Oleh : Ratu Dita Nur Annisa

Program Studi Magister Pendidikan Bahasa

Fakultas Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

email : ratuditanurannisa@yahoo.com

 

ABSTRACT

The short story is one of the literary work. A short story has a theme, a moral message and the writing style in itself, according to the propensity and ability of this author. The Wall tells stories about human existentialism, the desire to defend a principal, where the main character here is Pablo Ibbieta. He joined with the anarchy community in creatingSpain to be a better State.

The approach used is the theory of Psychoanalysis by Sigmund Freud and use the description method of analysis. This paper analyzes the main character’s own characteristique the Pablo Ibbieta. Further research is to analyze the personality of the character Pablo Ibbieta internal and external impact.

ABSTRAK

Cerpen adalah satu karya sastra. Sebuah cerpen memiliki tema, pesan moral dan gaya penulisan tersendiri, sesuai dengan kecenderungan dan kemampuan pengarangnya. Cerpen The Wall berkisah tentang eksistensialisme, keingininan untuk mempertahankan (kebebasan) prinsip, dimana tokoh utama di sini adalah Pablo Ibbieta. Ia bergabung dengan komunitas anarki dalam membuat Negara Spanyol menjadi lebih baik.

Teori yang digunakan adalah pendekatan Psikoanalisis oleh Sigmund Freud dan menggunakan metode deskripsi analisis. Karya tulis ini menganalisis karakteristik tokoh utamanya itu sendiri yaitu Pablo Ibbieta. Penelitian selanjutnya adalah menganalisis kepribadian tokoh Pabblo Ibbieta yang membawa dampak internal dan eksternal.

Kata kunci       : Sastra, Psikoanalisis sastra, Kepribadian Id-Ego-Super Ego.

PENDAHULUAN

Psikoanalisis sastra adalah prinsip dasar kehidupan psikis. Prinsip dasar yang membentuk dan mengatur proses kepribadian kehidupan pisikis seperti prinsip kesenangan dan realitas. Penokohan tokoh dalam karya sastra selalu dipengaruhi oleh psikologi yang membentuk sebuah karakter untuk membedakan karya dengan karya sastra lainnya.

Menganalisis sebuah karya sastra dalam kajian psikoanalisis maka yang menjadi Point center adalah seorang pelakon atau penokohan dalam karya sastra. Dimana penokohan yang terdapat dalam sebuah karya sastra dapat kita analisis berdasarkan ilmu penapsiran dalam psikoanalisis sastra. Teori psikoanalisis berdasarkan struktur kepribadian Sigmund freud yaitu id sebagai sebagai hasrat tak sadar, ego hasrat prasadar, dan superego hasrat sadar yang mempengaruhi manusia.

Salah satu cerpen yang akan penulis teliti adalah The Wall atau dalam judul bahasa Indonesia dikenal dengan “Dinding” karya Jean Paul Sartre. Diceritakan dengan gaya narasi yang menarik, cerita dan tema yang menarik yang di dalamnya konsisten dengan mengusung eksistensialisme serta sedikit berbau death psychological.

METODE PENELITIAN

Teknik yang digunakan dalam menganlisis data pada penelitian ini adalah pemaparan (analisis deskriptif) melalui pendekatan Psikoanalisis. Artinya, setiap data kualitatif yang diperoleh yang menunjukan kepribadian berdasarkan tokoh Pablo Ibbieta pada cerpen The Wall. Konflik batin menurut struktur kepribadian Freud disajikan dengan mendeskripsikan atau memaparkan konflik batin Id, Ego, dan Super Ego secara jelas dan terperinci.

Sumber data dalam penelitian ini adalah karya sastra Cerita Pendek (Cerpen), yakni CerpenThe Wall karya Jean Paul Sartre yang diterbitkan tahun 1939 serta buku-buku pustaka lainnya yang berhubungan dengan masalah penelitian.

Penelitian ini dilakukan dengan cara meneliti kalimat dan dialog yang menggambarkan unsur-unsur konflik kebatinan yang terkandung dalam CerpenThe Wall karya Jean Paul Sartre.

Tujuan digunakannya metode deskriptif kualitatif ialah untuk memperoleh gambaran konflik psikologi batin agar hasil interprestasi objek yang diteliti relavan dengan tokoh-tokoh dalam novel sebagaimana adanya.

PEMBAHASAN TEORETIS DAN HASIL PENELITIAN

  1. PEMBAHASAN TEORETIS

Sastra adalah ungkapan pribadi dari seseorang manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan media bahasa. Secara sederhana sastra itu dapat dikatakan sebagai ungkapan rasa estetis dengan memakai bahasa “indah” sebagai alat ekspresinya (L.Tengsoe Tjahjono, 1988: 29). Karya sastra adalah pekerjaan yang menghasilkan kesenian dan dapat menciptakan suatu keindahan, baik dengan lisan, maupun tulisan, yang juga dapat menimbulkan rasa keharuan dan menyentuh perasaan kerohanian seseorang. Selain itu, karya sastra tidak hanya berbentuk benda konkret saja, seperti tulisan, tetapi dapat juga berwujud tuturan (speech) yang telah tersusun dengan rapi dan sistematis.

Salah satu jenis karya fiksi adalah cerpen, sebuah cerpen memiliki tema, pesan moral dan gaya penulisan tersendiri, sesuai dengan kecenderungan dan kemampuan pengarangnya.

Dalam sastra, banyak hal yang bisa dikaji secara khusus misalnya saja segi psikologinya. Psikologi sastra tidak bermaksud untuk memecahkan masalah-masalah psikologis praktis karena tujuan psikologi sastra adalah memhamai aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya. Meskipun demikian bukan berarti bahwa analisis psikologi sastra sama sekali terlepas dari kebutuhan masyarakat. Sesuai dengan hakikatnya, karya sastra memberikan pemahaman terhadap masyarakat secara tidak langsung.

Ilmu psikoanalisis sangat erat kaitannya dengan Freud di karenakan teori ini berawal dari konsep konsep dasar pemikirannya dan sebuah penelitian yang di lakukan oleh Freud. Pokok pemikiran Freud pada saat penelitian itu yaitu : “Human Qua Human “ (manusia sebagai manusia ) dimana freud menyusun model sifat manusia untuk memahami manusia.

Teori psikoanalis dikembangkan berdasarkan pada cara kerja pikiran manusia, khususnya pengaruh dari faktor biologis (yaitu tubuh, otak, atau endowment konstitusional warisan) pada pikiran. Teori psikoanalitik, pertama kali di kembangkan oleh Sigmund Freud. Freud sendiri, tidak mempelajari biologi data, otak, badan-badan atau evolusi. Sebaliknya, dia mengumpulkan pengalaman dalam kerja klinisnya kemudian berspekulasi tentang model biologis yang mungkin konsisten dengan pengalaman-pengalaman.

Dalam psikoanalisis, dituntut untuk mengungkapkan apakah teks sastra, merupakan hal yang dapat menyebabkan faktor kejiwaan yang dominan dalam teks sastra, psikoanalisis juga tidak terpaku pada kajian narasi dalam karakter tokoh saja, melainkan perlu mencermati apakah hal tersebut ada hubungannya dengan realitas atau tidak, dan peran pengarang pun di tuntut mampu menghadirkan unsur-unsur di atas sebagai fenomena individual, atau sosialitas.

Psikoanalisis artinya ilmu yang menganalisa tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. Dengan singkat disebut ilmu analisa kejiwaan. Teori psikoanalis dikembangkan berdasarkan pada cara kerja pikiran manusia, khususnya dalam novel ini digunakan untuk menganalisis tokoh-tokoh yang diangkat.

Freud berpendapat bahwa teori kepribadian merupakan suatu sistem yang terdiri dari 3 unsur, yaitu: id, ego, dan super ego, yang masing memiliki asal, aspek, fungsi, prinsip operasi, dan perlengkapan sendiri.

  1. “Id”

Menurut Freud, id berfungsi berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), munculnya dorongan yang merupakan manifestasi id, adalah dalam rangka membawa individu ke dalam keadaan seimbang. Jika ini terpenuhi maka rasa puas atau senang akan diperoleh.

Perlengkapan yang dimiliki id menurut Freud berupa gerak-gerak refleks, yaitu gerakan yang terjadi secara spontan misalnya aktivitas bernafas untuk memperoleh oksigen dan kerdipan mata. Selain gerak refleks, id juga memiliki perlengkapan berupa proses primer, misalnya mengatasi lapar dengan membayangkan makanan.

  1. Ego

Ego merupakan aspek kepribadian yang diperoleh sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Menurut Freud, ego merupakan aspek psikologis dari kepribadian yang fungsinya mengarahkan individu pada realitas atas dasar prinsip realitas (reality principle). Misal, ketika individu lapar secara realistis hanya dapat diatasi dengan makan.

Dalam hal ini, ego mempertimbangkan bagaimana cara memperoleh makanan. Jika kemudian terdapat makanan, apakah makanan tersebut layak untuk dimakan atau tidak. Ego dalam berfungsinya melibatkan proses kejiwaan yang tidak simple dan untuk itu Freud menyebut perlengkapan untuk berfungsinya ego dengan proses sekunder.

  1. Super Ego

Super Ego adalah aspek sosiologis dari kepribadian, yang isinya berupa nilai-nilai atau aturan-aturan yang sifatnya normatif. Super ego secara sederhana dapat diartikan sebagai representasi dari berbagai nilai dan hukum-hukum satu masyarakat yang mana individu tersebut tinggal atau hidup. Super ego diperoleh seseorang melalu proses pendidikan, sosialisasi, perintah, dan larangan ataupun hukuman.

Hadirnya Freud dalam penelitian psikologi sastra tidak bisa dibantah lagi. Dia seakan menjadi pusat dari semua psikologi sastra, karena sampai saat ini, teori yang paling banyak digunakan dalam pendekatan ataupun penelitian psikologi adalah teori psikolanalisisnya.

Pondasi teori Freud ini, hakekatnya terletak pada persoalan keinginan-keinginan yang tertunda atau dialihkan sehingga menyebabkan kecemasan. Keinginan-keinginan yang diungkapkan tersebut salah satu wujudnya adalah bahasa dianggap sebagai bentuk ketidaksadaran dari sang pemiliknya.  Hubungan antara psikoanalisis dan sastra diletakkan pada tiga fokus yaitu:

  1. Ketidaksadaran dalam teks yang menjadi wakil dari kepribadian penciptanya, bukan teks itu sendiri, dari sang pengarang, yang tidak hanya dihubungkan melalui teks.
  2. Hubungan antara teks dan pembaca.
  3. Hubungan antara pengarang dan keaktivitasnya dilambangkan sebagai pemimpin dari teksnya.

Hubungan antara psikoanalisis dengan sastra dapat dilihat dalam salah satu karya Freud yang berjudul ”Interpretation of Dream’ (1900), Repression (1915), Studies in Hysteria (1893-1895). Dalam bukunya yang berjudul Repression (1915), mengatakan bahwa pikiran yang tidak sadar mampu mengungkapkan dirinya dalam bentuk yang lain atau dalam satu tindakan-tindakan, kata-kata, fantasi-fantasi mental dalam mana arti dari keadaan tersebut dapat diketahui melalui kesadaran ataupun penyaringan dari jiwa.

Dimana dalam bukunya, Freud, menuangkan semua mimpi, fantasi, mite sebagai bahan dasar dari ketidaksadaran dalam bentuk bahasa.  psikoanalisis sebenarnya mempunyai beberapa pengertian di antaranya praktik psikologi dan sebagai teori. Psikoanalisis berdasarkan pemikirannya pada proses bawah sadar yang membentuk perilaku dan segala penyimpangan perilaku sebagai akibat proses tak sadar. Dimana pada teori ini berhubungan dengan fungsi dan perkembangan mental manusia, seperti yang diutarakan Mario Klare yaitu:

˝Psychoanalytic literary criticism, a movement which sometimes deals with the author, but primarily attempts to illuminate general psychological aspects in a text that do not necessarily relate to the author exclusively. Under the influence of Sigmund Freud (1856–1939), psychoanalytic literary criticism expanded the study of psychological features beyond the author to cover a variety of intrinsic textual aspects. For instance, characters in a text can be analyzed psychologically, as if they were real people”.

Tujuan Teori psikoanalisis adalah untuk bekerja menuju pemahaman tentang psikoanalisis melalui konsep pusat, alam bawah sadar, yang mengakui dan masuk akal dari ketidaksepakatan mengakar tentang apa prinsip-prinsip dasar yang berada.

  1. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

 Data penelitian ini diperoleh dengan mendokumentasikan data dalam bentuk cerita pendek (cerpen). Kemudian peneliti menentukan cerpen yang akan dikaji dan dianalisis. Dalam penelitian ini terdapat data cerpen berupa konflik batin id, ego, dan superego tokoh yang terdapat pada cerpenThe Wall karya Jean Paul Sartre.

 

Analisis Id pada kepribadian tokoh Pablo Ibbieta

 I didn’t miss my cell; I hadn’t suffered too much from the cold but I was alone; after a long time it gets irritating. In the cellar I had company. Juan hardly ever spoke: he was afraid and he was too young to have anything to say. But Tom was a good talker and he knew Spanish well.

Pada paragraf ini diuraikan tokoh Pablo secara dramatik di mana Pablo sama sekali merindukan apalagi menginginkan ia terkurung di dalam sel tahanan. Ia terkekang di dalam kesepian dengan kondisi yang dingin, walaupun dia tidak merasakan menggigil kedinginan. Ia tergambarkan bahwa tidak ada kawan bicara sama sekali, yang ada hanya teman sependeritaan, yakni Juan dan Tom. Paragraf ini termasuk dalam kepribadian Id dimana proses Pablo tidak menginginkan terkurung di sel tahanan yang kondisinya dingin menggigil dan sangat kesepian dengan ditemani teman sependeritaan secara tidak logis ia merasa tidak kedinginan walalupun kondisi sel tahanan amat sangat dingin. Pablo sebagai “aku” dalam cerpen ini berkata “I hadn’t suffered too much from the cold, but I was alone.” Dalam diri Pablo, seakan-akan timbul rasa sangat tersiksa baik fisik dan batinnya, seperti pada kutipan berikut :

I wasn’t exactly cold, but I couldn’t feel my arms and shoulders any more. Sometimes I had the impression I was missing something and began to look around for my coat and then suddenly remembered they hadn’t given me a coat. It was rather uncomfortable. They took our clothes and gave them to their soldiers leaving us only our shirts‐‐ and those canvas pants that hospital patients wear in the middle of summer.

Proses Id tersebut menggambarkan bahwa Pablo masih merasa menderita dalam kondisi tidak logis ia sama sekali tidak merasakan dingin padahal diketahui bahwa ia sampai tidak bisa menggerakkan tangan maupun pundaknya lagi. Dengan kondisi spontan dia pun mencari-cari jaket namun mendadak Pablo teringat bahwa pihak tahanan tidak menyediakan jaket.

Proses Pablo mengalami Id juga digambarkan pada kutipan sebagai berikut :

I felt relaxed and overexcited at the same time. I didn’t want to think any more about what would happen at dawn, at death. It made no sense. I only found words or emptiness. But as soon as I tried to think of anything else I saw rifle barrels pointing at me.

Dalam diri Pablo digambarkan dari kutipan di atas bahwa seakan-akan dia merasakan releks dan kesenangan atau kegirangan pada waktu yang bersamaan. Dengan tidak masuk akal ia berkata “It made no sense. I only found words or emptiness. But as soon as I tried to think of anything else I saw rifle barrels pointing at me.” dimana ia merasa tidak bisa memikirkan apa-apa, hanya kekosongan dan ketika berusaha memikirkan sesuatu seakan moncong senapan mengarah dan terarah tepat di wajahnya.

Dari proses Id tokoh Pablo secara umum muncul ketika dirinya berada di sel tahanan yang dingin dan ia merasa kesepian dan kosong. Pablo mengharapkan bahwa ia bisa lari dan terlepas dari ketakutan, ketidaknyamanan, dan kesepiannya itu.

 

Analisis Ego pada kepribadian tokoh Pablo Ibbieta

Kutipan berikut adalah ego yang menuntun tokoh Pablo menjadi kecewa akan apa yang selama ini ia yakini. Ia merasa segala yang ia akukan selama ini tidak ada artinya dan menganggap bahwa jika ia tahu akan mendapatkan hukuman mati tidak akan sudi ia memperjuangkan gerakan yang selama ini ia pertahankan.

At that moment I felt that I had my whole life in front of me and I thought, “It’s a damned lie.” It was worth nothing because it was finished. I wondered how I’d been able to walk, to laugh with the girls: I wouldn’t have moved so much as my little finger if I had only imagined I would die like this.

Dalam paragraf berikutnya, Pablo pun semakin kecewa dan menganggap bahwa untuk apa selama ini ia memikirkan pentingan anarki dan nasional yang selama ini sudah ia perjuangkan.

But I thought to hell with Spain and anarchy; nothing was important.

Dari hal itulah ego muncul pada tokoh Pablo Ibbieta menjadikan ia tertekan dalam ego. Kepribadian ego Pablo Ibbieta muncul atas proses sekunder yang tidak menerima segala kenyataan yang ada dan berujung atau menuntun pada kekecewaan yang ia rasakan. Secara umum ego Pablo Ibbieta muncul saat ia menyadari hal yang tak terpikirkan sebelumnya, dimana ada rasa kekecewaan berat terhadap apa yang selama ini ia lakukan dan ia pertahankan dimana bukanlah sebuah eksistensi lagi, melainkan menjadi satu tekanan yang berujung kekecewaan bagi Pablo.

 

Analisis Super Ego  pada kepribadian tokoh Pablo Ibbieta

I’ve got to think… think that I won’t see anything anymore and the world will go on for the others.

Dalam kutipan di atas, terlihat bahwa tokoh Pablo menyadari dan mulai berpikir jernih bahwa ia harus menerima kenyataan yang ada. Kenyataan di mana pada akhirnya dari ego yang muncul ia harus membiasakan diri dan menyadari bahwa kematian itu memang akan datang menghadap. Entah bagaimanapun caranya, hukuman kematian itu sendiri akan datang menjemputnya dan ia tidak akan melihat dunia lagi dimana kehidupan orang lain terus berjalan seperti biasa.

But this isn’t the same: this will creep up behind us, Pablo, and we won’t be able to prepare for it.

I should have controlled myself.

Superego muncul dalam kutipan di atas dimana tokoh Pablo sudah benar-benar yakin bahwa  apa yang akan terjadi nanti pada dirinya, sekalipun hukuman mati dijatuhkan padanya, kejadian tersebut sudah pasti akan berlalu dan ia menyadari bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya dengan keberanian dan pasrah dengan mengontrol diri sebaik-baiknya agar ia tetap bisa tenang.

Dengan kata lain, super ego pada tokoh Pablo muncul ketika rasa kesadaran dan penyesalan juga pasrah pada dirinya datang, dan ia memutuskan untuk menerima kenyataan dengan pikiran jernih walaupun itu berat.

 

Dampak internal kepribadian Pablo Ibbieta

  1. Dampak dari Id adalah, munculnya ketakutan, kesepian dan ketidaknyamanan Pablo Ibbieta dalam mengahadapi hukuman mati yang diberikan kepadanya.
  2. Dampak dari Ego adalah, munculnya ketidakbebasan atau tidak adanya eksistensialisme dari Pablo Ibbieta dan membawa kekecewaan yang mendalam pada dirinya.
  3. Dampak dari Super Ego adalah, muncunya kesadaran batin bahwa pasrah terhadap tekanan yang ia hadapai selama penguruhan di sel tahanan. Ia menyadari tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain menerima hukuman mati yang diberikan padanya, sekalipun itu berat terasa.

 

Dampak eksternal kepribadian Pablo Ibbieta

  1. Dampak dari Id adalah, teman sependeritaan (Tom dan Juan) melihat dirinya mengalami ketakutan dan tekanan yang sama dengan vonis hukuman mati yang diberikan padanya.
  2. Dampak Ego adalah, Dokter Belgianmerasakan ketakutan penderitaan dan ketidakbebasan yang dirasakan Pablo Ibbieta, terlebih dalam eksistensinya melawan ketakutan dan menolak hukuman mati yang diberikan kepada Pabo Ibbieta.
  3. Dampak Super Ego adalah, saat ia menyadari sikap pasrah dan menerima hukuman tersebut, ketenangan membawa Pablo menjadikan petugas sel tahanan meyakinkan Pablo bisa selamat dari hukuman mati yang sebelumnya diberikan kepadanya.

 

SIMPULAN

Berdasarkan analisis yang dibahas sebelumnya, maka dapat diambil simpulan melalui teori psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud yang membagi sistem kepribadian menjadi 3 yaitu id, ego, dan superego. Di dalam pembahasa difokuskan bahwa aspek psikologis dari Tokoh Pabo Ibbietadalam cerpenThe Wallsangat kuat. Berdasarkan dari data yang diperoleh beberapa data kalimat yang mengandung aspek psikologis dari tokoh Pablo Ibbieta. Data-data memiliki aspek id, ego dan superego. Hal ini menunjukkan bahwa ego dari Pablo Ibbietadapat memenuhi Id dari Pablo Ibbietayang cukup besar.

Di samping itu, superego dari Pablopun sudah bekerja sempurna untuk mengendalikan id yang dipenuhi ego dari Pablo Ibbieta. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Pablo Ibbietadalam existentialism yang sangat tertekan, dan diselimuti kekecewaan yang mendalam , tetapi Pablo Ibbietatetaplah manusia biasa yang mempunyai keterbatasa. Maka itu ia tetap menyadari bahwa apapun yang akan terjadi padanya sudah menjadi garis hidup baginya sekalipun itu pahit.

 

SARAN

Erat kaitannya dengan karya sastra, penelitian melalui pendekatan psikoanalisis cukup menarik untuk dikaji. Namun dalam perkembangannya, masih sedikit para akademisi atau peneliti di bidang sastra yang mau mengkaji baik sisi penokohan dari kepribadiannya melalui pendekatan psikoanalisis.

Teori psikoanalisis pun masih tergolong sedikit, dan umumnya digunakan dari teori Sigmund Freud saja. Penulis berharap teori mengenai psikoanalisis khususnya di bidang sastra dapat dilahirkan dan ditemukan kembali bukan hanya mengkaji bagian kepribadiannya saja, melainkan secara sosial dan budayanya yang erat hubungannya dengan kepribadian penokohannya.

Sedangkan dari segi karya sastra yang penulis pilih, Sartre masih terlampau memilih tema yang terlalu sempit di mana hubungan psikologis para tokoh tergambar dari awal sampai akhir. Memang dari segi tema sangat mempermudah penulis dalam menganalisis, namun sempitnya hubungan psikologis dan eksistensi yang diusung oleh Sartre sendiri belum cukup menggambarkan konsidi sosial budaya bahkan politik yang dimana cerita di dalamnya menyinggung kemakmuran masyarakat dan negara Spanyol dari pertahanan komunitas anarki.

 

DAFTAR PUSTAKA

Emzir, dan Saifur Rohman. 2015.Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Endraswara, Suwardi. 2008.Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: MedPres.

Freud, Sigmund. 1987.Memperkenalkan Psikoanalisa. Jakarta: Gramedia.

Hartono, S.S. Budi. 2003.Psikoanalisis dan Sastra. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004.Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

http://faculty.risd.edu/dkeefer/pod/wall.pdf. The Wall by Jean Paul Sartre. Diakses pada 17 Juni 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s