oleh:

Reny Juliana

ABSTRAK

Reny Juliana. Perjuangan Tokoh Wanita dalam Novel Lady Susan Karya Jane Austen (Kajian Kritik Sastra Feminisme Liberal). Universitas Negeri Jakarta. 2016

 

            Karya sastra merupakan gambaran kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia lain, dan alam sekitar. Hubungan tersebut tentunya bersifat dinamis sehingga karya sastra yang dihasilkan manusia juga berubah sesuai jamannya. Fenomena kawin paksa merupakan fakta yang terjadi di masyarkat dan dominan dalam novel-novel feminis. Tokoh-tokoh muda di dalam novel tersebut mengkritisi, berjuang dan melawan kawin paksa yang diatur oleh orang tua atau keluarga.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strukur tokoh-tokoh dalam novel Lady Susan dan bagaimana perjuangan tokoh-tokoh tersebut dalam melawan perjodohan atau kawin paksa. Selain itu, analisis tentang prinsip-prinsip feminisme liberal juga akan dikaji.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi pustaka dan tidak terikat tempat penelitian. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2015 sampai dengan Desember 2015. Data yang diperoleh merupakan telaah dokumen novel Lady Susan karya Jane Austen. Catatan lapangan berupa deskripsi atau gambaran dan refleksi berupa perenungan. Peneliti menggunakan trianggulasi data untuk mendapatkan data yang sama agar dapat ditarik kesimpulan yang lebih lengkap. Teknik analisis data bersifat kualitatif dan memerlukan penjelasan secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada prinsip pikiran feminisme liberal yang digambarkan dalam novel Lady Susan karya Jane Austen. Prinsip yang ada dalam novel Lady Susan adalah perjuangan tokoh-tokoh wanita  untuk menentang kawin paksa dan mendapatkan hak dan kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya.

ABSTRAK

Reny Juliana. Perjuangan Tokoh Wanita dalam Novel Lady Susan Karya Jane Austen (Kajian Kritik Sastra Feminisme Liberal). Universitas Negeri Jakarta. 2016

           

Literature is the description of human beings’ life related to God, other human beings, and nature. The relationship among them is dynamic that literature changes based on its era. The phenomena of arranged marriage are the facts that happen in the society and dominant in the feminist novel. Young characters in the novels critize, struggle, and resist arranged marriage set by the parents or families.

The purpose of the research is to identify the characters in the novel and how their struggles to resist the arranged marriage are.

The research is qualitative research with literature reiew without specific places. The research was conducted from July 2015 until December 2015. The data got were  the study of documents in the novel. The researcher used data triangulation to get the same data. This was to take a complete conclusion. The technique of data analysis are qualitatif and need descriptive explanation.

The research shows that there is aliberal feminist principle that is drawn in the novel. The principle is that the struggles of women to resist arranged marriage and get rights as well as freedom to determine their own life.

 

 

BAB I

Pendahuluan

  • Latar Belakang

Karya sastra lahir sebagai gambaran kehidupan manusia, karena itu karya sastra pasti selalu berhubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam atau lingkungan,  atau manusia dengan Tuhannya. Sebagai gambaran kehidupan manusia, semua hubungan tersebut pastinya bersifat dinamis. Permasalahan yang terjadi dan dikaji dalam karya sastra juga berubah sesuai dengan zamannnya.

Fenomena kawin paksa merupakan fakta yang sering terjadi di masyarakat. Kawin paksa merupakan perjodohan yang diatur oleh orang tua (keluarga) tanpa persetujuan dari pihak yang akan menikah. Orang tualah yang sibuk mencarikan jodoh untuk anaknya tanpa mendengarkan pendapat anaknya apakah setuju atau tidak dengan perjodohan tersebut.

Alasan kawin paksa biasanya beragam mulai dari pencarian kedudukan dan kesejahteraan atau kemapanan ekonomi untuk anak yang akan dinikahkan. Alasan tersebut  terjadi karena orang tua beranggapan bahwa hal-hal tersebut dapat menjamin kebahagiaan anak yang akan dinikahkan.

Masalah kawin paksa cukup dominan dalam novel-novel yang beraliran feminis yang dikaji. Tokoh-tokoh perempuan dalam novel-novel tersebut mengalami kawin paksa atau perjodohan yang diatur oleh orang tua. Dengan berbagai upayanya, tokoh-tokoh  generasi muda mencoba mengkritisi, berjuang dan melawan perjodohan dan kawin paksa yang diatur oleh orang tuanya.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut:

  • Bagaimana struktur tokoh dalam novel Lady Susan karya Jane Austen?
  • Bagaimana bentuk perjuangan tokoh-tokoh perempuan dalam menentang ketidakadilan gender?
  • Bagaimana pokok-pokok feminisme dalam novel Lady Susan karya Jane Austen?

 

  • Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  • Untuk mengetahui bagaimana struktur tokoh dalam novel Lady Susan karya Jane Austen?
  • Untuk mengetahui bagaimana bentuk perjuangan tokoh-tokoh perempuan dalam menentang ketidakadilan gender?
  • Untuk mengetahui bagaimana pokok-pokok pikiran feminisme liberal dalam novel Lady Susan karya Jane Austen?

 

  • Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini memiliki dua manfaat yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Penjelasan dari kedua manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Manfaat teoritis
  • Memberikan sumbangan bagi kritik sastra, khususnya bagi pengkajian sastra berbentuk novel.
  1. Manfaat praktis
  • Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan guru bahasa dan sastra Inggris dalam pembelajaran apresiasi sastra khususnya novel beraliran feminisme.
  • Hasil penelitian dapat digunakan sebagai wahana pembelajaran apresiasi sastra dengan pendekatan feminisme.

 

BAB II

KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN DAN KERANGKA BERPIKIR

 

  1. KAJIAN TEORI
  2. Hakikat novel

Novel (Inggris: novel) merupakan bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi (Burhan Nurgiyantoro, 2007). Fiksi merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tangung jawab dari segi kreatifitas sebagai karya seni. Fiksi menawarkan “model-model” kehidupan sebagaimana yang diidealkan oleh pengarang sekaligus menunjukkan sosoknya sebagai karya seni yang berunsur estetik dominan.

  1. 2. Pembedaan Tokoh

Tokoh-tokah cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis penanaman berdasarkan dari sudut mana penanaman itu dilakukan.

a.Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Karena tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menetukan perkembangan plot secara keseluruhan.

b.Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis

Jika dilihat dari peran-peran tokoh dalam pengembangan plot dapat dibedakan adanya tokoh utama dan tokoh tambahan, dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan kedalam tokoh protagonis dan tokoh antagonis.

c.Tokoh Sederhana dan Tokoh Bulat

Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam tokoh sederhana (simple atau flat character) dan tokoh kompleks atau tokoh bulat (complex atau round character). Tokoh sederhana, dalam bentuknya yang asli, adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat watak yang tertentu saja. Tokoh bulat, kompleks, berbeda halnya dengan tokoh sederhana adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian, dan jati dirinya.

d.Tokoh Statis dan Tokoh Berkembang

Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dalam sebuah novel, tokoh dapat dibedakan kedalam tokoh statis, tak berkembang (staticharacter) dan tokoh berkembang (develoving character).

e.Tokoh Tipikal dan Tokoh Netral

Berdasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap (sekelompok) manusia dari kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam tokoh tipikal (typical character) dan tokoh netral (neutral character).

 

  1. Konsep Dasar Feminisme
  2. Pengertian Feminisme

Feminisme menggabungkan doktrin persamaan hak bagi perempuan yang menjadi gerakan yang terorganisasi untuk mencapai hak asasi perempuan, dengan sebuah ideologi transformasi sosial yang bertujuan untuk menciptakan dunia bagi perempuan (Humm, 2007 dalam Wiyatmi, 2012). Dengan kata lain, bahwa feminisme merupakan ideologi yang membebaskan perempuan dari ketertindasan dan ketidakadilan. Feminisme juga merupakan gerakan untuk mengakhiri dominasi laki-laki terhadap perempuan di dalam semua bidang (Ruthven, 1985, dalam Wiyami, 2012).

Feminisme lahir pada saat Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis De Condorcet. Menjelang abad ke-19, feminisme lahir dengan mendapat perhatian dari perempuan kulit putih Eropa. Mereka memperjuangkan apa yang disebut universal sisterhood(persaudaraan yang bersifat universal).

Kritik sastra feminis di dunia Barat sering dimetaforakan sebagai quilt. Quilt yang dijahit dan dibentuk dari potongan-potongan kain persegi itu pada bagian bawahnya dilapisi dengan kain lembut. Jahitan potongan kain itu memakan waktu cukup lama dan biasanya dikerjakan beberapa orang. Metafora ini dapat dikenakan sebagai metafora pengertian kritik feminis. Kritik feminism diibaratkan sebagai alas yang kuat untuk menyatukan penyendirian bahwa seorang perempuan dapat secara sadar membaca karya sastra sebagai perempuan.

Dalam ilmu sastra, feminism ini berhubungan degan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisisnya pada perempuan. Jika selama ini dianggap dengan sendirinya bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra Barat ialah laki-laki, kritik sastra feminis menunjukkan bahwa pembaca perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya.

Dapat disimpulkan, kritik sastra feminism bertolak dari permasaahan pokok, yaitu anggapan perbedaan seksual dalam inteprestasi dan perebutan makna karya sastra. Cara pandang memperbincangkan konsep perbedaan sosial. Jadi, feminism membahas hal-hal yang berkaitan dengan perempuan dan hak-haknya. Feminism tidak ingin memperlihatkan konsep patriarkhat secara dominan; segi-segi keperempuan yang lemah dan dianggap lemah, harus diperbincangkan.

 

  1. Perkembangan Feminisme

      Gerakan feminisme dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu: gelombang pertama, gelombang kedua, dan gelombang ketiga. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

  • Gelombang pertama

Feminisme gelombang pertama lahir di Amerika pada tahun 1840-1920. Hal-hal yang di perjuangkan oleh kaum perempuan saat itu adalah reformasi hukum perkawinan, perceraian, hak milik, dan pengasuhan anak. Dua belas resolusi juga dihasilkan yang menekankan pada hak-hak perempuan untuk menyatakan pendapat di depan umum.

Mereka Pada dasarnya feminisme gelombang pertama merupakan feminisme liberal pada abad ke-19. Para kaum feminis menuntuk hak pilih mereka. Mereka beranggapan bahwa dengan memiliki hak pilih, kedudukan mereka setara dengan kaum laki-laki.

  • Gelombang kedua

Pada perkembangan ini, gerakan yang diperjuangkan adalah pembebasan perempuan. Tujuan dari gerakan ini adalah meningkatan kesadaran perempuan mengenai opresi (penindasan) terhadap perempuan. Gerakan ini merupakan gerakan revolusioner kiri yang ingin menggantikan sistem elitis, kapitalis, kompetitif, dan individual, melainkan untuk menggantikannya dengan sistem yang egaliter, sosialistis, kooperatif, komuniter, dan berdasarkan pada gagasan sisterhood is powerfull (persaudaraan perempuan yang kuat).

  • Gelombang ketiga

Feminisme ini disebut juga feminsime postmodern atau feminisme Perancis. feminisme posmodern memandang dengan curiga setiap pemikiran feminis yang berusaha memberikan suatu penjelasan tertentu mengenai penyebab opresi terhadap perempuan, atau sepuluh langkah tertentu yang harus diambil perempuan untuk mencapai kebebasan.

Di samping ketiga gelombang feminisme tersebut, muncul pula pemikiran posfeminisme, seperti yang dikemukakan oleh Brooks. Postfeminisme adalah tentang pergeseran konseptual di dalam feminisme, dari debat sekitar persamaan ke debat yang difokuskan pada perbedaan. Postfeminisme mengeskpresikan persimpangan feminisme dengan posmodernisme, postrukturalisme, poskolonialisme, dan sebagainya yang merepresentasikan suatu gerakan dinamis yang mampu menantang kerangka kaum modernis patriarki dan imperialis.

 

  1. Ragam Feminisme

Ada delapan ragam pemikiran feminisme, yaitu feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis dan sosialis, feminisme psikoanalisis dan gender, feminisme eksistensialis, feminisme postmodern, feminisme multicultural dan global, dan ekofeminisme.

  • Feminisme Liberal

Feminisme liberal berkembang pada abad ke-18 dan ke-19 dengan pelopor Mary Wollstonecraft. Feminisme liberal berjuang bagi pencapaian kesetaraan hak-hak perempuan di segala bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan personal.

  • Feminisme Radikal

Feminisme radikal yang berkembang dari partisipasi mereka dalam satu atau lebih gerakan sosial radikal di Amerika Serikat pada awal 1960-an, memiliki hasrat untuk memperbaiki kondisi perempuan. Perhatian utama feminisme radikal adalah kampanye anti kekerasan terhadap perempuan.

  • Feminisme Marxis

Feminisme Marxis dipengaruhi oleh ideologi kelas Karl Marx. Feminisme Marxis mengidentifikasi kelasisme sebagai penyebab opresi (penindasan) terhadap perempuan.Tujuan dari feminisme Marxis adalah mendeskripsikan basis material ketertundukan perempuan dan hubungan antara model-model produksi dan status perempuan, serta menerapkan teori perempuan dan kelas pada peran keluarga.

  • Feminisme psikoanalisis dan gender

Feminisme psikoanalisis dan gender mengemukakan gagasan bahwa penjelasan fundamental atas cara bertindak perempuan berakar dalam psikis perempuan, terutama dalam cara berpikir perempuan. Feminisme psikoanalisis berakar dari teori psikoanalisis Freud, terutama teori perkembangan seksual anak. Menurut Freud, maskulinitas dan femininitas adalah produk pendewasaan seksual. Jika anak laki-laki berkembang “secara normal,” mereka akan menjadi laki-laki yang akan menunjukkan sifat-sifat maskulin yang diharapkan, dan jika perempuan berkembang “secara normal” maka mereka akan menjadi perempuan dewasa yang menunjukkan sifat-sifat feminin.

Menurut feminisme gender, anak laki-laki dan perempuan tumbuhmenjadi dewasa dengan nilai-nilai serta kebaikan gender yang khas, yaitu yang merefleksikan pentingnya keterpisahan pada kehidupan laki-laki dan pentingnya ketertarikan pada kehidupan perempuan dan berfungsi untuk memberdayakan laki-laki dan melemahkan perempuan dalam masyarakat patriarkal.

  • Feminisme eksistensialisme

Femisme eksistensialisme adalah pemikiran feminisme yang dikembangkan oleh Simone de Beauvoir melalui buku karyanya Second Sex (2003). Dengan mendasarkan pada pandangan filsafat eksistensialisme Beauvoir mengemukakan bahwa laki-laki dinamai “laki-laki” sang Diri, sedangkan “perempuan” sang Liyan (the other). Jika Liyan adalah ancaman bagi Diri, maka perempuan adalah ancaman bagi laki-laki. Oleh karena itu, menurut Beauvoir jika laki-laki ingin tetap bebas, maka ia harus mensubordinasi perempuan.

  • Feminisme Posmodern

Pandangan bahwa perempuan adalah Liyan (the other) dalam relasinya dengan laki-laki yang diyakini oleh feminisme eksistensialis, juga dianut oleh feminisme posmodernisme.

  • Feminisme multikultural dan global

Feminisme multikultural dan global berhubungan dengan pemikiran multikultural, yaitu suatu ideologi yang mendukung keberagaman. Feminisme global bukan hanya ras dan etnisitas yang berhubungan dengan penindasan terhadap perempuan, tetapi juga hasil dari kolonialisme dan dikotomi dunia pertama dan Dunia ketiga.

  • Feminisme ekofeminisme

Pemikiran feminisme ekofiminisme ingin memberi pemahaman adanya hubungan antara segala bentuk penindasan manusia dengan alam dan memperlihatkan keterlibatan perempuan dalam seluruh ekosistem.

Di samping berbagai ragam feminisme yang telah diuraikan tersebut, juga dikenal feminisme Islam, yang berkembang di negara-negara yang mayoritas penduduknyanya bergama Islam. Feminisme Islam mulai dikenal pada 1990-an. Feminisme Islam berupaya untuk membongkar sumber-sumber permasalahan dalam ajaran Islam dan mempertanyakan penyebab munculnya dominasi laki-laki dalam penafsiran hadis dan Alquran.

 

2.2.      Ragam Kritik Sastra Feminis

Ada beberapa tahapan-tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan kritik sastra yaitu:

  • Interpretasi adalah upaya memahami karya sastra dengan memberikan tafsiran berdasarkan sifat-sifat karya sastra ituseperti jenis sastranya, aliran sastranya, efek-efeknya, serta latar belakang sosial historis yang mendasari kelahirannya.
  • Analisis adalah penguraian karya sastra atas bagian-bagian atau norma-normanyaseperti unsur alur cerita, tokoh-tokoh dan perwatakannya, latar, tema, judul, sudut pandang cerita, serta bahasa yang digunakan berarti kita telah masuk ke dalam tubuh karya sastra itu dan melakukan pemahaman terhadapnya.
  • Penilaian adalah usaha menentukan kadar keindahan (keberhasilan) karya sastra yang dikritikberdasarkan pada fenomena yang ada dalam karya yang akan dinilai, kriteria dan standar penilaian, serta pendekatan yang digunakan.

Menurut (Showalter, 1986 dalam Wiyatmi, 2012) ada dua jenis kritik sastra feminis, yaitu: 1) kritik sastra feminis yang melihat perempuan sebagai pembaca (the woman as reader/feminist critique), dan 2) kritik sastra feminis yang melihat perempuan sebagai penulis (the woman as writer/gynocritics). Penjelasannya adalah sebagai berikut:

  • Kritik sastra feminis yang melihat perempuan sebagai pembaca (the woman as reader/feminist critique)

Fokus kajian adalah citra dan stereotipe perempuan dalam sastra, pengabaian dan kesalahpahaman tentang perempuan dalam kritik sebelumnya, dan celah-celah dalam sejarah sastra yang dibentuk oleh laki-laki.

  • Kritik sastra feminis yang melihat perempuan sebagai penulis (the woman as writer/gynocritics).

Kritik sastra feminis ginokritik meneliti sejarah karya sastra perempuan (perempuan sebagai penulis), gaya penulisan, tema, genre, struktur tulisan perempuan, kreativitas penulis perempuan, profesi penulis perempuan sebagai suatu perkumpulan, serta perkembangan dan peraturan tradisi penulis perempuan.

Ditambahkan oleh Humm bahwa kritik sastra 1) kritik feminis psikoanalisis, dengan tokoh antara lain Julia Kristeva, Monique Wittig, Helene Cixous, Luce Irigaray, Mary Daly; 2) kritik feminis marxis, dengan tokoh antara lain Michele Barret dan Patricia Stubbs; dan 3) kritik feminis hitam dan lesbian, dengan tokoh antara lain Barbara Smith, Elly Bulkin, dan Barbara Greir. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

  • Kritik feminis psikoanalisis, dengan tokoh antara lain Julia Kristeva, Monique Wittig, Helene Cixous, Luce Irigaray, Mary Daly; Fokuskajiannya adalah pada tulisan-tulisan perempuan karena para feminis percaya bahwa pembaca perempuan biasanya mengidentifikasikan dirinya dengan atau menempatkan dirinya pada si tokoh perempuan,sedangkan tokoh perempuan tersebut pada umumnya merupakan cermin penciptanya. Munculnya kritik sastra feminis psikoanalisis berawal dari penolakan para feminis terhadap teori komplekskastrasi Sigmund Freud.
  • Kritik feminis marxis, dengan tokoh antara lain Michele Barret dan Patricia Stubbs; Kritik sastra feminis marxis meneliti tokoh-tokoh perempuan dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat. Pengritik mencoba mengungkapkan bahwa kaum perempuan yang menjadi tokoh dalam karya sastra merupakan kelas masyarakat yang tertindas.
  • Kritik feminis hitam dan lesbian, dengan tokoh antara lain Barbara Smith, Elly Bulkin, dan Barbara Greir; Kritik feminis ini memberikan perhatian kepada keberadaan para perempuan kulit hitam dan kaum lesbian yang menjadi tokoh-tokoh dalam karya sastra yang selama ini menjadi korban penindasan kaum laki-laki maupun perempuan, khususnya kulit putih.

 

  1. PENELITIAN YANG RELEVAN

Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah :

  1. Martinah, Y. Slamet dan Retno Winarni. 2013.Perjuangan Perempuan dan Nilai Pendidikan Novel dalam Air Mata Terakhir Bunda. Vol.1, No 2. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra. UNS Surakarta.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah perjuangan seorang perempuan untuk mengantarkan kesuksesan anak-anaknya. Penulis menggunakan tokoh perempuan untuk membela ketidak adilan gender.

Persamaan dengan penelitian yang dilakukan adalah keduanya memiliki tema tentang perjuangan wanita. Dalam jurnal, tokoh wanita memperjuangkan kesetaraan gender sedangkan dalam makalah ini, novel yang dianalis adalah perjuangan wanita dalam hidup dan perjuangan agar terbebas dari kawin paksa.

  1. KERANGKA BERPIKIR

Dalam penelitian ini, kajian akan mencakup unsur intrinsik berupa penokohan dalam novel Lady Susan karya Jane Austen. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan feminisme liberal dengan tujuan untuk mengetahui pokok-pokok pikiran feminisme yang terdapat dalam novel Lady Susan karya Jane Austen.

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi pustaka dan tidak terikat tempat penelitian. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulai Juli 2015 sampai dengan Desember 2015.

  1. Bentuk dan Pendekatan Penelitian

Mengkaji karya sastra termasuk dalam penelitian kualitatif. Pengkajian yang dilakukan meliputi penokohan, dan prinsip-prinsip feminisme liberal yang ada di dalam novel Lady Susan karya Jane Austen.

  1. Data dan Sumber Data

Data yang diperoleh merupakan telaah dokumen novel Lady Susan karya Jane Austen. Catatan lapangan berupa deskripsi atau gambaran dan refleksi berupa perenungan. Catatan lapangan berupa gambaran tokoh dalam novel Lady Susan karya Jane Austen dan releksi prinsip-prinsip feminisme liberal yang ada didalam novel.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik noninteraktif. Teknik noninteraktif digunakan  dengan cara membaca secara intensif dan analisis isi.

  1. Validitas Data

Peneliti menggunakan trianggulasi data untuk mendapatkan data yang sama agar dapat ditarik kesimpulan yang lebih lengkap.

  1. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data bersifat kualitatif dan memerlukan penjelasan secara deskriptif. Teknik analisis menggunakan model analisis noninteraktif dan berupa kegiatan yang bergerak terus menerus secara bersama-sama. Menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiono, 2015) analisis data dilakukan dengan proses data reduction, data display, dan verification.

 

 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
  2. Tokoh-tokoh dalam novel Lady Susan karya Jane Austen

Lady Susan adalah karakter utama dari novel. Kemudian muncul tokoh –tokoh lain yaitu Frederica Vernon, De Courcy, Charles dan Catherine Vernon, Reginald De Courcy, Lady De Courcy, Sir Reginald De Courcy, Sir James Martin,  dan Alicia Johnson.

Lady Susan sebagai tokoh utama merupakan tokoh antagonis sekaligus sebagai tokoh yang berkembang dalam novel Lady Susan. Dia yang semula memaksa anaknya untuk menikah, secara berangsur-angsur berubah menyetujui anaknya untuk menikah dengan laki-laki pilihan hidupnya.

Sedangkan tokoh protagonis yang ada dalam novel Lady Susan adalah Catherine Vernon, Sir Reginald, dan Alicia Johnson. Hal ini terlihat dari pemikiran-pemikiran mereka yang menentang ide dan tindakan Lady Susan untuk menjodohkan anak perempuannya.

 

  1. Pokok-pokok pikiran feminisme liberal dalam Novel Lady Susan Karya Jane Austen

Pemikiran feminisme dalam novel Lady Susan muncul dari beberapa tokoh wanita yang menentang kawin paksa atau perjodohan yang diatur oleh orang tua. Kawin paksa atau perjodohan dialami oleh Frederica Vernon  diatur oleh ibunya, Lady Susan. Frederica Vernon dipaksa untuk menikah dengan Sir James.

  1. Sir James did make proposals to me for Frederica; but Frederica, who was born to be the torment of my life, chose to set herself so violently against the match that I thought it better tolay aside the scheme for the present. I have more than once repented that I did not marry him myself;(Austen, 4)

 

Dalam kutipan tersebut, Frederica yang dijodohkan dengan Sir James, berusaha menolak perjodohan yang diatur oleh ibunya, Lady Susan.

 

  1. I hope you will excuse this liberty; I am forced upon it by the greatest distress, or I should be ashamed to trouble you. I am very miserable about Sir James Martin, and have no other way in the world of helping myself but by writing to you, for I am forbidden even speaking to my uncle and aunt on the subject; and this being the case, I am afraid my applying to you will appear no better than equivocation, and as if I attended to the letter and not the spirit of mamma’s commands.’(Austen,36)

 

Dalam kutipan tersebut, Frederica Vernon meminta bantuan kepada Mr. De Courcy untuk membebaskannya dirinya. Kebebasan Frederica Vernon dirampas oleh ibunya, terutama untuk berbicara kepada paman dan bibinya.

  1. ‘But if you do not take my part and persuade her to break it off, I shall be half distracted, for I cannot bear him. No human being but YOU could have any chance of prevailing with her. If you will, therefore, have the unspeakably great kindness of taking my part with her, and persuading her to send Sir James away, I shall be more obliged to you than it is possible for me to express. I always disliked him from the first: it is not a sudden fancy, I assure you, sir; I always thought him silly and impertinent and disagreeable, and now he is grown worse than ever. I would rather work for my bread than marry him.’(Austen, 41)

Dalam kutipan diatas, Frederica Vernon, dipaksa menikah dengan Sir James oleh ibunya, Lady Susan. Dia menyatakan bahwa dia tidak menyukai Sir James. Dan lebih baik dia bekerja daripada menikah dengan Sir James.

  1. She has no right to make you unhappy, and she shall NOT do it.’ (Austen,41)

 

Dalam kutipan diatas, perjuangan untuk kebebasan Frederica Vernon juga didukung dan diungkapkan oleh bibinya, Catherine Vernon. Dari pemikiran Catherine Vernon dapat disimpulkan bahwa Lady Susan seharusnya tidak memaksa anaknya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya karena hal tersebut tidak membuat anaknya bahagia.

 

  1. Pembahasan
  2. Tokoh dalam Novel Lady Susan

Tokoh utama dalam novel Lady Susan karya Jane Austen adalah Lady Susan. Tokoh ini banyak mengalami peristiwa dan memiliki banyak hubungan dengan tokoh-tokoh lain di dalam cerita. Tokoh Lady Susan juga merupakan tokoh yang berkembang. Hal ini dapat dilihat dari perubahan sikapnya yang semula memaksa anaknya menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya menjadi setuju dengan pilihan hidup anaknya untuk menikah dengan laki-laki yang dicintainya.

  1. Pokok-pokok pemikiran femisnisme liberal

Prinsip pikiran feminisme liberal yang ada dalam novel Lady Susan adalah perjuangan tokoh-tokoh wanita  untuk menentang kawin paksa dan mendapatkan hak dan kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya. Hal ini digambarkan oleh tokoh Frederica Vernon yang dijodohkan oleh ibunya, Lady Susan. Frederica Vernon berjuang dengan menolak keras, dan berusaha meminta bantuan kepada orang-orang disekitarnya.

 

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI  DAN SARAN

  1. SIMPULAN
  2. Tokoh dalam Novel Lady Susan

Tokoh utama dalam novel Lady Susan karya Jane Austen adalah Lady Susan. Tokoh ini banyak mengalami peristiwa dan memiliki banyak hubungan dengan tokoh-tokoh lain di dalam cerita. Tokoh Lady Susan juga merupakan tokoh yang berkembang. Hal ini dapat dilihat dari perubahan sikapnya yang semulan memaksa anaknya menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya menjadi setuju dengan pilihan hidup anaknya untuk menikah dengan laki-laki yang dicintainya.

  1. Pokok-pokok pemikiran femisnisme liberal

Prinsip pikiran feminisme liberal yang ada dalam novel Lady Susan adalah perjuangan tokoh-tokoh wanita  untuk menentang kawin paksa dan mendapatkan hak dan kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya.

  1. IMPLIKASI
  2. Implikasi teoritis
  • Pendekatan feminisme merupakan salah satu pendekatan yang dapat di dalam penelitian karya sastra yaitu novel.
  1. Implikasi Praktis
  • Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan kajian sastra dalam rangka menunjang dalam rangka menunjang pembelajaran apresiasi sastra di sekolah.
  1. SARAN
  2. Saran untuk pendidik
  • Novel Lady Susan karya Jane Austen sangat baik digunakan sebagai bahan ajar dalam bidang sastra karena novel tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk mengapresiasi terhadap unsur-unsur struktur novel.
  1. Peserta didik
  • Peserta didik dapat memilah dan memilih dalam rangka memaknai kandungan isi novel. Nilai-nilai yang baik diteladani dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sedangkan nilai yang tidak baik disingkirkan.
  1. Untuk peneliti

Para peneliti diharapkan menggunakan pendekatan-pendekatan lain dalam mengkaji karya sastra sehingga dapat menemukan sendi-sendi kesastraan dan memperkaya khasanah penelitian sastra.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fisik. Gajah Mada University Press: Yogyakarta.

 

Riley, Denise. 1998. “Am I That Name?” Feminism and The Category Of “”University Of

   “Women” in History. Minnesota Press: Minneapolis.

 

Sugiyono. 2015. Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Alfabeta. Bandung

 

Suharto, Sugihastuti. 2002. Kritik Sastra Feminis (Teoti dan Aplikasinya). Pustaka Pelajar:

Yogyakarta.

 

Wiyatmi. 2012. Kritik Karya Feminis (Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia).

Penerbit Ombak: Yogyakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s