Disusun Oleh:

Andreas Candra Yoga Pamungkas

7316150644

Diajukan untuk memenuhi tugas UAS

Mata Kuliah Teori, Apresiasi dan Pengajaran Sastra

Dosen Pengampu:

Dr. Zuriyati, M.Pd

Dr. Saifur Rohman, M.Hum

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA

PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2016

 

ABSTRAK

Kata Kunci: Semiotik, Puisi

Puisi menjadi bagian tak terpisahkan di kemunculan film Ada Apa Dengan Cinta. Penelitian ini mencoba untuk menginterpretasikan puisi-puisi yang muncul dalam film AADC 2.

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana interpretasi puisi-puisi dalam film AADC 2 dalam kajian struktural semiotik dengan melakukan pembacaan heuristik dan hermeneutik. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap makna hasil interpretasi puisi-puisi dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Manfaat penelitian ini secara teoritis adalah dapat digunakan untuk menambah wawasan berkaitan dengan kajian semiotik secara heuristik dan hermeneutik.Manfaat penelitian ini secara praktis dapat digunakan oleh pengajar dan siswa sebagai contoh bentuk interpretasi puisi.

Landasan teori yang digunakan adalah strukuralisme semiotik dan hermeneutik.Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan pendekatan kajian semiotik dan hermeneutik.Pendekatan ini dilakukan melalui pembacaan secara heuristik yakni memahami tanda-tanda/symbol-simbol dalam karya sastra unuk kemudian ditambahkan kata-kata dan dirangkai menjadi kalimat-kalimat yang sesuai struktur kebahasaannya. Sedangkan pendekatan hermeneutik dilakukan pembacaan berulang untuk menginterpretasikan makna dari kalimat-kalimat yang sudah terstruktur dari proses pembacaan heuristik.

Hasil dari penelitian ini adalah baik puisi “Tiada New York Hari Ini” dan “Batas” karya M. Aan Mansyur keduanya berisikan kerinduan mendalam Rangga(tokoh utama pria dalam film AADC 2) terhadap Cinta(tokoh utama wanita) karena terpisah jarak antara New York dan Jakarta.

Adapun saran dari penelitian ini yaitu diharapkan agar setiap orang tertarik untuk berkarya dalam bidang sastra, dan para pegiat film agar tak sungkan memasukkan unsur puisi untuk memperindah karya-karya perfilmannya.

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah

Sastra adalah sebuah karya seni yang didalamnya berbicara tentang masalah kehidupan tentang hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya baik itu masalah sosial, budaya, ekonomi, politik, dan juga berbagai masalah yang terjadi di dalam ruang lingkup kehidupan bermasyarakat.Ketika kita membicarakan sebuah sastra, pasti yang terlintas dalam pikiran kita yakni sebuah keindahan.

Setiap manusia di dunia ini sebenarnya memiliki kesempatan dan kemampuan untuk berkreasi dalam menghasilkan sebuah karya sastra yang indah misalnya puisi, novel, dan sebagainya. Namun sebagian besar dari manusia itu sendiri  tidak menyadari akan karunia yang diberikan itu dengan alasan yang kurang tepat. Sebaiknya kita peka akan karunia itu.

Sastra juga mempelajari sebuah teori yang mengandung arti pernyataan mengenai sebab-akibat maupun adanya hubungan positif antara fenomena yang diteliti dalam masyarakat atau dalam karya sastra tulisan maupun lisan.Sementara kesusastraan berarti tulisan atau karangan yang mempunyai nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.Oleh karena itu, di dalam sebuah penelitian sastra dibutuhkan sebuah pemahaman mengenai teori yang dijadikan dasar dalam mengkaji objek penelitian.

Puisi selalu muncul dalam film Ada Apa Dengan Cinta, baik yang pertama maupun kedua. Hal ini menarik, karena puisi ini kemudian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kemunculan 2 film ini.

Dalam sebuah penelitian sastra dibutuhkan adanya analisis sebuah karya sastra berupa pemahaman mengenai teori-teori atau pendekatan yang digunakan seperti teori semiotik dan teori hermeneutik. Oleh karena itu dalam hal ini penulis akan mencoba memaparkan tentang kedua teori tersebut yang digunakan dalam penelitian sastra puisi-puisi di film AADC 2 untuk menginterpretasikan puisi-puisi tersebut.

  • Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan permasalahannya:

  1. Penerapan kajian semiotik di puisi-puisi AADC 2.
  2. Penerapan pembacaan secaraheuristik puisi-puisi pada film AADC.
  3. Penerapan pembacaan secara hermeneutik puisi-puisi pada film AADC.
  • Pembatasan Masalah

Masalah yang kemudian muncul adalah bagaimana hasil interpretasi dari puisi-puisi dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2.

  • Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan teori Semiotik?
  2. Apa yang dimaksud dengan teori Hermeneutik?
  3. Bagaimana penerapan analisis teori semiotik dan teori hermeneutik dalam puisi-puisi dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2?
  • Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Menjabarkan pengertingan teori Semiotik
  2. Menjabarkan pengertian teori Hermeneutik
  3. Menerapkan analisis teori Semiotik dan teori Hermeneutik dalam puisi-puisi dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2?

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. Tinjauan Pustaka
  2. Teori Semiotik
    • Pengertian Teori Semiotik

Semiotika berasal dari kata Yunani, yakni semeion, yang berarti tanda.Hal ini mengkaji sistem perlambangan atau sistem tanda dalam kehidupan manusia.Sehingga terbentuknya istilah semiotik, yaitu kajian sastra yang bersifat keilmuan yang meneliti sistem perlambangan yang berhubungan dengan tanggapan dalam karya sastra. Dalam Handbook of Semiotics (North, 1990: 307, 346) pada buku “Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra (Nyoman: 2009), menyebutkan bahwa Semiotika merupakan akibat langsung dari formalisme dan strukturalisme.

Menurut Paul Cobley dan Litza Janz (2002:4) pada buku “Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra (Nyoman: 2009), Semiotika berasal dari kata seme (bahasa Yunani) yang berarti penafsir tanda. Sehingga Semiotik adalah sebuah disiplin ilmu sains umum yang mengkaji sistem perlambangan di setiap bidang kehidupan.

Semiotik berfokus pada pengkajian dan pencarian tanda-tanda dalam wacana serta menerangkan maksud daripada tanda-tanda tersebut dan mencari hubungannya dengan ciri-ciri tanda itu untuk mendapatkan makna signifikasinya.

Tanda adalah sesuatu yang mewakili pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan dan lain-lain.Jadi, yang dapat menjadi tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan berbagai hal yang melingkupi kehidupan ini walau harus diakui bahwa bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap dan sempurna.

Tanda-tanda itu dapat berupa gerakan anggota badan, gerakan mata, mulut, bentuk tulisan, warna, bendera, bentuk dan potongan rumah, pakaian, karya seni: sastra, lukis, patung, film, tari, musik dan lain-lain yang berada di sekitar kehidupan kita. Dengan demikian, teori semiotik bersifat multidisiplin sebagaimana diharapkan oleh Pierce agar teorinya bersifat umum dan dapat diterapkan pada segala macam tanda.

  • Segitiga Semiotik

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsinya tanda, dan produksi makna.Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda.Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda.Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan dalam sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut tanda.

Menurut Saussure, tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya selembar kertas. Di mana ada tanda di sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh indra kita yang disebut dengan signifier atau Petanda. Sementara bidang penanda atau bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified.

Penanda terletak pada tingkatan ungkapan (level of expression) dan mempunyai wujud atau merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna, obyek dan sebagainya. Sementara Petanda terletak pada level of content (tingkatan isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan.

Hubungan antara kedua unsur melahirkan makna. Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut referent. Misalnya, Lampu merah mengacu pada jalan berhenti.Wajah cerah mengacu pada kebahagiaan.Air mata mengacu pada kesedihan. Apabila hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak individu yang melihat atau mendengar akan timbul pengertian.

Menurut Pierce, tanda (representamen) ialah sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang lain dalam batas-batas tertentu. Tanda akan selalu mengacu ke sesuatu yang lain atau disebut objek (denotatum). Mengacu berarti mewakili atau menggantikan.Tanda baru dapat berfungsi bila diinterpretasikan dalam benak penerima tanda melalui interpretant.

Jadi interpretant ialah pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima tanda.Artinya, tanda baru dapat berfungsi sebagai tanda bila dapat ditangkap dan pemahaman terjadi adanya ground, yaitu pengetahuan tentang sistem tanda dalam suatu masyarakat. Pierce mengemukakan adanya hubungan ketiga unsur tanda yang terkenal dengan nama segitiga semiotik, yakni ikon, indeks, dan simbol.

  • Teori Hermeneutik

Pengertian Teori Hermeneutik

Akar kata Hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein, yang berarti “ menafsirkan”, dan kata benda hermeneia, yang berarti “interpretasi”. Penjelasan dua kata ini, dan tiga bentuk dasar makna dalam pemakaian aslinya, membuka wawasan pada karakter dasar interpretasi dalam teologi dan sastra, dan dalam konteks sekarang ia menjadi keywords untuk memahami hermeneutika modern.

Dalam studi sastra, Hermeneutik berarti tafsir sastra.Menurut Ricoeur (2006: 58-58), tempat pertama yang didiami oleh Hermeneutika adalah bahasa dan lebih khusus lagi bahasa tulis.Ricoeur mengemukakan bahwa hermeneutik berusaha memahami makna sastra yang ada di balik struktur.Pemahaman tidak hanya pada simbol, melainkan memandang sastra sebagai teks.Di dalam teks ada konteks yang bersifat polisemi.Maka, peneliti harus menukik kearah teks dan konteks sehingga ditemukan makna utuh.

Menurut Suwardi Endraswara (Metodologi Penelitian Sastra: 2012), Hermeneutik sebenarnya sebuah paradigma yang berusaha menafsirkan teks antar dasar logika linguistik. Logika linguistik akan membuat penjelasan teks sastra dan pemahaman makna dengan menggunakan “makna kata” dan konsep semantik teks sastra dan makna bahasa lebih bersifat kultural. Makna kata akan membantu pemahaman makna bahasa. Oleh karena itu, dari kata-kata itu akan tercermin makna kultural teks sastra.

Menurut Richard E. Palmer, definisi hermeneutika setidaknya dapat dibagi menjadi enam. Sejak awal, hermeneutika telah sering didefinisikan sebagai ilmu tentang penafsiran (science of interpretation). Akan tetapi, secara luas hermeneutika juga sering didefinisikan sebagai berikut:

  1. Hermeneutika sebagai teori penafsiran Kitab Suci (theory of biblical exegesis)
  2. Hermeneutika sebagai metodologi filologi umum (general philological methodology)
  3. Hermeneutika sebagai ilmu tentang semua pemahaman bahasa (science of all linguistic  understanding)
  4. Hermeneutika sebagai landasan metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (methodological foundation of Geisteswissenschaften)
  5. Hermeneutika sebagai pemahaman eksistensial dan fenomenologi eksistensi (phenomenology of existence dan of existential understanding)
  6. Hermeneutika sebagai sistem penafsiran (system of interpretation)

 

Keenam definisi tersebut bukan hanya merupakan urutan fase sejarah, melainkan pendekatan yang sangat penting di dalam problem penafsiran suatu teks.Masing-masing mewakili berbagai dimensi yang sering disoroti dalam hermeneutika.Setiap definisi membawa nuansa yang berbeda namun dapat dipertanggungjawabkan dari tindakan manusia menafsirkan, terutama penafsiran teks.

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode Penelitian

Metode Penelitian ini menggunakAN pendekatan Analisis Semiotik.Dalam pendekatan ini terdapat 2 tingkat pembacaan karya sastra yakni secara heuristik dan hermeneutik yang harus dilalui untuk dapat menginterpretasikan suatu karya sastra. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis 2 puisi yang terdapat dalam Film Ada Apa Dengan Cinta 2 yaitu puisi “Tidak Ada New York Hari Ini” dan puisi “Batas”.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik

Pembacaan Heuristik

Menurut Riffaterre (1978:5-6) dalam buku Teori Penelitian Sastra (Jabrohim:2012), untuk dapat memberi makna karya sastra secara semiotik, pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeeneutik.

Pembacaan Heuristik adalah pembacaan berdasar struktur kebahasaan atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama, dan merupakan penerangan kepada bagian-bagian cerita secara berurutan sesuai analisis bentuk formalnya.Sementara pembacaan Hermeneutik adalah berdasarkan konvensi semiotik tingkat kedua.Pembacaan Hermeneutik adalah pembacaan ulang atau retroaktif sesudah pembacaan Heuristik dengan memberikan konvensi sastranya.

 

Pembacaan Heuristik terhadap Puisi ”Tidak Ada New York Hari Ini”


Tidak ada New York hari ini

Tidak ada New York kemarin

Aku sendiri dan tidak berada di sini

Semua orang adalah orang lain

Bahasa Ibu adalah kamar tidurku

Kupeluk tubuh sendiri

Dan Cinta, Kau tak ingin aku

mematikan mata lampu

Jendela terbuka

dan masa lampau memasukiku sebagai angin

Meriang. Meriang.Aku meriang.

Kau yang panas di kening, kau yang dingin dikenang

 

Dalam pembacaan heuristik puisi dibaca berdasarkan struktur kebahasaannya. Untuk memperjelas arti pada puisi, bila perlu dapat diberi sisipan kata atau sinonim kata yang ada pada puisi tersebut dengan cara kata-kata yang disisipkan ditaruh dalam tanda kurung. Begitu pula dengan struktur kalimatnya, disesuaikan dengan kalimat baku, dan bila perlu susunannya dapat dibalik untuk memperjelas arti. Pembacaan heuristik terhadap puisi ”” karya M. Aan Mansyurdapat dilakukan secara berikut:

 

Tidak Ada New York Hari Ini”


(Pikiranku) Tidak ada (di) New York hari ini

(Pikiranku) Tidak ada (di) New York kemarin

Aku sendiri dan (pikiranku) tidak berada di sini

Semua orang adalah (seperti) orang lain (bagiku)

Bahasa Ibu adalah kamar tidurku

Kupeluk tubuh(ku) sendiri

Dan (wahai engkau) Cinta, (seolah) Kau tak (meng)ingin(kan) aku

(untuk) mematikan mata lampu (cinta kita)

 

Jendela (hatiku) terbuka

dan masa lampau memasuki(pikiran)ku sebagai angin (kenangan)

Meriang. Meriang. Aku meriang.(Aku merindukan kasih sayang)

Kau yang panas di kening(ku), kau yang (bersikap) dingin (untuk) dikenang

 

Pembacaan Hermeneutik terhadap Puisi“Tidak Ada New York Hari Ini”

Dalam pembacaan hermeneutic, puisi dibaca berdasarkan konvensi sastranya.Pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan ulang sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan tafsiran berdasarkan konvensi sastra.Konvensi sastra itu, di antaranya yaitu konvensi ketaklangsungan ucapan (ekspresi) puisi.Ketaklangsungan ekpresi puisi dapat disebabkan oleh penggantian arti, penyimpanan arti, dan penciptaan arti (Riffaterre, 1978: 1-2; Pradopo, 2003:97).

Penggantian arti dapat disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi.Penyimpangan arti dapat disebabkan oleh ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense.Penciptaan arti dapat disebabkan oleh pemanfaatan bentuk visual seperti enjambemen, persajakan, homologues (persejajaran bentuk maupun baris, dan tipografi) (Pradopo, 2003:97).

Pembacaan hermeneutik terhadap puisi “Tidak Ada New York Hari Ini” karya M. Aan Mansyur terutama dilakukan terhadap bahasa kiasan.. Pembacaannya (tafsirannya) dapat dilakukan sebagai berikut:

 

Bait pertama

Seseorang yang yang merasa bahwa walaupun dia berada di New York, pikirannya tidak berada di sana.Ia merasa terasing, dan memandang semua orang di New York seperti orang lain yang asing baginya.

 

Bait kedua

Dalam kalimat Bahasa Ibu adalah kamarku, kamar dapat diartikan sebagai suatu tempat yang sangat nyaman. Sehingga, kata-kata tersebut mengisyaratkan bahwa ia merasa rindu akan tanah kelahirannya yang membuatnya nyaman. Begitu pula saat ia merindukan Cinta, sosok perempuan yang menurutnya juga menginginkan agar hubungan cinta mereka tetap berlanjut.

 

Bait ketiga

Pada bait ketiga, terlihat bahwa sang lelaki juga masih menambatkan hatinya untuk Cinta. Hal ini membuatnya merasakan kerinduan yang sangat mendalam, yang membuatnya merasa seperti sedang meriang atau bisa pula diartikan bahwa ia merindukan kasih sayang sang pujaan hati.

 

Puisi “Batas” Karya M. Aan Mansyur


Semua perihal diciptakan sebagai batas

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain

Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin

Besok batas hari ini dan lusa

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,

bilik penjara, dan kantor wali kota,

juga rumahku, dan seluruh tempat di mana pernah ada kita

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata

Begitu pula rindu

Antar pulau dan seorang petualang yang gila

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang

Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan (juga) sebaliknya

Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan

Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur

Apa kabar hari ini?

Lihat tanda tanya itu

Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

 

Pembacaan Heuristik Puisi “Batas”:

Batas
Semua perihal diciptakan (Tuhan) sebagai batas

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain

Hari ini membelah (dan) membatasi besok dan kemarin

Besok (adalah) batas (antara) hari ini dan lusa

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,

bilik penjara, dan kantor wali kota,

juga rumahku, dan seluruh tempat di mana pernah ada kita (berdua)

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan (oleh) kata(-kata)

Begitu pula rindu(ku)

Antar pulau dan seorang petualang yang gila

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang (oleh) ruang dan undang-undang

Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan (juga) sebaliknya

Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan(ku)

Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur

Apa kabar (Kau) hari ini?

Lihat tanda tanya itu

Jurang antara kebodohan dan keinginanku (untuk) memilikimu sekali lagi

 

Pembacaan Hermeneutik Puisi “Batas”

Mursal Esten dalam bukunya Memahami Puisi dengan kajian semiotik memberikan petunjuk bahwa langkah pertama dalam memahami puisi adalah dengan memahami judulnya.Batas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah garis (sisi) yang menjadi perhinggaan suatu bidang (ruang, daerah, dan sebagainya); pemisah antara dua bidang (ruang, daerah, dan sebagainya).Dalam puisi ini batas dapat berupa apapun di dunia ini, karena merupakan ciptaan Tuhan. Semua benda atau hal dapat menjadi perhinggaan dua benda yang lain atau bahkan lebih.

Puisi ini menggambarkan kerinduan yang dalam dari seorang lelaki(Rangga) kepada pujaan hatinya(Cinta), namun ia terhalang oleh batas-batas yang ada. Mereka terhalang oleh jarak yang sangat jauh antara New York dan Jakarta, yang harus ditempuh dengan pesawat.Penyair mengkontradiksikan sosok Rangga sebagai petualang gila, di mana petualang biasanya cenderung suka jauh dari tempat asalnya, namun dalam puisi ini ia tak mampu menahan rindunya.Ia sangat ingin mengetahui kabar Cinta yang berada jauh dari dirinya. Ia juga masih berharap agar ia mampu memiliki cinta Cinta lagi agar mereka kemudian dapat saling mencintai tanpa dipisahkan jurang jarak antara mereka.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Teori hermeneutika tidak hanya dipakai dalam bidang sastra saja, melainkan dalam bidang-bidang ilmu yang lain diantaranya teologi dan filsafat. Defenisi hermeneutika terus berkembang, secara luas hermeneutika diartikan sebagai penafsiran, metodologi filologi, pemahaman bahasa, landasan metodologis, pemahaman eksistensial, dan sistem penafsiran

Teori semiotik muncul dari ketidakpuasan terhadap pendekatan struktural yang hanya terbatas pada aspek kajian intrinsik saja.Teori semiotik mempunyai kekuatan dan kelebihan utama dalam membedah karya sastra secara mendalam karena lebih menyempurnakan teori-teori lain seperti struktural, sosiologi dll. Kemudian  analisisnya lebih spesifik dan komprehensif. Memberikan pemahaman makna dan simbolik baru dalam membaca karya sastra.

Dalam penelitian pada puisi-puisi dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 yakni puisi “Tidak Ada New York Hari Ini” dan puisi “Batas” karya M. Aan Mansyur ini, keduanya menggambarkan kerinduan yang sangat mendalam sosok Rangga dalam petualangannya ke kota New York terhadap sosok Cinta yang terpisahkan batas jarak sangat jauh. Rangga masih berharap mereka dapat melepas kerinduannya pada Cinta tanpa adanya batas-batas antara mereka, agar mereka dapat memadu kasih lagi, seperti sebelum mereka terpisah jarak New York dan Jakarta.
Saran

Saran dari penelitian ini yaitu diharapkan agar setiap orang tertarik untuk berkarya dalam bidang sastra, dan para pegiat film agar tak sungkan memasukkan unsur puisi untuk memperindah karya-karya perfilmannya.

DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Jakarta: Caps

Jabrohim.2012. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Palmer, Richard. 2005. Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar

Rafiek, M. 2010. Teori Sastra.Bandung: PT.Refika Aditama

Cobley,Paul and Jannsz Litza, 1997. Introducting Semiotics.London: Penguins Books Ltd

http://www.dismonimo.web.id/2016/05/puisi-puisi-rangga-di-aadc-2.html diakses pada Senin, 20 Juni 2016 pukul 20:15.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s