Firdaus dengan laki-laki kaya bernama Syekh Mahmoud yang berusia sekitar enam puluh tahun dan memiliki bisul di sekeliling wajahnya.

“Ayah saya, seorang petani miskin, yang tak dapat membaca maupun menulis, sedikit pengetahuannya dalam kehidupan.” Perempuan di Titik Nol, halaman 15.

“Setelah kembali saya tak tahu bagaimana saya bertahan hidup di rumah Paman, saya pun tak ingat lagi bagaimana saya menjadi isteri Syekh Mahmoud.” Perempuan di Titik Nol, halaman 67.

Tokoh Gadis Pantai dan Firdaus memiliki kesamaan dengan hidup sebagai tokoh perempuan miskin yang kemudian menikah dengan laki-laki kaya, sehingga mengubah kelas sosial mereka menjadi kelas golongan atas dan pernikahan akibat perjodohan yang dialami Gadis Pantai dan Firdaus membuat mereka menjadi  merasa ditindas.

Gadis Pantai, ketika sudah hamil dan melahirkan anak, Bendoro yang tadinya bersikap baik dengan Gadis Pantai menjadi kecewa karena anak yang dilahirkan Gadis Pantai adalah perempuan, dimana menurut kaum priyayi, anak perempuan kurang diharapkan, dan Gadis Pantai dipulangkan ke rumah orangtuanya.

“’Kau tinggalkan rumah ini! Bawa seluruh perhiasan dan pakaian. Semua yang telah kuberikan padamu. Bapakmu sudah kuberikan uang kerugian, cukup buat membeli dua perahu sekaligus dengan segala perlengkapannya. Kau sendiri, ini….,’ Bendoro mengeluarkan kantong berat berisikan mata uang pesangon. ‘Carilah suami yang baik, dan lupakan segala dari gedung ini. Lupakan aku, ngerti?’” Gadis Pantai, halaman 196-197

Firdaus, ketika sudah menikah dengan Syekh Mahmoud setiap malamnya ia menggerayangi seluruh tubuh Firdaus, dan pada suatu ketika kepelitan Syekh Mahmoud yang menjadikannya murka terjadi akibat sisa makanan berada di tempat sampah dan Firdaus mendapat kekerasan, dan membuatnya pergi meninggalkan Syekh Mahmoud.

“Suatu hari dia memukul saya dengan tongkatnya yang berat sampai darah keluar dari hidung dan telinga saya. Lalu saya pergi, tetapi kali ini saya tidak pergi ke rumah Paman.” Perempuan di Titik Nol, halaman 72.

Gadis Pantai dan Firdaus mengalami penindasan dan ketidak-adilan yang diakibatkan oleh pernikahan mereka. Gadis Pantai dan Firdaus seakan-akan hanya menjadi budak seks, dan tidak memiliki kehormatan sebagai perempuan.  Titik balik untuk melawan penindasan tersebut terjadi pada tokoh Firdaus, dengan perginya ia dari rumah Syekh Mahmoud dan sering kali dijadikan sebagai budak seks dari kekasihnya atau orang-orang asing, Firdaus menemukan kepercayaannya saat menjadi pelacur. Pelacur tercipta karena adanya mekanisme sosial yang terjadi akibat ruang dan kesempatan yang membuat aksi pelacuran itu terjadi, Firdaus merasa dihargai ketika ia mendapatkan uang, dan menjadikan dirinya sebagai pelacur yang sukses dan menjadi kelas sosial atas dengan pekerjannya. Gadis Pantai, belajar tentang kelas sosialnya melalui Bujang sebagai pembantu yang mengurusnya, ia diajarkan tentang agama, dan bagaimana perlakuan orang priyayi.

Akhir cerita pada kedua tokoh ini sama-sama memilukan. Gadis Pantai yang masih tidak terima dengan kaum priyayi dan dipisahkan dengan anaknya kemudian pergi meninggalkan kampungnya untuk melupakan segala kenangan bersama Bendoro dan menemui Bujang yang dulu pernah dipecat Bendoro, sedangkan untuk Firdaus walaupun ia di penjara karena membunuh germo dan tidak ingin memohon kepada Presiden, ia membuktikan bahwa Firdaus menjadikan pelacur sebagai bentuk perlawanannya untuk melawan sistem-sistem yang menindasnya. Lelaki yang pada awalnya sebagai penindas dilawan Firdaus dengan menjadi pelacur, karena pelacur sebagai wadah Firdaus untuk menjadikan lelaki harus membayarnya dengan tinggi.

Meskipun di cerita Gadis Pantai dan Perempuan di Titik Nol menekankan perempuan yang tak berdaya, mulai dari tubuh, seksualitas, pekerjaan, keluarga dan lainnya. Kedua cerita ini sudah memiliki akhir dengan memilih jalan hidup yang memang tidak lebih baik selain di akhir cerita yang meninggalkan kenangan dengan Gadis Pantai pergi dari kampung dan Firdaus memilih menetap di penjara seumur hidup.

“Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan.” Perempuan di Titik Nol, halaman 169.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s