Perilaku Self Talk sebagai Refleksi terhadap Kehampaan Sosok Lansia dalam Novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway

Nama             : Ummi Anisa

Kelas              : 3 Sastra Indonesia – Sastra

Mata Kuliah  : Sastra Dunia

 

Perilaku Self Talk sebagai Refleksi terhadap Kehampaan Sosok Lansia dalam Novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway

 

Manusia terlahir sebagai makhluk sosial dan tidak dapat hidup dalam kesendirian. Segala aktifitas yang dilakukan tentunya akan melibatkan dan menimbulkan rasa ketergantungan terhadap orang lain yang bersangkutan. Ketergantungan dalam arti, di mana individu merasa memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dalam melakukan interaksi di kehidupannya.

 

Merujuk pada judul esai di atas, siapa yang tidak mengenal sosok Ernest Hemingway? Tentunya nama itu sudah tidak asing lagi di telinga para penghuni bumi. Berbagai karyanya mendapat apresiasi yang menyenangkan, termasuk novel The Old Man and the SeaLelaki Tua dan Laut– (1952). Novel ini pernah memenangkan Hadiah Putlizer pada tahun 1953 dan Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Selain itu, novel ini juga telah menjadikan Ernest Hemingway meraih Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1954.

 

Kembali lagi mengenai perilaku self talk, menurut ilmu psikologi self talk merupakan suatu kondisi di mana seseorang melakukan kegiatan berbicara dengan dirinya sendiri. Hal ini dapat terjadi lantaran individu yang bersangkutan tengah diliputi rasa sepi, depresi, ketidakpuasan, kebiasaan di masa lalu, ataupun adanya gangguan psikologis lainnya.

 

Lebih lanjut, perilaku self talk yang ditimbulkan oleh Santiago dalam novel Lelaki Tua dan Laut merupakan refleksi dari rasa sepi dan cemas yang menghinggapinya selama ia bernaung di tengah laut untuk menangkap ikan. Ya, Santiago merupakan tokoh utama di dalam novel tersebut. Kisah perjalanan seorang lelaki tua untuk mendapatkan seekor ikan Marlin raksasa. Selama 87 hari berada di tengah laut, akhirnya seekor ikan Marlin hinggap di kail umpan sardennya. Namun kisahnya tidak sampai disitu, perjuangan membawa ikan Marlin ke rumahnyalah yang mengalami berbagai kendala. Dan selama perjalanannya sejak awal melaut sampai ia menuju ke rumah itulah Santiago mengalami perilaku self talk.

Selanjutnya, perilaku self talk yang dialami oleh Santiago dikarenakan ia hanya pergi melaut sendirian. Perjalanannya hanya ditemani dengan debur ombak laut dan serba-serbi peralatan melaut di dalam perahunya. Selama perjalanan, ia selalu berbicara sendiri dan berharap agar Manolin –anak lelaki didekat rumahnya– ikut serta dalam perjalanannya tersebut. Hal ini didukung dengan banyaknya percakapan individu yang dilakukan oleh Santiago:

 

“Aku berharap anak lelaki itu ada di sini.” (hlm. 53)

“Andai saja aku bersama anak lelaki itu.” (hlm. 50)

“Aku berharap aku bersama anak lelaki itu.” (hlm. 55)

“Aku berharap anak lelaki itu ada di sini dan aku punya garam.” (hlm. 60)

“Jika anak lelaki itu di sini, dia akan menggosok tangan itu untukku dan mengendurkannya ke bawah dari lengan bawah.” (hlm. 66)

“Jika anak lelaki itu ada di sini dia akan membasahi gulungan tali. Ya. Jika anak lelaki itu di sini.” (hlm. 88)

 

Dalam beberapa percakapan individu di atas, dapat kita ketahui bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Segala hal yang dilakukan tentunya akan mengarah untuk bergantung pada orang lain. Rasa sepi akan kehadiran orang lain menjadikan Santiago hanya dapat berceloteh dengan dirinya sendiri ketika kesulitan melakukan sesuatu. Hal ini juga berkaitan dengan kutipan di bawah ini:

 

“Seseorang seharusnya tak sendirian pada usia tua mereka.” (hlm. 50)

Kebutuhan akan orang lain ini di alami oleh Santiago. Ia tampak menyesali keputusannya untuk berangkat sendiri menangkap ikan Marlin tanpa Manolin. Di usia yang sudah tidak muda lagi ini menyulitkannya untuk melakukan segala aktifitas di perahu.

 

Konflik batin pun dialami oleh Santiago dalam memecahkan berbagai masalah ketika menangkap ikan Marlin tersebut. Mulai dari perlawanan ikan Marlin yang bertahan sampai berhari-hari, juga kawanan Hiu yang mengoyak daging ikan Marlin hasil buruan Santiago. Dan pada akhirnya, sesampainya Santiago di rumahnya, ia pun berkomunikasi dengan Manolin dan menyadari bahwasanya aktifitas self talk yang ia lakukan selama ini bukanlah hal yang menyenangkan. Hal ini tergambar pada kutipan di bawah ini:

 

“Dia membatin betapa menyenangkan ada seseorang yang bisa diajak bicara dibandingkan hanya berbicara dengan dirinya sendiri dan laut.” (hlm. 133)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s