Oleh: Nanik (7316150628)

Program Studi Pendidikan Bahasa (S2)

Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

2016

ABSTRAK

Kata Kunci : Feminisme Marxis

Novel Kawin Kontrak Karya saifur Rohman merupakan novel pemenang Lomba Menulis Novel remaja. Novel ini terdapat unsur feminisme marxis, yaitu perjuangan seorang perempuan dalam menyetarakan agar sederajat dengan laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur dan feminisme marxis yang terkandung dalam novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman.

Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif kualitatif, analisis data dilakukan dengan cara teknik analisis data yaitu, membaca teks novel secara keseluruhan, mengelompokkan data, menganalisis teks novel tersebut secara saksama. Berdasarkan pembahasan hasil analisis terhadap 7 judul teks dalam novel Kawin Kontrak karya Saifur Rohman, terdapat beberapa penindasan terhadap perempuan yang tergambar dalam novel ini dari segi; Diskriminasi terhadap Perempuan, Perbedaan Kedudukan antara Perempuan dan Laki-laki, Perbedaan Gender dalam Rumah Tangga, dan Perbedaan Pekerjaan Perempuan Membedakan Status dan Kelas Sosial.

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar belakang

Karya sastra merupakan bentuk komunikasi antara sastrawan dengan pembacanya. Apa yang ditulis sastrawan dalam karya sastranya adalah apa yang ingin diungkapkan sastrawan kepada pembacanya. Dalam menyampaikan idenya melalui karya sastra, sastrawan tidak bisa dipisahkan dari pengaruh lingkungannya.

Menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Studi sastra (ilmu sastra) mencakup tiga bidang, yakni: teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiga ilmu tersebut saling berkaitan satu sama lain. Teori sastra digunakan sebagai pemahaman dan sejarah sastra sebagai pelengkap dalam penelitian sastra. Sedangkan kritik sastra digunakan untuk mengukur dan menganalisis sebuah karya sastra sebagai objek penelitiannya. Dalam hal ini dapat dikatakan kritik sastra berperan sebagai pengukur sejauh mana isi, peran, dan makna sebuah karya sastra itu bernilai atau tidak.

Dalam kritik sastra dikenal dengan kritik sastra marxist. Dalam kesusastraan, kritik teori Marxist berawal dari pemikiran Karl Marx dan Federick Engels. Marx menjelaskan bahwa kebudayaan bukanlah suatu kenyataan bebas, melainkan kebudayaan itu tidak terpisahkan dari kondisi-kondisi sejarah. Di dalam kesejarahan itu hubungan-hubungan antara penguasaan, penindasan, atau eksploitasi yang menguasai tata sosial dan ekonomi dari suatu tahapan sejarah manusia akan ikut menentukan seluruh kehidupan budaya masyarakatnya.

Dikaitkan dengan dunis sastra di Indonesia, kritik Marxist dapat dijadikan salah satu alat analisis untuk fenomena-fenomena budaya dan kenyataan yang terjadi, karena kebudayaan dan kenyataan adalah fenomena manusia, terkait dengan masyarakat sebagai objeknya. Sedangkan karya sendiri adalah produk pemikiran dan perasaan manusia.

Konsep Marxis atas sifat manusia adalah manusia menciptakan caranya sendiri untuk dapat tetap hidup. Manusia menciptakan dirinya dalam proses yang sengaja atau yang dilakukan dengan sadar yang bertujuan untuk mentransformasi dan manipulasi lingkungan. Oleh karena itu, terlihat feminisme tidak luput dari konsep marxis.

Feminis marxis menggambarkan mengenai gambaran dan sifat pekerjaan perempuan. Hal ini berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi. Maka kita perlu menganalisa hubungan antara status pekerjaan perempuan dengan citra diri perempuan.

Oleh karena itu makalah ini mencoba memberikan wacana tambahan untuk mahasiswa dalam menggunakan teori kritik feminisme Marxis dan penerapannya dalam menganalisi novel Kawin Kontrak, yang berasumsikan novel ini banyak membicarakan fenomena perlawanan kelas sosial perempuan untuk mendapatkan hak-haknya.

  • Rumusan Masalah

Dari uraian tersebut di atas dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apa konsep dan ciri-ciri teori kritik Feminisme Marxis?
  1. Bagaimana penerapan teori kritik Feminisme Marxis terhadap Novel Kawin Kontrak?
  • Pembatasan Masalah

Penulis membatasi penulisan pada penerapan teori kritik Feminisme Marxis terhadap Novel Kawin Kontrak.

  • Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :

  1. Agar mahasiswa memahami konsep dan ciri-ciri teori kritik Feminisme Marxis.
  1. Agar mahasiswa mengetahui penerapan teori kritik Feminisme Marxis terhadap Novel Kawin Kontrak.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  • Teori Kritik Marxis

Ajaran Marxis berawal dari pemikiran Karl Marx dan Frederick Engels, pada tahun 1984. Pernyataan yang terkenal adalah mengenai kebudayaan yang berpengaruh terhadap sejarah pemikiran manusia.

Salah satu tokoh besar dalam kritik Marxis adalah George Lukacs. George Lukacs lahir pada tahun 1885 dengan nama Georgi Bernant Lowinger, berasal dari Hongaria. George Lukacs merupakan kritikus sastra dan filsuf modern yang disegani dan berpengaruh pada zamannya.

Dalam teori Marxis, seni itu adalah bagian struktur utama atau ideologi dari masyarakat. Kelas sosial seseorang dalam masyarakat dapat dinilai juga dapat dinilai atau dikategorikan berdasarkan seni. Seni bagi marxisme merupakan bagian dari superstruktur masyarakat yang menjamin situasi penguasaan satu kelas sosial atas kelas sosial yang lainnya.

Menurut Lukacs, seni sastra bukan sekadar daya artistik imajinatif yang terpisahkan dari realita kehidupan masyarakat. Karya sastra tidak hanya menampilkan kembali pengalaman, melainkan menyusun kembali jalinan antarunsur dari suatu pengalaman. Lukacs dengan teorinya ingin memberikan dasar fundamental kekuatan sastra dalam mengubah kesadaran manusia. Selain itu, Lukacs juga memandang sastra dapat mengungkap komitmen, karena karya sastra merupakan perwujudan kemampuan artistik, intelektual, dan juga keyakinan.

Elemen sosial dalam kesusastraan adalah bentuk. Hal ini jelas bertentangan dengan krtitik aliran Marxis yang menolak semua jenis formalism dan member perhatian berlebih pada masalah teknis. Kritik Marxis kurang mempersoalkan bentuk artistik dan lebih memusatkan pada persoalan isi politis kesusastraan.

Seni merupakan refleksi dari makna suatu realitas objektif seniman. Melalui teori Marxis, karya sastra dapat mengungkapkan ideologi pengarang dan ideologi yang berkembang dalam masyarakat di tempat pengarang hidup.

Konsep utama kritik Lukacs adalah totalitas, kekhasan, dan sejarah dunia. Dengan teorinya, Lukacs optimis menghadapi perkembangan realitas sosial. Humanisme baginya bukan cita-cita kosong, bukan suatu legitimasi ideologis yang diciptakan, melainkan suatu sikap dasar yang merdeka dalam lingkunganya.

  • Kritik Feminisme Marxis

Feminisme marxis memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisem. Eksploitasi kelas dan gender sebagai pusat pemahaman masyarakat menjadi bagian feminisme marxis. Kapitalis dan partiarki dalam hal hubungan anatara kelas dan gender, pembagian kerja seksual,, adalah yang dapat dibahas dalam feinisme marxis.

Heather Brown mencoba menghubungkan pendapat Marx mengenai gender dan keluarga melalui tulisan Marx mengenai kamu borjuis dan keluarga modern. Tulisan oleh kalangan marxis cenderung mengikuti determinisme ekonomi Friedrich Engels, namu Brown mengatakan, bahwa marxis membahas gender dan keluarga memperlihatkan perbedaan yang signifikan dari tipe determinisme. Menurut Heather Brown, marxisme teori yang progresif karena selalu ada ruang untuk mengritisi dan mempertajam masalah gender dan keluarga.

Feminisme marxis melihat kelas dan citra perempuan berdasarkan pekerjaannya, dengan begitu aspek ekonomi dan kaptalisme masih melekat. Pekerjaan perempuan membentuk pola pikir perempuan dan sifat-sifat alami perempuan. kapitalisme mengenai hubungan kekuasaan yang eksploitatif (majikan mempunyai kekuasaan atas pekerjanya) dan hubungan pertukaran (bekerja demi upah) juga dibahas dalam feminisme marxis.

Pembagian kelas dapat menimbulkan kebencian dan sifat yang tersegmentasi dalam proses kehidupan. Feminis marxis ingin menciptakan dunia tempat perempuan menjadi dirinya yang utuh, sebagai dirinya yang terintegrasi dan bukan terfragmentasi, sebagai orang yang dapat berbahagia.

Teori feminisme marxis berpendapat bahwa perempuan dan laki-laki dapat bersama-sama membangun struktur sosial dan peran sosial yang memungkinkan kedua gender meralisasikan potensi kemanusiaannya secara utuh.

BAB III

METODOLOGI

Dalam makalah ini, metodologi yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Secara etimologi, deskripsi dan analisis berarti menguraikan dan memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya. Setelah mengumpulkan data, menyusun, mengklasifikasikan masalah, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis dengan menggunakan teori kritik sastra feminisme marxis.

Dengan menggunakan teori kritik sastra feminisme marxis, dapat mengungkapkan keterkaitan teori sastra sastra Indonesia dengan masyarakat yang di dalamnya hidup seorang pengarang, mengungkapkan keterkaitan teks dengan kehidupan perempuan dalam masyarakat dan budaya Indonesia, mengetahui fakta atau fenomena masyarakat Indonesia dalam hubunganya feminisme dalam karya sastra, mengetahui konsep perjuangan kelas perempuan Indonesia melalui Novel Kawin Kontrak.

BAB IV

PEMBAHASAN

APLIKASI TEORI FEMINISME MARXIST

  • Tentang Saifur Rohman
  1. Saifur Rohman, S.S., M.Hum., M.Si., lahir di Jepara, 22 Maret. Menamatkan S1 Ilmu Sastra Universitas Diponegoro pada 1999 dan S2 Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia pada 2003, lulus S2 Ilmu Psikologi Unika, lulus S3 Ilmu Filsafat Universitas Gajah Mada, dan sejumlah fellowship non-gelar di Timur Tengah (2003), Kuala Lumpur (2006), Singapura (2007), dan Beijing (2008). Pemenang Lomba Tulis Novel Dewan Kesenian Jawa Tengah 1998, Juara Lomba Karya Tulis Golkar Tingkat Jawa Tengah, Penulis sejumlah buku pendidikan dan kiat memenangi lomba menulis novel. Selain itu pernah menjadi wartwan dan pemimpin redaksi Suara Merdeka. Kini, bekerja sebagai pengajar Program Doktor Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, pengajar Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Unika Semarang, pengajar Program Pascasarjana Universitas Tanjungpura, Pontianak.
  • Kajian Novel Kawin Kontrak

4.2.1.    Sinopsis

Paina adalah gadis lugu dari Jepara yang berusia 17 tahun. Ia gadis manis dari keluarga yang memiliki kehidupan ekonominya sulit. Sedangkan Charles adalah pemuda kelahiran Birmingham yang berinvestasi di Jepara. Charles tertarik dengan Paina. Ia pun meminta batuan Rosa seorang pelacur serta mucikari yang merupakan tetangga Paina. Charles sering meminta bantuan Rosa untuk dicarikan wanita yang akan dijadikan teman tidurnya, karena Charles menganut gaya hidup seks bebas. Cahrles juga mempunyai kebiasaan melakukan kawin kontrak dengan wanita yang disiapkan Rosa.

Pertemuan Paina dan Charles diawali dari pertemuan tidak sengaja saat Charles dalam perjalanan ke rumah Rosa. Charles ketika itu sudah mulai merasa bosan dengan Rina, istri kontraknya. Saat pertemuan itu, Charles terpesona dengan tubuh Paina. Ia pun mendekati Paina dengan segala cara, melalui Rosa.

Dalam kehidupan Paina, terdapat Bisri, pemuda yang mencintai Paina sejak kecil. Ia cemburu terhadap Charles dan melakukan upaya untuk membalas dendam karena Bisri tahu Paina sudah ternoda. Bisri menganggap Charles yang menodai Paina, dan sebaliknya, Charles pun kecewa ketika mengetahui Paina telah ternoda, ia menyangka Bisri yang melakukannya.

Saat Paina sudah kawin kontrak dengan Charles, dan Charles kecewa dengan kondisi Paina lalu pergi, Paina kembali ke rumah orangtuanya. Di bagian inilah terungkap bahwa ayahnya sendiri, Pak Mo, yang menodai Paina. Paina yang akan diperkosa kembali oleh ayahnya pergi menjauh dari keluarganya dan kembali ke rumah Charles. Di sana Charles kembali dan meminta Paina menadatangani sejumlah surat-surat pembebasan tanah. Tetapi, Paina tidak mau. Ia dianiaya Charles dan mengadukan Charles kepada polisi. Namun, Nasib menentukan lain, akhirnya Paina menjadi narapidana di Nusakambangan.

4.2.2. Analisis Novel kawin Kontrak

a). Diskriminasi terhadap Perempuan

“Anda tahu sendiri masalah yang saya hadapi. Menemukan pemecahan tentu tidak segampang mencari perempuan di kota ini,” sambut Bupati akhirnya.

(Rohman, 2006: 76)

Kutipan di atas melukiskan kedudukan seorang perempuan di mata lelaki. Perempuan di pandang rendah, karena perempuan bisa dicari dengan mudah jika ada alat tukarnya, yaitu uang. Hal ini terjadi diskriminasi karena konsep yang terjadi adalah lelaki yang mencari perempuan dengan mudah, bukan sebaliknya. Terlihat seolah-olah lelaki memiliki kekuasaan terhadap perempuan.

Bisri hanya mengangguk, menatap Paina yang menyuguhkan sambil menunduk. Melihat ekor mata Bisri yang masih membuntuti punggung Paina, akhirnya Pak Mo…(Rohman, 2006:89)

Kutipan di atas menggambarkan diskriminasi terhadap perempuan. Lelaki diperbolehkan menatap perempuan berlama-lama, namun tidak sebaliknya dengan perempuan. Perempuan Indonesia, khususnya adat istiadat Jawa memang tidak membenarkan perempuan menatap seorang lelaki. Hal itu untuk menunjukkan menunjukkan rasa hormat perempuan terhadap lelaki yang kedudukannya lebih tinggi di mata masyarakat.

b). Perbedaan Kedudukan antara Perempuan dan Laki-laki

Dulu ia pernah berangan-angan memiliki perempuan yang selalu telanjang di kamar sebuah vila yang teduh, dikitari padang rumput yang luas, yang tak jauh dari….(Rohman, 2006: 66)

Terlihat kedudukan perempuan di mata lelaki, dalam kutipan ini Charles memandang perempuan sebagai pajangan rumah dan pemuas nafsu. Hal itu menggambarkan peran lelaki sebagai penikmat dan penguasa atas perempuan.

c).    Perbedaan Gender dalam Rumah Tangga

“Aku tidak dekat. Aku hanya dimintai tolong.”

“Kamu memang dari dulu keras kepala,” sahut Pak Mo sambil menghindar dari cegatan istrinya…..(Rohman, 2006: 92)

Kutipan di atas adalah kutipan keributan antara Mbok Phedet, sang istri dengan Pak Mo, suaminya. Mereka meributkan asal-usul uang untuk membeli pralon. Pak Mo tidak terima istrinya mau diberikan pralon dari perempuan yang dianggapnya seorang

Lonte. Pada bagian ini terlihat kedudukan perempuan dalam rumah tangga. Istri cenderung harus mengalah terhadap perilaku kasar suaminya dan hanya bisa menangis tanpa melakukan perlawanan yang berarti. Lelaki memiliki kekuasaan

untuk mengatur segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangganya. Pak Mo sebagai seorang suami menunjukkan jika keputusannya mutlak, tidak bisa dibantah.

Charles langsung menubruk tubuh di depannya, menghadapkan pundak ke dadanya.

“Tatap mataku, Paina. Tatap mataku. Jangan menunduk begitu. Siapa yang telah mendahuluiku sebelum malam ini. Siapa?Siapa?! Katakan!”. Dan Paina hanya tergugu. Lidahnya kelu……(Rohman, 2006: 194)

Kutipan di atas menunjukkan kondisi Paina yang sudah tidak tersegel, sudah ternoda. Charles merasa tertipu di malam pertamanya. Hal ini menunjukkan kepuasan atau ketidakpuasan seorang pria adalah mutlak. Perempuan hanya dijadikan pemuas nafsu di dalam rumah tangga. Sedangkan lelakilah yang menentukan keputusan di dalamnya. Perempuan hanya bertugas menyenangkan suami. Jadi, seorang perempuan yang akan menjadi istri wajib menjaga keperawanannya jika ingin tidak ada keributan di awal membina rumah tangga. Sedangkan perempuan tidak boleh peduli dengan keadaan suami yang masih perjaka atau tidak. Dapat dicermati kedudukan wanita di dalam rumah tangga berada di bawah lelaki, karena dalam hal ini, perempuan yang bertanggung jawab menjaga kepuasan suaminya, sedangkan lelaki tidak mempunyai tanggung jawab itu, suami terlihat tidak peduli dengan kondisi istri.

d). Perbedaan Pekerjaan Perempuan Membedakan Status dan Kelas Sosial

“Aku ingin dia.” Iya Rosa paham mengapa Charles butuh wanita. Tentu untuk selimutnya pada malam yang dingin sebab selimut lamanya tidak lagi hangat. (Rohman, 2006: 42)

Terlihat dalam kutipan ini, uang mengalahkan segala-galanya. Keinginan Charles akan perempuan yang dipilihnya, yaitu Paina, harus ia dapatkan. Sehingga Rosa berpikir keras bagaimana mendapatkan Paina seorang gadis desa dari status sosial bawah. Charles juga terlihat memperlakukan Rosa dengan seenaknya, Charles memaksakan kehendaknya dan Rosa harus memenuhinya karena Charles akan memiliki uang. Hal ini menunjukkan status Rosa di mata Charles karena pekerjaannya.

“Diruwat sepuluh kali, kalau perempuan seperti itu tetap saja dimakan Batara Kala.”(Rohman, 2006: 56)

Kutipan di atas menunjukkan kedudukan Rosa yang direndahkan di mata penduduk desa karena pekerjaannya sebagai lonte. Hal ini terjadi karena masyarakat yang menentukan kelas sosial seseorang. Meskipun Rosa memiliki banyak materi, namun pekerjaannya yang membuat ia di mata masyarakat sebagai sosok perempuan bayaran yang rendahan.

“Ini duitmu,” suara Charles rendah sambil melemparkan sejumlah uang ke bantal, tak jauh dari wajah yang telungkup. “Aku mau ketemu relasi lima menit lagi. Aku piker sudah cukup malam ini” (Saifur, 2006: 63)

Terlihat dalam kutipan di atas Charles bisa membeli perempuan dengan uangnya. Ia memperlakukan perempuan dengan tidak hormat, ditandai dengan caranya melempar uang bayaran ke bantal dan mengusirnya. Hal ini menunjukkan Charles memandang rendah status sosial perempuan karena pekerjaan perempuan tersebut.

BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil pembahasan tentang analisis Novel Kawin Kontrak menggunakan Feminisme Marxis, maka dapat diambil kesimpulan:

  • Feminisme marxis melihat kelas dan citra perempuan berdasarkan pekerjaannya, dengan begitu aspek ekonomi dan kaptalisme masih melekat. Pekerjaan perempuan membentuk pola pikir perempuan dan sifat-sifat alami perempuan. kapitalisme mengenai hubungan kekuasaan yang eksploitatif (majikan mempunyai kekuasaan atas pekerjanya) dan hubungan pertukaran (bekerja demi upah) juga dibahas dalam feminisme marxis.
  • Terdapat beberapa penindasan terhadap perempuan yang tergambar dalam novel ini dari segi; Diskriminasi terhadap Perempuan, Perbedaan Kedudukan antara Perempuan dan Laki-laki, Perbedaan Gender dalam Rumah Tangga, dan Perbedaan Pekerjaan Perempuan Membedakan Status dan Kelas Sosial.

Saran

  • Konsep Feminisme Marxis perlu dipelajari mahasiswa agar mahasiswa memahami proses untuk menganalisis karya sastra dari berbagai sudut pandang teori yang berbeda.

 

  • Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan penulisan makalah dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, a. Heather. 2012. Marx On Gender and The Family (A Critical Study). Leiden: Koninklijke Brill NV.

Eagleton, Terry. 2003. Marxism and Literary Criticism. London: Taylor & Francis e-Library.

Ray, Sangeeta. 2009. Gayatri Chakravorty Spivak: Sang Liyan. Denpasar: Bali Media Adhikarsa.

Rohman, saifur. 2006. Kawin Kontrak. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Suharto, Sugihastuti. 2002. Kritik Sastra Feminis (Teoti dan Aplikasinya). Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Wiyatmi. 2012. Kritik Karya Feminis (Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia). Penerbit Ombak: Yogyakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s