Kevin Ramadhan Bagaskara

2125121480


Lelaki Tua dan Laut sebuah karya klasik yang menjadi tolak ukur perpaduan antara karya sastra lama menjadi sastra populer. Ernest Hemingway namanya. Dia menjadi penulis Amerika yang karya-karyanya telah mendunia. Dari sekian banyak hasil karyanya seperti; A Farewell To Arms(1929), The Sun Also Rises(1926), dan For Whom The Bell Tolls(1940) menjadi masterpiece dimata para pembaca dan kesusastraan. Sebuah Nobel Prize pun ia dapatkan sebagai penghargaan untu karyanya. Karya-karyanya telah diingat dalam fiksi abad 20 sebagai karya yang telah memperkuat keulungan Hemingway di dunia.

Untuk karyanya yang terakhir  Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and The Sea) mendapatkan kredit positif dari para pembacanya dan saya yakin akan menjadi pedoman mereka menciptakan masterpiece lainnya. Ditulis di Kuba pada tahun 1951, banyak yang mengatakan bahwa karya Hemingway yang satu ini ditujukan untuk nahkoda kapal pribadinya Gregorio Funtes. Tetapi Hemingway menyangkanya dan itu bisa menjadi siapapun. Dia menuliskan perjuangan hidup akan manusia serta paralelisme kitab Injil dalam kehidupan modern. Apapun pendapat orang mengenai sosok Santiago, terdapat banyak pesan moral yang ada di Lelaki Tua dan Laut. Sebagai nelayan tua, Santiago hanya ingin menunjukkan eksistensinya dan kepribadiannya sebagai seorang laki-laki. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan salao, meskipun ia harus mempertaruhkan nyawanya. Baginya, hidup adalah perjuangan, dan ia takkan berhenti berjuang hingga maut menjemputnya.

Lelaki Tua dan Laut merupakan karya sastra klasik versi baru dan sering disanding-sandingkan dengan karya Herman Melville yang berjudul Moby Dick yang pada awal kemunculannya telah terjual juta eksemplar hanya dalam waktu dua hari saja. Akan tetapi Lelaki Tua dan Laut telah menjadi fenomenal karena kisahnya tentang pertualangan serta perjuangan seorang pria tua dalam menangkap ikan besar di tengah samudra atlantik. Ada keunikan dan pesan moral yang ditekankan oleh Hemingway:

No good book has ever written that hasin it symbols arrived at beforehand and stuck in. I tried to make a real old man, a real boy, a real sea and a real sharks. But if i madde them good and true enough they would mean many things”

: “Tidak ada buku bagus yang pernah ditulis yang mennggunakan simbol-simbol yang sudah ada sebelumnya dan telah teringat di dalam pikiran. Saya mencoba untuk menciptakan lelaki tua yang sesungguhnya, anak laki-laki sesungguhnya, laut yang sesungguhnya dan hiu yang sesungguhnya, tetapi jika saya telah membuatnya dengan cukup bagus dan sesungguh-sungguhnya, mereka dapat berarti apa saja”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s