Oleh:
Anggi Ginanjar
PENDIDIKAN BAHASA (PB)
PROGRAM PASCA SARJANA (PPs)
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
TAHUN 2016

ABSTRAK

 

Penelitian ini berjudul “Analisis Novel Pelabuhan Tak Bertepi Karya Husain Mu’nis”. Tujuan penelitian ini untuk Tujuan penelitian karya tulis ini dibuat supaya pembaca dapat mengerti dan memahami mengenai novel pelabuhan tak bertepi. Dan mengerti kondisi dan tradisi, kedudukan seorang ibu di mesir pada masa itu yang dikaji melalui unsur intrinsik atau ekstrinsik maupun melalui sosiologi sastra nya. Sumber data penelitian ini adalah novel Pelabuhan Tak Bertepi karya Husain Mu’nis yang diterbitkan oleh NAVILA pada Februari tahun 2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengamatan, pemahaman dan penjabaran atau penafsiran. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Pembacaan heuristic,teknik pembacaan hermeneutik dan pengamatan dengan dokumen yang berupa karya sastra novel Pelabuhan Tak Bertepi karya Husain Mu’nis. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan data dan menyesuaikannya dengan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema novel ini adalah seorang wanita yang ingin menantang tradisi mesir agar anaknya menjadi lebih baik, sehingga ia tidak dihargai dalam keluarga. Amanat  novel ini adalah tidak pantas meremehkan seorang wanita karena semua wanita itu harus dihargai dan dihormati apalagi seorang ibu. Tokoh-tokoh dalam novel ini: Nadia (utama) dengan watak penyabar, gigih, rajin, teliti, tegas dan cerdas; Majid yang memiliki watak lembut, ramah, tidak konsisten, kurang tegas dan emosional; Thariq yang memiliki watak pembangkang, egois, tidak sopan,pembohong dan sombong. Semua tokoh dilukis dengan teknik dramatik dan juga dilukiskan dengan teknik ekspositori. Berdasarkan kriteria urutan waktu, novel Pelabuhan Tak Bertepi  memiliki plot lurus (progresif/maju) karena sesuai dengan kronologi. Latar tempat dalam novel Pelabuhan Tak Bertepi adalah di rumah, di kedutaan besar, toko baju, di jalan perumahan, dan di universitas; latar waktu adalah pada siang hari, pagi hari, malam hari, sore hari, subuh hari, dan pada dini hari; latar sosial terjadi pada di lingkungan mesir, di lingkungan keluarga menengah ke bawah, dan di lingkungan keyakinan masyarakat mesir yang masih merendahkan wanita. Novel Pelabuhan Tak Bertepi menggunakan sudut pandang dimana pengarang di dalam novel “Pelabuhan Tak Bertepi “ sebagai orang ke tiga, karena pengarang menggunakan nama orang lain.

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang masalah

Salah satu jenis karya sastra yang menarik untuk dikaji ialah novel. Baik dikaji melalui unsur intrinsik atau ekstrinsik maupun melalui sosiologi sastra nya, karena novel atau karya sastra tidak lepas dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Menurut Sapardi (1971:1) sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan Sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Sehingga dapat dikatakan sastra merupakan tiruan atau gambaran dari kehidupan masyarakat yang objeknya adalah manusia.

Karya sastra menggambarkan pola pikir masyarakat, perubahan tingkah laku masyarakat, tata nilai dan bentuk budaya lainnya. Pengarang menyodorkan karya sastra sebagai media alternatif unuk menyampaikan kejadian sosial masyarakat pada zamannya. Seperti dalam novel “ pelabuhan tak bertepi “ karya husain mu’nis , disini dijelaskan tentang kehidupan seorangwanita (ibu) yang tidak dihargai oleh anaknya sendiri akibat  tradisi mesir yang harus menuruti kemauan anak laki-laki.

Hal yang menarik dari novel “ pelabuhan tak bertepi “ ini adalah tidak hanya dilihat dari isinya, tetapi bisa dilihat dari keadaan masyarakat pada masa itu. Tentang tradisi mesir yang menjadikan seorang ibu harus tunduk kepada anak laki-laki sebagai raja dalan intern keluarga . Sehingga novel ini dapat dikaji melalui unsur intrinsik maupun sosiologi sastra.

 

  1. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas maka dapat dirumusan masalah sebagai berikut :

Bagaimanakah keadaan sosial masyarakat dalam novel “pelabuhan tak bertepi” karya husain mu’nis ?

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian karya tulis ini dibuat supaya pembaca dapat mengerti dan memahami mengenai novel pelabuhan tak bertepi. Dan mengerti kondisi dan tradisi, kedudukan seorang ibu di mesir pada masa itu.

  1. Manfaat Penelitian

Manfa’at dari analisis novel “pelabuhan tak bertepi” ada beberapa yang dapat diperoleh, antara lain :

  1. Dapat memperluas wawasan, pengetahuan dan pengalaman.
  2. Dapat digunakan untuk pengembangan penelitian terhadap karya sastra lebuh lanjut.
  3. Untuk menerapkan ilmu sosiologi sastra yang telah didapat.
  4. Agar lebih mengerti tentang tradisi mesir pada masa itu.
  1. Landasasn teori

Konsep Dasar Strukturalisme Genetik Goldmannsikan oleh Goldmann, berpijak pada pandangan bahwa karya sastra adalah sebuah struktur yang bersifat dinamis karena merupakan produk sejarah dan budaya yang berlangsung secara terus menerus (Faruk, 2010: 56). Kedinamisasian struktur sastra ini terbentuk karena relasi genetiknya, yaitu hubungan dialektis antara penulis dengan masyarakat. Penulis adalah individu yang menjadi anggota masyarakat. Masyarakat menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya visi dunia yang berdialog dengan penulis, sehingga kondisi masyarakat berperan besar dalam membentuk visi dunia penulis.

 

Yang menjadi fokus dalam pendekatan strukturalisme yang dikemukakan oleh Goldmann adalah hubungan dialektis penulis dan masyarakat sebagai faktor eksternal-genetis sastra. Hal ini yang menunjukkan kehadiran penulis sebagai individu yang direpresentasikan selalu mewakili kelas dan kelompok sosialnya dalam konteks kehidupan di masyarakat. Disinilah, kedudukan penulis dalam kehidupan masyarakat juga bukan merupakan individu yang pasif, yang kediriannya mutlak ditentukan oleh sistem yang ada di masyarakat.

 

Strukturalisme genetic Goldmann merupakan pendekatan sastra yang bergerak dari teks sebagai focus yang otonom menuju faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik di luar teks, yaitu penulis sebagai subjek kolektif suatu masyarakat.

  1. Metode penelitian

Metode penelitian penulis yakni menggunakan metode pengamatan, pemahaman dan penjabaran atau penafsiran. Cara yang ditempuh antara lain :

  1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan atau library research.

  1. Objek Penelitian

Objek yang diteliti adalah teks-teks yang ada didalam novel “pelabuhan tak bertepi”

  1. Mengumpulkan Data

Data berasal dari fakta atau fonemena. Apabila kurang cermat dalam membaca, maka tidak akan menjadi data yang akurat. Arena itu pengumpulan data menjadi syarat utama penelitian

  1. Melalui pembacaan heuristik.

Artinya hati-hati, tajam terpercaya, dan menafsirkan sesuai konteks sosial.

  1. Pembacaan hermeneutik

Artinya peneliti mencoba menafsirkan terus-menerus sesuai dengan bahasa sosial dan dikaitkan dengan sejarah

  1. Pengamatan

Cara yang bisa ditempuh untuk mencermati sosiologi pengarang

  1. Teknik Klasifikasi Data

Dengan menggunakan analisis sosiologi sastra, proses pengolahan data dilakukan sebagai berikut :

  1. Membaca semua bagian novel “ pelabuhan tak bertepi
  2. Menandai bagian-bagian novel yang bersangkutan
  3. Mendeskripsikan bagian-bagian yang sudah ditandai
  4. Manganalisis bagian-bagian yang telah dideskripsikan dengan pendekatan sosiologi sastra.
  5. Menyimpulkan hasil analisis.

 

BAB II

BIOGRAFI PENGARANG DAN SINOPSIS

 

  1. Biografi pengarang

Husain mu’nis di lahirkan di swiss pada tanggal 4 Ramadhan 1329 H yang bertepatan p[ada tanggal 28 Agustus 1911 masehi. Husain mu’nis dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang baik dan terhormat sehingga dia mampu meraih pendidikannya dengan baik, karena mendapatkan dukungan sepenuhnya dari orangtua dan keluarganya, sehingga mampu mengantarkan dia sebagai pakar sejarah islam.

            Proses pendidikan yang pernah dilalui oleh seorang Husain mu’nis adalah ia telah meraih gelar sarjana di Universitas kairo pada tahun 1934 masehi dan dia sebagai lulusan terbaik diantara teman-teman dan kerabatnya. Setelah meraih gelar sarjana muda di Universitas kairo, tidak lama kemudian Husain mu’nis melanjutkan studinya untuk meraih gelar magister di salah satu Universitas yang berada di paris dan lulus pada tahun 1938 masehi, kemudian dilanjutkan dengan gelar doktor dengan memilih jurusan seni di Universitas zurich, swiss, yang bisa dia selesaikan pada tahun 1943 Masehi.

Setelah berakhirnya perang dunia kedua, yaitu pada tahun 1945 masehi, husain mu’nis kembali ke mesir dan diangkat sebagai dosen jurusan sejarah dan adab. Disamping sebagai dosen, Husain mu’nis juga melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah yang sesuai dengan bidangnya,  sehingga dia di angkat sebagai profesor sejarah islam pada tahun 1945 Masehi. Karir mu’nis terusa meningkat dan mulai di pertimbangkan oleh pemerintah, hal ini terlihat pada tahun 1955 mu’nis ditugaskan oleh departemen pendidikan untuk membawahi beberapa bagian di departemen tersebut.

Adapun karya-karya sejarah yang pernah di tulisnya diantaranya adalah seluruh buku “ fajar Andalusia “  yang mengekplorasi tentang periode awal sejarah andalusia secara detil dan mendalam, selain “ fajar andalusia” mu’nis juga menuliskan buku yang berjudul “Sejarah tentang maroko dan andalusia “, buku ini diwujudkan dalam dua jilid buku besar. Buku yang lain yang ditulis adalah “Perjalanan andalus” sejarah dan sejarawan dan sejarah geografi dan koordinat andalusia “ buku ini merupakan penelitian terbesar husain mu’nis, karena penelitian ini harus menggabungkan pengetahuan tentang geografis dan historis. Selain karya-karya tentang sejarah mu’nis juga menulis buku tentang peradaban islam, filsafat dan novel. Adapun beberapa novel yang pernah mu’nis tulis adalah“Idarotul ummi zer“, “ahlan wasahlan”, “jariyah wa sya’ir”, “kisah abu auf”, dan “ ghodan tuladu syamsun ukhro “ Novel yang terahir sudah di terjemahkan dalam bahasa indonesia.

Setelah berkiprah cukup lama di bidang sejarah, dan peradaban Islam, filsafat dan karya sastra , mengantarkan husain mu’nis pada penghargaan yang dianugrahkan padanya, diantaranya adalah pada tahun 1965 ia mendapatkan “penghargaan dibidang ilmu sosial di bidang kesenian” selanjutnya pada tahun 1966 mu’nis mendapatkan “ Medal of science and art “ , penghargaan lainnya ia didapatkan dari dewan kebudayaan pada ttahun 1986.

Setelah memasuki usia senja, mu’nis mengurangi aktifitasnya di karenakan kondisi kesehatan yang sudah mulai melemah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 27 Syawwal 1416 hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 17 maret 1996 Masehi.

 

  1. sinopsis

Judul  : Pelabuhan Tak Bertepi

Pengarang : Husain Mu’nis

Penerbit : NAVILA

Cetakan : Pertama

Tahun Terbit : Februari 2009

Tempat Terbit : Yogyakarta

Tebal Buku : 186 halaman ; 13 x 18 cm

ISBN          : 978-979-3965-13-7

 

Seorang ibu rumah tangga bernama Nadia mempunyai tiga orang anak. Mengorbankan pekerjaannya di sebuah kedutaan besar di negerinya yang tentunya gajinya lebih besar dari gaji suaminya, namun karena Nadia ingin anak – anaknya terdidik dengan baik akhirnya memutuskan untuk keluar. Selama puluhan tahun menjalani tugasnya sebagai ibu rumah tangga demi mendidik anak – anaknya. Namun anak pertamanya semakin bertambah besar mulai menuntut permintaan yang tidak masuk akal. Dalam tradisi Mesir seorang ibu harus menuruti keinginan anak lelaki, namun Nadia memungkiri tradisi itu karena ingin anaknya menjadi terdidik dengan baik. Walaupun suaminya membela anak lelakinya tetapi Nadia tetap tegar dengan pendiriannya. Suami Nadia bernama Majid, sedangkan ketiga anaknya bernama Thariq, Susan, Ahmad. Suami Nadia bekerja menjadi seorang pembantu negeri, gajinya pun cukup untuk membiayai keluarganya, sedangkan Thariq anak pertamanya adalah mahasiswa kedokteran tingkat dua, Susan mahasiswa pendidikan bahasa inggris dan Ahmad masih sekolah di sekolah inggris. Nadia tetap berpegang teguh dengan pendiriannya sehingga konfilk pun mulai terjadi, hingga pada akhirnya Nadia memutuskan untuk pergi dari rumah dan  bekerja kembali. Ketika seorang perempuan sudah tidak di hargai di keluarganya sendiri. Ketika seorang anak meragukan kesetiaannya, Nadia tidak di anggap lagi sebagai seorang ibu. Hanya anak perempuannya yang bisa mengerti Nadia.  Hingga pada akhirnya mereka pun tersadarkan oleh tingkah mereka terhadap Nadia.

 

  1. Struktur novel
  2. Tema : Konflik dalam sebuah keluarga
  3. Tokoh

Tokoh utama : Nadia, Majid, Thariq,

Tokoh pembantu : Susan, Ahmad, Aminah, Zhahiya, Dokter Mahmud

Tokoh figuran : imam, Mr. Zaki, Pak Khamis, Izzuddin

  1. Penokohan
  2. a)      Nadia
  • Penyabar ( selalu sabar dengan tingkahlaku anak lelakinya dan suaminya)
  • Rajin ( di kesehariannya selalu menyiapkan keperluan keluarganya dan membangunkan suami beserta anaknya)
  • Gigih ( selalu gigih dengan pendiriannya, tidak melihat orang lain seperti apa dan percaya diri)
  • Teliti ( selalu menghitung semua pengeluaran dan pemasukan di keluarganya dan sisanya di tabung)
  • Tegas ( tegas dalam pekerjaannya di kedutaan dan dalam mendidik anak – anaknya)
  • Cerdas ( mampu mengatur keuangan keluarganya dan mampu mangatur karyawan – karyawannya di kantor dengan baik.
  1. b)      Majid
  • Lembut ( lembut kepada istrinya karena menyayangi istrinya di saat tidak emosi)
  • Ramah ( ramah kepada istrinya setelah sudah sarapan)
  • Tidak konsisten (selalu membela anak lelakinya di saat anak lelakinya meminta sesuatu)
  • Kurang tegas ( selalu terbawa oleh anak lelakinya, tidak bisa mengendalikan anak lelakinya yang selalu memaksa)
  • Emosional (selalu marah ketika di bangunkan di pagi hari oleh Nadia )
  1. c)      Thariq
  • Pembangkang ( tidak mendengarkan perkataan ibunya dan semaunya sendiri)
  • Egois ( thariq selalu mementingkan kepentingannya sendiri tidak berpikir panjang terlebih dahulu )
  • Tidak sopan ( tidak sopan terhadap orangtuanya, selalu berkata seenaknya sendiri terutama kepada ibunya, menganggap ibunya sebagai seorang pembantu)
  • Sombong ( selalu membanggakan dirinya menjadi seorang dokter padahal baru menjadi calon seorang dokter )
  • Pembohong ( berbohong kepada Papanya tentang ibunya akan membeli mobil Aminah teman Mamanya )
  1. d)     Susan
  • Baik ( selalu membela Mamanya, membela tentang kebenaran )
  • Lembut ( berkata lembut kepada Mamanya dan sayang kepada Mamanya)
  • Tanggung jawab ( menyampaikan pesan Mamanya kepada Papanya dan memberikan uang dari Mamanya untuk Ahmad )
  • Perhatian ( selalu mencemaskan Mamanya di saat Mamanya sedang menderita)
  • Rajin ( selalu bangun sebelum di bangunkan oleh Mamanya )
  • Penurut ( selalu mendengarkan perkataan Mamanya dan menjalankan perintah dari Mamanya )
  1. e)      Ahmad
  • Tidak konsisten ( hanya mengikuti Thariq marah, karena Ahmad masih terlalu kecil )
  1. f)       Aminah
  • Teman terbaik ( mau mendengarkan curahan Nadia di saat hatinya sedang gundah atau banyak masalah )
  • Matre ( menikah dengan lelaki yang berpenghasilan tinggi tanpa dasar rasa suka dan cinta )
  • Baik hati ( memberikan atau menawarkan pekerjaan kepada Nadia untuk bekerja di sebuah kedutaan besar yang gajinya tinggi dan selelu memberikan motivasi kepada Nadia )
  1. g)      Zhahiya
  • Teman terbaik ( berteman dengan Nadia dari sewaktu masih bekerja bersama Nadia di kedutaan besar )
  • Cantik ( berpenampilan menawan karena masih bekerja di kedutaan)
  • Cuek ( jarang mampir kerumah Nadia walaupun melewati rumah Nadia tidak seperti Aminah)
  • Sombong ( menyombongkan dengan kekayaan yang di punya )
  1. h)      Ammu Imam
  • Pembantu ( meyiapkan makanan di saat waktunya makan )
  • Penurut ( mendengarkan perintah Nadia dengan apa yang sudah di perintahkan )
  • Penyabar ( sabar walaupun setiap hari selalu Thariq selalu mamarahinya di saat Thariq pulang ke rumah )
  • Sopan ( berlaku sopan terhadap majikan, tidak pernah melanggar aturan )
  • Dapat di percaya ( Nadia selalu memberikan kepercayaan kepada Imam masalah pekerjaan rumah )
  1. i)        Mr. Zaki
  • Sopan ( selalu menghormati Nadia sebagai atasan )
  • Tanggung jawab ( melaksanakan perintah Nadia yang sudah di perintahkan oleh Nadia )
  1. j)        Mr. Edwards
  • Baik hati ( memberikan sebuah apartemen untuk Nadia dan memberikan kepercayaan kepada Nadia )
  1. k)      Pak Khamis
  • Tidak sopan ( tidak sopan terhadap Nadia dan merokok di depan Nadia )
  • Tidak bertanggung jawab ( bekerja dengan seenaknya sendiri )
  • Tidak mematuhi peraturan ( merokok di saat jam kerja sedang berlangsung, bahkan meroko dengan mengepel lantai )
  1. l)        Dokter Mahmud
  • Paman atau saudara Majid ( dokter kesehatan yang sukses di Mesir )
  • Penasehat ( menasihati Majid tentang Nadia telah berbuat baik kepada keluarganya )
  • Baik hati ( mau memberikan masukan kepada Majid dan membela kebenaran Izuddin )
  • Teman Majid ( teman kantor Majid sama – sama pembantu mentri )
  • Penasehat ( menasihati Majid dalam hal kebaikan )
  • Baik ( mau mendengarkan curahan hati majid di saat resah tanpa Nadia )
  1. Latar
  2. a)      Latar tempat : bertempat dirumah Nadia tentunya di Mesir, kantor Majid kementrian Mesir karena Majid sebagai pembantu pejabat mentri di Mesir, di kantor Nadia di wisma karena Nadia bekerja sebagai manajer di wisma, dan di rumah Aminah.
  3. b)      Latar waktu
  • Di pagi hari : “ cahaya pagi mulai merayapi alam semesta, jam menunjukan pukul 05.30…” ( hal.3)
  • Di siang hari : “ nadia menjemput anak perempuannya  pulang kuliah sehabis dhuhur menggunakan mobilnya…” (hal.8)
  • Pukul 14.00 : “suasana dirumah tenang karena sibuk dengan aktivitas sendiri – sendiri…” (hal.16)
  • Pukul 05.30 : “ aku mulai bangun dan menyiapkan sarapan untuk kalian semua…” (hal.24)
  • Pukul 21.00 : “ aku akan menelpon mu susan nanti malam pukul Sembilan …” (hal.36)
  • Pukul 16.00 : “ mama susan sudah tak kuat tinggal dirumah seperti ini…” (hal.43)
  1. c)      Latar suasana
  • Mengharukan : “ apa salah Mama selama ini, Mama selalu bangun pagi menyiapkan sarapan untuk kita semua, apa kamu masih menyalahkan Mama….”
  • Mendebarkan : “ ok saya akan membacakan isi surat ini tapi buatkan saya kopi terlebih dahulu sebelum saya membacakan surat dari Nadia ini, bagaiman Majid …” (hal.63)
  • Cemas : “ kamu tak usah cemaskan Mama Susan sayang, Mama disini baik – baik saja…”
  • Takut : “ Susan takut nanti Thariq dan Papa merampas uang Mama…”
  • Ricuh : “ aku ini dokter, masa naik bus berdesak – desakan, kalau Papa tak memberikanku mobil lebih baik Thariq berenti kuliah…”(hal.65)
  • Kecewa : “ sudahlah nasi sudah menjadi bubur…”. (hal.71)
  • Bingung : “ sekarang pikirkan bagaimana caranya untuk membuat Nadia bisa kembali pulang ke rumah…”. (Hal.84)

 

  1. Alur

Dalam novel “ Pelabuhan Tak Bertepi “ ceritanya menggunakan alur maju karena peristiwanya disusun secara kronologis.

“ Aku berjalan menuju pintu balkon, matahari menyeruak masuk dan tentunya aku memicingkan mata karena sinar matahari sangat mengagetkanku “ (hal.5)

Alur berdasarkan kualitasnya :

Menggunakan alur rapat karena tidak dapat di sisipi alur lain, dalam cerita hanya menceritakan satu alur atau satu cerita.

Alur berdasar cerita :

Menggunakan alur terbuka, karena dalam cerita tersebut sangat menggantung ceritanya, tidak di selesaikan, seperti tokoh Nadia setelah Majid suaminya menyesali tetapi keberadaaan Nadia tidak muncul kembali, mereka tidak di pertemukan bersama dan tokoh Thariq juga belum meminta maaf kepada Mamanya.

  1. Sudut Pandang

Pengarang di dalam novel “Pelabuhan Tak Bertepi “ sebagai orang ke tiga, karena pengarang menggunakan nama orang lain.

  1. Gaya Bahasa
  • Hiperbola : “ Nadia adalah hidupku, aku tak bisa hidup tanpa dia…”
  • Personifikasi : “ setelah udara segar menyapu tubuhnya …”

Gaya bahasanya mudah di mengerti oleh pembaca sehingga pembaca tidak kebingunan dan tidak bosan dalam membaca novel tersebut.

  1. Amanat

Janganlah menganggap wanita sebagai manusia yang paling lemah, dan jangan menganggap wanita sebagai pembantu di kehidupan kita, hargailah perjuangan wanita jangan menyepelekan karena belum tentu para lelaki bisa seperrti wanita yang selalu telaten dalam hal apapun. Apalagi seorang anak yang menganggap ibunya seperti pembantu, sungguh kejamlah anak itu, padahal ibu telah mendidik kita.

BAB III

ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA

 

  1. Tradisi keluarga dan kedudukan seorang ibu di mesir
  2. Tradisi : sesuatu yang sudah lama dilakukan dan menjadi kebiasaan dan menjadi bagian hidup sekelompok masyarakat, biasanya kebudayaan, atau agama suatu negara.

 

Orang Mesir biasanya hidup dalam keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Keluarga di Mesir seringkali memiliki banyak anak, karena cukup banyak anak yang meninggal sebelum beranjak dewasa.

Anak perempuan tinggal di rumah orang tua hingga mereka menikah pada usia 15-19 tahun. Anak lelaki tetap tinggal di rumah orang tua bahkan setelah menikah, dengan membawa serta istri mereka.

 

  1. Dalam tradisi mesir, seorang ibu harus melakukan pekerjaan rumah dan  patuh dan tunduk kepada anak laki-lakinya, karna mereka beranggapan bahwa anak laki-laki akan menjadi estafet tulang punggung keluarga ketika orang tuanya sudah tua.

 

# Ketika seorang ibu menjalankan aktifitasnya sehari :

“tepat pukul 06.00, dikenakannya celemek dan mengikat rambutnya dengan selendang. Agenda pagi itupun dimulai. Secangkir besar kopi dicampur susu, sambil duduk dan memandang kearah whestafel , setumpuk piring , gelas, dan sendok, dan garpu menumpuk. Tidak peduli. Semua itu akan beres dengan air panas dan sabun pencuci piring dan tangan yang terbungkus oleh sarung tangan karet. Dan benar saja, whestafel yg terbuat dari keramik itu kini sudah bersih. Semuanya sudah diletakkan di tempatnya masing-masing, mangkok, nampan, sendok, dan sebagainya. Luar  biasa semuanya berjalan sangat tertib “ (hal.6)

 

# ketika seorang ibu membangunkan keluarganya :

“bangunlah wahai majid, suamiku tersayang !, hei …. selamat pagi “

Bangunlah suami ku, engkau tidak boleh malas,

Nadia membuka jendela lebar-lebar supaya hawa pagi masuk (hal.14)

 

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang ibu sangat berpengaruh pada keluarga, ibu adalah roda yang berputar yang mengatur semua aspek yang ada dalam keluarga.

 

  1. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan dan pengembangan sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosialdan lingkungan alam, yang berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir.

“thariq anak nadia yang paling tua akan mengikuti pelajaran petalogi di rumah gurunya, Minsyar si teknisi” , sampai pukul sebelas malam, hari-hari thariq di penuhi dengan berbagai pelajaran. Dalam pelajaran tersebut dibagi beberapa kelompok” (hal.11)

      “Ketika sekitar pukul setengah sembilan suami dan anak perempuannya susan telah berangkat ke sekolah dengan supir, sebelum berangkat susan berpesan kepada ibunya “ nanti pukul sebelas jemput susan disekolahan ya bu !” tentu sayang jawab nadia “ ( hal.17)

 “ aku tidak niat masuk kedokteran , aku masuk kedokteran karna ingin menyenangkan hati kalian saja. Meskipun begitu aku adalah harapan kalian  satu-satunya saat ini demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik, begitu aku selesai kuliah, aku akan mengabulkan semua permintaan kalian. (hal.32)

Dari pernyataan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa, dimesir orang tua selalu ingin pendidikan anak-anak nya ke jenjang yang lebih tinggi, dengan alasan dapat menggantikan posisi keluarga dan menjadi tulang punggung ketika  sukses kelak.

 

  1. Keuangan

Pada kehidupan masyarakat berkembang suatu sistem ekonomi keluarga. Dengan tujuan untuk mengatur kebutuhan hidup. Keuangan dalam keluarga harus selalu dalam kondisi baik, pemasukan pengeluaran terinci dengan jelas

 barang barang yang akan di beli hari ini, sudah tertulis dalam agenda itu, dua tabung gas, satu botol minyak goreng,bawang putih, bawang merah, jruk, garam, dan korek api  “ (hal.7)

“majid……… berapa pound sebulan yang kamu berikan padaku ? “ tanya nadia begitu buku catatan keuangan ada di tangannya. (hal.69)

“gajimu tiga ratus lima puluh pound.engkau memberiku tiga ratus lima puluh pound ? “

“tidak tiga ratus pound saja sesuai dengan kesepakatan kita !” (hal.69)

“baik nyonya !, aku memberimu tiga ratu pound per bulan. Aku hanya mengambil lima puluh pound saja. Apakah itu banyak ? (hal.69)

Thariq menjawab “Tidak banyak, pa ! itu bahkan jauh dari yang seharusnya. Papa kan pembantu menteri ?” (hal.70)

“ berapa penghasilan seorang pembantu menteri perbulan daari rapat, sidang dan tunjangan ? “ tanya nadia.

Mendengar pernyataan itu majid marah, “Engkau ada urusan apa dengan hal itu? Engkau ingin mengaturku sampai kesitu juga?”

“iya” jawab nadia ringan (hal70)

“ bulan ini saja kamu meminta dua puluh pound dariku pada tanggal delapan belas. Dan sepuluh pound lagi pada tanggal dua puluh empat. Engkau kemmbalikan lagi sebanyak tiga puluh pound padaku ?”sindir nadia.

“ mana ku tau “ jawab majid kesal. (hal.70)

Dari pernyataan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa, ketidak seimbangannya pendapatan ekonomi antara suami dan istri menimbulkan permasalahan dalam keuangan keluarga, tapi seharusnya dalam ekonomi keluarga mesir seorang suami harus lebih besar penghasilannya dari pada istri agar tidak menimbulkan permasalahan dalam keungangan. Dan di mesir seorang istrilah yang mengatur keluar masuknya uang ( memanage ekonomi keluarga )

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Dari analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Novel ini bertemakan tentang seorang wanita yang ingin menantang tradisi mesir agar anaknya menjadi lebih baik, sehingga ia tidak dihargai dalam keluarga
  2. Dalam novel “ Pelabuhan Tak Bertepi “ ceritanya menggunakan alur maju karena peristiwanya disusun secara kronologis.
  3. Gaya bahasa menggunakan hiperbola, Gaya bahasanya mudah di mengerti oleh pembaca sehingga pembaca tidak kebingunan dan tidak bosan dalam membaca novel tersebut.
  4. Memiliki unsur sosial mengenai status seorang ibu di mesir, pendidikan dan keungan dalam keluarga.
  5. Kisahnya merupakan gambaran paling jernih tentang kondisi mesir yang terombang-ambing antara modernisme dan tradisi.
  6. Novel ini juga sangat pas untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita yang terkadang meremehkan peran wanita sebagai seorang istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

 

  1. Saran

Penulis berharap saran dan kritiknya, dengan harapan dapan lebih baik dalam penganalisisan yang akan datang. Dan berharap kepada pembaca karya sastra agar kita bisa belajar kehidupan dan mengambil pesan yang terdapat didalam cerita.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Pelabuhan tak bertepi (husain mu’nis),Navila yogyakarta (2009)
  2. Faruk ,(2010). Pengantar sosiologi sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  3. Bunyamin, Bacrum dkk ,2013. Teori sastra Arab, Yogyakarta
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s