MENGGURUI DENGAN TIDAK MENGGURUI

FEBRI IRDIAN

3 SI S

 

 

Seperti sudah banyak kita ketahui bahwa karya sastra mau populer sekalipun seperti karya karya Tere liye pasti memiliki pesan moral tersendiri entah dalam kadar yang seperti apa, apalagi jika kita berbicara mengenai buku Lelaki tua dan laut karya Ernest hemingway yang banyak orang bilang adalah sebuah karya sastra serius bahkan meraih gelar nobel sastra .

Dalam buku yang di terjemahkan oleh salah satu sastrawan yaitu pak sapardi djoko darmono ini terlihat bagaimana sebuah karya sastra yang benar benar serius dan membuat kita bertanya tanya buku apakah ini, hanya bercerita tentang seseorang kakek tua yang seorang diri mencari ikan ? seru dari mana , mungkin orang orang akan bertanya demikian .

Bahkan bagian awal dari buku ini bisa di dibilang sangat membosankan setidaknya bagi saya sendiri , bahkan mungkin orang akan tertidur saking membosankannya, namun jangan salah di balik kebosanan yang terus melanda kita , secara dia dia kita justru di ajarkan makna kehidupan yang sering kali tertuang dari ucapan sang tokoh utama.

Lewat perilaku atau dialog tokoh dan yang paling sering adalah cara dia “memonolog” dalam cerita seringkali terselip sebuah makna filosofis tentang bagaimana kita seharusnya menjalani kerasnya kehidupan , saat sang tokoh utama sedang berjuang sendirian di laut untuk menangkap ikan “ ia seringkali mengajarkan kita “ , bahwa hidup memang harus di jalani bagaimana pun juga keadaannya.

Makna makna filosofis yang paling sering di ajarkan oleh sang tokoh adalah  bagaimana sang tokoh sering kali berpikir “seandainya” bla bla bla ketika menghadapi suatu peristiwa dan di saat yang bersamaan sang tokoh langsung berkata “tak ada gunannya berpikir seperti itu ,aku pasti bisa dengan semua yang aku miliki” .

Dalam hidup kita sering kali berpikir demikian , selalu tidak bersyukur dan mengharapkan lebih dari apa yang kita miliki, padahal apa yang kita miliki sebenarnya sebuah anugrah yang lebih dari cukup, bagaimana perjuangan sang tokoh seorang diri mencari ikan , dan bahkan saat ia sudah mendapatkan ikan pun , perjuangan ia masih belum berakhir, dan walaupun dengan ending yang menurut kita “kentang” dan bisa di bilang berakhir buruk , namun tetap saja buku ini memiliki banyak sekali keunggulan yang membuatnya pantas meraih hadiah nobel kesusastraan pada masa nya

Pada akhirnya meskipun sedikit membosankan namun novel ini sangat wajib dan cocok di baca bagi kita yang menyukai karya sastra karna selain berisi nasihat nasihat filosofis yang menggurui tanpa menggurui , juga memiliki deksripsi yang sangat baik dan detail dalam menggambarkan latar dan suasana , tak heran buku ini beserta pengarangnnya meraih penghargaan nobel pada zamannya .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s