Disusun Oleh:

Martini (7316150705)

Di Ajukan Untuk Memenuhi Tugas Individu

Mata Kuliah Teori, Apresiasi, dan Pengajaran Sastra

Dosen Pengampu:

 Dr. Zuriyati, M. Pd

Dr. Saifur Rohman, M. Hum

PENDIDIKAN BAHASA (PB)

 PROGRAM PASCA SARJANA (PPs)

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

TAHUN 2016

 ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sejarah dan struktur sosial yang berlangsung pada saat novel Rumah Kaca dibuat, bagaimana pula latar belakang sosial pengarang serta sikap dan posisinya dalam masyarakat pada saat itu. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menunjukan adanya fakta kemanusiaan, subjek fakta kemanusiaan, dan  pandangan dunia yang terdapat dalam teks novel Rumah Kaca karangan pramoedya Ananta Toer. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Pendekatan dalam penelitian ini adalah strukturalisme genetik. Penelitian difokuskan pada sejarah novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer yang dikaji melalui pendekatan strukturalisme genetik yang meliputi fakta kemanusiaan, subjek fakta kemanusiaan, dan pandangan dunia. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan dibantu tabel analisis kerja.

Berdasarkan hasil penelitian tinjauan strukturalisme genetik dapat disimpulkan novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer yang meliputi fakta kemanusiaan yang terlihat dalam novel Rumah Kaca yaitu berupa fakta politik mengenai penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Politik yang dapat menggiring masyarakat Pribumi untuk patuh terhadap aturan pemerintah. Subjek fakta kemanusiaan yang terlihat dalam teks novel Rumah Kaca yakni berdirinya SDI (Syarikat Dagang Islam) yang didirikan oleh Raden Mas Minke, bangunan sekolah STOVIA yang di bangun oleh pemerintah Hindia-Belanda, HCS yang didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk menarik masyarakat Tionghoa. Pandangan dunia yang terlihat dalam novel Rumah Kaca yakni berupa pandangan nasionalisme pengarang mengenai berbagai solusi yang diberikan oleh pengarang melalui gambaran tokoh problematik. Berupa pandangan mengenai nasionalisme mayarakat bangsa Indonesia yang menginginkan kebebasan dari ketidak-adilan pemerintah Hindia-Belanda yang menggunakan sistem politik jurnalistik. Pramoedya berpandangan bahwa jurnalistik sebenaranya bukan hal yang menakutkan akan tetapi jurnalistik dapat membangun diri menjadi lebih bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Implikasinya terhadap pembelajaran sastra yaitu guru dapat menjadikan alternatif dalam mengembangkan materi ajar sastra di SMA. Dengan demikian, diharapkan pembelajaran sastra akan lebih bervariasi dan jauh dari kesan yang membosankan serta dapat menambah wawasan bagi siswa.

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra pada dasarnya bersifat umum dan sekaligus bersifat khusus, atau lebih tepat lagi: individu dan umum sekaligus. Yang dimaksudkan dengan individual di sini tidak sama dengan seratus persen unik atau khusus.[1] Menurut teori Greenlaw studi sastra bukan hanya berkaitan erat, tapi identik dengan sejarah kebudayaan. Kaitan studi semacam ini dengan sastra hanya terletak pada perhatian terhadap hasil tulisan dan cetakan.[1] Cara lain untuk memberi definisi pada sastra adalah membatasinya pada “mahakarya” (Great Books), yaitu buku-buku yang dianggap”menonjol karena bentuk dan ekspresi sastranya”. Untuk tujuan-tujuan pendidikan, studi mahakarya memang sangat dianjurkan. Kita semua tentunya setuju bahwa mahasiswa terutama yang baru mulai belajar harus membaca buku-buku bermutu, bukan sekedar membaca kumpulan data atau buku yang menarik karena nilai sejarahnya saja. Tetapi untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan sejarah.[2]

Karya sastra juga merupakan suatu kerucutisasi subjektif pengarang dalam memberikan suatu ide, pemikiran, pesan, dan gagasan terhadap suatu hal. Dalam hal ini karya sastra yang tercipta tersebut tidak hanya semata-mata ciptaan suatu individu an sich dari pengarang, tetapi ciptaan dari apa yang disebut Lucien Goldmann struktur mental trans-individual dari sebuah kelompok sosial-ide-ide, nilai-nilai, dan cita-cita yang diyakini dan dihidupi kelompok sosial tertentu, yang sesuai dengan pemikiran sang pengarang (Eagleton, 2002:58).[3]

Novel adalah salah satu genre dari karya sastra, juga merupakan refleksi pemikiran menyangkut masalah sosial, budaya, politik, dan agama dari pengarang yang dikemas dengan artistik dan metaforis. Novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer ini merupakan salah satu karya paling ambisius dalam sastra dunia kurun pasca perang dunia. Novel ini salah satu novel yang dilarang oleh Jaksa Agung pada tahun 1988. Novel  ini bercerita tentang kisah Pria yang bernama Jaques dan menikah dengan wanita keturunan Perancis bernama Paulette, ia seorang pejabat kepolisian yang tunduk terhadap pemerintah atau pada zaman penjajahan Belanda disebut Gubermen. Ia sendiri keturunan Hindia Pribumi Menado. Tapi dengan gelarnya yakni Pangemanann dengan dua n ia lupa terhadap darah pribumi yang mengalir dalam tubuhnya. Ia bersekolah di Perancis. Sebuah cerita yang memang khas dengan pengertian novel. Banyak dijumpai hal-hal yang menarik dalam novel ini, mulai dari sejarah nasionalisme, politik, organisasi, budaya, agama, dan perilaku masyarakat yang sampai sekarang masih membekas baik di Pulau buru maupun Pulau Jawa seperti halnya jalan raya Daendels di Jawa yang dikerjakan oleh Pribumi dari hidup hingga matinya di jalan tersebut dan di pulau buru yakni menggambarkan tokoh pers nasional Indonesia yakni Thirto Adhi Suryo.

Sekilas tentang novel di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan tentang novel itu penting bahkan sejarah yang terkandung pada isi novel tersebut. Maka untuk itu penulis lebih spesifiks untuk meneliti novel yang berlatar sejarah kebudayaan bangsa yaitu mengenai novel Tetralogi Buru namun peneliti hanya memilih bagian novel yang ke-empat yaitu Rumah Kaca. Di dalam suatu objek penelitian. Sastra memiliki beberapa unsur pendekatan diantaranya pendekatan strukturalisme genetik. Strukturalisme genetik adalah suatu kajian yang menelaah mengenai asal-usul suatu karya sastra. Bagi peneliti asal-usul itu penting untuk dikaji dalam suatu karya sastra terutama Tetralogi Buru Pram yang peneliti garis bawahi Rumah Kaca. Novel Rumah Kaca penting untuk diteliti karena mengandung genetik dari novel-novel sebelumnya serta gen dari masyarakat pada saat itu sehingga munculah suatu pemikiran penting bagi peneliti yakni gen dari novel tersebut yang akan peneliti cari berupa: sejarah pergerakan nasionalisme bangsa Indonesia yang melekat saat itu.

Menurut Goldman ada tiga hal yang perlu diketahui bagi peneliti strukturalisme genetik yaitu:

1) semua perilaku manusia mengarah pada hubungan rasionalitas, maksudnya selalu berupa respon terhadap lingkungannya,

2) kelompok sosial mempunyai tendensi untuk menciptakan pola tertentu yang berbeda dari pola yang sudah ada,

3) perilaku manusia adalah usaha yang dilakukan secara tetap menuju transendensi, yaitu aktivitas, transformasi, dan kualitas kegiatan dari semua aksi sosial dan sejarah.[4]

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas. Terdapat beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah sejarah novel “Rumah Kaca” dan bagaimana kondisi pengarang saat itu?
  2. Fakta kemanusiaan, subjek fakta kemanusian, dan pandangan dunia seperti apakah yang terjadi pada saat novel Rumah Kaca di buat?
  3. Bagaimanakah struktur Teks yang meliputi penokohan, latar, dan aspek tematis (tema dan amanat) dalam novel Rumah Kaca?
  4. Bagaimana latar belakang pengarang sebagai subjek fakta kemanusiaan dan di manakah posisinya dalam masyarakat?
  5. Bagaimana hubungan antara fakta kemanusiaan dan subjek fakta kemanusiaan dalam suatu teks novel Rumah Kaca?
  6. Bagaimana penggambaran Pram tentang hubungan antara kelompok sosial masyarakat dalam struktural teks novel Rumah Kaca?
  1. Pembatasan Masalah

Berdasarkan banyaknya masalah yang teridentifikasi, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi pada : analisis sejarah novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer serta implikasikannya terhadap pembelajaran sastra di SMA dengan menggunakan tinjauan strukturalisme genetik

  1. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka penelitian ini dirumuskan menjadi:

  1. Bagaimana sejarah novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer berdasarkan tinjauan strukturalisme genetik yang meliputi fakta kemanusiaan, subjek fakta kemanusiaan, dan pandangan dunia?
  2. Dapatkah novel ini diimplikasikan dalam pembelajaran sastra di SMA jika dilihat dari tinjauan strukturalisme genetik?
  1. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian yang diharapkan adalah agar peneliti dapat menambah wawasan kesusastraan tentang sejarah karya sastra novel Rumah Kaca karangan Pramoedya Ananta Toer, suatu karya sastra yang sangat penomenal dengan menggunakan tinjauan strukturalisme genetik yang meliputi fakta kemanusiaan, subjek fakta kemanusiaan, dan pandangan dunia.

BAB II

LANDASAN TEORI

  • Hakikat Strukturalisme Genetik

Sejajar dengan strukturalisme dinamik, strukturalisme genetik dikembangkan atas dasar penolakan terhadap analisis strukturalisme murni, analisis terhadap unsur-unsur intrinsik. Baik strukturalisme murni maupun struktiralisme genetik juga menolak peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas, bahasa sastra. Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filusuf dan sosiolog Rumania Prancis. Teori tersebut dikemukakan dalam bukunya yang berjudul The Hidden God: Study of Tragic Vision in the Pensees of Pascal and the Tragedies of Racine, dalam bahasa Prancis terbit pertama kali tahun 1956.[5]

Perkembangan teori-teori sastra Barat yang kini ramai dibicarakan yaitu tentang karya sastra dengan unsur-unsur yang terdapat pada karya sastra tersebut, berperan aktif dalam mengontruksi karya sastra. Seperti semiotika, hermeneutika, strukturalisme genetik, sosialisme marxisme, hegemoni, estetika resepsi, dan postrukturalisme. Semua teori-teori itu membangun pandangannya pada hubungan karya sastra dengan masyarakat sosial, budaya, politik, dan sejarah dalam mengontruksi karya sastra.

Strukturalisme Genetik pada umunya telah dikenal oleh masyarakat meskipun terbatas pada pengertian genetik “gen” yang merupakan kajian biologis. Anggapan tersebut tidaklah salah, karena genetik adalah sebuah kajian biologis tentang pewarisan sifat induk pada turunannya. Namun, pengertian genetik tidak sederhana, karena genetik mempunyai pengertian menyeluruh yang jauh lebih luas dan mencakup disiplin keilmuan.

Genetik diartikan sebagai asal-usul karya sastra yang meliputi pengarang dan realita sejarah yang turut mendukung penciptaan karya sastra tersebut. Latar belakang sejarah, zaman, dan sosial masyarakat memiliki andil yang signifikan terhadap karya sastra baik dalam segi isi maupun bentuk. Keberadaan pengarang dalam lingkungan sosial masyarakat tertentu, ikut mempengaruhi karya yang dibuatnya. Dengan demikian suatu masyarakat tertentu yang ditempati pengarang akan dengan sendirinya mempengaruhi jenis sastra tertentu yang dihasilkan pengarang.[6]

Suwardi Endaswara dalam Metodologi Penelitian Sastra, berpendapat bahwa strukturalisme genetik adalah kajian struktural sastra yang tidak murni. Kajian ini merupakan bentuk penggabungan antara struktural dengan kajian sebelumnya.[7] Dalam kajian ini tidak hanya memperlihatkan aspek-aspek internal (bentuk) karya sastra, tetapi menjadikan aspek internal (isi) sebagai sesuatu yang memiliki nilai sama.

Strukturalisme genetik dalam pandangan Goldmann menganggap karya sastra sebagai semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi-relasi secara imajiner. Tentang teorinya, Goldmann menambahkan bahwa struktururalisme genetik memandang struktur karya sastra sebagai produk dari struktur kategoris dari pikiran kelompok sosial tertentu.[8] Struktur kategoris merupakan kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota kelompok sosial yang lain. Hal tersebut menciptakan suatu konsep yang disebut dengan pandangan dunia. Strukturalisme genetik memaknai pandangan dunia sebagai produk dari hubungan antara kelompok sosial yang memilikinya dengan situasi sosial ekonomi pada saat tertentu.[9] Untuk itu, pandangan dunia dalam karya sastra merupakan representasi pengarang terhadap situasi dan kondisi visio-kultural tertentu yang ditampilkan dalam bentuk karya sastra.

Faktor-faktor sosial yang melahirkan struktur karya sastra bagi strukturalisme genetik merupakan suatu proses strukturasi dan struktur karya sastra. tidak terjadi begitu saja akan tetapi harus melalui proses melalui pikiran subjek penciptanya, subjek kolektif atas dasar akibat dari interaksi antar subjek dengan situasi sosial dan ekonomi tertentu hingga pada akhirnya dapat tersusun dengan proses yang baik. Faktor-faktor itulah yang memberikan keterpaduan pada struktur karya sastra.

Goldmann menyebut metode kritik sastranya strukturalisme genetik. Ia memakai istilah strukturalisme karena lebih tertarik pada struktur kategori yang ada dalam suatu dunia visi, dan kurang tertarik pada isinya. Jadi, dua penulis yang jelas-jelas berbeda sangat mungkin berasal dari struktur mental kolektif yang sama. Genetik, karena ia sangat tertarik untuk memahami bagaimana struktur mental tersebut diproduksi secara historis. Dengan kata lain, Goldmann memusatkan perhatian pada hubungan antara suatu visi dunia dengan kondisikondisi historis yang memunculkannya.[10]

Untuk menopang teorinya tersebut Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain sehingga membentuk apa yang disebut sebagai strukturalisme genetik di atas. Kategori-kategori itu adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.

2.1.1 Fakta Kemanusiaan

Fakta kemanusiaan merupakan konsep paling abstrak yang membangun teori strukturalisme genetik Goldmann. Fakta kemanusiaan dapat dipahami sebagai aktivitas atau perilaku manusia, baik verbal maupun non-verbal, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta tersebut dapat berwujud sebagai aktivitas sosial tertentu seperti seni rupa, seni musik, seni patung, seni sastra, dan juga filsafat[11]

Meskipun memiliki wujud yang bermacam-macam, fakta-fakta kemanusiaan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: fakta sosial dan fakta individual. Fakta sosial merupakan fakta yang memiliki peranan dalam sejarah. Sedangkan fakta individual hanya merupakan hasil prilaku libidinal seperti mimpi, tingkah laku orang gila, dan sebagainya, yang jelas berbeda dari fakta yang pertama.[12]

Dari hasil uraian di atas, fakta kemanusiaan yang ditampilkan oleh Goldmann terbilang menarik karena kita menjadi tahu dimana letak fakta sejarah yang ditampilkan dalam karya sastra. Fakta keadaan tersebut pada akhirnya menyerah dan melakukan hal yang sebaliknya. Bahkan, tidak lagi berusaha mengasimilasikan lingkungannya, melainkan mengakomodasikan dirinya pada struktur lingkungan. Sehingga dapat menimbulkan keadaan yang dapat mengganggu keseimbangan proses penstrukturan tersebut.

2.1.2 Subjek Fakta Kemanusiaan

Subjek fakta kemanusiaan dibedakan menjadi dua macam, yaitu subjek individual dan subjek kolektif. Perbedaan ini sesuai dengan jenis fakta kemanusiaan yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa subjek individual merupakan subjek fakta individual (libidinal), sedangkan subjek kolektif merupakan subjek fakta sosial (historis).

Freud menganggap subjek segala hasil perilaku manusia sebagai seorang individu tertentu. Namun menurut Goldmann dalam bukunya yang berjudul “The Sosiology of Literature”, memandang bahwa anggapan serupa itu amat serampangan atau terlalu sederhana. Tidak semua fakta kemanusiaan bersumber dari subjek individual. Semua orang dapat mengenal perbedaan antara, misalnya sebuah revolusi sosial atau karya kultural yang besar dengan mimpi-mimpi atau perilaku orang gila. Oleh karena itu, usaha mengembalikan fakta yang pertama itu ke sumber yang hanya merupakan subjek individual merupakan pemerkosaan terhadap kodrat fakta itu sendiri.[13]

Revolusi sosial, politik, ekonomi, dan karya-karya kultural yang besar, merupakan fakta sosial (historis). Sedangkan individu, dengan dorongan libidonya, tidak akan mampu menciptakannya. Yang dapat menciptakannya hanya subjek transindividual. Subjek transindividual adalah subjek yang mengatasi individu, yang di dalamnya hanya merupakan bagian. Jadi, subjek transindividual merupakan satu kesatuan, bukan merupakan jumlah individu yang berdiri sendiri.[14]

Karl Marx dan Federick Engels, dua pemuda tokoh revolusioner Jerman, menerbitkan sebuah dokumen yang kemudian ternyata besar sekali pengaruhnya terhadap sejarah manusia. Dokumen itu kita kenal sebagai Manifesto Komunis, yang dalam beberapa hal merupakan ringkasan dari paham materialisme yang telah ada sebelumnya. Pokok pikiran yang terkandung dalam dokumen itu adalah:

Bahwa sejarah sosial manusia tak lain  adalah sejarah perjuangan kelas. Sejarah memiliki pola yang berupa jenjang-jenjang perkembangan : zaman kuno; feodalisme, kapitalisme, dan kemudian akan disusul dengan sosialisme; setiap jenjang itu dikenal dari ciri khas dalam cara produksi dan struktur kelas.[15]

Namun , dalam bukunya yang berjudul The German Ideology, Karl Marx dan Engels memaparkan konsep-konsep tentang revolusi, yaitu bahwa:

Produksi ide-ide, konsep-konsep dan kesadaran, pada dasarnya terkait secara langsung dengan kehidupan material manusia, bahasa kehidupan yang riil. Pemahaman, pemikiran, serta kehidupan spiritual manusia merupakan akibat langsung dari kehidupan material manusia.

Dalam produksi sosial kehidupan manusia, mereka menjalani hubungan-hubungan tertentu yang tak terelakan dan tidak tergantung pada kemauan mereka, hubungan-hubungan produksi yang sesuai dengan tahap perkembangan alat-alat produksi material mereka. Keseluruhan hubungan-hubungan produksi ini merupakan struktur ekonomi masyarakat, suatu pondasi nyata, yang darinya muncul suprastruktur yang legal dan politis, dan yang membentuk kesadaran sosial. Model produksi kehidupan material mengakomodasikan proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual pada umumnya. Bukan kesadaran manusia yang menentukan kehidupan mereka, tetapi kehidupan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka.[16]

Dapat dikatakan bahwa, hubungan sosial antar manusia terkait dengan cara mereka berproduksi dalam kehidupan material. Kekuatan-kekuatan produktif tertentu seperti organisasi pekerja di abad pertengahan. Misalnya, mencakup hubungan-hubungan sosial antar budak dan tuannya yang kita kenal sebagai feodalisme. Namun tahap berikutnya, berkembang organisasi produksi model baru yang berdasarkan pada hubungan sosial yang berubah yaitu antara kelas kapitalis yang menguasai alat-alat produksi, dengan kelas proletar yang tenaga kerjanya dibeli oleh para kapitalis demi mendapatkan laba. Secara bersamaan  kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan produksi membentuk “struktur ekonomi masyarakat” atau yang secara umum dikenal oleh kalangan marxis sebagai “basis ekonomi” atau infrastruktur. Dari basis ekonomi ini muncul suatu “superstruktur” bentuk-bentuk hukum dan politik, bentuk negara, yang berfungsi melegitimasi kelas sosial yang berkuasa.

2.1.3 Pandangan Dunia : Strukturasi dan Struktur

Struktur karya sastra dengan struktur masyarakat memiliki hubungan yang disebut sebagai strukturasi, diakui oleh Goldmann, sebab keduanya merupakan produk dari aktivitas strukturasi yang sama. Akan tetapi, hubungan antara struktur masyarakat dengan struktur karya sastra, tidak dipahami sebagai hubungan determinasi yang langsung, melainkan dimediasi oleh apa yang disebut sebagai pandangan dunia atau ideologi. Menurutnya, pandangan dunia itu sama dengan konsep kesadaran kolektif yang biasa digunakan dalam ilmu sosial.[17]

Goldmann berpendapat bahwa pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial yang lain sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia berkembang sebagai hasil dari situasi sosial ekonomi tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya.[18] Pandangan dunia tidak lahir secara tiba-tiba, karena merupakan produk dari interaksi antara subjek kolektif dengan situasi sekitarnya. Transformasi mentalitas yang lama secara perlahan-lahan dan bertahap diperlukan demi terbangunnya mentalitas yang baru dan teratasinya mentalitas lama.[19] Proses yang panjang disebabkan oleh kenyataan bahwa pandangan dunia berusaha membangun citra yang global mengenai hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam semesta yang ada di sekitarnya. Menurut Goldmann, pandangan dunia adalah perspektif yang koheren dan terpadu mengenai hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam semesta.[20]

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana sejarah dan struktur sosial yang berlangsung pada saat novel Rumah Kaca dibuat, bagaimana pula latar belakang sosial pengarang serta sikap dan posisinya dalam masyarakat pada saat itu. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menunjukan adanya fakta kemanusiaan, subjek fakta kemanusiaan, dan  pandangan dunia yang terdapat dalam teks novel Rumah Kaca karangan pramoedya Ananta Toer serta mengimplikasikannya hasil penelitian ini dalam pembelajaran sastra di SMA.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian merupakan kajian pustaka. Sehingga, tidak terikat oleh tempat. Sedangkan, waktu penelitian dilaksanakan pada Januari sampai akhir April 2010.

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode kualitatif menekankan kualitas sesuai dengan pemahaman deskriptif dan alamiah itu sendiri.

Dalam penelitian deskritif, data yang dikumpulkan bukanlah angka-angka, melainkan dapat berupa kata-kata atau gambaran tertentu. Deskriptif dalam hal ini merupakan gambaran ciri-ciri data secara akurat sesuai dengan sifat alamiah itu sendiri.

3.4 Objek Penelitian

Objek penelitian ini berupa novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer terbitan Lentera Dipantara tahun 2006.

3.5 Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini pada sejarah terbentuknya novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer berdasarkan tinjauan strukturalisme genetik yang meliputi: fakta kemanusiaan, subjek fakta kemanusiaan, dan pandangan dunia.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dibantu dengan tabel analisis data. Tabel analisis data tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 1 Analisis Data novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer berdasarkan Tinjauan Strukturalisme Genetik.

No Deskripsi Data Hlm Strukturalisme Genetik Keterangan
1 2 3
             
             

Keterangan :

  1. Fakta kemanusiaan
  2. Subjek fakta kemanusiaan
  3. Pandangan dunia pengarang

3.7 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah  teknik simak dan catat. Objek penelitian ini adalah novel Rumah kaca karya Pramoedya Ananta Toer, maka penyimakan dilakukan dengan jalan membaca dan mempelajari objek penelitian, kemudian diadakan inventaris data sebagai bahan yang akan diolah dalam penelitian ini. Memasukan aspek strukturalisme genetik ke dalam table analisis.

3.8 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dipergunakan untuk menganalisis data adalah sebagai berikut:

  1. Memaparkan fakta kemanusiaan dan subjek fakta kemanusiaan (struktur sosial) yang terjadi pada saat naskah ditulis
  2. Memaparkan sosiologi pengarang dan sikapnya terhadap struktur sosial yang terjadi
  3. Menghubungkan fakta kemanusiaan dan subjek fakta kemanusiaan dalam struktur sosial pada zaman pergerakan sebelum Perang Dunia II dengan struktur sosial yang terbangun di dalam teks novel Rumah Kaca.
  4. Analisis untuk menentukan fakta kemanusiaan, subjek fakta kemanusiaan, dan pandangan dunia yang terdapat dalam novel Rumah Kaca
  5. Analisis untuk menentukan unsur sejarah novel Rumah Kaca
  6. Memasukan hasil analisis ke dalam tabel dan memberi tanda (√) sesuai dengan kriteria.
  7. Menginterpretasikan hasil analisis data
  8. Menyimpulkan hasil analisis data.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 Bab ini berisi uraian mengenai hasil penelitian terhadap novel rumah kaca karya Pramoedya Ananta Toer.

 4.1. Struktur Sosial

Di dalam struktur sosial masyarakat Indonesia pada masa sebelum perang dunia II, terdapat kelompok sosial yang besar, yakni pemerintah, pedagang (golongan priyayi), kapitalis asing, serta masyarakat. Kelompok sosial tersebut saling berhubungan antara lain kapitalis asing dengan pemerintah, pemerintah dengan pemerintah, pemerintah dengan priyari, priyayi dengan masyarakat.

bagan struktur sosial

4.2 Struktur Teksbagan struktur teks

Struktur yang terbangun dalam teks novel Rumah Kaca, memiliki persamaan dengan bangunan struktur sosial, dilihat dari kelompok sosial pembangun dan hubungan antara kelompok dalam struktur. Berikut gambaran peran dalam tokoh:

bagan struktur teks 2

 

4.3 Hubungan Antar Unsur dalam Novel Rumah Kaca dengan Unsur Yang Terdapat dalam Konteks Pada Saat Itu.

Hubungan antar unsur dalam novel Rumah Kaca dengan unsur yang terdapat dalam konteks saat itu yakni adanya unsur-unsur genetik yang berhubungan antara unsur yang terbangun dalam novel Rumah Kaca dengan unsur yang terjadi dalam konteks saat itu. Unsur-unsur genetik tersebut diantaranya mengenai unsur budaya Jawa yang begitu kental mengenai nilai-nilai Islam. Sehingga dipercaya dapat mempersatukan umat manusia diberbagai pelosok serta berbagai unsur kekayaan yang terdapat di pulau Jawa yang dapat menarik para kapitalisme asing untuk merauk keuntungan dari Jawa. Akan tetapi pemerintahan Hindia-Belanda tidak sepakat dengan adanya unsur-unsur Islam yang dapat merusak pemerintahan Hindia-Belanda. Pemerintahan menginginkan seluruh masyarakat Jawa pada umumnya patuh terhadap peraturan kapitalisme yang sebenaranya dapat merugikan masyarakat demi kepentingan pemerintahan.

4.4 Fakta Kemanuisaan

Analisis fakta kemanusiaan meliputi akitvitas sosial, akitivitas politik, aktivitas individual tertentu, kreasi kultural. Akan tetapi peneliti lebih memfokuskan kepada tokoh utama yakni Pangemanann dan membatasinya pada aktivitas politik.

Fakta kemanusiaan merupakan unsur yang diangkat oleh pengarang sebagai bentuk dari fakta sosial yang terjadi dalam situasi pada saat itu kemudian ia tuangkan ke dalam teks novel Rumah Kaca sebagai gambaran perubahan yang terjadi pada struktur sosial yang telah dipaparkan sebelumnya. Terdapat 34 contoh fakta kemanusiaan yang dapat peneliti jelaskan pada kutipan berikut ini:

Dia gandrung menggunakan senjata ampuh golongan lemah terhadap golongan kuat yang bernama boycott. Ia berkhayal mempersatukan bangsa-bangsa Hindia di Hindia dan di perantauan, di kawasan selatan Asia dan Afrika, sebagaimana Sun Yat Sen telah melakukan dengan bangsanya.

(Rumah Kaca: 4-5)

Dengan S.D.I dan dengan ajarannya tentang boycott, ia memasang ranjau-ranjau waktu hamper di setiap kota besar di Jawa. Dan di mata Idenburg sudah terbayang-bayang pada suatu kali ranjau-ranjau ini meledak, membakar Jawa bila tidak segera diambil tindakan.

(Rumah Kaca: 5)

Tugas seberat itu dipercayakan dan dipikulkan di pundakku: Jacques Pangemanann.

(Rumah Kaca: 5)

Kutipan di atas memiliki keterkaitan antara Pangemanann dengan tokoh Pribumi yang begitu disegani dan perkembangannya yang begitu pesat. Seperti pada kutipan di atas terdapat kata boycott yang merupakan politiknya kaum Pribumi yang mendasari atas nasionalisme Tionghoa yang juga memakai sistem boycott.

4.5 Subjek Fakta Kemanuisaan

Analisis subjek fakta kemanusiaan terdiri subjek transindividual (individu tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi ada satu kesatuan yang dapat membangunnya dan subjek fakta sosial seperti revolusi sosial, politik, dan ekonomi. Peneliti lebih fokus ke arah tokoh utama yaitu Pangemanann dan peneliti batasi pada subjek transindividual berupa politik.

Penyajian yang dapat peneliti tampilkan mengenai subjek fakta kemanusiaan dalam novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer lebih fokus kearah Pangemanann karena ia merupakan pemunculan tokoh utama yang dituliskan pengarang. Ia merupakan subjek pelaku tindakan Gubermen pada saat itu. Berbagai kegiatan yang ia lalui merupakan proses kejadian bangsa dan Negara. Tak ada permasalahan di dunia ini jikalau kita yang membuatnya sendiri. kita yang membuat kita yang akan menuai hasilnya baik maupun buruk. Kutipan berikut merupakan awal dari pemunculan seorang Pangemanann beserta tugas-tugas yang akan ia hadapi di Hindia dan hanya 23 contoh mengenai subjek fakta kemanusiaan yang dapat peneliti paparkan salah satunya adalah berikut ini:

Dia gandrung menggunakan senjata ampuh golongan lemah terhadap golongan kuat yang bermana boycott. Ia berhayal mempersatukan bangsa-bangsa Hindia di Hindia dan di perantauan, di kawasan selatan Asia dan Afrika sebagaimana Sun Yat Sen telah melakukan dengan bangsanya. Ia bercita-cita membangun nasionalisme Hindia dengan cara-cara yang oleh bangsa-bangsa Pribumi Hindia dapat di mengerti. Semua itu dapat dipelajari dari tajuk-tajuknya dalam Medan, surat kabar yang dipimpinnya sendiri, sekalipun jarang sekali dia secara langsung menyebut-nyebut Tionghoa dan Tiongkok.

(Rumah Kaca:4)

Dengan S.D.I dan dengan ajarannya tentang boycott, ia memasang ranjau-ranjau waktu hamper di setiap kota besar di Jawa. Dan di mata Idenburg sudah terbayang-bayang pada suatu kali ranjau-ranjau ini meledak, membakar Jawa bila tidak segera diambil tindakan.

(Rumah Kaca:5)

Tugas seberat itu dipercayakan dan dipikulkan di pundakku: Jacques Pangemanann.

(Rumah Kaca:5)

Kutipan di atas merupakan subjek transindividual karena ada unsur pembangun yang lain yakni. Tokoh Pribumi yang membentuk boycott, adanya kekuasaan Gubermen terhadap segala tindakan Pribumi, Pangemanann bertindak sebagai pemecahan gerak-gerik Pribumi ke arah yang tidak merugikan Jenderal guna membangun pemerintahan yang bersih dari kesewenang-wenangan Pribumi.

  • Pandangan Dunia

Penelitian Strukturalisme Genetik merupakan penelitian yang memandang karya sastra itu dari dua sudut yaitu intrinsik dan ektrinsik. Studi diawali dari bagian unsur intrinsik sebagai data dasarnya. Dari pengkajian unsur intrinsik ini akan dapat menemukan tokoh problematik dalam novel tersebut. Tokoh problematik yang terdapat dalam novel akan memunculkan adanya pandangan dunia pengarang. Melalui tokoh problematik inilah pandangan dunia pengarang akan terlihat dari pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang kepada tokoh problematik dalam usahanya untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Pandangan dunia pengarang tersebut diperinci menjadi pandangan nasionalisme pengarang yang terdapat dalam novel Rumah Kaca.

 

4.6.1 Pandangan Nasionalisme Pengarang dalam Novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer

Pandangan nasionalis pengarang dapat dilihat melalui tokoh problematik. Tokoh problematik dalam novel Ruamah Kaca adalah tokoh yang bernama Pangemanann. Pangemanann ditentukan sebagai tokoh problematik karena Pangemanann  merupakan tokoh yang mempunyai masalah paling banyak dalam cerita dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya. Melalui masalah-masalah inilah pengarang memberikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinya.

Masalah pertama yang dihadapi oleh Pangemanann yaitu muncul ketika ia telah dipilih untuk  menjadi seorang mata-mata untuk kaumnya sendiri Pribumi suatu pekerjaan khusus dari seorang Gubernur ia tidak dapat menolak tugas tersebut, menolak berarti membangkang atasan. Terdapat 26 kutipan pandangan nasionalisme pengarang yang dapat mewakili diantaranya yaitu sebagai berikut:

Tugas seberat itu dipercayakan dan dipikulkan dipundakku: Jaques Pangemanann  (Rumah Kaca:5)

 

Gubernur dianggap berada di tengah-tengah dua gelumbang kebangkitan burjuasi Pribumi, kekuatan tak bersenjata tapi lebih halus daripada ujung tombak, anak panah atau pun peluru. Dua-duanya yang dari dalam maupun luar hendak disalurkan oleh Gubernur Jenderal dalam keadaan tidak sekeras mungkin, selunak mungkin. Meniadakannya sama sekali? Tidak mungkin. Kebangkitan nasionalisme memang tak lain produk jaman modern sendiri. menghadapi kebangkitan Tiongkok ini pejabat khusus yang mengurusi. aku menghadapi yang Pribumi.

(Rumah Kaca: 5)

Dari kutipan di atas pengarang menggambarkan bahwa kekuatan Pribumi pada saat itu sedang berkembang pesat. Mereka tanpa senjata untuk melawan Penjajah cukup dengan berorganisasi SDI mereka dapat melumpuhkan kaum penjajah dan membuat seluruh masyarakat berpihak kepada masyarakat Pribumi tidak untuk Eropa.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari analisis novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer berdasarkan tinjauan strukturalisme gentik yang meliputi fakta kemanusiaan, subjek fakta kemanusiaan dan pandangan dunia di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Fakta kemanusiaan yang terlihat dalam novel Rumah Kaca yaitu berupa fakta politik mengenai penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa mereka menanamkan berbagai modal di Hindia bahkan pemerintahanpun mereka kuasai. Politik yang sedemikian rupa sehingga menarik seluruh masyarakat Pribumi untuk patuh terhadap aturan adat pemerintahan yang sangat kejam dan kolonialisme.
  2. Subjek fakta kemanusiaan yang terlihat dalam novel Rumah Kaca yaitu berdirinya S.D.I (Sjarikat Dagang Islam) yang didirikan oleh Raden Mas Minke, Indische Partij didirikan oleh D,W,T (Douwager, Wardi, dan Tjipto) ketiga pendiri tersebut salah satunya merupakan nama samaran dari Douwes Dekker tokoh pendiri Indische Partij, Sin Po didirikan oleh pemuda Tionghoa, STOVIA didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda sebagai sekolah kedokteran Pribumi yang kini adalah sekolah kedokteran Universitas Indonesia, HCS didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk peranakan Tionghoa, sekolah-sekolah lainnya yang terlihat dalam teks maupun di dalam struktur sosial pada saat itu yaitu HBS dan ELS. Subjek fakta merupakan suatu hubungan dari hasil struktur sosialisasi antara kejadian dengan masyarakat
  3. Pandangan dunia pengarang; pandangan nasionalisme yang terefleksi dalam novel Rumah Kaca ini terlihat dari solusi yang diberikan oleh pengarang dari permasalahan yang dihadapi oleh tokoh problematik. Tokoh problematik dalam novel Rumah Kaca yaitu tokoh yang bernama Pangemanann.

5.2 Saran

  1. Penelitian novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer dengan menggunakan teori Strukturalisme Genetik ini hendaknya dapat bermanfaat bagi peserta didik untuk mengetahui sejarah terbentuknya novel Rumah Kaca.
  2. Para peserta didik diharapkan dapat membaca sastra secara lebih mendalam sehingga diperoleh sebuah pemahaman yang cerdas tentang isi dan kandungan sebuah karya sastra

DAFTAR PUSTAKA

Eagelton, Terry. 2002. Marxisme dan Kritik Sastra. Desantara :Depok

Endaswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. MedPress:Yogyakarta

Faruk. 1988.  Strukturalisme Genetik Dan Epistemologi Sastra, PD. Lukman Offset :

Yogyakarta

Kutha Ratna, Nyoman. 2007. Sastra dan Cultur Studies Representasi Fiksi dan Fakta.

PUSTAKA PELAJAR:Yogyakarta

Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme. PUSTAKA PELAJAR :Yogyakarta

Wellek,  Rene dan Austin Warren. 1995.Teori Kesusastraan .Gramedia :Jakarta

 

[1]  Rene Wellek dan Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta:Gramedia. 1995), hlm. 9

[1]  Op. cit., Hlm. 11

[2]  Op. cit., Hlm. 12-13

[3]  Terry Egelton. Marxisme Kritik Sastra (Depok:Desantara, 2002). Hlm. 58

[4]  Suwardi Endaswara, Metodologi Penelitian Sastra, hlm. 59-60

[5]  Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme (Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR, 2009) hlm. 121-122

[6]  arif-irfan-fauzi.blogspot.com/2007/10/strukturalisme-genetik.hlm. 4

[7]  Suwardi Endaswara, Lok.cit,  hlm. 55

[8]  Faruk. Lok.cit, hlm 12

[9]  Ibid, hlm. 12-13

[10]  Terry Eagelton.  Lok. Cit, hlm. 58-59

[11]  Faruk, Strukturalisme Genetik dan Epistemologi Sastra, (Yogyakarta: PD. Lukman Offset, 1988), hlm. 70-71

[12]  Ibid, hlm. 71

[13]  Op. cit, hlm. 73

[14]  Ibid

[15]  Sapardi Djoko Damono, Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas, (Jakarta:PUSAT BAHASA, 1984) hlm. 24

[16]  Terry Eagelton, Lok. Cit hlm. 10-11

[17]  Faruk, Strukturalisme Genetik dan Epistemologi Sastra, Lok. Cit, hlm. 74

[18]  Ibid

[19]  ibid

[20]  Op.cit, hlm. 74-75

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s