Yudha Prasetya


Gadis Pantai dan juga Perempuan Di Titik Nol memiliki kesamaan tema. Keduanya menceritakan tentang penderitaan seorang wanita. Keduanya sangat bersifat feminis baik itu Gadis Pantai ataupun Perempuan Di Titik Nol. Namun ceritanya sendiri tampak berbeda. Gadis Pantai lebih kental menyinggung kebudayaan Indonesianya sedangkan Perempuan Di Titik Nol lebih menitik-beratkan pada penindasan tokoh utama yaitu Firdaus.

Gadis Pantai menggambarkan karakter utamanya selalu terkekang oleh keputusan-keputusan yang diberikan Bendoro. Ia tidak bisa membantah maupun melawannya. Ia masih terjebak dalam konsep patriarki yang mana Bendoro adalah orang yang harus ia patuhi. Keterasingan yang ia rasakan karena tinggal di rumah yang besar membuat dirinya ingin memberontak. Lama kelamaan ia terbentuk dari hal-hal yang diajarkan kepadanya dan ia semakin lama menjadi semakin nyaman. Namun karena ia mempunyai darah pantai, ia kembali merindukan kebiasaan lamanya. Bagaimanapun orang-orang pasti akan kembali ke bentuk asalnya.

Sedangkan untuk Perempuan Di Titik Nol memiliki cerita yang hampir sama. Firdaus yang merupakan tokoh utama selalu mendapat tekanan sedari ia kecil. Ia bahkan telah diperkosa oleh temannya ketika masih kecil. Ia juga disiksa oleh orang tua dan juga pamannya. Ia disekolahkan di asrama dan ketika lulus ia dibuang oleh pamannya. Ia dinikahkan oleh orang yang sangat tua dan buruk rupanya. Di sana ia bahkan disiksa pula oleh suaminya. Ia kabur dan dijadikan pelacur oleh orang lain. Karena muak dengan sikap laki-laki maka ia pun membunuh. Ia beranggapan bahwa semua laki-laki pantas untuk mati dan ia pun dikenakan hukuman gantung. Baginya itu lebih baik ketimbang tersiksa oleh laki-laki.

Dalam cerita Perempuan Di Titik Nol, sangat jelas tergambar bahwa karakter Firdaus sangatlah feminis. Ia benar-benar membenci laki-laki yang sangat bersifat otoriter. Namun dalam cerita Gadis Pantai, tokoh utama tak melakukan perlawanan yang sangat ekstrim. Ia selalu menurut kepada Bendoro. Hal itu juga sangat dipengaruhi oleh sistem strata pada waktu itu. Tokoh Gadis Pantai memiliki kesadaran bahwa ia hanya orang kecil yang menikah dengan seorang priyayi sedangkan Firdaus memberontak karena mengalami kejadian-kejadian buruk yang sudah menimpanya. Jadi yang membedakan sikap mereka berdua adalah masalah strata sosial dan juga pengalaman pribadinya.

Untuk kehidupan sosialnya, kedua karakter dari dua cerita tersebut sangatlah berbeda. Dalam cerita Gadis Pantai tokoh utama mengalami perubahan strata sosial. Menurut pandangan orang-orang kampungnya, Gadis Pantai telah menjadi istri priyayi yang mana ia telah menjadi bangsawan. maka ia telah meningkatkan status sosialnya. Berbeda dengan Firdaus dalam cerita Perempuan Di Titik Nol, sejak lahir ia telah menjadi anak petani tanpa ayah. Meskipun telah dinikahkan dengan orang tua yang kaya hal itu tetap tak mengubah status sosialnya. Ia memberontak dan menjadi pelacur dan karena itu status sosial dirinya pun tak berubah.

Kedua cerita tersebut memang menggambarkan kehidupan wanita. Keduanya disinggung mengenai perlakuan terhadap perempuan. Namun yang satu melakukan pemberontakan yang sangat ekstrim dan satunya lagi lebih menurut karena masalah strata sosial. Dan sikap dari gadis pantai itu mampu mengubah status sosialnya sedangkan Firdaus masih tetap rakyat jelata. Tapi keduanya memiliki pengalaman yang hampir sama yaitu ditindas oleh laki-laki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s