Diajukan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester

Mata Kuliah Teori, Apresiasi, dan Pengajaran Sastra

Disusun oleh:

Christofeira Zita Karundeng

7316150629

Dosen Pengampu:

Dr. Zuriyati, M.Pd

Dr. Saifur Rohman, M.Hum

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA

PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2016

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Kepribadian tokoh utama Pria dalam novel Pulang karya Tere Liye. Tujuan penelitian ini untuk mencari tahu bagaimana kepribadian dari tokoh utama “Bujang” melalui teori Kepribadian Sigmund Freud berdasarkan Id, Ego, dan Superego pada novel Pulang karya Tere Liye yang diterbitkan oleh Republika pada tahun 2015. Penelitian ini menggunakan deskripsi dengan langkah-langkah sebagai berikut: Persiapan; Membaca secara keseluruhan novel Pulang Karya Tere Liye untuk mendapatkan pemahaman yang baik sebagai sumber utama, Membaca beberapa penelitian yang berhubungan dengan judul yang menjadi data pendukung.Kemudian pengumpulan data; Peneliti mengumpulkan data dan mengidentifikasi data yang berhubungan dengan karakter kepribadian tokoh berdasarkan Teori Sigmund Freud.Dan selanjutnya analisis data; Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan pendekatan psikoanalis yakni teori kepribadian menurut Sigmund Freud berdasarkan Id, Ego, dan Superego dari tokoh utama.Disini dari ketiga unsur kepribadian yang dikemukakan unsur Egolah yang paling dominan ada dalam diri Si Tokoh utama yakni Bujang.Dia mampu mengontrol segala keinginan yang berasal dari idnya sehingga dia melakukan segala sesuatu berdasarkan realita yang ada dan dia alami.

BAB I

PENDAHULUAN

  •  LATAR BELAKANG

Di dalam kehidupan kita ada banyak realitas dalam kehidupan manusia yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri.Peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita menciptakan tekanan dalam kehidupan kita. Pengaruh dari realita kehidupan ini akan menjadi lebih baik atau lebih buruk tergantung pada bagaimana cara manusia itu menerimanya dan manusia itu berada. Dalam cerpen maupun novel, drama ataupun puisi merupakan karya sastra yang berasal dari pikiran yang dituangkan oleh manusia yang berasal dari realita kehidupan yang sedang mereka alami.

Kesusastraan merupakan sepenggal tulisan yang menjelaskan pikiran, perasaan, dan gaya pengarang dalam realita kehidupan sosial sebagai refleksi fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Rene Wellek dan Austin Warren (1973:94) mengatakan bahwa kesusastraan ialah gambaran kehidupan dan kehidupan merupakan kehidupan sosial

Karya Sastra adalah ciptaan penulis yang disampaikan secara komunikatif yang sering menceritakan sebuah kisah dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra. Ratna (2009:342) menyebutkan bahwa karya sastra memberikan pemahaman terhadap masyarakat secara tidak langsung.Salah satunya adalah Novel.Banyak penulis Novel Indonesia yang sering kita temui bukunya beredar ke pelosok negeri hingga mancanegara.Berbagai jenis Novel yang dibuat, baik dalam genre keluarga, komedi, percintaan, dan lain sebagainya.

Dalam novel Pulang Karya Tere Liye ini peneliti akan membahas lebih mendalam lagi mengenai karakter tokoh utama Pria berdasarkan Teori Kepribadian Sigmund Freud.

  • PERUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang diatas, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana Aspek Psikologis dari tokoh utama Pria dalam novel Pulang Karya Tere Liye berdasarkan teori Kepribadian Sigmund Freud?
  • TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui aspek Psikologis tokoh utama Pria dalam novel Pulang karya Tere Liye berdasarkan teori Kepribadian Sigmund Freud.

BAB II

KAJIAN TEORI

  • PENOKOHAN

Penokohan merupakan salah satu unsur intrinsik yang terdapat dalam karya sastra. Tokoh cerita menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2000:165) adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Berdasarkan pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa tokoh adalah individu rekaan pada sebuah cerita sebagai pelaku yang mengalami peristiwa dalam cerita.

Aminuddin (dalam Nurgiyantoro, 1995:79-80) menyatakan terdapat dua macam tokoh dalam suatu cerita, yaitu :

1.Tokoh utama

Tokoh utama adalah tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita.Tokoh ini merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.Bahkan pada novel-novel tertentu, tokoh utama senantiasa hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui dalam tiap halaman buku cerita yang bersangkutan.

2. Tokoh pembantu

Tokoh pembantu adalah tokoh yang memiliki peranan tidak  penting dalam cerita dan kehadiran tokoh ini hanya sekedar menunjang tokoh utama.

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

Secara etimologi, psikologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu : psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa.Dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan.Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.

Kajian keribadian adalah kajian mengenai bagaimana seseorang menjadi dirinya sendiri , karena tiap individu memiliki pengalaman atau keunikan sendiri, walaupun semua berdasarkan hukum yang berlaku umum. Hal yang penting ialah tidak ada hukum kepribadian yang terpisah dari teori psikologi.Psikologi kepribadian ialah psikologi yang mempelajari kepribadian manusia dengan objek penelitian faktor-faktor yang memengaruhi tingkah laku manusia.Sasaran pertama psikologi kepribadian ialah memperoleh informasi mengenai tingkah laku manusia. Karya-karya sastra, sejarah, dan laku manusia ( koswara, 1991:4). Sasraran kedua, mendorong individu agar dapat hidup secara utuh dan memuaskan, dan ketiga, sasarannya ialah agar individu mampu mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya secara optimal melalui perubahan lingkungan psikologis.Ilmu ini juga harus bisa meramal tingkah laku , kejadian, atau akibat yang belum muncul pada diri individu.

Dalam psikologi terdapat tiga aliran pemikiran.

  1. Psikoanalisis, yang menghadirkan manusia sebagai bentukan dari naluri-naluri dan konflik-konflikstruktur kepribadian.
  2. Behaviorisme, mencirikan manusia sebagai korban yang fleksibel, pasif dan penurut terhadapstimulus lingkungan.
  3. Psikologii humanistik, manusia digambarkan sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat serta selalu bergerak kearah pengungkapan segenap potensi yang dimilikinya apabila lingkungan memungkinkannya ( koswara, 1991: 109).

TEORI KEPRIBADIAN PSIKOANALIS – SIGMUND FREUD

Freud (lahir di Freiberg pada tahun 1856 dan meninggal di London tahun 1939) memulai karir psikoanalitisnya pada tahun 1896, setelah beberapa tahun Freud buka praktik dokter. Karena setelah beberapa tahun ia menjadi dokter, Freud tidak pernah merasa puas dengan cara ia mengobati pasien, Freud berpikir untuk merubah cara pengobatan pasien. Freud berpikir untuk merubah cara pengobatan pasien. Jika selama menjadi dokter ia mencoba melakukan terapi medis, Freud berpikir melakukan semacam upaya psikoterapeutik untuk sebagian besar pasiennya yang ternyata lebih banyak mengalami tekanan jiwa. Terapi itu disebutnya sebagai Psikoanalisis.Psikoanalisis adalah disiplin ilmu yang dimulai sekitar tahun 1900-an oleh Sigmund Freud.Teori psikoanalisis berhubungan dengan fungsi dan perkembangan mental manusia. (Minderop, 2010:10)

Psikoanalisis, mendasarkan pemikirannya pada proses bawah sadar yang membetuk perilaku dan segala penyimpangan perilaku sebagai akibat proses tak sadar. Psikoanalisis tidak bertujuan atau mencari apapun kecuali penemuan tentang alam bawah sadar dalam kehidupan mental. (Freud, 2002:424).

  1. Alam Bawah Sadar

Freud menyatakan bahwa pikiran manusia lebih dipengaruhi oleh alam bawah sadar (unconscious mind) ketimbang alam sadar (conscious mind).Ia melukiskan bahwa pikiran manusia seperti gunung es yang justru sebagian terbesarnya ada di bawah permukaan laut yang tidak dapat ditangkap dengan indera. Ia mengatakan kehidupan seseorang dipenuhi oleh berbagai tekanan dan konflik; untuk meredakan tekanan dan konflik tersebut manusia rapat menyimpannya di alam bawah sadar. Freud merasa yakin bahwa perilaku seseorang kerap dipengaruhi oleh alam bawah sadar yang mencoba memunculkan diri, dan tingkah laku itu tampil tanpa disadari. (Minderop, 2010: 13)

Menurut Freud, hasrat tak sadar selalu aktif, dan selalu siap muncul. Kelihatannya hanya hasrat sadar yang muncul, tetapi melalui suatu analisis ternyata ditemukan hubungan antara hasrat sadar dengan unsur kuat yang datang dari hasrat taksadar.Hasrat yang timbul dari alam taksadar yang direpresi selalu aktif dan tidak pernah mati. (Minderop, 2010: 15)

Freud menghubungkan kondisi bawah sadar dengan gejala-gejala neurosis.Aktivitas bawah sadar tertentu dari suatu gejala neurosis memiliki makna yang sebenarnya terdapat dalam pikiran. Namun, gejala neurosis tersebut akan diketahui setelah gejala tersebut muncul ke alam sadar yang sesungguhnya merupakan gambaran gejala neurosis yang diderita seseorang di alam bawah sadarnya. (Freud, 2002: 297)

  1. Teori Mimpi

Mimpi adalah fenomena mental.Dalam mimpi, fenomena mental adalah ucapan dan perilaku orang yang bermimpi, tapi mimpi orang tersebut tidak bermakna bagi kita dan kita juga tidak bisa memahaminya. (Freud, 2002:97). Namun, dalam kasus mimpi, orang bermimpi selalu mengatakan dia tidak tahu apa makna mimpinya. Tapi, Freud menyakini bahwa ada kemungkinan, bahkan cukup besar, bahwa orang yang bermimpi tersebut me ngetahui apa makna mimpinya, hanya saja dia tidak tahu bahwa dia mengetahuinya sehingga dia mengira dirinya tidak tahu apa-apa. (Freud, 2002:98)

Alam mimpi merupakan bagian ketidaksadaran manusia yang memberikan kebebasan tak terbatas meski simbolisasi dalam mimpi mendapatkan pertentangan oleh dunia realitas, karena dalam mimpi, si pemimpi tidak dapat membatasi impian yang akan dimunculkan. Mimpi sebagai perilaku ketidaksadaran, dalam kesadaran muncul dalam bentuk lamunan.Lamunan tidak harus selalu tidur karena lamunan bawah sadar juga ada.Lamunan bawah sadar serupa dengan sumber mimpi dari gejala neurosis. (Freud, 2002:405).

STRUKTUR KEPRIBADIAN MENURUT SIGMUNG FREUD

Tingkah laku menurut Freud, merupakan hasil konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kepribadian (id, ego dan super-ego).Faktor-faktor yang memengaruhi kepribadian adalah faktor historis masa lampau dan faktor kontemporer, analoginya faktor bawaan dan faktor lingkungan dalam pembentukan kepribadian individu.

Selanjutnya Freud membahas pembagian psikisme manusia :

  1. Id (Das Es)

Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unansdous, mewakili subjektivitas yang tidak pemah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasunprinciple), yaitu: berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relatif inaktif atau tingkat enerji yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan enerji yang mendambakan kepuasan. Jadi ketika ada stimuli yang memicu enerji untuk bekerja – timbul tegangan enerji – id beroperasi dengan prinsip kenikmatan; berusaha mengurangi atau menghilangkan tegangan itu; mengembalikan din ke tingkat enerji yang rendah.Pleasure principle diproses dengan dua Cara, tindak refleks (reflex actions) dan proses primer (primaryprocess). Tindak refleks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejapkan mata – dipakai untuk menangani pemuasan rangsang sederhana dan biasanya segera dapat dilakukan. Proses primer adalah reaksi membayangkan/mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan – dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya. Proses membentuk gambaran objek yang dapat mengurangi tegangan, disebut pemenuhan hasrat (nosh fullment), misalnya mimpi, lamunan, dan halusinasi psikotik.

Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-salah, tidak tabu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan inilah yang kemudian membuat Id memunculkan ego.id (terletak dibagian tak sadar) yang merupakan sumber energi psikis.

  1. Ego (Das Ich)

Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (realityprinciple); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan barn atau menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan. Prinsip realita itu dikerjakan melalui proses sekunder (secondaryprocess), yakni berfikir realistik menyusun rencana dan menguji apakah rencana itu menghasilkan objek yang dimaksud. Proses pengujian itu disebut uji realita (reality testin ; melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah difikirkan secara realistik. Dari cara kerjanya dapat difahami sebagian besar daerah operasi ego berada di kesadaran, namun ada sebagian kecil ego beroperasi di daerah prasadar dan daerah taksadar.

Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang.resikonya minimal. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan Id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang-mencapai-kesempurnaan dan superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki enerji sendiri akan memperoleh enegi dari Id.Ego (terletak di antara alam sadar dan tak sadar) yang bertugas sebagai penengah yang mendamaikan tuntutan dan larangan super-ego.

  1. Superego (Das Ueber Ich)

Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik (idealisticprinciple) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari Ego.Superego berkembang dari ego, dan seperti ego dia tidak mempunyai energi sendiri.Sama dengan ego, superego beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang diperjuangkannya tidak realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).

Prinsip idealistik mempunyai dua subprinsip, yakni conscience dan ego-ideal.Super-ego pada hakekatnya merupakan elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau interpretasi orang tua mengenai standar sosial, yang diajarkan kepada anak melalui berbagai larangan dan perintah. Apapun tingkahlaku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima anak menjadi suara hati (conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan diterima menjadi standar kesempurnaan atau ego ideal, yang berisi apa saja yang seharusnya dilakukan. Proses mengembangkan konsensia dan ego ideal, yang berarti menerima standar salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection). Sesudah terjadi introyeksi, kontrol pribadi akan mengganti kontrol orang tua.

Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran.Super-ego juga seperti ego dalam hal mengontrol id, bukan hanya menunda pemuasan tetapi merintangi pemenuhannya.Paling tidak, ada 3 fungsi superego; (1) mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistik, (2) merintangi impuls id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan standar nilai masyarakat, dan (3) mengejar kesempurnaan.Super-ego (terletak sebagian di bagian sadar dan sebagian lagi di bagian taksadar) bertugas mengawasi dan menghalangi pemuasan yang merupakan hasil pendidikan dan identifikasi pada orang tua.

BAB III

METODOLOGI DAN PEMBAHASAN

A. METODOLOGI

Penelitian ini menggunakan deskripsi dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Persiapan

– Membaca secara keseluruhan novel Pulang Karya Tere Liye untuk mendapatkan pemahaman yang baik sebagai sumber utama.

– Membaca beberapa penelitian yang berhubungan dengan judul yang menjadi data pendukung.

  1. Pengumpulan Data

–  Peneliti mengumpulkan data dan mengidentifikasi data yang berhubungan dengan karakter kepribadian tokoh berdasarkan Teori Sigmund Freud.

  1. Analisis Data

–  Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan pendekatan psikoanalis yakni teori kepribadian menurut Sigmund Freud berdasarkan Id, Ego, dan Superego dari tokoh utama.

 

B. PEMBAHASAN

Berdasarkan teori yang disampaikan oleh Sigmund Freud bahwa terdapat tiga jenis wilayah pikiran yang mempengaruhi psikologis seseorang, yaitu id, ego dan super ego. Dalam novel Pulang karya Tere Liye, peneiti akan menganalisis karakter tokoh utama Pria  yaitu tokoh  Bujang.

Bujang, putra dari Samad dan Midah.Dia tinggal bersama kedua orang tuanya di Bukit Barisan, jauh dari perkotaan dan hidup dengan sederhana.Bujang tidak pernah makan bangku sekolah.Meski demikian, Midah, mamak Bujang dengan penuh ketekunan mengajarkan Bujang membaca dan menghitung. Tak lupa ia mengajari Bujang mengaji, adzan, sholat, dan sebagainya. Namun, tiap kali Bujang diajar tentang pelajaran agama, Bujang selalu dipukuli Samad, bapak Bujang.

Berikut data yang menjelaskan Kepribadian si Bujang sebagai tokoh utama:

1 .Berdasarkan  Id(terletak dibagian tak sadar) yang merupakan sumber energi psikis.

NO Bukti Tekstual Interpretasi Hal
1 “Kalian kira itu omong kosong? Gurauan? Tidak. Lihatlah wajahku, Lihat bola mataku. Kalian tidak akan menemukan walau semili rasa takut itu.” Dalam kalimat yang diucapkan tokoh aku yakni Bujang. Dia mengira bahwa tidak ada yang mempercayai dia sehingga dia berbicara dengan pembaca seolah-olah kita melihat wujud dari dirinya secara langsung. 1
2 “Aku menatap sejenak wajah lelah mamak, lantas mengangguk perlahan. Aku ingin pergi. Aku ingin ikut Tauke Muda ke kota.” Bujang  mengiyakan untuk pergi meninggalkan desa tanpa mempertimbangkan perasaan ibunya, karena ia memang ingin keluar dari desa yang kecil yang dia rasa tidak membawa kemajuan terhadap dirinya.  
3 “ Aku ingin menjadi seperti Bapakku dulu.” Dia berkeinginan untuk menjadi seperti ayahnya dulu, namun ia tidak mengetahui apa sebenarnya pekerjaan yang dijalani ayahnya saat masih muda. 54
4 “Aku mengangguk mengeluarkan pistol colt dari balik jas. ……, yang kubawa lebih karena nostalgia, bukan untuk mempertahankan diri..” Bujang mengeluarkan pistol dengan mengingat hal yang sebelumnya pernah terjadi dengan bernostalgia tentang masa lalu. 119

2 . Ego(terletak di antara alam sadar dan tak sadar) yang bertugas sebagai penengah yang mendamaikan tuntutan dan larangan super-ego

NO Bukti Tekstual Interpretasi Hal
1 “Sesungguhnya, aku ingin memeluk Bapak. Tapi itu tak pernah kulakukan, dan Bapak juga tidak pernah memelukku.” Bujang berkeinginan untuk memeluk Bapaknya karena mereka akan berpisah namun karena dia berpikir bahwa Bapaknya pun tak pernah melakukannya maka dia pun mengurungkan niatnya. 25
2 “Tidak ada yang bilang begitu Tauke.. Menemui calon presiden itu adalah pekerjaan yang Tauke berikan kepadaku, dan semua pekerjaan harus tuntas di keluarga ini…” Dia sangat menghargai Tauke Besar sehingga Bujang menuruti semua keinginan dan perintah yang diberikan dengan senang hati. 59
3 “ Aku ingin menunda percakapan ini. Dalam hidupku kematian orang terdekat selalu membuatku lebih lemah.” Bujang tidak ingin membicarakan suatu hal yang dapat membuat dia semakin lemah dan tak berdaya. 66
4 “ Jika hal ini memang terpaksa dilakukan, pastikan kalian melakukannya dengan cepat…, agar mereka tidak menderita.” Bujang menyuruh teman-temannya melakukan suatu hal dengan cepat agar mereka tidak merasakan penderitaan yang cukup lama. 68
5 “Tidak semua di dunia ini bisa dibeli dengan uang.” Disini menjelaskan bahwa ego dari bujang bekerja dengan mempertimbangkan segala sesuatu hal yang sebenarnya tidak bisa dibeli dengan uang. 122
6 “Kau baik-baik saja white?” Bujang mengawatirkan temannya 129

3. Superego(terletak sebagian di bagian sadar dan sebagian lagi di bagian taksadar) bertugas mengawasi dan menghalangi pemuasan

NO Bukti Tekstual Interpretasi Hal
1 “Kami ada dimana-mana, Bapak calon presiden, jangan pernah main-main dengan kami. Jangan ganggu kami, maka kami tidak akan menggangu Anda.” Disini Bujang memperlihatkan kekuasaan yang dimilikinya dengan mengancam korban, yakni seorang yang mencalonkan diri sebagai presiden untuk tidak mengganggu kelompok mereka jika ingin selamat. 34
2 “Zaman sudah berubah Tauke, aku sudah mengurus keluarga lain. Kita sudah mengunci banyak hal…., kekuatan mereka tidak sebanding dengan kita.” Disini Bujang tidak menginginkan untuk bercerita tentang masa lalu yang sudah ia lupakan. Dia merasa berada diatas orang lain sehingga menangatakan bahwa orang tersebut tidak sebanding dengan dia. 64
3 “Cepat sekali seranganku ditengah kepul debu, tubuhku bergerak lincah…., Tidak ada ampun, tidak ada keraguan dalam menebas musuh.” Dia merasakan bahwa dia mampu mengalahkan musuhnya dengan tanpa ampun dan tidak ada keragu-raguan dalam dirinya. 153
4 “Aku memeluk lutut. Tergugu. Air mataku mengalir membasahi pipi.” Bujang merasakan sakit yang sangat dalam ketika mendengar kabar bahwa Mamaknya sudah meninggal, dengan memikirkan bahwa dia tidak menepati permintaan Mamaknya. 193

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 KESIMPULAN

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam novel Pulang Karya Tere Liye, terutama kepribadian dari tokoh utama Pria yakni “Bujang” disini tidak terlepas dari Id, Ego, dan Superego yang ada dalam dirinya.Disini dari ketiga unsur kepribadian yang dikemukakan unsur Egolah yang paling dominan ada dalam diri Si Tokoh utama yakni Bujang.Dia mampu mengontrol segala keinginan yang berasal dari idnya sehingga dia melakukan segala sesuatu berdasarkan realita yang ada dan dia alami.

SARAN

Penulis menyarankan agar peneliti-peneliti yang akan meneliti mengenai novel ini untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai pengkarakteran sebuah novel, cerita pendek, drama, dan lai-lain namun dengan metode, teori dan aspek lainnya, misalnya mengenai pendekatan sosiologi, feminisme dan masih banyak lagi unsur-unsur ekstrinsik dalam novel Pulang Karya Tere Liye ini.Penulis juga menyarankan agar para penyuka dan penikmat karya sastra agar membaca novel ini karya didalamnya banyak berkaitan dengan kehidupan kita sebagai manusia dan sangat bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Presindo.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Moesono, Anggadewi. 2003. Psikoanalisis dan Sastra. Depok: LPUI

Milner Max. 1980. Freud dan Interpretasi sastra. Jakarta: Intermasa

Suroso. 2009. Kritik Sastra, teori, Metodologi, dan Aplikasi. Jogjakarta: Elmatera Publishing

https://barsenius.wordpress.com/2015/02/17/psikologi-sastra-karya-metode-teori-dan-contoh-kasus/

Diunduh pd tgl. 15 Juni 2016.Pukul. 14.53

Advertisements

3 thoughts on “ANALISIS KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA PRIA DALAM NOVEL PULANG KARYA TERE LIYE ( Suatu Kajian Psikoanalisis )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s