Oleh: Nita Oktaviya

Bagaimana jika kedua orang yang saling mencintai terhalang oleh restu orang tua? Bagaimana pula jika restu tersebut rupanya berasal dari sebuah perbedaan golongan agama Islam yang dipeluk keduanya?

Begitulah hal yang di sajikan dalam novel Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan. Novel tersebut ialah novel yang dimenangkan Mahfud dalam ajang Sayembara Menulis Novel yang di selenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2014. Seperti yang kita ketahui, bahwa berbicara mengenai kepenulisan, banyak sekali bermunculan ajang kepenulisan yang mencari penulis dengan tujuan merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang di Indonesia. Hingga akhirnya diraihlah kejuaraan pertama novel Kambing dan Hujan oleh Mahfud Ikhwan.

 

Sepintas bila menyimak judulnya, Kambing dan Hujan, mungkin kita tidak akan menemukan korelasi antara judul dengan pertanyaan yang semula saya sebutkan. Begitulah hal yang mulanya ada di benak saya ketika pertama kali melihat novel ini di sebuah toko buku ternama di Jakarta. Mungkin pembaca pada umumnya akan menganggap novel ini bercerita mengenai sebuah kisah remaja klasik yang biasa di suguhkan dengan ending yang klise. Namun nampaknya, saya-pembaca-kita terjebak pada judul yang terkesan seperti bacaan popular. Kenyataannya, bacaan ini memang popular, namun dibalik kepopulerannya, ternyata novel ini menyimpan cerita tentang hubungan dua sejoli yang dirundung oleh permasalahan perbedaan golongan meskipun ada pada satu agama yakni Islam.

Novel ini mulanya berkisah dari dua orang yang saling bersahabat, Mat dan Is. Keduanya pada masa itu tahun 1960’an menjadi bocah angon yang menggembala kambing desa. Keduanya berasal dari keluarga yang berbeda, Mat lebih beruntung sehingga ia dapat menuntaskan pendidikannya di Pondok Pesantren Jombang. Setelah menamatkan SR (Sekolah Rakyat)-sebutan bagi sekolah dasar yang ada pada masa penjajahan Jepang-Mat dan Is berpisah. Is tetap berada di desanya, desa Tegal Centong untuk tetap menjadi pengembala kambing serta memutuskan belajar mengaji dengan Cak Ali.

Singkat waktu, persahabatan keduanya menjadi mengkhawatirkan oleh karena Is menjadi pemuda Centong yang mencoba membawa pembaruan terhadap agama Islam di desa tersebut. Kesenjangan antara golongan tua dan golongan muda-tentunya Is dan kawan-kawannya-mulai terlihat. Hal tersebut diperlihatkan saat Is dan kawan-kawannya membangun sebuah musholla dengan kegiatan solat subuh tanpa qunut ataupun hal-hal yang mereka anggap bid’ah.

Mat yang mengetahui hal tersebut sangat menyesali yang dilakukan Is, oleh sebab Is membawa pembaruan dengan cara yang tidak mudah diterima oleh golongan kaum tua, hal ini seperti menyuguhkan kopi kepada tamu dengan cara membentak.

Kisah keduanya menjadi ujung jawaban atas cinta Mif dan Zia. Mif adalah seorang anak dari Pak Kandar, Iskandar tepatnya, sedangkan Zia adalah seorang anak dari Pak Fauzan, Muhammad Fauzan yang dulunya dipanggil Mat.

Miftakhul Abrar atau yang disebut Mif tumbuh dalam tradisi Islam modern. Berbeda dengan Fauzia yang merupakan anak seorang tokoh Islam tradisional. Namun, latar belakang keduanya malah membuat jurang yang ingin memisahkan oleh karena perbedaan tata cara beribadah maupun waktu  hari raya. Konflik antara sepasang anak dan sepasang ayah sekaligus sahabat ini menggambarkan bagaimana perbedaan memang benar-benar bisa menjadi penghalang besar.  Sebuah tembok yang memisahkan dua insan yang begitu mencintai satu sama lain, dan dua orang yang saling menyayangi dan menghormati, yang semasa kecil sering angon bareng itu.

Bila ketika hujan, Mat dan Is akan meneduhkan kambingnya, hal itulah yang kemungkinannya sangat kecil mempertemukan kambing dengan hujan, meskipun hal tersebut bukan berarti tidak  mungkin. Sama seperti judulnya, Kambing dan Hujan bagaikan analogi antara minyak dan air yang keduanya sama-sama tergolong zat cair tetapi bila disatukan akan seperti memisah. Sama seperti Mat dan Is, keduanya bertentangan soal golongan, Mat ada pada golongan kaum tua atau  Muhamadiyah, sedangkan Is berada golongan kaum  muda atau Nahdatul Ulama. Pada kenyataannya, kedua golongan Islam ini seolah-olah membuat beda diantara sesama muslim. Begitulah Muhamadiyah-Nu berusaha membuat satu sebagai muslim.

Pada karya sastra semacam novel Kambing dan Hujan, kita tahu bahwa sang penulis Mahfud Ikhwan, menulis novel ini berdasarkan konflik masyarakat sehari-hari. Studi sejarah sosial yang masih mengendap dari beberapa refrensi pembuatan skripsinya, membuat Mahfud mengolah kejadian yang nyata menjadikannya sebagai fiksi. Terlepas darimana soal asalnya si pengarang menuliskan novelnya, bahwa sebenarnya novel ini dapat dipusatkan pada tinjauan sosiologis.

Novel Kambing dan Hujan diakui Mahfud sebagai novel yang berasal dari pengalamannya sendiri. Mahfud yang tinggal di sebuah desa kecil terletak di Pantura, Jawa Tengah. Desa kecil tersebut ternyata dianugerahi keriuhan hal-hal persaingan yang menggebu antara mayoritas Nahdiyin dan minoritas Muhammadiyah. Disitulah kisah tentang surat kaleng antar-ulama yang diceritakan Is pernah terjadi di Jawa Barat pada tahun ’30-an dan perkelahian saat jumatan yang dituturkan oleh Jerome Pieters di Sumatera Selatan tahun ’20-an. Konflik-konflik yang digambarkan sangat intens, bahkan Mahfud dianggap ‘berani’ mengangkat kisah dua ormas yang cukup sensitif apabila dibahas di Indonesia. Namun,  kita bisa membuktikan bahwa Mahfud berhasil mengemas cerita yang sangat kritis menjadi cerita yang renyah untuk dibaca.

Buku-buku dan pengalamannya itu saling bekerjasama agar Mahfud dapat menuliskannya dalam sebuah novel yang kini menyentil kehidupan nyata. Bersatunya NU dan Muhamadiyah yang ada pada masa kini bukan berarti menjadi satu, sebab sampai kapan pun tidak akan bersatu dua hal yang bersifat kontradiktif seperti NU-Muhammadiyah.

Novel yang mengisahkan peliknya permasalahan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini mampu memikat hati pembaca. Menariknya novel ini  merupakan sebuah bacaan yang mungkin cukup bermanfaat, agar kita tidak terlalu kaku dalam menghadapi dua hal yang kontra namun memiliki kebenarannya masing-masing.

 

Advertisements

2 thoughts on “RESTU DI PERSIMPANGAN ZAMAN ala MAHFUD IKHWAN (Tinjauan Sosiologis Novel Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s