Lelaki Tua dan Laut dan Sekelumit Polemik Penerjemahan

Lelaki Tua dan Laut dan Sekelumit Polemik Penerjemahan

(oleh: Doni Ahmadi)

 

Barangkali sudah terlalu usang untuk membahas cerita dari Hemingway  yang berjudul Lelaki tua dan Laut di era sekarang. Maklum saja, cerita itu pertama kali dimuat dalam majalah Life pada tahun 1951. Di Indonesia sendiri barangkali naskah Hemingway itupun mengalami beberapa periode terbit, pertama-tama naskah ini diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada 1973, lalu beberapa dekade kemudian oleh Serambi, adapula penerbit Narasi dan yang terakhir dan baru saja terbit (mei 2016) ialah dari penerbit Kepustakaan Populer Gramedia –yang kini tengah sibuk-sibuknya menerbitkan seri sastra dunia.

Lelaki Tua dan Laut ini pun turut menghantarkan penulisnya meraih berbagai pernghargaan sampai-sampai penghargaan Nobel di bidang kesusastraan pada tahun 1954. Hal inipula lah yang menasbihkan bahwa karya beliau ini sudah bangkali harus dikonsumsi dunia. Maklum saja, sebagai pemenang Nobel sastra dan sudah difilmkan hal ini tentu mempunyai daya tarik yang cukup besar. Bagi kalangan pembaca sastra apalagi, tentu wajar saja pembaca menaruh perhatiaannya betul-betul pada Hemingway. Tidak terkecuali untuk saya, antusiasme itu datang dari medio 2013 (maklum saja, pembacaan saya terhadap sastra pun atas dasar pengaruh kuliah dijurusan sastra, dan berbekal ungkapan ‘sembari menyelam minum air’ maka dunia sastra pun saya geluti).

Perjumpaan saya dengan Hemingway pun terealsasi pada 2013, lewat prosa Lelaki Tua dan Laut yang diterbitkan serambi. Sebagaimana pertemuan pertama pada umumnya, saya seolah dibuat kecewa oleh teks penerjemahan sastra dunia, tentu ini berimplikasi terhadap saya sebagai pembaca pemula. “Apakah Hemingway benar seperti yang diwacanakan?”  barangkali itu pertanyaan mendasar. Hal itu pun terjadi lagi terhadap saya dan inipun menimpa karya milik Hemingway lagi, berjudul “The Garden of Eden” (diterjemahkan menjadi Taman Surga) yang diterbitkan oleh Indo Literasi.

Dalam dua perjumpaan itu, saya barangkali mengalami depresi terhadap karya-karya terjemahan. Apa mungkin kualitas penerjemah di Indonesia yang kurang memadai? Entahlah. (pendapat saya yang ini tentu keliru ketika menemui teks terjemahan dari Tia Setiadi, Ronny Agustinus dan Max Arifin).

Dalam sebuah esai tentang penerjemahan yang dimuat di Buletin Stomata edisi VIII, Sudarya Permana berpendapat:

Sebagai sebuah proses, penerjemahan paling tidak melibatkan tiga tahapan, yaitu analisis, transfer dan rekonstrukturisasi. Analisis berkenaan dengan pemahaman teks yang diterjemahkan. Dalam hal ini penerjemah berupaya mengakrabi teks agar memudahkan dirinya untuk memulai menerjemahkan. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan menelaah bentuk-bentuk kasat mata yang terdapat dalam teks, baik yang bersifat leksikal maupun gramatikal. Di samping itu yang terpenting dalam tahap ini adalah bahwa penerjemah memahami isi teks tersebut

Oleh sebab itu, prinsip yang mesti dikedepankan adalah jangan coba-coba menerjemahkan kalau tidak memahami isinya, sementara itu, transfer terjadi dalam pikiran si penerjemah sebagai upaya kognitif dalam pencarian padanan. Dalam tahap ini, penerjemah memikirkan padanan yang mungkin bisa bertemrima sebagai wujud pengalihan pesan dari bahas sumber kedalam bahasa sasaran. Ketika keputusan untuk pemberian padanan ini diambil, mulailah penerjemah mengalihkan pesan tersebut secara tertulis. Realisasi pesan tertulis inilah yang disebuat rekonstrukturisasi.

Barangkali hal tersebutlah yang minim selama ini terjadi dalam periode penerjemahan sastra dunia. Penerbit hanya sekedar mencetak atas dasar minat pembaca tanpa menimbang kulitas terjemahannya terlebih dahulu. Lantas siapa yang patut disalahkan kalau begini? Entahlah.

Tidak sampai disitu, polemik penerjemahan pun sepertinya masih terus menjadi hantu. Pada tahun 2013 Martin Suryajaya pun turut menulis dalam esai yang dimuat dalam majalah daring Indoprogress.com berjudul ‘Empat Pertanyaan bagi Sastra’. Dalam tulisannya beliau menerjemahkan puisi dari Goenawan Mohamad ke dalam kalkulus predikat, dan beliaupun menemukan perubahan yang cukup signifikan dari bentuk dan isi. Dan mengajukan bebrapa pertanyaan dan jawaban:

  1. Apakah terjemahan logis di muka adalah juga karya sastra?

Kalau tidak, berarti sastra itu murni soal bentuk. Implikasinya, begitu kita mengubah atau

menghilangkan satu iota pun dari sebuah karya sastra (satu kata, satu tanda baca, dst.), karya sastra tersebut akan lenyap seketika itu juga. Namun, kalau memang sastra itu tak lain adalah soal bentuk dan bentuk semata, lalu bagaimana terjemahan karya sastra dimungkinkan? Tidakkah menerjemahkan Shakespeare ke dalam bahasa India atau Indonesia sama dengan menghancurkannya kalau begini? Konsekuensi lanjutannya, karya sastra tidak dapat dikomunikasikan ke orang di luar pengarangnya sendiri, sebab komunikasi mengandaikan penerjemahan ke dalam kesadaran dan pengalaman yang berbeda, yang mau tak mau akan sedikit mengubah bentuknya. Karya sastra sepenuhnya berstatus privat

 

  1. Apakah terjemahan logis di muka adalah juga karya sastra yang sama?

Kalau ya, berarti sastra itu soal substansi atau isi yang mau dinyatakan oleh karya. Implikasinya, karyasastra dapat diterjemahkan ke dalam bahasa apapun juga (termasuk kalkulus predikat) dan dapat dikomunikasikan dengan orang di luar pengarang. Karya sastra bersifat publik.

 

  1. Apakah terjemahan logis di muka memiliki nilai estetis yang sama dengan karya aslinya?

Kalau tidak, berarti terjemahan kalkulus predikat niscaya memelintir makna karya sastra sehingga hasil terjemahannya sama sekali tidak berkaitan dengan teks aslinya, melainkan memproduksi karya sastra baru. Namun, muncul persoalan: lalu apa bedanya terjemahan ini dengan terjemahan ke dalam bahasa asing lainnya? Dengan mengasumsikan bahwa terjemahan kalkulus predikat kita akurat, lantas bagaimana menjelaskan perbedaan terjemahan kita yang akurat itu dengan hasil terjemahan seorang profesor sastra Spanyol, misalnya, yang menerjemahkan karya yang sama? Tidakkah jawaban negatif kita ini lebih disebabkan karena bias prasangka kita saja terhadap bahasa logika?

 

Kalau ya, berarti terjemahan kalkulus predikat dapat setia mereproduksi makna karya sastra. Artinya, tidak ada perbedaan esensial antara proses terjemahan dari puisi berbahasa Indonesia ke bahasa kalkulus predikat dan terjemahan ke dalam bahasa Spanyol atau Inggris.

 

Barangkali masalah terjemahan inilah yang sudah menjadi akar dari masalah dari persebaran dan konsumsi sastra dunia (saya rasa). Namun terlepas dari itu semua, saya pun pada akhinya mesti mendamai-damaikan pikiran tentang polemik penerjemahan itu. Apalagi dalam kajian struktural, tentu hal-hal yang terjadi di luar teks sudah tentu harus dikesampingkan. Tinggal bagaimana pembaca memahami teks yang ia baca.

Menurut hemat saya, dalam membaca teks asing atau terjemahan, ketika penerjemahan itu dirasa kurang, lebih baik saya tutup (dengan alasan, daripada kita tidak menikmati dan memahami sama sekali) dan memilih membaca teks tersebut dalam bahasa asal atau bahasa asing yang dikuasai. Mungkin dari hal tersebutlah kita dapat memulai rasa haus dan keingintahuan akan kesusastraan dunia  yang berkembang dan mampu memahami dengan perspektif kita sendiri sebagai pembaca.

Kembali kepada Orang Tua dan Laut karya Hemingway yang baru saja saya baca ulang (beberapa hari kemarin). Mungkin komentar ini sudah banyak disinggung oleh kebanyakan pembaca, yakni dialog dari Orang Tua –Santiago, yang saya pikir terlalu banyak mengeluarkan repetisi dalam dialog-dialog pikirnya, yang jika dikalkulasikan, tedapat hampir di selang dua halaman ketika ia mulai mendapat tangkapan besarnya.

Namun terlepas dari kekurangan itu, Hemingway saya rasa mampu memainkan tempo emosional pembaca meski tak sedikit pembaca yang mengerutkan dahi, meresakan greget dan berkata, “Dasar orangtua tolol, mengapa tidak kau potong sebagaian hasil tangkapan besarmu dan kau taruh di badan perahu. Padahal tanganmu masih berfungsi dengan baik dan kaupun masih mampu bergulat dengan hiu-hiu!”

Premis yang hadir dalam ceritapun apalagi, dari matinya salah satu tangan santiago yang mengakibatkan goyahnya keyakinan, sampai pada tiga adegan pertarungan dengan hiu, hingga peristiwa di mana pisau satu-satunya harus patah. Ah, saya pikir hemingway paham betul psikologi pembaca yang begitu tertarik dengan ironi dari tokoh yang diidolakan.

Sebagai penutup, dalam penghantar novel Gempa Waktu milik Kurt Vonnegut, sang penulispun turut berkomentar tentang Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway yang ia baca, begini:

Pada 1951 Ernest hemingway menulis sebuah cerita pendek yang panjang berjudul The Old Man and The Sea di majalah Life. Kisah tersebut tentang seorang nelayan Kuba yang tidak memperoleh seekor ikanpun selama 84 hari. Nelayan itu akhirnya manangkap seekor ikan marlin yang sangat besar. Ia bunuh ikan itu dan diikatkan pada samping sampannya. Namun sebelum ia membawanya kepantai, ikan-ikan hiu menyantap habis daging yang menempel di kerangka ikan tersebut.

Saya tinggal di Barntable Village, Tanjung Cod, tatkala cerita tersebut terbit. Saya bertanya pada tetangga yang bekerja sebagai nelayan tentang pendapatnya atas cerita tersebut. Ia mengatakan sang tokoh idiot, seharusnya ia terlebih dahulu memotong gumpalan daging terbaik dan menaruhnya ditempat duduk sampan dan membiarkan sisanya untuk ikan hiu.

Boleh jadi di benak Hemingway ikan-ikan hiu itu adalah para kritikus sastra yang tidak menyukai novel pertamanya dalam sepuluh tahun, Across the River and into the Trees, yang terbit dua tahun sebelummnya. Sepanjang pengetahuan saya, ia tidak pernah mengatakan demikian. Tetapi, boleh jadi ikan marlin itu merupakan novel tersebut (Old Man and the Sea).

Barangkali, tulisan diatas adalah sekelumit pengalaman yang terkesan curhat dari saya tentang membaca teks asing. Dan sebagai tugas dari hasil pembacaan Lelaki Tua dan Lut karya Hemingway untuk matakuliah sastra dunia yang ditujukan kepada bapak dosen nan jatmika.

 

Rujukan

Buletin Stomata edisi VIII | maret 2015

Ernest Hemingway. Lelaki Tua dan Laut (KPG 2016)

Kurt Vonnegut. Gempa Waktu. (KPG 2016)

Indoprogress.com/2013/10/empat-pertanyaan-bagi-sastra/ (Martin Suryajaya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s