Mia Karnia Sari

2125142212

2 Sastra Indonesia – Sastra

Surel: miakarnias@gmail.com

Ranah susatra kian berkembang dan meluas. Mengulas fenomena ini tentu merupakan salah satu hal menarik bagi para akademisi ilmu sastra juga budaya. Dalam hal ini kaitannya dengan sosiologi sastra adalah penggunaannya dalam mengkaji suatu karya sastra, puisi misalnya. Tak dipungkiri lagi, kehadiran sebuah karya sastra-puisi tak begitu saja hadir. Dapatlah kita katakan bahwa puisi merupakan cerminan masyarakat, masyarakat sosial.

Menurut Altenbert dalam Djoko Pradopo (pengkajian puisi, 2005:5) karya sastra puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama. Apapun pengertian sebuah puisi, sebuah puisi dapat dikaji dari struktur dan unsur-unsurnya. Seperti unsur budaya, pendidikan, agama, ekonomi, sosial dan masih banyak lagi. Sebuah karya sastra puisi menggunakan bahasa sebagai medium pengaktualisasiannya, dan bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Puisi-puisi yang telah dilahirkan pada masa terdahulu merupakan raut-raut yang mencerminkan kisah sosial yang mewakili tiap periode taun. Misalnya, pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan ’45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik – idealistik.

Oleh karena sebab itu, dalam memahami serta menelaah puisi kita dihadapkan unsur diluar teks puisi. Salah satunya adalah unsur sosiologi. Dalam hal sastra maka kita dihadapkan pada soaiologi sastra. Sosiologi adalah telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat. Sedangkan sosiologi dan sastra juga sama-sama menyangkut pelbagai urusan manusia dan masyarakat. Menurut wellek dan Waren (Djoko Damono: 2002) memberikan klasifikasi mengenai sosiologi sastra. Klasifikasi sosiologi sastra secara singkat adalah sebagai berikut: Pertama, sosiologi pengarang yang mempermasalahkan status sosial, ideology sosial, dll yang menyangkut pengarang sebagai penghasil sastra. Kedua, sosiologi karya sastra yang mempermasalahkan karya sastra itu sendiri. Yang menjadi pokok penelaahan adalah apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya. Ketiga adalah sosiologi sastra yang mempermasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya sastra. Sastra ditulis untuk dibaca. Dan karya sastra tersebut memperikan implikasi terhadap sosial kemasyarakatan.

Lebih jauh, jika menganalisis unsur sosial. Maka kita akan merujuk kepada teori sosial Karl Mark, Lenin dan Stalin yang pada intinya adalah mempersoalkan perjuangan kelas. Adanya itikad untuk memperjuangkan kaum tertindas akibat dari kesewenangan kaum borjuasi kepada kaum ploretariat (dalam istilah Marksime). Artinya, ada perjuangan para kaum buruh dalam menghadapi kaum borju sebagai pemilik modal. Dalam kajian sastra, hal semacam ini akan mengkerucut pada Realisme Sosialis. Artinya, adanya kenyataan social yang musti diperjuangkan. Sebuah revolisi sosial kata Pramudya Ananta Toer.

Puisi yang lahir di angkatan ’45 misalnya,  dibuat atas dasar perasaan dan kehidupan si penyair yang mungkin mempunyai kenangan kesedihan yang begitu mendalam berkenaan dengan keadaan sosial-politik-budaya pada era tersebut. Kesedihan itulah yang menginspirasi penyair, perasaannya dicurahkan ke dalam bait-bait puisi. Dengan demikian, seorang penyair tidak dapat dilepaskkan dari kondisi kehidupan sosial di sekitarnya, termasuk juga keadaan alam tempat penyair itu berada. Benda-benda dan suasana di sekelilingnya sering kali dipergunakan penyair untuk mengekspresikan perasaan ataupun pikiran-pikirannya.

 

Realisme Sosialis sendiri lahir sebagai penerus tradisi kritis, yang merupakan bentuk baru dari tradisi realisme yang berkembang di eropa. Realisme Sosialis merupakan teori seni yang berdasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dan lingkungan sosialnya. Seniman ditempatkan tidak terpisah dari tempatnya berada. Adapun hakikat dari pendekatan realisme sosialis adalah menempatkan seni sebagai wahana “penyadaran” bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang terasingkan, guna merebut kembali wacana kebebasan.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s