Oleh: SISCA OLIVIA SOEWARNO, S.S

PASCA SARJANA PENDIDIKAN BAHASA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Abstrak

Makalah ini menjelaskan perspektif penjelasan dari pemikiran Bourdieu tentang novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer mengenai keadaan sosial masyarakat yang berada di dalam novel tersebut, serta bentuk – bentuk kekerasan simbolik yang terjadi di masyarakat pada jamannya. Dan sikap perlawanan Gadis Pantai terhadap kekerasan simbolik yang dihadapinya

Kata Kunci :

Habitus, Kekerasan simbolik

Pendahuluan

Novel Gadis Pantai adalah salah satu novel yang dilarang terbit oleh Jaksa Agung rejim Orde Baru pada tahu 1987, dengan alasan novel tersebut menyebar luaskan marxisme – leninisme yang terlarang. Pramoedya selalu membuat novel – novel yang diangkat dari kenyataan dan pengalaman sejarah sosial-budaya manusia-manusia Indonesia.Dalam novel ini juga menceritakan kehidupan para Bangsawan – bangsawan Jawa di Abad akhir sembilan belas dan meceritakan bagaimana perempuan dimata para Bangsawan tersebut.

Dalam Novel Gadis Pantai ditemukan kekerasan simbolik yang mewarnai isi cerita dari awal sampai akhir cerita. Apa yang terjadi pada gadis pantai adalah hal yang biasa terjadi atau dilakukan oleh Bangsawan Jaman dahulu.Gadis pantai yang dengan keterbatasannya mencoba melawan ketidak adilan terhadap dirinya meskipun ia berasal dari kebanyakan orang pada Jaman itu, yakni masyarakat pinggiran dari kelas rendahan.

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Bodgan danTaylor (melalui moleong, 1989 : 3) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur  penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan.  Penelitimengumpulkan data menggunakan studi pustaka dengan cara mengumpulkan data – data yang berkaitan dengan materi kekerasan simbolik Bourdieu dan juga novel Gadis Pantai. disamping itu peneliti juga mengumpulkan berbagai review serta bahan tulisan lain yangdidapat dari buku, jurnal, internet, dan lain sebagainya.

Berkenaan dengan analisis data, Faruk (2012:25) menegaskan bahwa metode analisisdata merupakan seperangkat cara atau teknik penelitian yang merupakan perpanjangan dari pikiran manusia karena fungsinya bukan untuk mengumpulkan data, melainkan untuk mencari hubungan antardata yang tidak akan pernah dinyatakan sendiri oleh data yang bersangkutan. oleh sebab itu, data – data deskriptif yang diperoleh perlu ditelaah lebih lanjutuntuk menentukan langkah – langkah selanjutnya dalam rangka mencari hubungan antardata tersebut. sehingga, yang selanjutnya dilakukan adalah menganalisis data dengan melakukantindak pembacaan, klasifikasi data, dan menarik konklusi

Tinjauan Pustaka

Dalam Analisis novel Gadis Pantai ini peneliti mencoba menggunakan pendekatansosial budaya dengan teori habitus dan kekerasan simbolik dari Jean Pierre Bourdieu. Sejak awal tahun 1970 Pierre Bourdieu mengkaji secara kritis tentang praktik – praktik kultural. Metode analitis Bourdieu menjadi alteratif yang sangat bermanfaat bagi studi – studi institusional kesusastraa dan kritik sastra dalam kajian – kajian budaya yang lebih luas. Salah satu sistem analisis nya menyoroti langsung atau tidak isu –isu seperti : Hubungan antara praktik kultural dan proses sosial yang lebih luas, Posisi sosial kaum Intelektual dan seniman,  dan hubungan antara budaya tinggi dan budaya populer.

Dari seluruh fase perkembangan pemikiranya, bourdieu sudah mengkombinasikan analisis empiris yang ketat dengan pengelaborasian kerangka teoritis tingkat tinggi. Salah satunya perhatian utamanya adalah : Peran Budaya didalam mereproduksi struktur – struktur sosial, dimana hubungan kekuasaan diterima sebagai suatu yang sah dan bukannya tidak diakui. Dalam sebuah karya sastra habitus dan kekerasan simbolik dapat di terapkan dalam meneliti sosiologi dan kebudayaan yang terjadi dalam karya sastra. Oleh sebab itulah peneliti mencoba menggunakan pendekatan teori Jean Pierre Bourdieu untuk menganalisis novel yang berjudul Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer ini agar kita bisa memahami kondisi atau jaman dari latar belakang budaya dari novel ini.

Habitus

Dalam penjelasan tentang ilmu sosial, bourdieu menaruh perhatian pada apa yang dilakukan individu dalam kehidupan sehari – hari. Secara literer habitus adalah satu kata bahasa latin yang mengacu kepada kondisi,penampakan atau situasi yang tipikal atau habitual, khususya pada tubuh ( Richard Jenkins : 2010;107) elemen penting tentang habitus ini yakni:

(1) Produk sejarah, sebagai perangkat disposisi yang bertahan lama dan diperoleh melalui latihan berulang kali (inculcation);

(2) Lahir dari kondisi sosial tertentu dan karena itu menjadi struktur yang sudah diberi bentuk terlebih dahulu oleh kondisi sosial di mana dia diproduksikan. Dengan kata lain, ia merupakan struktur yang distrukturkan (structured – structures);

(3) Disposisi yang terstrukturinisekaligusberfungsisebagaikerangka yang melahirkandanmemberibentukkepadapersepsi, representasi, dantindakanseseorangdankarenaitumenjadi structuring structures (struktur yang menstrukturkan);

(4) Sekalipun habitus lahirdalamkondisisosialtertentu, diabisadialihkankekondisisosial yang lain dankarenaitubersifat transposable;

(5) Bersifatpra-sadar (preconcious) karenaiatidakmerupakanhasildarirefleksiataupertimbanganrasional. Dialebihmerupakanspontanitas yang tidakdisadaridantakdikehendakidengansengaja, tetapijugabukanlahsuatugerakanmekanistis yang tanpalatarbelakangsejarahsamasekali;

(6) Bersifatteraturdanberpola, tetapibukanmerupakanketundukankepadaperaturan-peraturantertentu. Habitus tidakhanyamerupakan a state of mind, tetapijuga a state of body danbahkanmenjadi the site of incorporated history;

(7) Habitusdapatterarahkepadatujuandanhasiltindakantertentu, tetapitanpaadamaksudsecarasadaruntukmencapaihasil-hasiltersebutdanjugatanpapenguasaankepandaian yang bersifatkhususuntukmencapainya.

Kekerasan Simbolis

Kekerasan simbolis menurut Bourdieu adalah pemaksaan sistem simbolisne dan makna (misalnya kebudayaan) terhadap kelompok atau kelas sedemikian rupa sehingga hal itu dialami sebagai suatu hal yang sah. Kebudayaan memperkuat diriya melalui relasi kekuasaan yang menyebabkan pemberian kontribusi reproduksi sistematis mereka. Dalam membangu teori kekerasan simbolis lebih spesifik dalam konteks teoritis proses mekanisme budaya yang memproduksi secara tak langsung aturan dan kendala sosial.

Kekerasan simbolik terjadi dalam ranah sosial kehidupan masyarakat sehariharitanpa disadari, dan mereka yang terkena kekerasan simbolik tidak merasakannya. Haltersebutdikarenakanolehdibenarkannyakekerasanitu, sebagaibagiandaritugasdan pekerjaan orang bawahan, yang dikuasaidan yang diperintah. Seluruh tindakan, aktivitas manusia berebut kekuasaan dalam ranah  & ruang sosial, dijadikan sebagai suatu arena bagi perjuangan sumberdaya. Individu, melalui institusi dan agen lainnya mencoba membedakan dirinya dengan orang lain dan berusaha mengakumulasi modal yang berguna Dan sesuai dalam rangka memperoleh legitimasi

Dalam masyarakat modern, ada dua system hierarki yang berbeda. pertama adalah sistem ekonomi, dimana sistem ekonomi dan kuasa ditentukan dari kepemilikan uang dan harta, yakni modal ekonomi yang dimiliki seseorang. Sistem kedua adalah melalui kebudayaan atau yang bersifat simbolik. Dalam sistem ini, status seseorang ditentukan oleh seberapa banyak modal simbolik atau yang berkaitan era tdengan modal budaya yang dimilikinya. melalui kekuasaan  terhadap budaya, dominasi budaya, modal budaya, kaum intelektual memegang peranan penting sebagai produsen budaya dan pencipta kuasa simbolik, dimana hal ini dapat diartikan sebagai pihak yang memproduksi kekerasansimbolik

Pembahasan

  1. Habitus yang dialami oleh tokoh utama novel Gadis Pantai

Dalam Novel Gadis Pantai tokoh utama nya dari awal sampai akhir tidak memiliki nama, ia hanya dipanggil dengan sebutan Gadis pantai, dikarenakan gadis yang berasal dari desa Nelayan yang dianggap sebagai desa miskin dan kotor. Tokoh utama si gadis pantai adalah seorang gadis miskin, polos dan lugu yang baru berusia 14 tahun saat di nikahkan oleh seorang priyayi atau pembesar kota tanpa ia mengetahui seperti apa rupa dan sosok suamiya.

Dalam teks halaman 1 dijelaskan:

“ Empat belas tahun umurnya waktu itu. kulit langsat. tubuh kecil mungil. mata agak sipit dan jadilah ia bunga kampung Nelayan sepenggal pantai keresidenan Jepara Rembang”

teks hal. 27 :

“ Apa yang kau makan dikampung sana?”

Tak mampu gadis pantai menjawab , Ia takut . Ia tak pernah diajar menggunakan bahasa yang biasa digunakan dikota.

“ Jagung ?”

“Sahaya Bendoro.”

“ Jarang makan nasi?”

penjelasanya : teks diatas masuk kedalam salah satu elemen penting habitus yaitu, lahir dari kondisi sosial tertentu dan karena itu sudah menjadi struktur yang terbentuk dahulu oleh kondisi sosial dimana ia diproduksikan. jelas sekali peneliti dapat memberikan gambaran seperti apa kira – kira tokoh gadis pantai dalam novel.Keadaan ekonomi gadis pantai sama seperti keadaan rakyat miskin pada umumya.

teks Hal 20 : “disini kau tak boleh bekerja, tanganmu harus halus seperti beludru. wanita utama tak boleh kasar “

teks Hal 31 : “ tak ada orang yang berani berlaku kasar terhadap wanita utama “ bujang memperingatkan.

teks Hal 62 : “ seorang diri, tamu – tamu di terima diruang tengah. disini tidak terima tamu wanita “. “ mengapa tidak? dikampung kami pria dan wanita sama sama bertamu. “

Nampak bujang itu merasa kasihan kepada gadis pantai pengalamannya selama ini membuat nya tahu tentang perbedaan antar orang kebanyakan dengan kaum Bendoro.

Penjelasannya : Dari ketiga teks tersebut Habitus lahir dari kondisi sosial tertentu, yang kemudian berubah ke kondisi sosial yang lain yang bersifat transposable. Dengan kata lain tokoh si gadis pantai secara tidak langsung dirubah menjadi pribadi yang berbeda berdasarkan ruang lingkup sosialnya dan status sosialnya sebagai selir bangsawan.

teks Hal 224 : “ Mulai kapan kau punya ingata mau larikan bayi ini”. gadis pantai mengangkat muka, menantang mata bendoro, perlahan – lahan ia berdiri tegak dengan bayi dalam gendongannya.

Penjelasannya : Apa yang dilakukan oleh gadis pantai adalah Bersifatpra-sadar (preconcious) karena ia tidak merupakan hasil dari refleksi atau pertimbangan rasional. Dia lebih merupakanspontanitas yang tidakdisadaridantakdikehendakidengansengaja, tetapijugabukanlahsuatugerakanmekanistis yang tanpalatar. Muncul keberanian dalam diri Gadis pantai untuk menentang Bendoro yang selama ini tidak pernah dilakukannya.

  1. Kekerasan Simbolik tokoh Gadis Pantai

 kekerasan simbolik pertama :

“ kemarin malam ia telah dinikahkan. dinikahkan dengan sebilah keris. detik itu ia tahu kini ia bukan anak bapaknya lagi, bukan anak emak nya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seserang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup.”

Membaca cuplikan teks diatas maka penulis mencoba menjelaskan kekerasan simbolik macam apa yang terjadi dalam tokoh gadis pantai :

Gadis Pantai adalah seorang anak belia yang dinikahkan orang tuanya dengan seorang bendoro, dimana pada jaman tersebut menjadi sebuah kebiasaan bahwa seorang Priyayi atau Bangsawan sebelum dinikahkan oleh sesamanya ( Bangsawan wanita ) haruslah mempunyai seorang selir yang gunanya untuk mengajarkan para bangsawan itu sendiri dalam berumah tangga. Saat pertama kali gadis pantai dibawa kerumah suami nya ia merasakan kesedihan dan ketakutan yang luar biasa. Karena untuk pertama kalinya ia harus berpisah dengan kedua orang tua dan kampung halaman tempat ia biasa bermain. Perbedaan latar belakang dan kebudayaan yang sangat berbeda memaksa si gadis pantai untuk belajar mengikuti cara – cara dan kebiasaan kaum bangsawan tersebut.

Kekerasan simbolik kedua hal 90

“ Gus jangan susahkan Mas Nganten, siapa yang merasa ambil uang Mas Nganten? itu uang belanja. kalau tidak dikembalikan besok semua terpaksa tak makan. Bendoro sendiri juga tak makan. Kembalikan uang itu”

“ Kau pikir apa kami ini? orang kampung? orang dusun? Orang pantai yang tak pernah liat duit?”

“ Persetan, dikiranya kami maling dari kampung nelayan?

teks hal 91

“ kau harus ingat, ingat mbok , kami adalah kerabat terdekat, orang – orang kampung yang tinggal disini, kapan saja bisa pergi dari sini buat mati kelaparan diluar sana”

Penjelasan kekerasan simbolik kedua terjadi saat si Gadis Pantai di kerjai oleh ponakan – ponakan Bendoro dengan mencuri uang nya, para Agus – agus itu menghina dan menyindir gadis pantai mengenai asal – usulnya yang dari desa Nelayan miskin. Atas kekerasan simbolik kedua ini juga berakibat diusirnya Bujang (pembantu) kesayangan nya Gadis Pantai dari rumah besar itu.

Kekerasan Simbolik ketiga hal 173

“ Bendoro perintahkan mas nganten pulang malam ini juga.”

“ Mana tandanya?”

teks hal 174

“ Kalau Bendoro perintahkan pulang, itu berati Pulang!” salah seorang pengiring Mardinah menengahi.

“Pergi kalian aku bisa mengantarkan sendiri. malam ini juga”

“ tidak ada tempat di dokar buat kau!. “ salah seorang pengiring mengancam.

teks hal 175

“ Bagaimana pengiring – pengiring itu “

“Mereka semua bersenjata tajam, dalam kegelapan kami pukuli mereka dengan dayung”

“Apa kata mereka?”

“Anak bapak akan dibunuh di tengah jalan”

“ Apa alasannya?”

“ Mereka tidak tahu, mereka hanya tahu menjalankan dari Demak”

penjelasan teks diatas menjelaskan bahwa telah terjadi kekerasan simbolik ketiga pada diri sigadis pantai, dimana ada seseorang yang sangat berkuasa di demak yang berusaha untuk menyingkirkan gadis pantai demi tercapainya tujuannya. dengan mengirimkan utusan palsu yang seolah – olah suruhan dari Bendoro untuk mengajaknya pulang dan bermaksud membunuh si gadis pantai di tengah jalan. Bangsawan Demak juga mengirimkan soerang bujang benama Mardinah yang ditugaskan untuk memata – matai semua kegiatan gadis pantai. Namun berkat perlidungan dari ayah dan kerabat – kerabatnya di kampung nelayan, maka selamatlah gadis pantai dari percobaan pembunuhan.

kekerasan simbolik keempat teks hal 214

“ laki – laki atau perempuan?” gadis pantai berbisik, dengan cemas berharap –harap anaknya lelaki.

“ Perempuan “

“ Bendoro sudah lihat?”

“ Belum “

teks Hal 215

kepada siapa anak ini kuserahkan kalo tidak pada bapaknya sendiri? barangkali Bendoro tidak perdulikan anaknya sendiri ? tidak, tidak mungkin. dia bapaknya, bapaknya sendiri, tapi mengapa tak juga datang, sekalipun Cuma menengok?.

Penjelasan dari teks diatas jelas sekali bahwa Bendoro tidak memperdulikan kondisi gadis pantai yang sedang berjuang melahirkan anaknya, dan sikapnya terlihat acuh terhadap keadaan gadis pantai yang hanya seorang selir. Bukan hanya terhadap gadis pantai saja bahkan terhadap anak kandung nya sendiripun  Bendoro tidak  memperdulikannya. Jelas sekali bahwa gadis pantai tidak memiliki peran apapun dalam kehidupan Bendoro, melainkan hanya sebagai wanita percobaan.

Kekerasan Simbolik Ke empat terdapat pada teks hal 218

“Mengapa bapak diam?”

“Maafkan aku, kumpulkan pakaian mu”

“ ada apa pak?”

“Jangan banyak bertanya nak, jangan bertanya, kita pergi sekarang”

berikutnya teks hal 219

Bendoro mengulurkan kantong berat berisikan mata uang…pesangon. “carilah suami yang baik, dan lupakan segala dari gedung ini. Lupakan aku, ngerti?”

“Sahaya Bendoro.”

“ Dan ingat, pergunakanlah pesangon ini baik – baik dan.. tak boleh sekali – kali kau menginjakan kaki di kota ini. Terkutuklah kau bila melanggarnya. Kau dengar?”

teks hal 224

“ Ayam pun bisa membela anaknya, Bendoro apalagi sahaya ini..seorang manusia, biarpun sahaya tidak pernah mengaji di surau”

“ Pergi!.”

teks hal 225

seseorang memukul mulutnya hingga berdarah. masih terdengar orang berbisik ditelinganya “ kau hanya dipukul sedikit”

“ lempar ia keluar!”

Penjelasan diatas adalah terjadi kekerasan simbolik yang telah dilakukan Bendoro kepada gadis pantai di mana ia diceraikan begitu saja setelah tiga bulan melahirkan anaknya. Gadis pantai dipaksa berpisah dengan bayinya dan dikembalikan ke kampung halamannya tanpa ia mengerti apa kesalahannya sebagai selir Bendoro. Bendoro , memukulnya dan mengusirnya tanpa belas kasihan seperti binatang tanpa dia memperdulikan jasa, pengabdian dan  status gadis pantai yang merupakan ibu dari keturunannya sendiri. ibarat pepatah “ habis manis sepah dibuang”. Gadis Pantai memberontak mencoba mengambil hak nya sebagai ibu si bayi namun kekerasan hati bendoro sebagai seorang priyayi bangsawan tidak memperdulikannya. bagi nya gadis pantai hanya lah wanita yang di beli setelah selesai tugas nya maka dengan mudah nya ia membuangnya ke jalan.

Kesimpulan

Novel Gadis Pantai terdapat banyak kekerasan simbolik dan habitus pada tokoh utamanya yaitu gadis pantai, seorang gadis desa yang miskin yang dipaksa mengubah kehidupannya dan masuk kedalam lingkungan Bangsawan. Dalam dunia yang asing baginya dan bagi keterbatasan pengetahuanya. Habitus yang terjadi dalam novel Gadis pantai benar – benar produk sejarah dari Bangsa Indonesia yang pada saat itu pulau Jawa masih di pimpin oleh raja – raja kecil dan masih dibawah penjajahan Belanda. Lingkungan sosial kental dimasa itu, dengan ada nya strata dalam masyarakat Jawa. Dengan ada nya perbedaann kasta inilah maka antara tokoh Gadis Pantai dan tokoh Bendoro benar – benar nampak kekerasan simbolik dalam novel tersebut. Dalam Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Anata Toer tersirat latar belakang budaya Indonesia. Konsep Habitus dalam novel ini sama dengan yang di maksudkan Bourdieu sebagai alternatif bagi subjektivisme dan reaksi terhadap tindakan ganjil ala strukturalisme dan feodalisme yang mereduksi agen menjadi sekedar pegemban atau ekspresi bawah sadar. Sedangkan kekerasan simbolik yang muncul di novel adalah pemaksaa sistem simbolisme terhadap kelompok atau kelas tertentu yang sedemikian rupa sehigga hal tersebut di anggap sesuatu yag sah.

Daftar Pustaka

Pramoedya Ananta Toer Novel Gadis Pantai, Cetakan ke 2 Juli 2000, Hasta Mitra Jakarta,

Lubis, Akhyar Yusuf. 2006, Dekontruksi Epistomologi Modern : Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme, Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Baru

Jenkins Richard. 2004 Membaca Pikiran Pierre Bourdieu ( Alih Bahasa dari judul asli Pierre Bourdieu Routledge, London 1992 ) Bantul : Kreasi Wacana

Bourdieu, Pierre 1993 The Field of Cultural Production: Essay onn Art and  Literature : alih bahasa, 2012: Kreasi Wacana Bantul.

Jurnal Adib Muhammad, Agen Struktur dalam Pandangan Pierre Bourdieu weblog, http://madib.blog.unair.ac.id

Advertisements

One thought on “HABITUS DAN KEKERASAN SIMBOLIK DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s