Less is More

Less is More

Oleh Latifah

 

Menulis sebuah karya fiksi tentu ada bedanya dengan jenis tulisan lain. Produk jurnalistik misalnya. Menyajikan tulisan secara ringkas dan menghindari ketaksaan makna menjadi prioritas utama. Menjadi sebuah kegagalan ketika sang penulis tidak mampu menekankan kejelasan kepada pembacanya.

Sedangkan dalam fiksi, pada beberapa novel kita dapat menemukan alinea panjang untuk dapat mendeskripsikan satu suasana. Diambil contoh novel, karena melalui media ini, penulis mendapat kesempatan lebih memamerkan kosakatanya tanpa terbatas ruang. Sehingga terkadang pembaca tidak lagi menilai buku secara klise melalui sampulnya, melainkan melalui ketebalannya. Padahal ketebalan sama halnya dengan sampul, tidak menjanjikan kualitas dari tulisan.

Sebuah modul teknik menulis pernah mengutip perkataan Ernest Hemingway, “Less is more.” Mungkin berdasarkan prinsipnya ini, Hemingway tak memerlukan beratus-ratus halaman novel untuk bisa dianugerahi Nobel Sastra pada 1954. The Old Man and The Sea atau Lelaki Tua dan laut hanya setebal 170an halaman saja.

Novel yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dan diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini, berkisah tentang seorang nelayan tua, Santiago. Ia hidup bersama kepercayaan seorang anak laki-laki bernama Manolin ketika orang-orang banyak menyebutnya Salao, si sial. Di mata Manolin, Santiago adalah penakhluk laut yang ulung, terlepas dari nasib buruknya 84 hari belakangan melaut tanpa seekor ikanpun membersamainya.

Bertolak dari hari ke-85 keberangkatan Santiago melaut tanpa Manolin, kejadian demi kejadian menimpa Santiago. Mulai dari rasa tawar pada makanannya sebab ia lupa membawa garam sampai perjuangannya menarik ikan jenis marlin yang berbobot berat. Menyerahnya ikan marlin ternyata bukan akhir. Para hiu terlanjur mencium darah segar marlin dan memburu perahu Santiago.

Deskripsinya terhadap laut, baik dari kacamata permukaan maupun fenomenanya, menyatakan betapa pengetahuan Hemingway terkait laut amatlah dalam. Tentu untuk menulis novel ini, ia telah melakukan riset yang cukup mendalam. Bukan sekadar imajinasi liar yang hanya memaparkan romantisme saja. Nampaknya profesi jurnalis banyak memberi pengaruh terhadap cara menulis Hemingway.

Meski Hemingway sederhana dalam kalimat-kalimatnya, namun nyatanya tidak mengerdilkan pesan yang didapat oleh pembaca dari novel tersebut. Berbeda dengan produk jurnalistik tadi, pada karya fiksi ada semacam resepsi di mana pembaca dapat dengan leluasa menginterpretasikannya. Semakin pembaca mengenal penulisnya, maka pemaknaannya dapat semakin dekat.

Lelaki Tua dan Laut bukan sekadar mengisahkan tentang Santiago dengan ambisinya  membuktikan bahwa ia masih seorang nelayan hebat seperti masa lalu. Melainkan bagaimana proses keterasingan yang dapat meruntuhkan keangkuhan. Tidak hanya tentang angkuhnya terhadap sesama manusia, namun juga keangkuhan terhadap alam.

Selain itu, sosok Manolin dalam kisah ini juga dapat dijadikan sebagai inspirasi. Sebagai orang yang lebih mengenal Santiago, Manolin tidak lantas terpengaruh oleh tuduhan orang lain terhadap Santiago sekalipun orang tuanya sendiri yang mengatakan ia pembawa sial. Sebab Manolin bisa merasakannya sendiri ketangguhan Santiago di laut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s