PUSPITA DEWI

NIM . 7316150602

TUGAS  UJIAN AKHIR SEMESTER MATA KULIAH TEORI, APRESIASI  DAN PENGAJARAN SASTRA

DOSEN  : Dr.ZURIYATI, M.Pd & Dr. SAIFUR ROHMAN, M.Hum

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2016

Abstrak

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) Bagaimana citra perempuan digambarkan dalam biografi I Am Malala?(2) Bagaimana tokoh Malala Mengusung semangat feminisme poskolonial di dalam masyarakatnya yang patriarkis?

Tujuan penelitian ini adalah (1 ) Menjelaskan bagaimana citra perempuan digambarkan dalam biografi I  Am Malala (2) Bagaimana tokoh sentral Malala mengusung semangat feminisme poskolonial dalam biografi I Am Malala serta bagaimana Malala menjunjung tinggi pendidikan. Sumber data dalam penelitian ini adalah biografi   I am Malalakarya Malala Yousafzai dan Christina Lamb yang diterbitkan oleh Little, Brown and Company , cetakan pertama tahun 2013 setebal 310 halaman.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik pustakakemudian teknik analisis datanya melalui beberapa tahap yaitu (a) tahap reduksi data, (b) penyajian data dan (c) penarikan simpulan yang menggunakan teknik penarikan simpulan induktif, yaitu penarikan simpulan dari data-data yang khusus untuk mendapatkan simpulan yang umum.Kesimpulan yang bisa diambil adalah  (1) perwujudan citra  perempuan digambarkan sebagai kaum yang termarginalkan  dan tidak dipenuhi hak pendidikan serta hak poltiknya. Citra perempuan digambarkan sebagai  warga Negara kelas dua. The second sex. (2) Tokoh Malala mengusung semangat feminism dideskripsikan dengan  memiliki mind-set atau pola pikir yang berbeda dari anak perempuan lainnya . Malala adalah sosok perempuan yang menjunjung tinggi pendidikan dan berani menentukan arah hidupnya.

Kata kunci:   Citra perempuan, Malala, pendidikan, feminisme poskolonial.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Karya sastra memuat beragam gambaran kehidupan manusia dimasyarakat, tidak jarang karya yang dihasilkan menampilkan citra ataugambaran perempuan di dalamnya. Hal ini memberikan pengetahuan pada kitabahwa sosok perempuan mewarnai khasanah kesusastraan Indonesia..

Salah satu masalah yang sering muncul dalam karya sastra adalah subordinasi perempuan, perempuan dikondisikan dalam posisi yang lebih rendahdari laki-laki. Kondisi ini membuat perempuan berada dalam posisi tertindas,inferior, tidak memiliki kebebasan atas diri dan hidupnya. Dalam hal ini berkaitandengan masalah gender yang mempertanyakan tentang pembagian peran sertatanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dikondisikan sebagaimakhluk yang lemah sedangkan laki-laki dikondisikan sebagai makhluk yangkuat. Akibatnya peran perempuan sering diabaikan dalam kehidupan publikkarena perempuan hanya cocok dalam peran keluarga saja.

Anggapan negatif terhadap perempuan atau pendefinisian perempuandengan menggunakan kualitas yang dimiliki laki-laki sangat berhubungan dengankonsep gender. Gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki danperempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Mansour Fakihmengatakan.Bahwa ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentukyaitu marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atauanggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukanstereotipe, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan lebihbanyak (burden) serta sosialisasi nilai peran gender (Mansour Fakih,1999:12).

Pengaruh-pengaruh tersebut memunculkan mitos-mitos serta citra baku(stereotipe) tentang laki-laki dan perempuan, seperti perempuan lemah danlembut, sedangkan laki-laki kuat dan perkasa, perempuan boleh menangis danlaki-laki tidak boleh menangis. Masalah muncul sebab mitos-mitos dan citra bakutelah mengaitkan peran perempuan dan laki-laki dengan jenis kelaminnya, sertapenilaian secara sosial-budaya yang telah dikenakan (dilabelkan) padanya,akibatnya peran laki-laki dan perempuan telah dikotak-kotakkan karenaberdasarkan jenis kelamin dan penilaian-penilaian tersebut. Citra baku telahmenempatkan laki-laki sebagai yang kuat dan tegar, sedangkan perempuanditempatkan sebagai yang lemah dan lembut.Perempuan dibakukan ke dalam sektor yang dianggap cocok dengannyayaitu sektor domestik sedangkan laki-laki dibakukan ke dalam sektor yangdianggap cocok dengannya yaitu sektor publik. Alasannya sektor domestik lebihmudah, lebih halus, dan lebih ringan daripada sektor publik yang lebih sulit, keras dan kasar. Sehingga sektor domestik lebih cocok untuk perempuan yang lembutdan lemah.

Pembagian seperti ini dalam struktur sosial menempatkan laki-laki danperempuan dalam kotak-kotak yang kadang-kadang sulit untuk ditembus,pembagian seperti contoh di atas menyebabkan kurangnya penghargaan pada apayang telah dikerjakan oleh perempuan. Perempuan ditempatkan sebagai sistempelengkap saja dari dunia laki-laki. Laki-laki diberi label ”pencari nafkah”,sehingga apapun yang dikerjakan perempuan dianggap sebagai “sambilan atautambahan”, malahan kadang tidak dianggap.Pada umumnya hasil tulisan laki-laki menampilkan stereotipe wanitasebagai istri dan ibu yang setia dan berbakti, wanita manja, pelacur danwanita dominan. Citra-citra wanita seperti itu ditentukan oleh aliranaliransastra dan pendekatan-pendekatan tradisional yang tidak cocokdengan keadaan karena penilaian demikian tentang wanita tidak adildan tidak teliti, padahal wanita memiliki perasaan-perasaan yang sangatpribadi seperti penderitaan, kekerasan atau rasa tidak aman yang hanyabisa diungkapkan secara tepat oleh wanita itu sendiri (Kolodny dalamSugihastuti, 2002:141).

Dalam membicarakan soal wanita atau perempuan, yang terpenting dansama sekali tidak boleh dilupakan adalah kodrat perempuan. Salah satu yangmembedakan laki-laki dan perempuan hanyalah pada kodrat, perempuanmempunyai kodrat alami yang tidak mungkin bisa diganggu gugat yang sekaligusjuga merupakan keterbatasan yang harus diterimanya, misalnya perempuanmengalami hal-hal yang khas bagi perempuan yang tidak akan pernah dialamioleh laki-laki seperti menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui.“Wanita yang sering disebut perempuan, putri, istri dan ibu adalah makhluk yangmemiliki kehalusan budi, kulit, lemah sendi tulangnya, yang sedikit memilikiperbedaan susunan atau bentuk tubuh dengan laki-laki” (Moenawar Chalil,1977:8).

Padahal hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Perempuan dapat melakukan segala sesuatu yang sepatutnya dilakukan oleh laki-laki , dalam hal ini mendapatkan pendidikan dan menentukan cita-cita serta mengejar impiannya.

Dalam karya sastra sering dijumpai gambaran tentang kehidupan sosialmanusia, dan melalui karyanya seorang pengarang menyampaikan respon danpenafsiran terhadap situasi dan lingkungan tertentu dalam suatu masyarakat.Biografi I Am Malala sebagai salah satu karya sastra , mengangkat permasalahan tentang kehidupanperempuan yang termarginalkan di Pakistan dan merekam jejak perjuangan Malala sebagai pejuang hak-hak manusia.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah keterkaitan unsur-unsur intrinsik yang terdiri dari alur,

penokohan, dan latar?

  1. Bagaimanakah perwujudan citra perempuan tokoh Malala yang berkaitan dengan aspek fisis, aspek psikis, citra diri, aspek sosial, dan citra tokoh perempuan lain?

1.3 . Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik dalam biografi I am Malala yang terdiri dari alur, penokohan, dan latar.
  2. Mendeskripsikan dan mengungkapkan perwujudan citra perempuan tokoh Mala dalam aspek fisis, aspek psikis, citra diri, aspek sosial, dan citra tokoh perempuan lain.

1.4 . Manfaat Penelitian

  1. 4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuanbaru bagi pembaca mengenai studi analisis struktur intrinsik dalam biografi I Am Malala serta bagi perkembangan ilmu khususnya Sastra Indonesia dapat meningkatkandan mengembangkan apresiasi terhadap kajian karya sastra yang berkaitan dengancitra perempuan.

                 1.4.2 . Manfaat Praktis

. Secara praktis penelitian ini memberi kepuasan tersendiri bagi peneliti,karena dengan penelitian ini peneliti dapat memahami secara jelas tentang perwujudan citra perempuan pada tokoh Malala , yang berkaitan dengan peran perempuan baik perannya dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Di samping  itu dapat membantu pembaca untuk lebih memahami pesan yang terungkap dalam biografi I Am Malala, mengenai makna dan hakikat kehidupan manusia khususnyaperempuan.

BAB II

LANDASAN TEORI

  • Citra Perempuan

Citraan adalah gambar-gambar angan atau pikiran sedangkan setiapgambar pikiran disebut citra atau imaji. Gambaran atau pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang menyerupai    atau gambaran  yang dihasilkan oleh objek (Altenbernd dalam Rachmat Djoko Pradopo, 1997:12).

Citra artinya rupa, gambaran, dapat berupa gambar yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi atau kesan mental (bayangan) visual yang ditimbulkaan oleh sebuah kata, frasa atau kalimat dan merupakan dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi. Citra perempuan merupakan wujud gambaran mental spiritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresi oleh perempuan dalam berbagai aspeknya yaitu aspek fisis dan psikis sebagai citra diri perempuan serta aspek keluarga dan masyarakat sebagai citra sosial. (Sugihastuti, 2000:7). Dewasa ini sukar memberikan suatu “gambaran” perempuan dan kepribadiannya secara bulat, karena sejak dahulu perempuan telah menampilkandirinya dalam barbagai cara. Terlebih-lebih penampilan itu ditujukan dalam sifat dan sikap terhadap masalah yang dihadapinya antara lain perannya sebagai istri, ibu, maupun sebagai anggota masyarakat. Salah satu ciri perbedaan perempuan pada masa kini dengan perempuan pada zaman Kartini adalah perempuan masa kini ingin, bersedia, boleh dan bahkan diarahkan mengisi dua perannya yaitu (1) berperan dalam rumah tangga sebagai istri dan ibu, (2) berperan di luar rumah.

Namun, pada umumnya perempuan digambarkan memiliki sifat pasrah, halus, sabar, setia, berbakti, dan sifat yang lain, misalnya kritis, cerdas, berani menyatakan pendiriannya. Secara empiris perempuan dicitrakan secara stereotipe baku sebagai makhluk yang lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan, sementara laki-laki dianggap sebagai makhluk yang kuat, rasional, jantan dan perkasa (Dagun, 1992:3). Citra demikian timbul karena adanya konsep gender yakni suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural melalui proses panjang, sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap sebagai ketentuan Tuhan.

Citra perempuan dalam penelitian ini berwujud mental spiritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresi oleh tokoh Hayuri yang menunjukkan wajah dan ciri khas perempuan. Citra perempuan dapat dilihat melalui peran yang dimainkan perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan juga melalui tokoh-tokoh lainnya yang terlibat dalam kehidupannya. Untuk itu dapat dideskripsikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perempuan sebagai berikut.

  1. Perempuan yang dicitrakan sebagai makhluk individu yang berkaitan dengan perannya sebagai anak, ibu dan istri.
  2. Makhluk sosial yang banyak terlibat dalam publik.

Dalam hal ini dibedakan menjadi dua peran berdasarkan norma-norma yaitu:

  1. Perempuan yang mempunyai peran aktif dan pasif.
  2. Perempuan yang mempunyai peran negatif.

2.2 Feminisme

2.2.1   Hakikat Feminisme

Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Tokohnya disebut feminis. Di Indonesia, istilah feminisme sering menimbulkan prasangka, pada dasarnya lebih disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai arti feminisme yang sesungguhnya. Sejarah feminisme telah dimulai pada abad ke-18 oleh R.A Kartini melalui hak yang sama atas pendidikan bagi perempuan.

Kritik sastra feminis merupakan salah satu teori kritik sastra yang paling dekat yang dipakai sebagai alat jawabnya. Dalam arti leksikal, feminisme ialah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria (Moeliono dalam Sugihastuti dan Suharto, 2002: 61). Menurut Geofe dalam Sugihastuti dan Suharto, 2002: 61, feminisme ialah teori tentang persamaan antara laki-laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, dan sosial; atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita. Jadi feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menghapus segala perbedaan gender dan menuntut hak perempuan untuk menyamakan kedudukannya dengan kaum laki-laki.

Feminisme memperjuangkan dua hal yang selama ini tidak dimiliki oleh kaum perempuan pada umumnya, yaitu persamaan derajat mereka dengan laki-laki dan otonomi untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya dalam banyak hal. Kedudukan perempuan dalam masyarakat lebih rendah dari laki-laki, bahkan mereka dianggap sebagai “the second sex”, warga kelas dua. Dalam pengambilan keputusan dibanyak bidang, yang mendapatkan hanyalah masayarakat laki-laki. Perempuan dipaksa tunduk, mengikuti mereka. Feminisme tidak seperti pandangan atau pemahaman lainnya. Feminisme tidak berasal dari sebuah teori atau konsep yang didasarkan atas formula teori tunggal. Itu sebabnya, tidak ada abstraksi pengertian secara spesifik atas pengaplikasian feminisme bagi seluruh perempuan disepanjang masa.

Dasar pemikiran dalam penelitian sastra berperspektif feminis adalah upaya pemahaman kedudukan dan peran perempuan seperti tercermin dalam karya sastra. Pertama, kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam karya sastra Indonesia menunjukan masih didominasi oleh laki-laki. Kedua, dari resepsi pembaca karya sastra Indonesia, secara sepintas terlihat bahwa para tokoh permpuan dalam karya sastra Indonesia tertinggal dari laki-laki. Ketiga, masih adanya resepsi pembaca karya sastra Indonesia yang menunjukan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan hanyalah merupakan hubungan yang didasarkan pada pertimbangan biologis dan sosial ekonomis semata-mata. Keempat, penelitian sastra Indonesia telah melahirkan banyak perubahan analisis dan metodologinya, salah satunya adalah penelitian sastra yang berspektif feminis. Kelima, lebih dari itu, banyak pembaca yang menganggap bahwa peran dan kedudukan perempuan lebih rendah daripada laki-laki seperti nyata di resepsi dari karya sastra Indonesia.

2.2.2   Sejarah Feminisme

Kemunculan feminisme diawali dengan gerakan emansipasi perempuan, yaitu proses pelepasan diri kaum perempuan dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah serta pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan-kemungkian untuk berkembangdan untuk maju (Moeliono, dkk, 1993:225-226). Orang yang menganut paham feminisme disebut feminis. Pada masa Sitti Nurbaya istilah emansipasi perempuan, feminis, dan feminisme belum ada, tetapi esensinya sudah berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu, dalam buku ini tokoh yang mendukung emansipasi perempuan disebut tokoh profeminis. Sedangkan yang menentangnya disebut tokoh kontrafeminis.

Faham feminis ini lahir dan mulai berkobar pada sekitar akhir 1960-an di Barat, dengan beberapa faktor penting yang mempengaruhinya. Gerakan ini mempengaruhi banyak segi kehidupan dan mempengaruhi pula setiap aspek kehidupan perempuan. Bila faham feminis adalah politik, hal ini merupakan teori atau sederet teori yang apakah diakui atau tidak merupakan fakta pandangan kaum perempuan terhadap sistem patriakhat. Sejak akhir 1960-an ketika kritik feminis dikembangkan sebagai bagian dari gerakan perempuan internasional, anggapan tentang studi kritik sastra feminis ini pun menjadi pilihan yang menarik. Kritik sastra feminis menawarkan pandangan bahwa para pembaca perempuan dan kritikus perempuan membawa persepsi, pengertian, dan dugaan yang berbeda pada pengalaman membaca karya sastra apabila dibandingkan dengan laki-laki. Wawasan mereka yang diawali oleh para pelopornya selanjutnya berkembang dalam aneka ragam segi.

Kritik sastra feminis berbeda dengan kritik-kritik yang lain, masalah kritik sastra feminis berkembang dari berbagai sumber. Dalam hal ini, diperlukan pandangan luas dalam bacaan-bacaan tentang perempuan. Bantuan disiplin ilmu lain seperti sejarah, psikologi dan antropologi juga diperluka serta perlu dipertimbangkan lagi teori sastra yang sudah dimiliki oleh kritikus feminis. Linguistik,, psikoanalisis, marxisme, dan dekonstruksinalisme menyajikan bantuan terhadap kritik feminis dengan rangkaian analisisnya yang penting. Namun, semuanya itu belum mengantarkan kritik sastra feminis kepada suatu teori kritik sastra yang mapan.

Sejak berkobarnya faham feminis di Barat, faham itu berkobar pula dalam kritik sastra. Oleh Humm (1986) disebutkan beberapa tokoh sebagai pelopornya. Simone dan Beauvoir, Kathe Millet, Betty Friedan, dan Germain Greer adalah para penulis yang menaruh perhatian terhadap perkembangan kritik ini. Pertanyaan-pertanyyan yang mereka ajukan erat kaitannya dengan faham feminis sehingga seakan-akan tidak ada sangkut-pautnya dengan sastra dan budaya. Apakah atau siapakah perempuan? Mengapa perempuan sering digambarkan salah oleh penulis laki-laki dalam karya-karyanya? Apakah politik seksual itu? Bagaimana politik seksual ini digambarkan dalam sastra? Mengapa ada bentuk-bentukan anggapan yang tetap terhadap perempuan dan mengapa pula perempuan mau menerimanya?

Semua pertanyaan itu seakan-akan hanyalah merupakan suatu uji coba yang dapat didekati dengan analisis berdasarkan bentuk budaya. Ada titik kesamaan pandangan para pelopor itu tentang perempuan, bagaimakah gambaran budaya penindasan dan peremehan perempuan dalam masyarakat yang patriakhat? Mereka ingin membuktikan jawaban pertanyaan dengan pengujian pada karya sastra. Pandangan itu diajukan dengan tidak terpancang pada kritik sastra tradisional. Dianggapnya, bahwa setiap teks (sastra) tercermin begitu banyak bagian dari momen kebudayaan. Isu yang mengatakan bahwa selama ini peran perempuan hanya sebagai makhluk pelengkap laki-laki, tertindas, inferior, takluk, dan sebagainya harus dapat dipahami melalui kritik tertentu.

Dalam perkembangannya para pelopor ini mengetengahkan bentuk kritik sastra feminis yang merupakan campuran antara budaya dan sastra. Mereka menggambarkan kondisi perempuan seperti yang dilukiskan para lelaki dengan yang digambarkan para perempuan sendiri. Mereka memusatkan analisis dan perhatian para perempuan-perempuan seperti yang terlukis dalam budaya laki-laki. Teks dibaca sebagai hasil budaya dari sistem patriakhat. Para pelopor ini melihat bahwa sesungguhnya peran dan status perempuan itu ditentukan oleh jenis kelamin. Itulah sebabnya Millet (1970) mengetengahkan sexual politics sebagai pegangan dalam pemahaman analisis seksual. Ia mempertimbangkan teks-teks dalam hubungannya dengan seksualitas penulisnya. Mengapa teks sastra dianggap begitu penting dari para pelopor ini? Dapat dimengerti bahwa sastra sebagai produk kebudayaan merupakan ilustrasi seluruh kehidupan sosial. Novel, misalnya, dapat dianggap sebagai struktur dan proses budaya.

Simone de Beauvoir, seorang pelopor faham feminis sesudah perang, yang menerbitkan bukunya pada tahun 1949 tentang the second sex, menaruh perhatian pada studi tentang penindasan perempuan dan konstruksi feminitas oleh para laki-laki. Pandangannya bermula dari fakta dan gambaran mitos psikologi, sejarah, dan biologi. Mitos-mitos buatan manusia ini menempatkan perempuan sebagai objek pasif, perempuan diciptakan berbeda dengan laki-laki. Bagi Beauvoir, perbedaan fisik anatara laki-laki dan perempuan mempunyai arti hanya dari persetujuan masyarakat sehingga karakteristik biologis dapat dijelaskan, tetapi penjelasannya tidak pernah tepat. Yang perlu dicatat dari pandangannya adalah Beauvoir menganggap secara implisit, bahwa kaum perempuan tidak pernah dapat dengan tepat digambarkan oleh para penulis laki-laki, gambaran perempuan ditentukan sebagai mitos yang mereka ciptakan.

Betty Friedan, juga seorang pelopor faham feminis, dalam The Feminine Mystique mengetengahkan versi pragmatis dari bentuk kepasifan perempuan. Menurutnya, perempuan merupakan kaum yang pasif, atas bentuk kebudayaan yang tetap sebagaimana anggapan feminitas atas kaum patriakhat. Friedan menggunakan faham kritis dalam menganalisis kebudayaan. Hal itu antara lain tercermin pada contoh berikut. Friedan menggambarkan media konsumerisme perempuan, misalnya majalah perempuan. Banyak hal yang dapat diceritakan dari majalah perempuan ini tentang kedudukan dan posisi perempuan dalam sistem patriakhat.

Juga, dalam konferensi NOW tahun 1966 dicari kekuatan-kekuatan yang mendeskriminasikan perempuan, antara lain dapat disebut pada lapangan pendidikan, penggunaan tenaga kerja, agama, perempuan miskin dan malang, gambaran perempuan dalam media massa, hak-hak politik perempuan, dan keluarga. Daftar yang disampaikan Friedan ini pantas diperhatikan dalam rangka melihat alternatif kedudukan perempuan pada sistem patriakhat. Ia tidak mengharapkan perempuan untuk meninggalkannya, tetapi mengubah agar tercapai alternatif posisi yang dimungkinkan.

Germaine Greer melanjutkan gagasan para pelopor sebelumnya pada tahun 1971 dalam The Female Eunuch. Ada kesamaan antara Greer dan Friedan. Keduanya menolak untuk membedakan gambaran, tetapi menyatukannya saja dalam pendekatan yang tidak berkelas. Greer memperkirakan bahwa ada bentrokan dalam faham feminis, ramalan emansipasi perempuan akan selalu menjadi teoretis, mudah dibaca, dan pragmatis.

Berbeda dengan Beauvoir, Kathe Millet membuat kritik yang berfokus pada ideologi. Menurutnya, kritik sastra feminis dipusatkan pada sexual politics. Ia menganggap bahwa kesusastraan merupakan dokumen dari kesadaran kolektif kaum patriakhat. Dikatakannya, ada tiga perubahan dalam politik seksual: pertama, para penulis laki-laki membangun karakter laki-laki dan perempuan; kedua, para penulis tidak menggambarkan seksualitas dengan gabungan penyimpangan feminitas; dan ketiga, struktur fiksi merupakan lukisan dari budaya laki-laki.

Alasan Millet berpangkal pada anggapan bahwa kekuatan laki-laki berada di atas perempuan sehingga menjadi bagian fundamental dari masyarakat yang berkelas. Dengan perbedaan seksual, dapat ditafsirkan bagaimana sastra memuat dan menciptakan ideologi perbedaan jenis kelamin. Faham ini dapat dipakai untuk melihat sifat kewanitaan dan kejantanan dalam karya-karya penulis laki-laki (atau juga perempuan?). ia menggambarkan bahwa jenis kelamin dalam struktur teks seolah-olah adalah jenis kelamin pula seperti yang terjadi dalam masyarakat; tetapi harus diingat bahwa seringkali terjadi kesalahan membaca yang hebat. Para pelopor ini telah mengawali pandangannya untuk mengubah nilai sastra dalam bentuk nilai perempuan yang sudah pernah ditangkap dengan membuka faham feminis bagi kritik sastra feminis dalam persepsi yang baru.

2.2.3   Aliran Feminisme

Pada mulanya para feminis menggunakan isu “hak“ dan “kesetaraan“ perempuan sebagai landasan perjuangannya, tetapi feminisme akhir 1960-an mengunakan istilah “penindasan” dan “kebebasan” yang kemudian feminisme menyatakan dirinya sebagai ”gerakan pembebasan perempuan”.  Secara umum kelahiran Feminisme dibagi menjadi tiga gelombang (wave) yang mengangkat isu yang berbeda-beda.

Gelombang pertama ini ditandai dengan publikasi Mary Wollstonecraft yang berjudul ”Vindication of the Rights of Women” tahun 1792 Wollstronecraft mendeskripsikan bahwa kerusakan psikologis dan ekonomi yang dialami perempuan disebabkan oleh ketergantungan perempuan secara ekonomi kepada laki-laki dan peminggiran perempuan dari ruang publik.  Ada dua tokoh lainnya seperti Sejourner Truth, dan Elizabeth Cady  Stanton. Perhatian feminis gelombang pertama adalah memperoleh  hak-hak politik dan kesempatan ekonomi yang setara bagi kaum perempuan. Feminis berargumentasi bahwa perempuan  memiliki kapasitas rasio yang sama dengan laki-laki. Aksi politik feminis yang dimotori oleh kaum feminis liberal telah membawa perubahan pada kondisi perempuan saat itu.  Perempuan berhasil mendapatkan hak pilihnya dalam pemilu pada tahun 1920, dan bukan hanya itu, kaum feminis  berhasil memenangkan hak kepemilikan bagi perempuan, kebebasan reproduksi yang lebih dan akses yang lebih besar  dalam bidang pendidikan dan profesional.

Teori-Teori Feminisme Gelombang Pertama

  1. Feminisme liberal

Manusia adalah otonom yang dipimpin oleh akal (reason). Dengan akal manusia mampu untuk memahami prinsip-prinsip moralitas, kebebasan individu. Prinsip-prinsip ini juga menjamin hak-hak individu.

  1. Feminisme radikal

Sistem seks/gender merupakan dasar penindasan terhadap perempuan.

  1. Feminisme marxis/sosialis

Materialisme Historis Marx yang mengatakan bahwa modus produksi kehidupan material mengkondisikan proses umum kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukan kesadaran yang menentukan eksistensi seseorang tetapi eksistensi sosial mereka yang menentukan kesaaran mereka.

Gelombang feminis kedua pada tahun 1949 ditandai dengan munculnya publikasi dari Simone de Beauvoir’s The Second Sex. Beauvior berargumentasi bahwa  perebedaan gender bukan berakar dari biologi, tetapi memang sengaja diciptakan untuk memperkuat penindasan terhadap kaum perempuan. Pernyataan ini terefleksikan dari pernyataan klasiknya, ”(o)ne is not born, but rather becomes a woman;…. It is civilization as a whole that produce this creature… which is described as feminine.”  Bagi feminis gelombang ke-2 kesetaran politik dan hukum tidak cukup untuk mengakhiri penindasan terhadap kaum perempuan. Dalam sudut  pandang mereka , penindasan sexist tidak hanya berakar pada hukum dan politk, tetapi penyebabnya emmbeded pada setiap aspek dari kehidupan sosial manusia , termasuk ekonomi, politik  dan sosial arrangements, serta norma-norma, kebiasaan, interaksi sehari-hari dan hubungan relasi personal. Mereka berpendapat bahwa feminisme harus mendapatkan kesetaraan ekonomi secara penuh bagi perempuan, dan bukan hanya sebatas untuk bertahan secara ekonomi. Feminis gelombang kedua juga mulai menggugat institusi pernikahan, motherhood, hubungan lawan jenis (heteresexual relationships), seksualitas perempuan dan lain-lain. Mereka berjuang keras untuk merubah secara radikal setiap aspek dari kehidupan pribadi dan politik.

Teori-Teori Feminisme Gelombang Kedua

  1. Feminisme psikoanalisa

Penjelasan mendasar penindasan perempuan terletak pada psyche perempuan, cara perempuan berpikir.

  1. Feminisme eksistensialisme

Konsep ada dari Jean Paul Satre :Etre-en-soi, Etre-pour-soi, Etre-Pour-les-autres. Analisa ketertindasan perempuan karena dianggap sebagai ”other” dalam cara beradanya di entre-pour-les-autres.

Feminis gelombang ketiga dimulai pada tahun 1980 oleh feminis yang menginginkan keragamaan perempuan (women’s diversity) atau keragaman secara umum., secara khusus dalam teori feminis dan politik. Sebagai contoh  perempuan kulit berwarna dipertahankan ketika dahulu pengalaman, kepentingan dan perhatian mereka tidak terwakili oleh feminis gelompang kedua  yang didominasi oleh wanita kulit putih kelas menengah. Sebagai contoh ketertindasan perempuan perempuan putih kelas menengah berbeda secara signifikan dengan penindasan yang dialami oleh perempuan kulit hitam Amerika. Ketertindasan kaum perempuan heteresexual berbeda dengan ketertindasan yang dialami oleh kaum lesbi, dan sebagainya.

Teori-Teori Feminis Gelombang Ketiga

  1. Feminisme postmoderen

Seperti aliran postmoderenisme menolak pemikiran phalogosentris (ide-ide yang dikuasai oleh logos absolut yakni ”laki-laki” berreferensi pada phallus).

  1. Feminisme multikultural

Pemindasan terhadap perempuan tidak dapat hanya dijelaskan lewat patriarki tetapi ada keterhubungan masalah dengan ras, etnisitas, dsb, (interlocking system). Di dalam Feminisme Global bukan saja ras dan etnisitas, tetapi juga hasil kolonialisme dan dikotomi ”dunia pertama” dan ”dunia ketiga”.

Selain aliran di atas, adapula yang menyatakan bahwa ada aliran kain yang terdapat dalam teori feminisme, yaitu sebagai berikut.

1)         Feminisme anarkis

Feminisme anarkis lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriarki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.

2)         Feminisme poskolonial

Dasar pandangan ini berakar di penolakan universalitas pengalaman perempuan. Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bebas koloni) berbeda dengan perempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami penindasan bebasis gender, mereka juga mengalami penindasan antarbangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat.

3)         Feminisme nordic

Kaum feminis nordic dalam menganalisis sebuah negara sangat berbeda dengan pandangan feminisme marxis maupun radikal. Nordic yang lebih menganalisis feminisme bernegara atau politik dari praktik-praktik yang bersifat mikro. Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “harus berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara.

BAB III

METODE PENELITIAN

Ditinjau dari segi metode kerja dan hasil yang ingin dicapai, penelitian  akan citra  perempuan dalam biografi I Am Malala karya Malala Yousafzai dan Cristina Lamb, dilakukan dengan menggunakan prinsip kerja rancangan kualitatif. Sebagai penelitian kualitatif, penelitian ini memiliki ciri (1) hasil penelitian berupa kata-kata, (2) penelitian bertujuan untuk mengembangkan atau meningkatkan pemahaman terhadap teks, (3) dilakukan untuk menghasilkan deskripsi, (4) interprestasi kemudian di implementasi dan simpulan secara verbal dalam bentuk kata-kata, dan (5) hasil penelitian masih bersifat terbuka bagi penelitian lanjutan.                                    Berdasarkan fokus penelitian dan cara mendapatkan atau memperlakukan data, penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian deskriptif interparatif. Data-data yang telah terkumpul tidak hanya dideskripsikan saja melainkan juga diinterprestasi dan di implementasikan. Kegiatan interprestasi melibatkan dunia pengalaman dan pengetahuan peneliti serta wawasan teotitis yang ditemukan peneliti. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan tentang gambaran ketidakadilan terhadap perempuan dalam biografi I Am Malalakarya Malala Yousafzai dan Christina Lamb. Untuk mencapai tujuan tersebut, data penelitian ini diambil dari setting alamiah (natural setting) berupa biografi dan peneliti sendiri sebagai instrumen utama (human isnstrumen).

Dalam pelaksanaanya, metode kualitatif berpandangan bahwa semua hal yang berupa teks kebahasaan tidak ada yang patut diremehkan, semuanya penting, dan semuanya mempunyai pengaruh dan kaitan dengan yang lain. Dengan mendeskripsikan semua teks kebahasaan kemungkinan akan memberikan suatu pemahaman yang lebih konprehensif mengenai apa yang sedang dikaji. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis wacana oleh sebab itu, analis wacana kritis tidak bisa di anggap sebagai pendekatan netral (sebagaimana ilmu sosial objektivis) namun sebagai pendekatan kritis yang secara politik ditujukan bagi timbulnya perubahan sosial.

Analisis wacana kritis itu bersifat “kritis” maksudnya adalah  bahwa analisis ini bertujuan mengungkap praktik peran kewacanaan dalam upaya melestarikan dunia sosial, termasuk hubungan-hubungan sosial yang melibatkan hubungan kekuasaan yang tak sepadan. Atas nama emansipasi, pendekatan analisis wacana kritis memihak pada kelompok-kelompok sosial tertindas. Bogdan (dalam Sugiono, 2012:19) menyatakan bahwa data akan diketahui setelah memasuki objek, dengan cara membaca berbagai sumber informasi tertulis, gambar-gambar, berfikir, dan melihat objek serta aktivitas orang yang berada disekelilingnya, melakukan wawancara dan sebagainya.

Dikemukakan juga bahwa penelitian kualitatif belum memiliki masalah, atau keinginan yang jelas, tetapi dapat langsung memasuki objek/lapangan. Dalam penelitian kualitatif yang diutamakan adalah kualitas data bukan kuantitas data. Kualitas data ini ditentukan oleh representatif atau tidaknya suatu data. Data yang refrensetatif adalah data yang mewakili ciri-ciri kelompoknya, selain itu data berkualitas adalah data yang menyeluruh yakni data yang sebesar mungkin dapat merekam keseluruhan gejala atau fenomena yang ada dalam objek penelitian.

Sumber data dalam penelitian ini adalah novel yang ditulis oleh pengarang perempuan, yaitu Malala Yousafzai dan Cristina Lamb: Novel I Am Malala karya Malala Yousafzai dan Cristina Lamb, tebal buku 310 halaman, diterbitkan oleh Little, Brow and Company tahun 2013. Adapun data penelitian ini berupa paparan bahasa yang terkait dengan citra  perempuan dalam biografi  yang dijadikan sumber data penelitian, yaitu (1) Kutipan-kutipan kalimat yang menggambarkan citra perempuan di dalam masyarakat Pastun yang mendiami daerah Swat (2) Ide-ide feminis dalam merepresentasi citra  perempuan yang diperinci menjadi: ide feminis tentang kebebasan perempuan, hak perempuan, dan perjuangan harkat dan martabat perempuan. Masalah- masalah tersebut dibedah dengan teori wacana kritis dengan model kajian kritik sastra feminis poskolonial. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama atau human intrument. Peneliti sebagai instrument utama (human intrument), berarti peneliti yang menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya. Oleh karena itu di dalam penelitian kualitatif “the researcher is the key instrument”, jadi peneliti adalah merupakan instrumen kunci dalam penelitian kualitatif (Sugiono, 2012:222-223).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

.

Perempuan di banyak masyarakat  yang masih menjunjung tinggi patriarki,  masih dianggap sebagai warga negara kelas dua atau second psex. Lebih rendah derajatnya dibandingkan para pria.  Hal ini menimbulkan kesenjangan gender yang berimbas pada  perlakuan yang berbeda dan ketidak adilan serta merugikan kaum perempuan.

Representasi ketidakadilan terhadap Perempuan dan kekerasan terhadap perempuan kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan seringkali terjadi di dalam rumah di mana perempuan menjadi seorang ibu, istri, anak perempuan, saudara perempuan, atau sebagai seorang pengasuh. Rumah yang semestinya menjadi tempat tinggal yang aman, dalam beberapa kasus ternyata menjadi ladang pembantaian yang menjadikan perempuan dan anak sebagai korban. Hak hidup bagi perempuan, bahkan ketika masih berupa janin pun banyak yang tidak terpenuhi. Misalnya yang pernah terjadi di India dan China, ketika janin yang terdeteksi berjenis kelamin perempuan kemudian janin tersebut harus diaborsi karena adanya kebijakan family planning yang mengharuskan sebuah keluarga hanya mempunyai satu anak saja, dan diutamakan bukan perempuan yaitu laki-laki sebab dianggap lebih ‘bernilai’ secara ekonomi dan sosial di banding perempuan (http:L’enfer Paradisiaque Re-thinking Feminism.htm).

Hal ini juga terjadi di sebuah kota kecil bernama Swat di Pakistan dimana lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Malala Yousuzai, nama yang terinspirasi oleh tokoh pahlawan perempuan yang memimpin peperangan melawan invasi Inggris di Pakistan .

Banyak citra perempuan sebagai kaum inferior digambarkan dalam biografi ini. Kalimat-kalimat yang mencerminkan bahwa perempuan tidak dihargai. Para isteri bukan dianggap sebagai mitra namun hanya objek penderita meskipun hal berbeda ditunjukkan oleh Ziauddin Yousufzai, ayah Malala namun hampir seluruh pria Pakistan memperlakukan kaum perempuan semena-mena.

Biografi ini menceritakan tentang perjalanan dan perjuangan hidup tokoh perempuan yang bernama Malala Yousufzai dalam menjalani kehidupan di sebuah kota kecil bernama Swat dan menangkap peristiwa-peristiwa di sekitarnya yang sarat dengan  berbagai permasalahan hidup yang kompleks. Ia terlahir di dalam sebuah masyarakat yang sangat patriarki dan menganggap perempuan sebagai warga negara kelas dua, the second sex. Namun Malala adalah gadis yang istimewa , pertanda sudah muncul sejak awal kelahirannya dimana ia lahir saat fajar menyeruak dan bintang terakhir redup  cahayanya. Hal itu bagi masyarakat Pakistan merupakan pertanda baik. Biografi ini juga merekam kekejaman Taliban.

Namun begitu pola pikir Malala yang mengusung semangat feminisme dan memperjuangkan kesetaraan gender  juga bisa ditemui di sepanjang biografi ini.  Berikut adalah hasil temuan yang dikumpulkan oleh peneliti.

NO KUTIPAN HAL ANALISA
1 Ketika aku lahir, masyarakat di desaku menaruh simpati pada ibuku dan tak satupun yang mengucapkan selamat pada ayahku. 13 Kelahiran seorang anak perempuan di Swat bukan dianggap sebagai sebuah anugrah melainkan musibah
2 Aku lahir di tanah dimana tembakan salfo menyambut kelahiran seorang anak laki-laki , sementara anak perempuan disebunyikan di balik tirai, tugas mereka hanya menyiapkan makanan dan melahirkan 13 Bayi  laki-laki disambut dengan suka cita sedangkan bayi perempuan dianggap aib
3 Meskipun ibuku tak dapat membaca dan menulis, namun ayahku  selalu bercerita tentang hari-harinya, baik hari yang baik maupun buruk. Biasanya ibu akan menggoda ayah dan memberi nasihat  tentang mana teman yang tulus dan yang tidak, ayah bilang  pendapat ibu ibu selalu  tepat. Pria Pashtun tak ada yang seperti ayah, karena berbagi masalah dengan isteri dianggap lemah. “Dia bahkan nbertanya pada isterinya!” Hina mereka. 22 Laki-laki suku Pashtun memandang isteri hanya sebagai pelayan dan mesin penghasil anak bukan sebagai mitra sejajar untuk teman berbagi.
4 Di dekat rumahku  ada sebuah keluarga yang memiliki anak seusiaku bernama Safina dan dua anak laki-laki seusia adikku. Kami semua bermain kriket di atap rumah bersama-sama namun seiring kami beranjak besar, semua anak perempuan diminta untuk tidak keluar rumah.  Kami diminta untuk melayani ayah dan sadura laki-laki kami.  Sementara para lelaki bebas pergi kemana saja, aku dan ibuku tak boleh keluar rumah tanpa pengawasan saudara laki-laki. Bahkan meskipun yang menemani bocah berusia lima tahun. Begitulah tradisinya 25 Lelaki bebas untuk pergi kemana saja sedangkan perempuan harus tinggal di dalam rumah untuk melayani keperluan  ayah dan saudara laki-lakinya.
5 Aku memutuskan bahwa aku tak mau seperti itu.Ayahku selalu berkata “Malala akan bebas seperti burung”. Aku bermimpi naik ke puncak gunung Elum seperti Alexander yang agunguntuk bisa menyentuh planet Jupiter, namun kemudian aku berpikir ,apa bisa perempuan seperti itu. 25 Malala memiliki pola pikir atau mind-set yang berbeda dari anak perempuan kebanyakan. Benih pemberontakan mulai tumbuh.  Semangat feminisme mulai terasa.
6  Di sebagian besar keluarga , anak  perempuan tinggal di rumah sedangkan anak laki-laki pergi ke sekolah .” Mereka hanya menunggu untuk dinikahkan” kata ayahku 27 Perempuan tidak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan
7 Rezim Zia memberlakukan Undang-Undang yang menyatakan bahwa kesaksian wanita hanya setengah  dari kesaksian laki-laki. Tak heran kemudian penjara penuh dengan kasus perkosaan dimana si korban tak sanggup menghadirkan empat laki-laki sebagai saksi 30 Rezim Zia benar-benar menyudutkan kaum perempuan sehingga banyak korban  pemerkosaan malah berbalik dituduh  sebagai pelaku perzinahan.
8 Anak pertama orang tuaku meninggal ketika lahir.  Sepertinya ada masalah kebersihan di rumah kami. “Aku pikir perempiuan bisa me;ahirkan tanpa harus ke rumah sakit seperti orang-orang di desa. Ibuku melahirkan kesepuluh nanaknya seperti itu”. Ujar ayahku 50 Sebagai kaum yang dianggap hanya sebagai mesin penghasil anak, masalah kesehatan merekapun diabaikan.
9 Biasanya politikus datang mengunjungi  kami hanya pada saat menjelang pelilihan umum dengan menjanjikan jalan, listrik, air bersih dan sekolah lalu memberi uang dan generator pada pejabat desa yang selanjutnya menginstruksikan warga untuk memilih.  Tentu saja hanya laki-laki yang disuruh memilih karena perempuan  tidak ikut pemilihan umum. 60 Perempuan tidak diberi hak dipilih dan memilih. Mereka tidak diberikan hak politik mereka.
10 Shahida yang bekerja pada  kami  mengatakan bahwa saat dia berusia 10 tahun ayahnya menjualnya kepada seorang lelaki tua yang sudah beristri hanya karena dia menginginkan perempuan yang lebih muda. 60 Perempuan dianggap sebagai barang komoditi yang diperjual belikan.
11 Seorang gadi  cantik berusia 15 tahun  bernama Seema yang jatuh hati pada seorang anak lelaki . Kadang-kadang anak lelaki ini melintasi rumahnya, dan Seema pun  memandangnya  dibalik bulu matanya yang panjang dan lentik. Dalam masyarakat kami adalah hal yang sangat memalukan  bagi keluarga apabila seoarang anak gadis menggoda  laki-laki. Tak lama kami dengar dia bunuh diri namun akhirnya terkuak bahwa dia diracun oleh keluarganya sendiri. 61 Citra perempuan yang yang diharapkan kaum Pashtun sebagai sosok pemalu dan tidak memperlihatkan perasaannya membuat keluarga Seema merasa malu dan akhirnya memilih membunuh Seema.
12 Siaran Fazlullah  sering ditujukan kepada kaum perempuan. Dia tahu banyak para suami meninggalkan rumah dan bekerja di di pertambangan batu bara atau proyek pembangunan di teluk.  Dia berkata “ Perempuan ditakdirkan untuk tinggal dan melakukan tanggung jawabnya di rumah. Hanya untuk keperluan yang mendesak mereka boleh meningggalkan  rumah itupun  harus dengan memakai cadar”. Kadang orang-orang kepercayaannya menampilkan baju yang mereka bilang mereka ambil dari “perempuan tak bermoral” untuk mempermalukan mereka. 107 Citra perempuan yang lemah menjadi sasaran empuk kaum Fazlullah dengan berbuat sewenang-wenang terhadap perempuan yang mereka nilai “tak bermoral”.
13 Aku bingung dengan kalimat Fazlulllah. Di dalam kitab suci Al-Quran tidak tertulis bahwa laki-laki harus bekerja di luar rumah dan perempuan tinggal seharian di rumah. Dalam pelajaran ilmu Islam yang aku pelajari aku tahu bahwa isteri nabi Muhammad , Siti Khadijah, adalah seorang pedagang. Usianya 40 tahun, lebih  tua 15 tahun darinya, seorang janda, namun nabi Muhammad tetap menikahinya.  Aku juga menyaksikan betawa kuatnya nenekku yang membesarkan kedelapan anaknya seorang diri setelah kakekku mengalami kecelakaan dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. 108 Malala mempertanyakan peraturan yang dibuat  Fazlullah yang mengharuskan perempuan diam di rumah.  Malala tidak setuju dengan anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah.
14 Kaum laki-laki beranggapan bahwa bekerja dan mendapatkan uang serta memerintah isterinya adalah simbol kekuasaan. Dia tidak tahu bahwa kekuatan ada di tangan perempuan yang menjaga dan mengatur segalanya. Ibulah yang bangun paling pagi, menyetertika pakaian, membuatkan sarapan, dan mengajarkan kami bagaimana bersopan santun.  Ibuku juga yang berbelanja ke pasar , memasak untuk kami semua. Semuanya ibuku yang melakukannya. 108 Bagi Malala, apa yang dilakukan para laki-laki tidak lebih berat dari tugas perempuan  di rumah dari pagi hingga menjelang tridur. Bagi Malala, perempuan adalah makhluk  yang kuat.
15 Saat kembali ke sekolah setelah libur Idul Fitri, kami mendapati stiker yang bertuliskan “Tuan, Sekolah yang anda jalankan kebarat-baratan dan kafir.  Anda mengajar anak perempuan dan seragam laki-laki tidak islami. Hentikan atau anda akan mendapat masalah dan anak-anakmu akan menangisimu” 113 Anak perempuan tidak diberikan hak pendidikan.
16 Salah seorang teman sekelasku tidak kembali ke sekolah. Dia telah dinikahkan begitu dia memasuki masa pubertas. Memang  tubuhnya besar untuk seumurnya namun tetap saja dia masih 13 tahun. 190 Satu lagi contoh bagaimana perempuan tidak diperlakukan dengan semestinya.
17 Aku mengenakan baju merah muda ke pesta dan untuk pertama kalinya bicara di depan umum  bagaimana kami menolak maklumat Taliban dan tetap bersekolah. “Aku tahu pentingnya pendidikan karena buku dan penaku diambil secara paksa dariku. Namun kami para gadis Swat todak takut lagi. Kami tetap bersekolah.” 199 Malala menyuarakan aspirasinya dan menyatakan betapa pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan.
18 Sayangnya, negaraku, Pakistan, adalah salah satu negara yang paling buruk pendidikannya. 5,1 juta anak tidak bersekolah. 50 juta anak buta huruf dab dua peruga dari mereka adalah perempuan. 291 Perempuan tidak diberikan hak pendidikannya.
19 Anak perempuan masih terus dibunuh dan sekolah-sekolah dihancurkan 291 Pelanggaran  HAM  terhadap kaum perempuan
20 Penyerangan paling mengejutkan terjadi di bulan Juni  di kota Quetta ketika bom bunuh diri menghancurkan sebuah bis yang membawa 40 siswi ke akademi putri . 14 siswi tewas dan yang terluka dibuntuti hingga ke RS dan beberapa perawat ditembaki 292 Pelanggaran HAM terhadap kaum perempuan
21 Aku mencintai Tuhanku. Aku berterima kasih pada Allah. Aku berkomunikasi setiap hari dengan Nya. Allah Maha Besar.  Dengan  menempatkanku di posisi setinggi sekarang  untuk menjangkau banyak orang , aku diberi tanggung jawab yang luar biasa besar.Damai di setiap rumah, setiap jalan, setiap desa, setiap negara, adalah mimpiku. Pendidikan untuk setiap anak laki-laki dan anak perempuan. Bisa duduk di kursi dengan buku bersama teman-teman id sekolah adalah hakku. Bisa melihat senyum kebahagiaan  diwajah setiap manusia adalah harapanku. Aku Malala. Duniaku telah berubah tapi aku tetap sama. 293 Perjuangan  dan harapan Malala agar setiap anak mendapatkan pendidikan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang bisadiambiladalah  (1) perwujudan citra  perempuandigambarkansebagaikaum yang termarginalkandantidakdipenuhihakpendidikansertahakpoltiknya. Citra perempuandigambarkansebagaiwarga Negara kelasdua. The second sex. (2) TokohMalalamengususngsemangat feminism dideskripsikanmemiliki mind-set ataupolapikir yang berbedadarianakperempuanlainnya .Malalaadalahsosokperempuan yang menjunjungtinggipendidikandanberanimenentukanarahhidupnya.

Dan semoga model kajian dalam penelitian dapat dijadikan sebagai bagian bahan rujukan dalam belajar aplikasi persoalan ketidakadilan terhadap perempuan dalam karya sastra, khususnya ketidakadilan terhadap perempuan dalam novel dengan fokus analisis wacana kritis dan kritik sastra feminis.

DAFTAR PUSTAKA

Adib Sofia (2009), Aplikasi Kritik sastra Feminis . Yogyakarta : Citra Pustaka.

Djajanegara, Soenardjati.  2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar.  Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Eriyanto. 2012. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta:PT Lkis Printing cemerlang. Fakih, Mansour. 2013.

Jorgensen, Marianne dan Phillips, Lauise.2010.Analisis Wacana. AnalisisGender dan Transformasi Sosial . Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ricoeur, Paul. 2012. Hermeneutika Ilmu sosial. Kreasi Wacana. Kasihan Bantul.

Ritzer&Goodman. 2014.Teori Sosiologi. Kreasi Wacana: Kasihan, Bantul.

Sugihastuti & Suharto. 2013. Kritik sastra Feminis:Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yousafzai, Malala dan Christina Lamb. 2013. ”I’Am Malala”.  NY : Little, Brown and Company

http:/L’enfer Paradisiaque Rethinking Feminism.htm 2014, 21:49 http://www.kemenpppa.go.id/index.p hp/publikasi/berita/12-anak/777- hm 2015, 02:24 http://www.puskur.net.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s