Disusun oleh: Devi Sulastri (7716150679)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA

PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2016

 

ABSTRAK

Karya sastra merupakan proses kreatif pengarang terhadap kehidupan yang berdasarkan sejarah atau yang menciptakan sejarah. Suatu karya sastra dapat dikatakan baik apabila karya sastra tersebut mencerminkan zaman serta situasi dan kondisi yang berlaku dalam masyarakatnya. Penggambaran mengenai kebangsaan mengandung beberapa identitas poskolonial, salah satunya berupa hibriditas dan mimikri yang terjadi karena pencampuran, perubahan, dan resisten antara bangsa koloni dan pihak terjajah. Melalui pendekatan poskolonial, identitas poskolonial berupa hibriditas dan mimikri dapat dikaji dengan tujuan untuk mengetahui teori poskolonial yang terdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Agar tujuan tersebut tercapai, peneliti menggunakan metode analisis sejarah. Penelitian ini mencoba merekonstruksi apa yang terjadi pada masa yang lalu selengkap dan seakurat mungkin, dan biasanya menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Bentuk dalam penelitian ini berupa paragraf yang mengandung identitas poskolonial dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat jejak poskolonial berupa identitas poskolonial yang terdiri dari hibriditas dan mimikri yang dipaparkan dalam novel tersebut.

Kata Kunci: Karya Sastra, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Identitas Poskolonial, Hibriditas dan Mimikri.

BAB I

PENDAHULUAN

  •  Latar Belakang

Setiap karya adalah manifestasi sebuah sistem yang harus dikuasai oleh pembaca agar karya yang dibacanya dapat diberi makna. Sastra bukan rangkaian kata dan kalimat, melainkan sudah menjadi wacana, menjadi teks, sehingga sastra menerangkan dan membangun dunia melalui kata-kata. Dapat pula dikatakan bahwa sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa.

Salah satu  bentuk karya sastra yaitu novel. Novel merupakan karangan prosa yang panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan waktu tertentu dan sifat setiap pelaku.  Novel sejarah kolonial merupakan sebuah artefak, peninggalan, ataupun jejak-jejak zaman kolonialisme. Salah satu jenis novel sejarah kolonial ialah novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer, karena merupakan novel yang sarat akan perjuangan, bukan hanya perjuangan hidup seorang manusia, namun perjuangan hidup sebuah bangsa.

Sesungguhnya kritik poskolonial adalah suatu jaringan sastra atas rekam jejak kolonialisme. Apabila ditelusuri dengan cermat, tentu banyak karya sastra Indonesia modern yang merekam jejak kolonialisme, salah satunya novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer ini, atas dasar kenyataan sejarah bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari kolonialisme atau bangsa yang terjajah hingga ratusan tahun dan banyaknya karya sastra yang merekam jejak penjajahan, maka tepat novel ini dipilih sebagai objek penelitian analisis poskolonial dengan fokus kepada identitas poskolonial berupa hibriditas dan mimikri.

  • Fokus Penelitian

Fokus penelitian penting untuk menetapkan batas-batas permasalahan dengan jelas agar masalah yang akan diteliti tidak meluas sehingga penelitian ini fokus dan tepat sasaran. Adapun fokus penelitian di sini di antaranya membahas tentang identitas poskolonial, yaitu hibriditas dan mimikri yang terdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer yang merekam jejak sejarah bangsa Indonesia.

  • Rumusan Masalah

Sesuai dengan fokus penelitian di atas, maka rumusan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah identitas poskolonial berupa hibriditas diterdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer?
  2. Bagaimanakah identitas poskolonial berupa mimikri diterdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer?
  • Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui identitas poskolonial berupa hibriditas yang diterdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer.
  2. Untuk mengetahui identitas poskolonial berupa mimikri yang diterdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer.
  • Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini diharapkan dapat membantu perkembangan sastra, khususnya sastra poskolonial dan penggunaannya dalam menganalisis sebuah karya sastra.

 BAB II

KAJIAN TEORI

 

2.1 Kajian Poskolonial

Poskolonialisme merupakan bentuk penyadaran dan kritik atas kolonialisme. Umumnya didefinisikan sebagai teori yang lahir sesudah kebanyakan negara-negara terjajah yang memeroleh kemerdekaannya, sedangkan kajian dalam bidang kolonialisme mencakup seluruh intekstual nasional. Poskolonialisme sering juga disebut pascakolonial merupakan intelektual modern yang merupakan reaksi dari dampak-dampak kolonialisme. Sebagai cara pandang baru, poskolonialisme telah mampu menjelaskan objek secara berbeda, sehingga menghasilkan makna yang berbeda. Sebagai negara yang pernah menjadi kolonisasi selama hampir tiga setengah abad, jelas dalam khazanah kultural Indonesia terkandung pelbagai masalah yang perlu dipahami sesuai dengan teori poskolonial.

Menurut Said (2001: 65), aturan yang berlaku dalam perkembangan sejarahnya sebagai suatu disiplin akademis adalah meluasnya ruang lingkup, bukan selektivitasnya yang meningkat. Dekonstruksi terhadap wacana-wacana kolonialis atau penjajah penting untuk menyadarkan bangsa Eropa, bahwa teks-teks Orientalis penuh dengan bias-bias kultural. Lapangan penelitian baru yang dirintis oleh Edward Said di lingkungan dunia akademis, kemudian dikenal dengan teori pascacolonial (postcolonial theory). Edward Said mengemukakan bahwa hadirnya revolusi kesadaran yang luar biasa dalam kesadaran kaum perempuan, kaum minoritas, serta golongan marginal berpengaruh secara langsung pada pemikiran mainstream di seluruh dunia. Tampilnya kajian orientalisme ternyata begitu dramatis, sehingga menyedot perhatian semua orang yang secara serius peduli dengan kajian budaya yang teoritis dan ilmiah. Kemudian perlunya pemahaman tentang permasalahan filosofis yang sangat kompleks dalam penafsiran budaya lain.

Kajian poskolonial adalah salah satu kajian akademis yang berkembang setelah tahun 1980-an. Perkembangan ini sebagai dampak pemikiran teori kritis dan postmodern yang mewarisi pemikiran Nietszhe, seperti: Heidegger, Derrida, Michel Foucault, Bataille dan lain sebagainya. Ada karakteristik yang sama serta menjadi ciri utama teori kritis dan postmodern, yaitu bahwa teori sosial berguna untuk meningkatkan kesadaran sekaligus wawasan yang lebih memungkinkan perubahan lingkungan sosial budaya secara rasional dan lebih manusiawi. Hal ini terlihat jelas pada kajian poskolonial. Kajian poskolonial cenderung menggunakan argumentasi yang bersifat terposisikan pada dua kutub atau posisi biner tersebut. Oposisi biner yaitu sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B, sesuatu benar kalau ia tidak salah.

2.2 Identitas Poskolonial

Menurut Bhabha, antara penjajah dan terjajah terdapat “ruang antara” yang memungkinkan keduanya untuk berinteraksi. Di antara keduanya terdapat ruang yang longgar untuk suatu resistensi. Akan tetapi, resistensi tidak lantas berarti tindak oposisional atau negasi yang murni. Pada dasarnya, resistensi tidak pernah dengan mudah dapat dijelaskan karena ia bersifat khusus, tidak lengkap, dan ambigu. Hal inilah yang kemudian menjadikan identitas kolonial itu tidak stabil, meragukan, dan selalu berubah. Beberapa konsep teori pascakolonialisme Bhabha, antara lain stereotipe, mimikri, hibriditas, dan ambivalensi. Dalam penelitian ini hanya akan dibahas mengenai hibriditas dan mimikri karena di dalam objek penelitian yang diteliti dua hal tersebut lebih banyak ditemukan.

2.2.1 Hibriditas

Hibriditas merupakan persilangan budaya atau sebagai cara untuk mengacu pada interaksi antara bentuk-bentuk perbedaan budaya yang dapat menghasilkan pembentukan budaya dan identitas baru. Hibriditas juga mengarahkan perhatian pada produk paduan budaya dan cara penempatannya dalam ruang sosial dan historis di bawah kolonialisme menjadi bagian dari penolakan hubungan kekuasaan kolonial. Sementara itu, masalah identitas berkaitan dengan masalah hibriditas, yakni masalah jati diri bangsa yang berubah karena adanya pengaruh budaya dari bangsa kolonial, termasuk mimikri (tindakan meniru) budaya kolonial oleh bangsa terjajah dan subaltern (kaum yang terpinggirkan atau orang yang terjajah).

Dalam era poskolonial, gagasan tentang hibridisasi telah difokuskan kembali untuk mengacu pada satu fenomenon kultural (Allen, 2004:236). Bhabha menyebut bahwa hibriditas itu merupakan sebuah permasalahan representasi kolonial dan individuasi (menuntut peneliti: identitas individual) yang membalikkan efek dari penyangkalan kolonialis, sehingga penolakan pengetahuan lain yang masuk pada wacana dominan dan mengasingkan dasar kesewenangan atau pengakuan pemerintahannya. Menurut Day (2008: 13), konteks hibriditas tidak lagi hanya mengarah pada produk-produk paduan budaya itu sendiri, tetapi lebih penting lagi pada cara bagaimana produk budaya ini dan penempatannya dalam ruang sosial dan historis di bawah kolonialisme menjadi bagian dari pemaksaan penolakan hubungan kekuasaan kolonial.

2.2.2 Mimikri

Mimikri sebagai suatu proses yang dipaksakan oleh penjajah tetapi dengan pura-pura diterima oleh pihak terjajah. Tindakan mimikri menjadi suatu olok-olok terhadap penjajah karena mereka (terjajah) tidak melakukan peniruan secara sepenuhnya.

Mimikri dalam pandangan Bhabha merupakan reproduksi belang-belang subjektivitas Eropa di lingkungan kolonial yang sudah ‘tidak murni’, tergeser dari asal-usulnya dan terkonfigurasi ulang dalam kegelisahan kolonialisme. Tindakan mimikri ini kemudian dapat dipahami sebagai akibat dari retakan-retakan dalam wacana kolonial. Baik penjajah maupun terjajah, tindakan mimikri ini menghasilkan efek-efek yang ambigu dan kontradiktif. Hasil dari mimikri selalu hampir serupa tapi tak sama karena disebabkan oleh upaya kolonial yang terus berusaha mengendalikan peniruan yang dilakukan oleh pihak terjajah. Menurut Bhabha dalam Yasa (2012: 234), mimikri adalah sebuah strategi perubahan, peraturan, dan disiplin yang menyesuaikan diri dengan “yang lain” karena mimikri itu memvisualisasikan kekuatan dari wacana kolonial sangat dalam dan mengganggu.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara atau prosedur yang dipergunakan untuk melakukan penelitian sehingga mampu menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian. Menurut Sugiyono (2012: 1),  metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

Penelitian ini dapat diklasifikasikan ke dalam penelitian kualitatif deskriptif, karena penelitian sastra pada umumnya menggunakan bentuk penelitian ini. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan pada kondisi objek yang dialami, peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara induktif, dan penelitian ini lebih menekankan makna daripada generalisasi. Penelitian kualitatif pada hakikatnya mengamati orang dalam lingkup hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri.

3.2 Teknik Penelitian

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teknik pengumpulan data penelitian. Teknik pengumpulan data (Sugiyono, 2012: 308) merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Teknik pengumpulan data untuk penelitian ini yaitu metode simak dan metode catat.

3.3 Teknik Analisis Data Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, teknik analisis data yang digunakan sudah jelas, yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan. Data diperoleh dari pelbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data, dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikemukakan di sini bahwa, analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh, dalam hal ini dari hasil dokumentasi, sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Peneliti menganalisis novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer dengan menggunakan analisis poskolonial.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian kualitatif adalah yang melakukan penelitian itu sendiri yaitu peneliti. Peneliti dalam penelitian kualitatif merupakan orang yang membuka kunci, menelaah dan mengeksplorasi seluruh ruang secara cermat, tertib, dan leluasa. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas semuanya.

3.5 Sumber Data Penelitian

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data yang peneliti gunakan sesuai dengan teknik penelitian, yaitu teknik dokumentasi. Selain buku-buku referensi kuliah yang berhubungan dengan materi, sumber data pada penelitian ini adalah novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer, cetakan ke-2 tahun 2012, 460 halaman, penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta.

3.6 Data Penelitian

Data penelitian poskolonialisme mencakup aspek-aspek kebudayaan yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal terjadinya kolonialisasi hingga sekarang termasuk pelbagai efek yang ditimbulkannya. Data poskolonial pada umumnya adalah wacana poskolonial, yaitu pelbagai bentuk penceritaan dalam kaitannya dengan peninggalan kolonial. Data utama penelitian ini adalah  identitas poskolonial yang terkandung dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Data penelitian ini berupa kata, kalimat, ungkapan, dan dialog tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer.

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

 4.1 Analisis Data

Peneliti akan memaparkan analisis teori poskolonial berupa identitas poskolonial (hibriditas, dan mimikri) dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer sebagai berikut. Poskolonial dalam kajian sastra dipahami sebagai strategi bacaan yang menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membantu mengidentifikasi adanya tanda-tanda (identitas) kolonialisme dalam teks-teks sastra. Guna menemukan tanda-tanda kolonialisme identifikasi dilakukan dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer cetakan ke-4 tahun 2009, 126 halaman, penerbit Lentera Dipantara, Jakarta.

4.2 Pembahasan Identitas dalam Poskolonial

Penjelasan mengenai hibriditas dan mimikri sudah dipaparkan pada bab kedua. Pada penelitian ini jejak poskolonial tersebut dapat dianalisis melalui perilaku tokoh, kalimat atau dialog, dan narasi yang terdapat dalam novel yang mencerminkan identitas poskolonial berupa hibriditas dan mimikri seperti pada pemaparan berikut ini.

4.2.1 Hibriditas

Hibriditas merupakan persilangan budaya atau sebagai cara untuk mengacu pada interaksi antara bentuk-bentuk perbedaan budaya yang dapat menghasilkan pembentukan budaya dan identitas baru. Berikut akan peneliti paparkan data hibriditas yang terdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer.

“Lewat jalan yang kita buat sendiri kita bayar pajak pada onderneming. Dua pintu jalan, dua kali pajak. Kalau kau coba-coba beli gerobak, berapa pajak mesti dibayar, tiap kali lalui dua pintu jalan onderneming itu?!” (SPDBS, hlm.13)

Kutipan di atas berdasarkan ucapan Yang Pertama kepada Yang kedua. Hal yang menjadi hibriditas ialah perihal hal pajak. Sebab secara umum pemungutan pajak yang teratur dan permanen telah dikenakan pada masa kolonial. Tetapi pada masa kerajaan dahulu juga telah ada pungutan seperti pajak, pungutan seperti itu dipersembahkan kepada raja sebagai wujud rasa hormat dan upeti kepada raja, yang disampaikan rakyat di wilayah kerajaan maupun di wilayah jajahan.

Pada awal kemerdekaan pernah dikeluarkan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1950 yang menjadi dasar bagi pajak peredaran (barang), yang dalam tahun 1951 diganti dengan pajak penjualan(PPn) 1951 Pengenaan pajak secara sitematis dan permanen, dimulai dengan pengenaan pajak terhadap tanah, hal ini telah ada pada zaman kolonial. Sehingga sampai sekarang negara Indonesia menggunakan ketentuan pajak untuk setiap keadaan.

Hari mau menyugu kopi. Tapi apa boleh buat, kopi tidak gulapun tidak. (SPDBS, hlm. 27)

Kopi ialah bentuk persilangan budaya. Sebab sadar atau tidak kopi bukanlah minuman asli Indonesia, tetapi kopi diperkenalkan oleh bangsa lain kepada bangsa Indonesia. Sehingga masyarakatnya mengikuti hal tersebut sedari dulu hingga saat ini.

Tiada jauh terdengar bunyi tembak-menembak, semua orang, terkecuali para tangkapan, menatap Komandan untuk meminta keterangan dengan matanya. (SPDBS, hlm.72)

“Bu, pestol Pak Lurah dibawa, Bu?” (SPDBS, hlm.96)

Kedua kutipan tersebut simbol hibriditasnya sama yaitu tembakan atau pistol. Bangsa Indonesia memiliki senajata tersendiri yaitu bambu runcing dan sejenisnya. Sedangkan senjata api dimiliki oleh Indonesia dari hasil rampasan bangsa penjajah yang kalah dilawan oleh masyarakat Indonesia. Tetapi sekarang senjata api seperti pistol sudah dijadikan sebagai senjata wajib yang harus dimiliki militer.

4.2.2 Mimikri

Mimikri dimengerti sebagai tindakan yang hampir serupa tapi tak sama karena disebabkan oleh upaya kolonial yang terus berusaha mengendalikan peniruan yang dilakukan oleh pihak terjajah. Berikut akan peneliti paparkan beberapa analisis data mimikri yang terdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer.

Ia berpakaian jas tutup coklat, bersarung pelikat, berpeci tinggi hitam berkembang sutera. (SPDBS, hlm.15)

Pada kutipan di atas kata ia merujuk untuk Musa. Terdapat dua hal yang menjadikan kutipan tersebut mimikri, yaitu jas dan sutera. Jas atau bisa juga disebut tuxedo biasa digunakan dalam acara khusus seperti pesta atau digunakan pada saat bekerja. Konon awal munculnya pakaian berjenis jas ini pada tahun 1860 ketika Henry Poole & Co, yang membuat setelah khusus untuk acara pesta yang mereka buat. Setelah beberapa abad jas menjadi salah satu pakaian yang paling mendasar bagi kaum pria di Eropa saat ini jas sudah merambah ke berbagai belahan dunia mana saja, termasuk di Indonesia. Sehingga warga Indonesia menirunya hingga saat ini.

Selanjutnya sutera atau kain sutera. Sutera merupakan serat protein alami yang beberapa jenisnya dapat ditenun menjadi tekstil. Kain sutera yang digunakan oleh Musa pada kutipan tersebut ternyata sutera itu bukan lahir di Indonesia tetapi di negara lin. Menurut tradisi Cina, sejarah sutera telah dimulai sejak abad ke-27 SM. Pada saat itu penggunaannya terbatas hanya untuk negeri Cina, hingga Jalur Sutra dibuka di beberapa titik selama paruh kedua milenium pertama SM.

Rodjali, bujang kesayangan, muncul dalam pakaian piama tua yang di sana-sini sudah ditambal, sedang di atas kepalanya bertengger peci merah, yang juga telah tua. (SPDBS, hlm.41)

Masih tentang tindakan peniruan yang dilakukan bangsa terjajah. Kali ini dilakukakn oleh Rodjali. Ia menggunakan piama yang merupakan tindakan mimikri, sebab piama pun dari bangsa asing. Piama berasal dari bahasa Bengali, Pajama dan bahasa Persia Paijama. Populer pada abad ke-17 di Asia Selatan dan Asia Barat. Pada abad ke-18, misionaris Inggris menggunakan pakaian ini sebagai pakaian tidur anak laki-laki. Pada pertengahan 1980an, perempuan juga ikut memakainya. Dan hingga sekarang masyarakat Indonesia banyak yang menggunakannya.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari bab analisis dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa adegan dalam novel yang manjadi hibriditas dan mimikri. Namun tidak semua peneliti cantumkan. Pada analisis hibriditas terdapat beberapa kutipan yang dapat mewakili novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Hibriditas merupakan persilangan budaya atau sebagai cara untuk mengacu pada interaksi antara bentuk-bentuk perbedaan budaya yang dapat menghasilkan pembentukan budaya dan identitas baru. Pemungutan pajak, konsumsi kopi, dan penggunaan pistol merupakan termasuk persilangan budaya dengan bangsa asing. Sebab ketiga hal tersebut berasal dari bangsa koloni atau bangsa asing.

Untuk mimikri atau tindakan peniruan juga dicantumkan beberapa kutipan yang menjadi perwakilan yang ada dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Mimikri dimengerti sebagai tindakan yang hampir serupa tapi tak sama karena disebabkan oleh upaya kolonial yang terus berusaha mengendalikan peniruan yang dilakukan oleh pihak terjajah. Peniruan-peniruan yang jelas terjadi dalam novel tersebut lebih kepada barang-barang yang digunakan oleh para tokoh, seperti jas, piama, dan kain sutera.

5.2 Saran

Sesuai dengan hasil penelitian terhadap novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Leila S. Chudori, peneliti memberikan saran kepada pihak-pihak terkait yang dapat dijadikan masukan untuk penelitian sastra, antara lain:

  1. Bagi peneliti selanjutnya, jika akan menganalisis dengan menggunakan kajian yang sama, gunakan teori yang relevan dan fokuskan pada salah satu identitas poskolonial agar hasil analisis terpusat.
  2. Bagi pembaca pada umumnya, hendaknya membaca sastra dengan menghayati  dan memahami apa yang ingin disampaikan pengarang dalam karyanya serta melestarikan sastra dan mengembangkannya melalui pendekatan yang sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, Pamela. 2004. Membaca dan Membaca Lagi [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Yogyakarta: Indonesiatera.

Alwasilah, A. Chaedar. 2009. Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta: Pustaka Jaya.

Bhabha, Homi K., 2007. The Location of Culture. New York: Routledge Classics.

Day, Tony dan Keith Foulcher. 2008. Sastra Indonesia Modern: Kritik Postkolonial (Edisi Revisi Clearing A Space). Jakarta: Yayasan Obor.

Faruk. 2007. Belenggu Pasca-Kolonial: HegemonI & Resistensi Dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gandhi, Leela. 2001. Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat (terjemahan Yuwan Wahyutri dan Nur Hamidah). Yogyakarta: Qalam.

Loomba, Ania. 2003. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Moleong, Lexy J., 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Poskolonialisme Indonesia: Relevansi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ray, Sangeeta. 2009. Gayatri Chakravorty Spivak: Sang Liyan. Denpasar: CV. Bali Media Adhikarsa.

Said, Edward W., 2001. Orientalisme. Bandung: Pustaka.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Toer, Pramoedya Ananta. 2009. Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Jakarta: Lentera Dipantara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s