Oleh: Ria T. R.

2 SI S

 

            Karya sastra dipengaruhi oleh masyarakat dan selaligus mampu memberikan pengaruh kepada masyarakat. Oleh karena itu karya sastra bisa dikatakan adalah cerminan masyarakat. Karya sastra menyajikan tentang gambaran kehidupan dan gambaran itu sendiri adalah bagian dari kenyataan sosial. Karya sastra lahir ditengah-tengah masyarakat sebagai hasil pengungkapan pikiran dari pengarang mengenai kehidpan, peristiwa serta pengalaman hidup yang telat dialaminya.

 

Cerpen Matinya Seorang Demonstran merupakan cerpen yang menceritakan tentang seorang tokoh yang bernama Eka, seorang penulis, aktivis, yang berpikiran filosofis, sinis sekaligus kritis. Cerpen ini adalah karya Agus Noor yang didedikasikan kepada Eka Kurniawan. Berikut adalah sedikit sinopsis cerita pendek Matinya Seorang Demonstran:

            Ratih teringat akan kenangan masa lalu saat melewati jalan itu. Dia teringat saat kali pertama bertemu dengan Eka, penulis, aktivis yang berpikiran filosofis dan sekaligus kritis. Ratih dan Eka semakin dekat satu sama lain saat mereka mengikuti diskusi. Ratih sebenarnya sudah memiliki pacar yaitu Munarman, anak seorang panglima tinggi dan memiliki hidup berkecukupan. Pada masa menjelang reformasi aktivis menjadi icaran pemerintah karena dianggap sebagai penggerak para demonstran. Saat itu, demonstrasi hampir terjadi setiap hari. Eka sering keluar masuk gang untuk bergerilya dan menyebarkan selebaran. Pada suatu hari, terjadi demonstrasi besar di dekat rumah Ratih. Demonstrasi itu terjadi dari pagi hingga selepas isya. Banyak demonstran yang bersembunyi di rumah-rumah warga akibat datangnya aparat. Pintu rumah diketuk, Ibu Ratih khawatir. Ternyata ia adalah Arman yang tidak sengajak lewat. Dia terlihat gugup dan ketakutan. Ketika keadaan dirasa aman Arman pulang.

Keeseokan harinya, ada kabar yang tidak mengenakan dari Arman bahwa ia telah mati tertembak peluru nyasar. Ratih juga tak pernah bertemu degan Eka lagi. Eka tak diketahui keberadaannya. Kawan-kawannya yakin bahwa Eka diculik dan tak jelas nasibnya. Ratih pergi dari kota itu dan hanya sesekali pulang. Ia tak mau pasti melewati jalan in. Mengingat kenangan itu kembali. Dulu, ia mengenal jalan itu sebagai jalan Sutowijayan, kini bernaama Jalan Munarman.

Begitulah sinopsis dari cerita pendek Matinya Seorang Demonstran. Dapat kita lihat bahwa dibalik romansa antara cinta segitiga Ratih, Eka, dan Arman pengarang menyisipkan latar masa menjelang reformasi. Seperti yang kita tahu bahwa  masa reformasi adalah masa kelam Indonesia. Setelah pelantikan Kabinet Pembangunan VII pada awal bulan Maret 1998 ternyata kondisi bangsa dan negara tidak semakin membaik. Perekonomian juga tidak mengalami pertumbuhan akibatnya muncul masalah-masalah sosial. Dengan kondisi seperti itu mengundang keprihatinan rakyat yang akhirnya mahasiswa diberbagai daerah mulai mengadakan demonstrasi. Pada masa itu terjadi demo dimana-mana, dengan banyaknya aksi demonstrasi membuat keamanan kewalahan dan bertindak keras terhadap aksi tersebut. Akibatnya bentrokan antara mahasiswa dan aparat kemanan tidak dapat dicegah.

Pada masa reformasi tidak sedikit orang-orang yang berani mengkritik atau menjadi penggerak aksi tiba-tiba hilang tidak ada kabarnya. Tidak hanya itu, kekejaman pada tahun 1998 sangat menyesakkan hati. Seperti yang digambarkan oleh Agus Noor pada kutipa berikut:

“Di bulan-bulan penuh demonstrasi menjelang reformasi, ia sering mencemaskan Eka. Aparat semakin keras dan represif menghadapi para mahasiswa yang turun ke jalan menuntut Soeharto turun. Berkali-kali terjadi bentrokan dan aparat tak hanya menembakkan gas air mata. Lima mahasiswa terluka tertembak peluru karet, dalam satu bentrokan di bundaran kampus. Seorang mahasiswa yang sedang memotret dihajar puluhan aparat, tubuh yng sudah terbakar terus ditendang, kameranya diinjak-injak. Tubuh mahasiswa yang sudah berdarah-darah itu diseret lebih dari 100 meter di aspal jalan yang panas sambil terus ditendangi dan dipukuli dengan pentungan”

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada cerpen Matinya Seorang Demonstran menggunakan latar pada masa menjelang reformasi 1998 dibalik kisah romantisme cinta segitiga yang dihadirkan oleh Agus Noor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s