Oleh: Arif Hifzul

NIM. 7316150651

Dosen Pengampu:

Dr. Zuriyati, M.Pd

Dr. Saifur Rohman, M.Hum

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA

PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2016

 

ABSTRAK

Makalah penelitian sastra ini di latar belakangi oleh kajian Semiotik yang berfokus pada pengkajian dan pencarian tanda-tanda dalam wacana serta menerangkan maksud daripada tanda-tanda tersebut dan mencari hubungannya dengan ciri-ciri tanda itu untuk mendapatkan makna signifikasinya.Analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif.

Dalam analisis puisi hujan bulan Juni, penyair menafsirkan tentang kehidupan manusia melalui sifat-sifatnya. Dimana penyair menggambarkan hujan sebagai sosok yang memiliki sifat tabah, bijaksana, dan arif dalam menjalani hidupnya, terkhusus kehidupan cintanya. Penyair menjadikan sosok tersebut sebagai sosok yang mampu mengatur dan mengolah perasaannya kepada seseorang yang dicintainya.

Sehingga melalui analisis puisi “Hujan Bulan Juni” Karya Sapardi Djoko Damono mampu memberi efek kepada sastra sebagai cerminan kehidupan manusia dalam bermasyarakat.

 Kata kunci: sastra, puisi, semiotik..

 

BAB I

PENDAHULUAN

  •    Latar Belakang

Sastra adalah sebuah karya seni yang didalamnya berbicara tentang masalah kehidupan tentang hubungan manusia dengan manusia, alam, dan kehidupan lainnya yang terjadi di dalam ruang lingkup kehidupan bermasyarakat. Ketika kita membicarakan sebuah sastra, pasti yang terlintas dalam pikiran kita yakni sebuah keindahan.

Setiap manusia di dunia ini sebenarnya memiliki kesempatan dan kemampuan untuk berkreasi dalam menghasilkan sebuah karya sastra yang indah misalnya puisi, novel, dan sebagainya. Namun sebagian besar dari manusia itu sendiri  tidak menyadari akan karunia yang diberikan itu dengan alasan yang kurang tepat. Sebaiknya kita peka akan karunia itu.

Misalnya Puisi. Puisi merupakan suatu karya yang terbentuk atas susunan kata penuh makna, dimana kata mengalami pemadatan bentuk dan perluasan arti. Pemadatan bentuk dalam puisi dilakukan dengan mengganti kata yang sebenarnya menjadi kata kias atau dengan menciptakan kata baru yang dianggap mewakili kata. Hal ini dalam puisi dibenarkan karena mengingat puisi merupakan penciptaan kembali atas kenyataan yang ada, juga menjadi rekam jejak susasana hati dan pengalaman  pribadi dari penyair.

Puisi juga merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif yang disusun dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya (Herman J. Waluyo). Dengan susunan struktur-struktur tersebut akan membentuk rangkaian kata indah yang bermakna. Rangkaian karya indah ini selain memiliki efek atau mengandung sesuatu yang ingin diungkapkan pada pembaca, puisi juga merupakan curahan hati dari pengarang. Salah satunya dalam puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmono. Melalui puisi tersebut, penulis mencoba untuk menganalisisnya dalam teori heuristik dan teori hermeneutik dalam pendekatan semiotik.

  •   Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan teori Semiotik?
  2. Apa yang dimaksud dengan teori Heuristik dan Hermeneutik?
  3. Bagaimana penerapan analisis teori semiotik dan teori hermeneutik dalam puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmono?
  • Tujuan Perumusan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Menjabarkan pengertingan teori Semiotik
  2. Menjabarkan pengertian teori Heuristik dan Hermeneutik
  3. Menerapkan analisis teori Semiotik dan teori Hermeneutik dalam puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmono?

 

BAB II

PEMBAHASAN

  • Teori Semiotik

A.1. Pengertian Teori Semiotik

Semiotika berasal dari kata Yunani, yakni semeion, yang berarti tanda. Hal ini mengkaji sistem perlambangan atau sistem tanda dalam kehidupan manusia. Sehingga terbentuknya istilah semiotik, yaitu kajian sastra yang bersifat keilmuan yang meneliti sistem perlambangan yang berhubungan dengan tanggapan dalam karya sastra. Dalam Handbook of Semiotics (North, 1990: 307, 346) pada buku “Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra (Nyoman: 2009), menyebutkan bahwa Semiotika merupakan akibat langsung dari formalisme dan strukturalisme.

Menurut Paul Cobley dan Litza Janz (2002:4) pada buku “Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra (Nyoman: 2009), Semiotika berasal dari kata seme (bahasa Yunani) yang berarti penafsir tanda. Sehingga Semiotik adalah sebuah disiplin ilmu sains umum yang mengkaji sistem perlambangan di setiap bidang kehidupan.

Semiotik berfokus pada pengkajian dan pencarian tanda-tanda dalam wacana serta menerangkan maksud daripada tanda-tanda tersebut dan mencari hubungannya dengan ciri-ciri tanda itu untuk mendapatkan makna signifikasinya.

Tanda adalah sesuatu yang mewakili pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan dan lain-lain. Jadi, yang dapat menjadi tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan berbagai hal yang melingkupi kehidupan ini walau harus diakui bahwa bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap dan sempurna.

Tanda-tanda itu dapat berupa gerakan anggota badan, gerakan mata, mulut, bentuk tulisan, warna, bendera, bentuk dan potongan rumah, pakaian, karya seni: sastra, lukis, patung, film, tari, musik dan lain-lain yang berada di sekitar kehidupan kita. Dengan demikian, teori semiotik bersifat multidisiplin sebagaimana diharapkan oleh Pierce agar teorinya bersifat umum dan dapat diterapkan pada segala macam tanda.

A.2 Tokoh Pendiri Semiotik

Terdapat dua tokoh pendiri Semiotik, yakni Ferdinand de Saussure dan Charles Sander Peirce. Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu Semiotika secara terpisah dan di antara keduanya tidak saling mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang keilmuan Saussure adalah seorang ahli linguistik, sedangkan Peirce adalah seorang ahli filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya sebagaii Semiologi (Semiology).

Semiologi menurut Saussure, berdasar pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakangnya sistem pembedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda di sana ada sistem.

Sedangkan Peirce menyebut ilmu yang dikembangkannya sebagai Semiotika (Semiotics). Bagi Peirce, penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan Semiotika dan Semiotika dapat diterapkan pada segala macam tanda. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah semiotika lebih populer daripada Semiologi.

A.3. Segitiga Semiotik

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsinya tanda, dan produksi makna. Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan dalam sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut tanda.

Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkai bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap, berbicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk, bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan, semuanya itu dianggap sebagai tanda.

Menurut Saussure, tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya selembar kertas. Di mana ada tanda di sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh indra kita yang disebut dengan signifier atau Petanda. Sementara bidang penanda atau bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified.

Penanda terletak pada tingkatan ungkapan (level of expression) dan mempunyai wujud atau merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna, obyek dan sebagainya. Sementara Petanda terletak pada level of content (tingkatan isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan.

Hubungan antara kedua unsur melahirkan makna. Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut referent. Misalnya, Lampu merah mengacu pada jalan berhenti. Wajah cerah mengacu pada kebahagiaan. Air mata mengacu pada kesedihan. Apabila hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak individu yang melihat atau mendengar akan timbul pengertian.

Menurut Pierce, tanda (representamen) ialah sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang lain dalam batas-batas tertentu. Tanda akan selalu mengacu ke sesuatu yang lain atau disebut objek (denotatum). Mengacu berarti mewakili atau menggantikan. Tanda baru dapat berfungsi bila diinterpretasikan dalam benak penerima tanda melalui interpretant.

Jadi interpretant ialah pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima tanda. Artinya, tanda baru dapat berfungsi sebagai tanda bila dapat ditangkap dan pemahaman terjadi adanya ground, yaitu pengetahuan tentang sistem tanda dalam suatu masyarakat. Pierce mengemukakan adanya hubungan ketiga unsur tanda yang terkenal dengan nama segitiga semiotik, yakni ikon, indeks, dan simbol.

Ikon adalah tanda yang antara tanda dengan acuannya (penanda dan petandanya) ada hubungan kemiripan dan biasa disebut metafora. Contoh ikon adalah gambar kuda sebagai penanda yang menandai kuda (petanda). Potret menandai orang yang dipotret, atau gambar pohon menandai pohon.

Bila ada hubungan kedekatan eksistensi, tanda demikian disebut indeks, artinya tanda yang menunjukkan hubungan kausal (sebab-akibat) antara penanda dan petandanya. Tanda seperti ini disebut metonimi. Contoh indeks adalah tanda panah petunjuk arah bahwa di sekitar tempat itu ada bangunan tertentu. Langit berawan tanda hari akan hujan. Asap menandai api, atau angin menunjukkan arah angin.

Sementara Simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dan petandanya (arbitrer). Tanda seperti ini ditentukan oleh konvensi.

Contoh simbol adalah seorang wanita yang mempunyai anak. Kalau masyarakat Indonesia menyebutnya “Ibu”. Kalau masyarakat Inggris menyebutnya “Mother”. Sedangkan Masyarakat Jerman menyebutnya “Mutter”. Jadi, adanya bermacam-macam tanda untuk satu arti itu menunjukkan konvensi setiap masyarakat.

  • Teori Hermeneutik

B.1. Pengertian Teori Hermeneutik

Akar kata Hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein, yang berarti “ menafsirkan”, dan kata benda hermeneia, yang berarti “interpretasi”. Penjelasan dua kata ini, dan tiga bentuk dasar makna dalam pemakaian aslinya, membuka wawasan pada karakter dasar interpretasi dalam teologi dan sastra, dan dalam konteks sekarang ia menjadi keywords untuk memahami hermeneutika modern.

Dalam studi sastra, Hermeneutik berarti tafsir sastra. Menurut Ricoeur (2006: 58-58), tempat pertama yang didiami oleh Hermeneutika adalah bahasa dan lebih khusus lagi bahasa tulis. Ricoeur mengemukakan bahwa hermeneutik berusaha memahami makna sastra yang ada di balik struktur. Pemahaman tidak hanya pada simbol, melainkan memandang sastra sebagai teks. Di dalam teks ada konteks yang bersifat polisemi. Maka, peneliti harus menukik kearah teks dan konteks sehingga ditemukan makna utuh.

Menurut Suwardi Endraswara (Metodologi Penelitian Sastra: 2012), Hermeneutik sebenarnya sebuah paradigma yang berusaha menafsirkan teks antar dasar logika linguistik. Logika linguistik akan membuat penjelasan teks sastra dan pemahaman makna dengan menggunakan “makna kata” dan konsep semantik teks sastra dan makna bahasa lebih bersifat kultural. Makna kata akan membantu pemahaman makna bahasa. Oleh karena itu, dari kata-kata itu akan tercermin makna kultural teks sastra.

Menurut Richard E. Palmer, definisi hermeneutika setidaknya dapat dibagi menjadi enam. Sejak awal, hermeneutika telah sering didefinisikan sebagai ilmu tentang penafsiran (science of interpretation). Akan tetapi, secara luas hermeneutika juga sering didefinisikan sebagai berikut:

  1. Hermeneutika sebagai teori penafsiran Kitab Suci (theory of biblical exegesis)
  2. Hermeneutika sebagai metodologi filologi umum (general philological methodology)
  3. Hermeneutika sebagai ilmu tentang semua pemahaman bahasa (science of all linguistic  understanding)
  4. Hermeneutika sebagai landasan metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (methodological foundation of Geisteswissenschaften)
  5. Hermeneutika sebagai pemahaman eksistensial dan fenomenologi eksistensi (phenomenology of existence dan of existential understanding)
  6. Hermeneutika sebagai sistem penafsiran (system of interpretation)

 

Keenam definisi tersebut bukan hanya merupakan urutan fase sejarah, melainkan pendekatan yang sangat penting di dalam problem penafsiran suatu teks. Masing-masing mewakili berbagai dimensi yang sering disoroti dalam hermeneutika. Setiap definisi membawa nuansa yang berbeda namun dapat dipertanggungjawabkan dari tindakan manusia menafsirkan, terutama penafsiran teks.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  •  Data dan Sumber Data

A.1    Data

Data yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah puisi yang berjudul “Hujan Bulan Juni”, dimana Penyair memetaforakan “Hujan” sebagai sosok atau seseorang dalam menjalani kehidupannya.

A.2 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini diambil dari beberapa buku mengenai teori heuristik dan teori hermeneutik dalam kajian semiotik.

A.3 Metode Pengumpulan Data

A.3.1    Metode Kepustakaan

Metode kepustakaan adalah metode yang digunakan untuk menemukan masalah yang diteliti dengan memanfaatkan pustaka. Dalam hal ini masalah yang akan diteliti adalah tentang analisis heuristik dan hermeneutik dalam kajian semiotik  pada puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Penulis menyadari bahwa puisi ini layak diangkat dalam pembahasan beberapa teori pendekatan yang digunakan dalam sastra.

A.3.2    Metode Analisis Data

Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode deskriptif kualitatif Metode deskriptif kualitatif yaitu metode yang digunakan untuk memaparkan (mendeskripsi) informasi tertentu, suatu gejala, peristiwa, kejadian sebagaimana adanya. Pada penelitian deskriptif tidak diadakan perlakukan terhadap variabel-variabel yang akan di deskripsikan dan tidak menggunakan angka­-angka (Anggoro, dkk, 2007:65).

BAB IV

HASIL PEMBAHASAN

  •  Pembacaan Semiotik: Heuristik dan Hermeneutik

A.1. Pembacaan Heuristik

Menurut Riffaterre (1978:5-6) dalam buku Teori Penelitian Sastra (Jabrohim:2012), untuk dapat memberi makna karya sastra secara semiotik, pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeeneutik.

Pembacaan Heuristik adalah pembacaan berdasar struktur kebahasaan atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama, dan merupakan penerangan kepada bagian-bagian cerita secara berurutan sesuai analisis bentuk formalnya. Sementara pembacaan Hermeneutik adalah berdasarkan konvensi semiotik tingkat kedua. Pembacaan Hermeneutik adalah pembacaan ulang atau retroaktif sesudah pembacaan Heuristik dengan memberikan konvensi sastranya.

Pembacaan Heuristik terhadap puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmono

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni,
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(1989)

 

Dalam pembacaan heuristik puisi dibaca berdasarkan struktur kebahasaannya. Untuk memperjelas arti pada puisi, bila perlu dapat diberi sisipan kata atau sinonim kata yang ada pada puisi tersebut dengan cara kata-kata yang disisipkan ditaruh dalam tanda kurung. Begitu pula dengan struktur kalimatnya, disesuaikan dengan kalimat baku, dan bila perlu susunannya dapat dibalik untuk memperjelas arti. Puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmono ini memiliki 12 baris dan 3 bait. Pembacaan heuristik terhadap puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmonodapat dilakukan secara berikut:

Bait Pertama

Tak ada (seseorang) yang lebih tabah
dari hujan (pada) bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon (yang) berbunga itu

Bait Kedua

Tak ada (sesorang) yang lebih bijak
dari hujan (pada) bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu (berada) di jalan itu

Bait Ketiga

Tak ada (seseorang) yang lebih arif
dari hujan (pada) bulan Juni,
dibiarkannya yang (kata) tak terucapkan
diserap akar pohon (pada) bunga itu

A.2. Pembacaan Hermeneutik

Pembacaan Hermeneutik terhadap puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmono

Dalam pembacaan hermeneutik puisi dibaca berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan ulang sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan tafsiran berdasarkan konvensi sastra. Konvensi sastra itu, di antaranya yaitu konvensi ketaklangsungan ucapan (ekspresi) puisi. Ketaklangsungan ekpresi puisi dapat disebabkan oleh penggantian arti, penyimpanan arti, dan penciptaan arti (Riffaterre, 1978: 1-2; Pradopo, 2003:97).

Penggantian arti dapat disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi. Penyimpangan arti dapat disebabkan oleh ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti dapat disebabkan oleh pemanfaatan bentuk visual seperti enjambemen, persajakan, homologues (persejajaran bentuk maupun baris, dan tipografi) (Pradopo, 2003:97). Dalam puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmono, hujan dalam puisi tersebut diartikan tidaklah sekedar butir air yang jatuh tetapiseolah menjelma menjadi seseorang atau jiwa yang begitu dekat dengan pembaca.Bahkan dapat mewakili diri pembaca sendiri, karena mungkin pembaca memiliki rasa yang sama dengan apa yang dirasakan pada puisi“Hujan bulan Juni”.Pembacaan hermeneutik terhadap puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmono, terutama dilakukan terhadap bahasa kiasan.. Pembacaannya (tafsirannya) dapat dilakukan sebagai berikut:

Bait pertama

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Dalam bait pertama, penyair Sapardi Djoko Darmono mengartikan hujan sebagai sosok jiwa yang berhati kuat. Artinya mempunyai komitmen kuat terhadap diri sendiri, sehingga dapat menciptakan tingkah laku yang aktif terhadap lingkungan dan perasaan bermakna yang menetralkan efek negatif. Sosok tersebut rela menerima sesuatu yang tidak disenangi dengan rasa ikhlas Dalam bait pertama ini juga diartikan bahwa sosok tersebut tabah dan sabar untuk tetap menahan dan menyimpannya serta tidak menyampaikan sayang dan rindunya pada orang yang dicintainya.

Bait kedua

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Dalam bait kedua, penyair Sapardi Djoko Darmono menjadikan hujan sebagai sosok yang mampu menahan untuk tidak menyampaikan sayang dan rindunya. Sosok tersebut bertindak sesuai dengan pikiran, akal sehat sehingga menghasilkan perilaku yang tepat, sesuai dan pas. Dengan kebijaksananya, sosok tersebut mampu menghilangkan keraguan, dan prasangka buruknyauntuk tetap setia menanti orang yang dicintainya

Bait ketiga

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni,
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Dalam bait ketiga, penyair Sapardi Djoko Darmono menjadikan hujan sebagai sosok yang selalu menggunakan akal budi, pengalaman dan pengetahuannya, pandai dan hati hati, cermat, teliti apabila menghadapi kesulitan. Dalam hal ini sosok tersebut pandai menyimpan, dan menyembunyikan rasa sayangnya serta rindunya pada orang yang dicintainya. Hingga akhirnya sosok tersebut mengharapkan orang yang dicintainya itu biar dimengerti sendiri bahwa sosok itu benar-benar mencintainya.

BAB V

KESIMPULAN & SARAN

  • Kesimpulan

Teori hermaneutika tidak hanya dipakai dalam bidang sastra saja, melainkan dalam bidang-bidang ilmu yang lain diantaranya teologi dan filsafat. Defenisi hermeneutika terus berkembang, secara luas hermeneutika diartikan sebagai penafsiran, metodologi filologi, pemahaman bahasa, landasan metodologis, pemahaman eksistensial, dan sistem penafsiran

Teori semiotik muncul dari ketidakpuasan terhadap pendekatan struktural yang hanya terbatas pada aspek kajian intrinsik saja. Teori semiotik mempunyai kekuatan dan kelebihan utama dalam membedah karya sastra secara mendalam karena lebih menyempurnakan teori-teori lain seperti struktural, sosiologi dll. Kemudian  analisisnya lebih spesifik dan komprehensif. Memberikan pemahaman makna dan simbolik baru dalam membaca karya sastra.

Puisi merupakan ungkapan jiwa penyait yang dituangkan dalam kata, dirangkai sedemikian rupa dengan memperhitungkan kaidah-kaidah tertentu sehingga menimbulkan suatu yang dapat membangkitkan pengalaman pembaca melalui kata-kata yang tercipta dari setiap strukturnya.

Berdasarkan analisis struktur fisik dan batin, puisi ini memiliki makna tentang perasaan cinta atau rindu yang tertahan. Juga kebesaran hati pengarang menahan rasa yang ia miliki. Serta kearifan yang dituliskan pada puisi ini untuk merelakan sesuatu atau seseorang yang tak dapat dimiliki terlebih tidak dapat dinyatakan kepada yang bersangkutan.

Dalam puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono, penyair menggambarkan tentang sosok yang diam-diam selalu menanti orang yang dicintainya. Melalui diamnya, ketabahannya, kearifannya, dan kebijaksanaannya, sosok tersebut menanti dengan lembutnya. Tak ada yang tak bahwa diam-diam sosok tersebut merasiakan rindunya. Sampai orang yang dicintainya benar-benar tahu dan merasakan bahwa sosok tersebut telah mencintainya terlebih dahulu.

  •  Saran

Penyair Sapardi Djoko Damono mampu menaklukkan pembacanya melalui puisi “Hujan Bulan Juni”. Beberapa pembaca meyakini bahwa setiap manusia pasti pernah mencintai seseorang dengan cara diam, dibarengi dengan tabah, bijaksanan dan arif. Seseorang tak ingin mengungkapkan langsung perasaannya kepada orang yang dicintainya karena ada suatu hal. Dan hal inilah yang bagi saya merupakan suatu kekurangan yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Jika ia punya sifat tabah, bijaksana, dan arif, namun ia tak punya satu sifat yang sebenarnya harus dimiliki manusia. Seseorang tersebut tak punya sifat berani untuk blak-blakan dalam mengungkapkan cinta dan rindunya. Cinta dan rindunya ia bungkus rapi tanpa orang lain tahu. Hingga ia berpikir bahwa orang yang ia cintai itu bakal mengetahui cintanya tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko.1994. Hujan Bulan Juni. Jakarta: PT. Grasindo

Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Jakarta: Caps

Jabrohim. 2012. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Palmer, Richard. 2005. Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yokyakarta:

Pustaka Pelajar

Rafiek, M. 2010. Teori Sastra.Bandung: PT.Refika Aditama

Cobley,Paul and Jannsz Litza, 1997. Introducting Semiotics. London: Penguins Books Ltd

Wikipedia. 2016. Sapardi Djoko Damono-Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono. 18 Juni 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s