BERWISATA KE LAUT BERSAMA ERNEST HERMINGWAY !

BERWISATA KE LAUT BERSAMA ERNEST HERMINGWAY !

Oleh Muhammad Putera Sukindar

Membaca The Old Man and The Sea seperti berwisata ke tengah laut tanpa membuat kulit gosong, perut mual, dan mata silau akibat pantulan cahaya matahari pada prisma di permukaan laut. Kira-kira begitulah yang saya rasakan ketika sedang membaca buku ini di beranda rumah sembari mengupasi kulit kacang.

Sialnya tak sekali saya berdecak, berdehem, atau bergumam sendiri kala membaca buku yang tebalnya lebih tipis dari buku motivasi murahan bestseller. Tempo cerita yang sebetulnya cepat ini, terasa begitu lama saat Santiago mulai melaut demi memutus kutukan pada kail pancingnya yang sudah 84 hari tak berhasil menggaet ikan.

Perhitungan Santiago yang serampangan menjadi konflik sentral saat layarnya mulai berkibar di tengah laut, di mana ketika apa yang diinginkan si lelaki tua itu berada di depan mata, suatu hal memaksanya untuk melelangkan nasib kepada gaharnya lautan. Ikan marlin seukuran empat orang dewasa menggaet kail pancingnya, namun karena tenaga dan peralatan yang swadaya membuatnya harus bersabar dan merancang strategi agar si ikan dapat kelelahan lebih dulu.

Saya pikir di saat seperti inilah karakter Santiago yang sebenarnya terlihat, kelelakian yang ludes. Segagah apapun ia di mata rekan-rekan nelayannya yang lain—termasuk Manolin si bocah yang selalu menjaga Santiago—ternyata hanyalah sebuah omongkosong. Ia membutuhkan seorang kawan, Manolin, si bocah itu. Bahkan tak jarang ia berbicara sendiri agar dapat menghilangkan rasa kesepiannya saat menunggu ikan marlin tangkapannya kelelahan, tak seperti apa yang ia katakan pada Manolin sebelum berangkat melaut (mampu melakukan hal ini sendirian).

Meskipun pada akhirnya ikan itu berhasil ditangkap oleh Santiago, tapi masalah tak berhenti sampai di situ. Bak popcorn yang meletup-letup di dalam oven; seekor ikan hiu datang menyantap ikan marlin yang seukuran empat orang dewasa itu. Awalnya satu, kemudian dua, tiga dan seterusnya. Tak ada harapan. Rupa ikan marlin yang cantik, sampai di pelabuhan berubah menjadi seonggok bangkai tak berguna.

“Sialan!” begitulah gumam saya setelah mengetahui akhir cerita novel ini sekaligus menyadari kacang kulit yang saya makan sudah habis.

Setidaknya setelah menutup buku ini, saya mendapat kesan optimis Santiago yang menarik untuk dikenang. Lagipula sepertinya itu juga berlaku untuk teman-teman saya.  Sebab saat saya tanya mereka satupersatu, jawabannya sama; kesan optimis seorang nelayan yang berhasil menangkap ikan setelah beberapa bulan tak pernah mendapatkan apapun.

Itu mengapa mungkin dosen kita, Bapak Saifur meminta kita untuk membuat tulisan tentang The Old Man and The Sea ini. Sebab novel ini memang dapat menjadi bahan yang menarik untuk didiskusikan**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s