Oleh Muhamad Rifqi

Surel: marvel.aditiya@gmail.com

Sosiologi sastra adalah suatu kajian yang mengkaji hubungan antara karya sastra dan masyarakat. sosiologi sastra berperan seberapa jauh karya itu mengambarkan realitas masyarakat sekitarnya.teori sosiologi sastra yang terkenal salah satunya ialah Karl max yaitu teori  dalam bukunya Des kapital ia membahas pertentangan kelas antara kaum borjuis dan proletar. Kaum borjuis ini menguasai seluruh faktor produksi mulai dari alat produksi, modal untuk berproduksi dan kaum proletar bertugas untuk menghasilkan barang dan dan jasa untuk dijual di pasaran untuk kemudian mereka mendapat imbalan dari kaum borjuis tadi.

Untuk Esei kali ini saya akan membahas novel Existere karya Shinta Yudisia alasan saya mengapa mengambil novel ini karena membahas potret kehidupan malam di gang Dolly yang kita tahu sekarang sudah ditutup oleh pemerintah kota Surabaya.

Di novel ini ada tokoh yang bernama Jamilah gadis desa yang berasal dari Tegal ia anak sulung dari 4 bersaudara, hidupnya pas-pasan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya bu Kapsoh harus banting tulang di usianya yang sudah renta ia harus jadi buruh cuci, kuli panggul atau apapun asal halal, sementara ayah jamilah yaitu Sardjo adalah seorang penarik becak  yang kadang sakit-sakitan sehingga tak bisa selalu diandalkan.

Dahulu keluarga mereka baik-baik saja mereka hidup sederhana dalam kesederhaan mereka bahagia ditengah kesederhanaan mereka namun, semuanya berubah ketika utang bu Kapsoh sendiri mengunung di warung- warung jumlahnya sekitar 500 ribu rupiah.

Jamilah sendiri bekerja di pabrik Saintex lumayanlah ada pemasukan walau hanya bisa membantu seperak dua perak.

Singkat cerita tempat jamilah bekerja akan ditutup karena dalam kawasan pabrik itu akan beralih fungsi menjadi hotel lalu ia bilang pada ibunya bahwa ia di PHK lalu ibunya menyarankan Jamilah untuk merantau dari kampungnya di Tegal dan ia menurutinya, lalu ia pergi ke Surabaya ada temannya Endah yang sejak kecil bersahabat dengannya katanya, endah menjanjikan akan di janjikan sebagai pembantu disana.

Setibanya disana Jamilah bingung tempat apa ini disana ia di titipkan endah pada tiga temannya yaitu Lola, Rere dan juga sonya.

Oh iya dari ketiga temannya itu sonya yang paling dekat dengan Jamilah sementara dua temannya agak menjaga jarak dengaannya

Bersama mereka Jamilah diperlakukan dengan baik dia membantu menyelesaikan pekerjaan rumah yang biasa dikerjakannya,  ia juga di beri makan tiga kali sehari dengan layak namun apa daya, mereka enggan menjadikan sebagai pembantu tetap alasannya mereka tidak enak kepada Endah yang membawa mila ke tempat ini.

Karena tak kunjung mendapat pekerjaan Jamilah terus bertanya pada sonya dan dua temannya namun, jawaban sama. akhirnya sonya menawarkan pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia lalu di perkenalkan dengan Jean seorang mucikari yang terbiasa mendidik anak didiknya untuk memberikan kepuasan tiada tara.

Jean memperlkukan milah dengan baik ia berbeda dari mucikari yang lainnya, ia tak pernah memaksa untuk bekerja sama dengan dirinya, baginya semua karyawannya adalah aset ia juga bilang jika mau bekerjasama ya sudah laksanakan kalau tidak ya silahkan pergi dari sini dan ia juga mengatakan, ambil saja seperlunya setelah itu tinggalkan Begitu katanya.

Disana ia bekerja di sebuah salon kecantikan ia bertugas menjadi pendamping para pelanggan khususnya para lelaki alhasil dan dandanan milah pun berubah yang tadinya mengunakan pakaian serba panjang di sana ia tampil cantik dengan dandanan wah dan pakaian serba minim wajahnya berbalut eyeshadow dan lipgloss. Pelangan pertama mila adalah seorang lelaki tua berusia 50 an ia awalnya merasa risih melayani lelaki yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya. Pada saat hari pertama ia merasa batinnya menangis apalagi ia menyerahkan keperawanannya pada lelaki yang baru di kenalnya.

Tapi lama kelamaan mila menikmati pekerjaan barunya dari hasil kerja kerasnya mila mendapat apa yang ia inginkan makanan enak, baju-baju mahal sesuatu yang tak pernah ia rasakan sejak dulu.

Dari kutipan kisah Milla diatas sangat sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini di mana para gadis- gadis belia di zaman ini rela menjual kehormatan dirinya demi rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. menurut statistik yang di rilis oleh kemensos Pekerja sex komersil di indonesia sekitar 56 ribu orang yang tersebar di luar itu ada juga prostitusi terselubung sebanyak 150.000 mereka tersebar di salon, pijat plus, kos-kosan dan juga pusat perbelanjaan sementara jumlah lokalisasinya ada 156 tersebar di seluruh indonesia.

Sedangkan menurut Komnas Perlindungan anak mencatat PSK anak di indonesia mencapai 200- 300 ribu menjadikan indonesia pemasok psk anak terbresar se asia tenggara.

Fenomena inilah yang ditangkap oleh shinta yudisia menjadi titik berat ceritanya ia berani untuk mengambarkan realitas yang ada di gang dolly sesuatu yang mungkin dianggap orang tabu tapi layak untuk menjadi media pembelajaran bahwa potret kemiskinan dapat membawa seseorang kepada kenistaan.

Memang menjadi tugas kita bersama untuk mengarahkan mereka ke jalan yang benar terlebih lagi, pemerintah wajib menyediakan lapangan kerja yang cukup untuk mereka agar tak jatuh ke lubang yang sama walaupun motif prostitusi bukan hanya latar belakang ekonomi ada juga yang orang tuanya cukup tapi broken home atau juga untuk memenuhi hasrat biologis mereka.

  

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s