Sosok Heroik dalam Novel Lelaki Tua dan Laut atau The Oldman and The Sea Karya Ernest Hemingway

Sosok Heroik dalam Novel Lelaki Tua dan Laut atau The Oldman and The Sea Karya Ernest Hemingway

Claudia Putri

Mengenal sebuah karya sastra tidak hanya terbatas dari karya yang terdapat dalam negeri, sebab karya sastra yang memiliki kisah yang unik dan menarik, serta terselip sebuah pesan dan makna yang dapat ditandai ataupun diterima oleh pembaca akan mampu menarik perhatian pembaca lainnya yang berasal dari luar atau tempat karya sastra itu diterbitkan. Seperti halnya dengan novel Ernest Hemingway yang diterbitkan pada tahun 1952 yang berjudul The Old Man and The Sea atau yang ketika diterjemahkan menjadi judul Lelaki Tua dan Laut. Novel yang ditulis oleh Jurnalis Amerika Serikat ini memiliki daya tarik yang sangat kuat dan menarik perhatian pembaca, sehingga membuat novel ini diburu hingga menjadi Best Seller, dan diterbitkan di beberapa negara, salah satunya adalah di Indonesia yang telah menerjemahkan novel tersebut.

Lelaki Tua dan Laut mengisahkan cerita sederhana tentang lelaki tua bernama Santiago yang mempunyai pekerjaan sebagai nelayan atau penangkap ikan di Teluk Meksiko, dikisahkan Santiago sudah delapan puluh empat hari melaut, akan tetapi Santiago tidak pernah berhasil menangkap seekor ikan, sehingga pada hari ke empat puluh seorang anak laki-laki yang bernama Manolin yang menemaninya harus meninggalkan Santiago karena menuruti perintah orangtuanya untuk mengikuti perahu lain dengan para penangkap ikan yang lain juga. Pada akhirnya, Santiago melaut sendiri sambil berusaha mencari dan menangkap ikan dengan peralatannya, serta harapan dan kepercayaan diri yang dibangun olehnya. Setelah menunggu dengan begitu sabar, seekor ikan marlin yang besar menangkap umpan Santiago, karena besar ikan itu berusaha untuk lepas, akan tetapi Santiago terus menahan dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

Ketegangan mulai mencuat tak kala Santiago harus menahan ikan tersebut sehingga sering kali tangan kirinya mulai merasakan keram kembali, tapi Santiago tetap menahannya dan sabar selama berhari-hari. Puncaknya, ketika ikan tersebut muncul ke permukaan, Santiago membunuh ikan tersebut hingga membuat darah segar mengalir di laut. Kebahagiaannya mendapat ikan tak bertahan lama, karena seekor ikan hiu ingin memburu ikan tersebut, dengan susah payah Santiago menghalau dan membunuh ikan hiu dengan peralatan yang ia punya. Semakin lama, ikan hiu semakin berdatangan, hingga malangnya walau sudah membunuh para hiu yang tersisa pada ikannya adalah tulang, dan Santiago kembali hanya dengan tulang ikan yang besar, harapannya tentang pulang serta rasa puas karena bisa membawa ikan besar dalam keadaan utuh pun pupus.

Perjuangan yang dialami Santiago sangatlah besar, walau ia dicibir, disepelekan hingga dikatakan sebagai ‘salao’ yang artinya tersial dari yang sial, Santiago tetap berjuang melaut sendiri walau dengan resiko yang harus dihadapinya seorang diri. Ia terus menghadapi laut tanpa rasa takut, dan walau ia lelah dan terluka, rasa putus asa sama sekali tidak merayapinya di tengah gelombang laut. Kemudian keberanian yang dialami Santiago saat melaut tak luput dari perhatian, walau terasa tegang ketika disuguhkan bahwa sang tokoh harus menghadapi para hiu ganas, akan tetapi ia tetap melawan tanpa rasa takut, mempertahankan dengan sekuat tenaga apa yang dimilikinya, hingga terkesanlah bahwa Santiago merupakan sosok heroik, terlebih untuk memperjuangkan apa yang ada pada dirinya, keterbatasan serta kelemahan yang muncul selalu ia lawan dengan semangatnya. Akan tetapi, selain perjuangan Santiago, yang terasa menyentil dalam novel ini adalah bentuk persahabatan yang dijalin oleh lelaki tua dan anak laki-laki, yang tak lain adalah Santiago dan Manolin, walau tidak banyak diceritakan, akan tetapi perhatian serta kepedulian Manolin menjadi cerita ini terasa hangat.

Hal yang menarik, novel Old Man and The Sea ini menjadikan Ernest Hemingway mendapat banyak penghargaan, salah satunya adalah penghargaan Nobel Sastra tahun 1954. Perjuangan lelaki tua ini menjadi daya tarik yang berhasil menarik perhatian para penikmat sastra, sehingga tak hanya sebagai hiburan tersendiri tetapi juga sebagai bentuk refleksi apa yang ingin disampaikan Ernest Hemingway dalam ceritanya, tak hanya pekerjaan Santiago-sang lelaki tua dengan kerumitan yang dialaminya, tapi juga sebagai bentuk refleksi atas sifat heroiknya, perjuangannya, serta semangatnya, tak hanya lelaki tua yang bisa akan tetapi semua orangpun bisa seperti lelaki tua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s