Oleh: Latifah

 

Sebuah karya sastra merupakan sebuah simbol yang setidaknya memiliki tiga peranan1. Peranan sebagai cara pemahaman, cara perhubungan dan cara penciptaan. Sedangkan yang menjadi objek dalam karya sastra ialah realitas. Sebab itu karya sastra juga tak luput menjadi salah satu referensi sejarah yang justru dinilai lebih jujur dari buku teks sekalipun. Melalui sebuah karya sastra, kita akan melihat bagaimana isi dari karya sastra tersebut yang kemudian kita refleksikan dengan realitas yang ada. Begitulah karya sastra diciptakan.

Banyak kemudian yang mengaitkan sebuah karya sastra dengan pengarangnya. Keduanya ibarat jasad dan roh. Namun bukankah roh bisa hidup tanpa jasad? Karya sastra melalui teks naratifnya memiliki otonominya sendiri. Teks naratif tersebut yang telah terpisah dari pengarang, yang akan bercerita sendiri kepada pembaca. Bagaimana kemudian pemaknaan dari seorang pembaca merupakan diluar kontrol dari pengarang. Teks naratiflah yang berperan di dalamnya. Menurut Ignas Kleden2, ukuran kekuatan teks sebuah sastra ialah sebuah cerita yang dapat berdiri sendiri sebagai cerita yang independen, bahkan independen dari pengarangnya, sehingga di sana terdapat pertaruhan makna tekstual teks.

Lalu mengapa saya bisa percaya bahwa roh bisa hidup tanpa jasad? Membaca novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang memang seakan membuat kita percaya, kalau kematian tak semudah mendefinisikannya dengan jasad yang terbujur kaku. Bahwa ada perjalanan panjang yang harus ditempuh dari roh untuk mencapai keabadiannya.

Novel pemenang keempat sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini menghadirkan teks naratif yang memakai sudut pandang orang pertama dari tiga tokoh sekaligus. Keberanian Faisal terletak pada menghidupkan tokoh-tokohnya yang tak hanya berbeda karakter, namun juga berbeda alam. Allu Ralla, di alam nyata. Maria Ralla, roh yang hidup pada sebuah pohon karena meninggal ketika ia masih bayi. Dalam budaya Toraja, bayi yang meninggal merupakan jasad suci yang harus dikuburkan pada sebuah pohon besar yang telah mereka kramatkan. Terakhir yaitu Rante Ralla, yang rohnya masih harus tertahan di dunia meski jasadnya telah terbujur kaku. Ia masih harus bersabar menunggu kendaraan menuju puya yang disediakan oleh keluarganya yang masih hidup melalui sebuah upacara Rambu Solo.

Saya sendiri tidak sedang ingin membahas budaya atau etnografi Toraja secara mendalam yang terdapat dalam novel ini. Justru menariknya novel ini terletak pada intervensi pihak luar terhadap kebudayaan. Meski yang diangkat bukan pertentangan kelas maupun perburuhan, saya suka menamai novel ini sebagai pengaruh kapitalisasi terhadap budaya.

Saya menggunakan istilah kapitalisasi bukan berarti mau sok-sokan mengaitkannya dengan Marxisme. Namun akar konflik dari novel ini mencirikan bagaimana kapitalisasi telah merambah kebudayaan tradisional. Pada lembar awalpun, kita akan menemukan kerjasama apik antara kapitalisme dengan birokrasi pemerintah. Masyarakat tradisional yang masih naïf terhadap birokrasi, masih menganggap peraturan pemerintah sama sakralnya dengan tuah leluhur.

Keramaian itu bermula beberapa tahun yang lalu. Awal 2010. Mulanya orang-orang dikumpulkan oleh Kepala Desa. Ada penyuluhan tentang sumber daya alam. Semuanya harus datang! Mendengar kata harus, kau tahulah pasti. Bagamana takutnya orang kampung melanggar perintah. (Hlm. 6)

Yang saya namai kapitalis dalam novel ini ialah sebuah perusahaan tambang yang terdapat di dekat tanah adat Toraja. Pak Soso dan Mr. Beth merupakan dua tokoh di balik perusahaan tambang tersebut. Sebenarnya tidak akan jadi masalah apabila perusahaan tambang tersebut tidak menginginkan tanah adat Toraja untuk dimiliki mereka guna kelancaran arus menuju perusahaan.

Maka corak-corak untuk mendapatkan keinginannya juga yang disebut bibit kapitalis. Kapitalis akan melakukan banyak cara demi mencapai tujuannya. Apalagi bila bukan tentang keuntungan lebih besar.

Langkah awal mereka adalah meracuni Rante Ralla, selaku pemuka adat yang bersikeras mempertahankan tanah adat. Namun kematian Rante Ralla tak lantas mempermudah mereka karena masih ada Allu Ralla, anak tertuanya yang seorang mahasiswa dengan idealisme tinggi. Hanya saja Allu Ralla tak benar-benar sepaham dengan adat. Hal itu yang membuatnya kerap bersitegang dengan Tina Ralla, sang ibu.

Kematian di Tanah Toraja tidak ada yang murah. Ditambah posisi Rante Ralla yang pemuka adat dan demi gengsi keluarga. Sebelum dikuburkan, harus diadakan upacara Rambu Solo yang dibutuhkan dana besar. Membeli berekor-ekor kerbau belang yang harganya selangit, kerbau tanduk, hingga ratusan babi.

Nyatanya keteguhan Allu Ralla tak lantas goyah. Ia masih bersikukuh membawa jasad Ambenya (bapak) ke Makassar dan dimakamkan secara biasa. Langkah itu tertahan karena sang Indo (ibu) masih menginginkan terselenggaranya rambu solo.

Satu hal yang kemudian bagi saya mengurangi kreativitas dalam novel ini. Yaitu penceritaan prihal kisah cinta Allu Ralla dengan Malena, anak kepala Desa. Kisahnya tak lebih baik dari roman picisan yang kerap kita temui di film-film bioskop atau bahkan di ftv. Malena dijadikan alat oleh kapitalis yang berduet dengan birokrasi tersebut guna memperdaya Allu Ralla. Bisa ditebak, jatuh cinta kemudian membuat Allu Ralla melepas tanah adat kepada perusahaan tambang.

Sifat kapitalis yang individualis terlihat kala penyelenggaraan rambu solo harus diwarnai dengan kedatangan alat berat yang hendak menggusur tanah adat yang dijual Allu Ralla. Semula kapitalis itu akan datang dengan wajah domba, namun bila telah mendapatkan apa yang diinginkannya, serigalapun kalah garangnya. Kapitalis tak kenal lagi mana teman dan lawan, selama mereka menghalangi langkahnya menuju sebuah keuntungan besar, ia tak ragu untuk menyingkirkan.

Jauh dari Toraja, kita dapat merefleksikan perkawinan kapitalis dengan birokrasi yang tidak bicara selain prihal pundi-pundi uang di ibu kota. Salah satu contohnya tentang Kampung Apung, Jakarta Utara misalnya3. Bagaimana praktek birokrasi menguntungkan kapitalis dengan mengatasnamakan amdal alias analisis mengenai dampak lingkungan. Dalih ingin membuka ruang hijau atau apapun namanya, justru setelah melakukan penggusuran paksa, berdirilah apartemen mewah yang harganya menyentuh langit. Birokrasi pesta pora dengan uang pajaknya yang kemudian dimanipulasi sebagai modal pembangunan demi rakyat.

Keresahan macam ini yang saya rasa terdapat dalam novel Puya ke puya. Letak perbedaannya dengan kasus di Jakarta ialah tentang bagaimana budaya di dalamnya. Jakarta sendiri telah kehilangan budaya lokalnya sejak lama dan menjelma kota metropolitan. Sedangkan Toraja yang berjarak ribuan kilometer, masih memegang erat budaya leluhur dan patuh pada adat. Namun, hal tersebut bukan merupakan halangan bagi birokrasi berkreativitas mengenai komersialisasi.

Kita juga akan menemukan konflik kecil mengenai komodifikasi budaya dalam upacara rambu solo Rante Ralla. Maraknya isu komodifikasi budaya guna melestarikan budaya tersebut sangat gencar dilakukan oleh pemerintah. Namun niat yang mungkin baik ini menjadi seolah dua mata pisau. Pertama, upaya ini nyatanya lumayan berhasil mengenalkan budaya kepada regenerasi bangsa. Kedua, adanya intervensi keuntungan di dalamnya, yang justru pada prakteknya malah mengurangi esensi dari budaya tersebut.

Pemerintah yang bodoh memang memanfaatkan agenda suatu adat sebagai tontonan turis yang dapat menghasilkan uang. Mereka melupakan esensi dari terselenggaranya agenda adat tersebut sebagaimana leluhur mereka ajarkan. Misalnya dalam rambu solo Rante Ralla. Mereka ingin upacara adat tersebut menarik minat turis untuk berdatangan. Sedangkan mereka sebelumnya tidak pernah melakukan kompromi dengan penyelenggara. Bagi mereka, menyumbang satu kerbau cukup untuk mengukuhkan mereka sebagai partisipator berpengaruh. Nyatanya mereka tidak pernah mau tahu untuk apa upacara tersebut dilakukan.

Sebagai kesimpulan, kapitalis merupakan virus yang menyebar ke segala arah. Bahkan alam di luar sana masih harus menjadi korban. Birokrasi dalam hal ini pemerintah yang menganut kapitalis selalu mengedepankan bagaimana suatu budaya itu menjadi sebuah penghasilan yang dinilai dengan material. Itulah rumusan komodifikasi budaya yang dicoba ditanam oleh mereka.

 

Sumber Rujukan:

1 Kuntowijoyo. Budaya dan Masyarakat Edisi Paripurna. (Tara Wacana: 2006), hlm. 171

2Ignas Kleden. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. (Freedom Institute: 2004), hlm. 62

3Virdika Rizky Utama. Atas Nama Pembangunan,Rakyat Kecil Diabaikan. Tulisan dipublikasikan dalam Majalah Didaktika Edisi 46.

Advertisements

2 thoughts on “PERKAWINAN KAPITALIS DAN BIROKRASI

  1. Sangat menarik. Karya sastra itu ketika dilepaskan (dipublikasikan), tentu akan menjadi sebuah kajian bagi pembacanaya. Ketika pengkaji atau peneliti hendak mengkaji ya silahkan dengan apapun itu, tidak perlu merasa sok-sokan seperti yang dinyatakan peneliti. Karena itu akan mengganggu kenyamanan pembaca. Sejauh penelitian itu berdasar, silahkan anda ungkapkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s