DI BALIK NASIB SI LELAKI TUA “LELAKI TUA DAN LAUT” ERNEST HEMINGWAY

DIBALIK NASIB SI LELAKI TUA “LELAKI TUA DAN LAUT” ERNEST HEMINGWAY

(Agustiana Fajri : 2125140286)

Sebuah karya sastra memang tidak pernah lahir dari kekosongan, serumit apapun karya itu dipahami bahwa ada maksud yang ingin disampaikan oleh penulis. Maksud dan tujuan itu juga terkadang tidak mudah kita tangkap atau pahami, bahwa untuk lebih memahami maksud dan tujuan yang ingin disampaikan oleh penulis terkadang kita perlu riset mengenai biograpi penulis karya tersebut, karena sedikit sekali pengarang yang berimajinasi dengan penuh dalam karyanya tanpa melibatkan hal-hal yang pernah dia alami.

The Old Man and the Sea (Lelaki Tua dan Laut) adalah sebuah novella (novel pendek) yang Hemingway. Lelaki Tua dan Laut tersebut ditulis di Kuba tahun 1951 dan diterbitkan tahun 1952. Literatur ini adalah karya fiksi besar terakhir yang ditulis dan diterbitkan dalam tenggang hidupnya. Novel ini juga merupakan salah satu karya terkenalnya Ernest Hemingway yang bercerita tentang Santiago. Karakter utama dalam novel tersebut adalah seorang nelayan tua atau yang biasa disebut lelaki tua yang bersusah payah berjuang untuk menangkap seekor ikan Marlin raksasa jauh ditengah arus Teluk Meksiko. Karya ini juga merupakan karya yang terkenal dipeloksok belahan dunia ini, sehingga tidak aneh jika karya ini diingat dalam fiksi abad 20 sebagai karya yang telah memperkuat keulungan literatur Hemingway di dunia sekaligus sebagai faktor utama dipilihnya Ernest Hemingway untuk penghargaan Nobel Sastra tahun 1954.

Sedikit mengungkit isi dari novel tersebut yaitu, novel tersebut bercerita tentang seorang nelayan (lelaki tua) yang berjuang untuk menangkap ikan marlin raksasa yang menurutnya adalah tangkapan terbersarnya. Cerita lelaki tua dalam novel ini diawali dengan kesialan lelaki tua tersebut dalam nemangkap ikan, setelah melewati 84 hari akan tetapi lelaki tua tersebut belum juga mendapatkan seekor ikan yang sudi untuk tersangkut dalam pancingan dan jaringannya. Dia tampaknya selalu tidak beruntung dalam menangkap ikan sehingga murid mudanya, Manolin dilarang oleh orang tuanya untuk berlayar dengan si lelaki tua dan diperintahkan untuk ikut dengan nelayan yang lebih berhasil. Akan tetapi Manolin masih berbakti kepada lelaki tua sehingga dia sering mengunjungi gubuknya untuk sekedar mengangkat peralatan nelayannya dan memberinya makan. Santiago (Lelaki Tua) pun berkata pada Manolin bahwa hari berikutnya dia akan berlayar sangat jauh ke tengah teluk untuk menangkap ikan, dan dia yakin bahwa gelombang nasibnya yang kurang beruntung akan segera berakhir.

Maka di hari ke-85, Santiago berlayar sendirian, membawa perahu kecilnya jauh ke tengah teluk meksiko. Dia mengatur kailnya, dan di siang selanjutnya seekor ikan marlin yang dia yakini menggigit umpannya, Santiago tidak dapat menarik ikan tersebut malah perahu kecinya itu yang di ombang-ambing ikan besar itu. Dua hari dua malam lewat dalam situasi tersebut, dan selama itu si lelaki tua menahan tali jeratnya dengan tanganya sendiri dengan susah payah. Lama-kelamaan sang ikan pun mulah kelelahan dan hanya bisa mengitari perahu kecil tersebut, akhirnya lelaki tua dengan sejuta perjuangannya dapat menaklukan ikan marlin raksasa itu. Kemalangan tidak hanya sampai disitu, lalaki tua masih punya tugas untuk membawa ikan marlin raksasa itu ketepian laut sana. Dalam perjalanan menuju tepian laut, banyak sekali rintangan yang harus dihadapi si lelaki tua, yaitu dia harus menaklukan pula ikan-ikan hiu yang mencoba menghadangnya untuk si lalaki tua menyerahkan ikan marlin tawananya itu. Lelaki tua pun tidak ingin menyerah begitu saja, dia segera menyingkirkan ikan hiu-hiu tersebut. Lelaki tua segera membawa ikan marlin raksasa itu ke tepian laut, sehingga sesampainya di tepian laut, ternyata ikan marlin raksasanya itu hanyalah tersisakan tulang punggung, ekor dan kepalanya saja, separuh dari tubuh ikan marlin tersebut sudah habis di geragoti ikan hiu.

Pagi harinya sekelompok nelayan berkumpul di sekeliling perahu kecil milik si lelaki tua yang ikan marlin hasil tangkapannya itu masih terikat di perahunya. Marolin yang melihat itu segera menemui lekai tua dan membawanya surat kabar dan memberinya kopi, akan tetapi si lelaki tua sedang tertidur pulas. Saat Lelaki tua terbangun, Monolin berjanji untuk pergi menangkap ikan bersamanya lagi, setelah itu lelaki tua kembali tidur, dalam tidurnya tersebut lelaki tua bermimpi tentang singa di pantai afrika.

Itulah sekilas tantang cerita dari novel lelaki tua tersebut, tentu saja setelah mengetahui isi cerita dari novel tersebut kita sedkit di bingungkan dengan maksud dan tujuan dari Ernest Hemingway dalam memilih jalan cerita, dengan objek laut, lelaki tua, dan anak kecil penyayang yang tidak pernah pilih kasih. Begitu banyak pesan moral yang bisa di ambil dari cerita tersebut, tapi saya tidak mau memperdalam itu, yang ingin saya ungkapkan adalah keterkaitan hidup pengarang dengan jalan ceritanya tersebut. setelah saya riset ternyata Ernest Hemingway sendiri senang mancing, mungkin saja imajinasi cerita lelaki tua dan laut ini terinspirasi dari hobinya tersebut.

Keberuntungan memang tidak pernah berpihak kepada yang muda dan yang tua, semua manusia hanyalah ditugaskan untuk selalu berusaha. Laut merupakan kekayaan alam yang siapa saja bisa menikmati kehidupan disana dengan sejuta kepedihan yang dialami oleh para nelayan dalam mempertaruhkan hidupnya. Manoli mengajarkan arti kepedulian dan kasih sayang pada sesama, tidak pernah pilih kasih dalam memberi. Siapa saja bisa kita jadikan teladan atau guru selama dia mempunyai ketegaran dalam menghadapi hidup.

 

-SELESAI-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s