Ummi Anisa (2125142201)

Prodi Sastra Indonesia, FBS UNJ, Jakarta

e-mail: ummi.anisa95@gmail.com

 

 “Orang kaya di ujung jalan itu jadi bahan gunjingan. Masyarakat gelisah. Pasalnya, ia mau membangun gedung tiga puluh lantai. Ia sudah membeli puluhan hektar rumah dan lahan penduduk di sekitarnya. Di samping apartemen, rencananya akan ada hotel, pusat perbelanjaan, lapangan parkir, pertokoan, kolam renang, bioskop, warnet, kelab malam, dan kafe musik.”

 

Ketika membaca cerpen Protes karya Putu Wijaya, pada awalnya kita akan menemukan kutipan seperti di atas. Kutipan yang akan menyuguhkan kita pada realitas kekuasaan kaum borjuis terhadap para kaum proletar sebagai refleksi dari determinasi ekonomi.

Sebelum menilik lebih jauh, cerpen Protes karya Putu Wijaya ini merupakan cerpen yang dimuat di harian Kompas pada 23 november 2013. Secara keseluruhan, cerpen ini bercerita mengenai seorang bernama Pak Amat yang dipercayai warga sebagai penyambung lidah kepada Pak Baron atas pembangunan yang akan direncanakannya di atas lahan pemukiman warga.

 

Seperti yang kita ketahui, Karl Marx merupakan sosok intelektual di bidang filsafat, pakar ekonomi, dan teori kemasyarakatan. Karl Marx terkenal dengan analisisnya terhadap sejarah, terutama analisis mengenai pertentangan kelas, yaitu pertentangan kelas antara kaum borjuis dan kaum proletar. Di mana kaum borjuis merupakan kaum pemilik modal dan kaum proletar merupakan kaum dari kelas sosial rendah atau kaum yang tidak memiliki kekayaan.

 

Dalam berbagai teorinya, ada salah satu pemikiran Karl Marx yang menyinggung tentang determinasi ekonomi, yaitu hal-hal yang bersifat mendasar (basis) seperti bentuk modal, alat-alat produksi, dan kekuatan-kekuatan modal lainnya yang mempengaruhi sejarah, bukan kehidupan sosial seperti agama, politik, filsafat, seni, bahkan negara (suprastruktur) yang mempengaruhi dan membuat sejarah.

 

Karl Marx mengatakan bahwa pengaruh kekuasaan ekonomi sangatlah menentukan terhadap kehidupan manusia. Siapapun yang dapat menguasai sektor ekonomi, maka kekuasaan akan menghantarkannya pada aksi pengeksploitasian terhadap sesama manusia. Hal ini terbukti pada salah satu kutipan cerpen Protes karya Putu Wijaya di bawah ini:

 

“Ya, saya memang membangun karena punya uang Pak Amat…..”

 

Kutipan di atas dilontarkan oleh Pak Baron, seorang borjuis yang memiliki banyak uang dan hendak mengusir para warga untuk membangun gedung tiga puluh lantai yang rencananya akan dibuatkan apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, lapangan parkir, pertokoan, kolam renang, bioskop, warnet, kelab malam, kafe musik, dan lain sebagainya. Karena Pak Baron menguasai sektor ekonomi, maka keinginannya untuk membangun gedung tersebut tidaklah mustahil. Uang dijadikan  Pak Baron sebagai media untuk mengaktualisasikan diri sebagai kaum borjuis.

 

Lebih lanjut, ketidakberdayaan kaum proletar atas penindasan yang dilakukan oleh kaum borjuis juga tergambar dalam kutipan berikut.

 

“…..Tapi apa tanggapannya pada protes kita? Masak tidak tahu, kalau apartemen, kompleks perbelanjaannya benar-benar berdiri, pasar tradisional kita akan mati. Ratusan orang akan kehilangan mata pencahariannya…..”

 

Meski telah melakukan protes, Pak Amat yang dipercayai warga sebagai penyambung lidah terhadap Pak Baron juga tidak dapat berbuat sesuatu yang berarti. Undangan makan malam dari Pak Baron untuk Pak Amat yang alih-alih sebagai ajang berembuk juga tidak membuahkan hasil apapun. Ketidakberdayaan kaum proletar hanya akan berdampak pada penerimaan secara paksa.

 

Secara keseluruhan, Karl Max mengatakan bahwa ekonomi merupakan faktor yang menciptakan sejarah, walaupun disamping itu juga terdapat faktor pendamping lainnya. Namun, faktor ekonomi adalah yang paling penting sebagai dasar dan landasan dalam membangun sebuah suprastruktur yang didapat dari agama, politik, filsafat, seni, negara, dan lain sebagainya. Dan hal ini menurut saya secara tidak langsung tercetak pada cerpen Protes karya Putu Wijaya. Sejarah yang dimaksud adalah dalam hal mengubah perpektif pandangan dunia terhadap Indonesia yang walau telah merdeka berpuluh-puluh tahun namun tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini tergambar dalam dialog Pak Baron dalam kutipan berikut.

 

“…..Masak sudah 69 tahun merdeka kita masih makan tempe terus! Lihat Korea dong, tebar mata ke sekitar, simak Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, Central Park. Mana ada lagi rumah-rumah BTN yang sangat, sangat sederhana. Kandang tikus itu bukan hunian orang merdeka!…..”

 

Dalam kutipan tersebut, Pak Baron hendak berencana untuk menjadikan Indonesia terlihat lebih merdeka melalui pembangunan yang akan dilaksanakannya. Pembangunan yang tentunya akan mengubah sejarah Indonesia, dari masa kemiskinan menuju kemakmuran. Namun entah itu hanya alibi Pak Baron agar rencananya disetujui warga atau memang tujuannya seperti yang dikatakannya, barangkali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s