Oleh: Dhika Anggoro Satrio

 

Dalam proses penciptaan kesusastraan, seorang pengarang berhadapan dengan suatu kenyataan yang ditemukan dalam suatu masyarakat (realitas objektif). Realitas objektif itu dapat berbentuk peristiwa-peristiwa, norma-norma (tata nilai), pandangan hidup, dan lain-lain bentuk-bentuk realitas objektif yang ada dalam masyarakat. Ia (pengarang) merasa tidak puas terhadap realitas objektif itu. Ia ingin memberontak dan memprotes. Sebelum pemberontakan tersebut dilakukan atau ditulis, ia telah memiliki suatu sikap terhadap realitas objektif itu. Setelah ada suatu sikap, maka ia mencoba mengangankan suatu “realitas” baru sebagai pengganti realitas objektif yang sekarang ia tolak. Hal inilah yang kemudian ia ungkapkan di dalam ciptasastra yang diciptakannya. Ia mencoba mengutarakan sesuatu terhadap realitas objektif yang ia temukan. Ia ingin berpesan melalui ciptasastranya kepada orang lain tentang suatu yang ia anggap sebagai masalah manusia. Ia berusaha merubah fakta-fakta yang faktuil menjadi fakta-fakta yang imajinatif dan bahkan menjadi fakta-fakta yang artistik. Pesan-pesan justru disampaikan dalam nilai-nilai yang artistik tersebut (Esten, 1993: 9).

Representasi merekonstruksi serta menampilkan berbagai fakta sebuah objek sehingga eksplorasi sebuah makna dapat dilakukan dengan maksimal (Ratna, 2012: 17). Jika dikaitkan dengan bidang sastra, representasi dalam karya sastra merupakan penggambaran karya sastra terhadap suatu fenomena sosial. Penggambaran ini tentu saja melalui pengarang sebagai kreator.

Representasi dalam sastra muncul sehubungan dengan adanya pandangan atau keyakinan bahwa karya sastra sebetulnya hanyalah merupakan cermin, gambaran, bayangan, atau tiruan kenyataan. Dalam konteks ini karya sastra dipandang sebagai penggambaran yang melambangkan kenyataan (mimesis) (Teeuw, 2013: 174).

Jika berbicara tentang reprensentasi dalam karya sastra maka tidak akan terlepas kaitannya dari mimetik sebagai pendekatannya. Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan realitas atau kenyataan. Mimetik dalam bahasa yunani disebut tiruan. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai imitasi dan realitas. Hal ini diperkuat oleh pendapat Najid (2009:47) pendekatan mimetik adalah pendekatan yang memandang prosa fiksi sebagai hasil ciptaan manusia yang ditulis berdasarkan bahan-bahan yang diangkat dan semesta (pengalaman hidup penulis atau hasil penghayatan penulis terhadap kehidupan disekitarnya).

Dalam pendekatan ini, karya sastra merupakan hasil tiruan atau cermin dari kehidupan. Dalam mengkaji sebuah karya sastra dengan menggunakan pendekatan mimetik, dibutuhkan data-data yang berkaitan dengan realitas kehidupan yang ada dalam karya sastra tersebut. Karena pendekatan mimetik menghubungkan karya sastra dengan realitas, maka kemudian muncul anggapan bahwa karya merupakan cerminan dari realitas, sehingga hakikat karya sastra yang bersifat fiktif sering kali dilupakan. Hal ini sangat berbeda dengan makna karya sastra yang merupakan hasil karangan fiktif pengarang. Kajian semacam ini dimulai dari pendapat plato tentang seni. Plato berpendapat bahwa seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang tampak pada dunia nyata. Ia berdiri di bawah kemyataan itu sendiri. Wujud yang ideal tidak bisa terjelma langsung dalam karya seni. Seni yang terbaik lewat mimetik dan benar. Sedangkan menurut Aristoteles, seniman tidak meniru kenyataan, manusia dan peristiwa sebagaimana adanya. Seniman menciptakan dunianya sendiri. Dalam memilih tema cerita, sastrawan harus punya kepekaan terhadap keadaan masyarakat dan zamannya. Sastrawan harus bisa menangkap berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Sangat disayangkan bila karya sastra hanya menggambarkan hal-hal yang indah dan baik, padahal masyarakat sekitarnya dalam kesulitan dan kesusahan. Banyak novel, cerpen dan film Indonesia yang menggambarkan kehidupan mewah, padahal kebanyakan masyarakat Indonesia dalam kenyataan hidup yang getir (Lubis, 1997:8). Dalam pandangan mimetik, karya sastra tidak mungkin dapat dipahami tanpa mengkaitkannya dengan semesta sebagai sumber penciptannya.

Novel Negeri di Ujung Tombak karya Tere Liye mirip dengan keadaan dan situasi politik di Indonesia baru-baru ini. Novel bercerita tentang seorang pemuda bernama Thomas atau Tommi yang ingin membantu klien politiknya yang bernama JD agar dapat memenangkan pemilihan presiden. Pada bagian awal cerita dikisahkan bahwa Thomas sedang ingin bertarung melawan Lee, seorang petarung dari China. Kemudian setelah Thomas menang, dia mendapat kabar bahwa klien politiknya dituduh sebagai tersangka korupsi. Padahal tinggal beberapa langkah lagi klien politiknya itu menjadi presiden. Dan ternyata orang yang telah merekayasa agar JD ditangkap adalah lima pejabat yang berhubungan dengan kasus korupsi Gedung Olaraga Nasional. Alasan mereka ingin menjebloskan JD ke dalam penjara karena mereka takut kasus korupsi tersebut diusut kembali.

Cerminan tersebut mirip dengan kejadian kasus korupsi Hambalang yang pernah terjadi di Indonesia dimana ada beberapa pejabat yang terlibat di dalamnya. Pejabat yang pertama adalah Wafid Muharam, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga. Kemudian Mindo Rosalina Manulang, Direktur Pemasaran PT Anak Negeri. Selanjutnya ada seorang Direktur Pemasaran PT Duta Graha Indah yaitu Mohammad El Idris. Dan yang terakhir adalah M. Nazaruddin, bekas Bendahara Partai Demokrat. Jika di dalam novel diceritakan terdapat lima pejabat tetapi dalam kasus Hambalang hanya terdapat empat saja. Dan menurut  pendapat penulis orang kelima dalam novel Negeri di Ujung Tanduk yaitu Shinpei, adalah merupakan tokoh fiktif cerminan dari otak kasus Hambalang yang sampai saat ini belum diketahui.

Dalam novel ini juga diceritakan bahwa dalam perjalanannya menuju London, Thomas bertemu JD, mantan wali kota dan gubernur yang dikenal sebagai figure muda yang sederhana dan bersih. Pertemuan itu menjadi momen penting dalam hidup Thomas. Percakapan dengan JD menginspirasi Thomas untuk terlibat dalam dunia politik. Dalam sosok JD, Thomas menemukan jawaban dari pertanyaan yang melindap dalam benaknya terkait sosok politikus dengan kemuliaan dan kelurusan hati bak Gandhi atau Nelson Mandela. Maka, Thomas pun menawarkan diri menjadi konsultan strategi demi mewujudkan penegakan hukum yang dikehendaki JD. Dan karena presiden merupakan pemilik komando tertinggi bagi penegakan hukum di Indonesia, cita-cita JD hanya bisa direalisasikan dengan menjadi presiden. Sosok JD yang digambarkan Tere Liye dalam novel tersebut mirip dengan sosok Joko Widodo yang juga merupakan mantan wali kota Solo sekaligus mantan gubernur DKI Jakarta dan sekarang telah menjadi presiden Indonesia. Menurut penulis novel ini juga merupakan bentuk dukungan Tere Liye kepada siapapun presiden Indonesia saat ini agar tetap kuat menghadapi mafia ppolitik dan mengusut tuntas kasus korupsi yang ada di Indonesia.

Diceritakan juga dalam novel, Thomas juga sempat ditahan oleh pihak berwajib di Jakarta, akan tetapi lagi-lagi dia cukup beruntung memiliki sahabat yang berhasil membantunya untuk menghadiri konvensi calon presiden di Denpasar, Bali. Latar tempat dalam cerita ini semakin menguatkan intrik politik ini terjadi di Indonesia, walaupun terdapat beberapa latar tempat seperti London dan Hong Kong tetapi fokus permasalahan terjadi di Indonesia. Tere Liye seperti ingin mengulas habis tentang korupsi, mafia dan permasalahan lainnya di Indonesia.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s