Oleh: Zahra Salsabila

2125140269

 

Kemiskinan memang selalu menjadi hal yang paling disorot dalam negeri ini, karena kemiskinan dapat ditemukan dengan mudah dimana-mana, lengkap dengan penderitaan yang selalu mewarnai kehidupan orang-orang miskin. Orang-orang miskin selalu ditindas, tak dihargai, dan bahkan dilecehkan oleh orang-orang yang lebih berkuasa, mempunyai wewenang, dan tentu saja harta yang berlimpah.

 

Hal tersebut lah yang mendasari Ahmad Tohari, salah satu sastrawan Indonesia yang tak diragukan lagi kemampuannya, untuk terus mengangkat isu tentang penderitaan orang-orang miskin dalam karya-karyanya. Sebut saja Di Kaki Bukit Cibalak, Kubah, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Senyum Karyamin, dan masih banyak lagi. Walaupun ia tak hanya mengangkat isu kemiskinan belaka, melainkan kadang dibumbui dengan pandangan politiknya pula, namun para tokoh dan latar yang diangkat oleh Ahmad Tohari dalam karya-karyanya pasti tentang orang-orang miskin yang tinggal di pedesaan atau pemukiman kumuh. Ahmad Tohari sendiri pernah menegaskan di suatu kesempatan bahwa ia tak ingin terlibat dalam dunia politik, namun bersimpati kepada para korban yang ditindas kekuasaan. Hati nuraninya terusik saat ia menyaksikan sendiri pembunuhan keji yang dilakukan terhadap seorang anak muda karena diduga sebagai anggota PKI, di kampung halamannya.

Oleh karena itulah, dalam novel Kubah dan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, sang tokoh utama digambarkan sebagai orang-orang yang berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang pada masa itu harus ditangkap, diasingkan, disiksa, dan bahkan dibunuh.

Novel Kubah sendiri menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Karman yang sewaktu kecil hidupnya serba susah, sehingga ia hanya dapat menamatkan sekolah sampai jenjang SMP. Setelah beranjak dewasa, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan sangat berpotensi dalam bidang politik. Meskipun demikian, ia memiliki sifat mudah terpengaruh oleh orang lain. Hal tersebut menjadikannya terjerumus kejalan yang salah. Ia menjadi salah satu anggota PKI. Setelah kejadian G30S/PKI, dimana para anggota PKI menculik dan membunuh perwira-perwira tinggi negara, Indonesia mengadakan pembersihan paham komunis. Siapa pun yang bergabung dan berhubungan dengan PKI ditangkap dan dijebloskan ke penjara, termasuk Karman. Di dalam penjara tersebut Karman benar-benar mengakui kalau selama ini dia telah masuk ke dalam faham yang salah. Ia mulai mengerti bahwa ajaran PKI itu salah.

Tidak begitu berbeda dengan Srintil, tokoh utama dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, yang ditahan karena dianggap sebagai salah satu anggota PKI karena ia meronggeng pada suatu acara politik yang diadakan oleh PKI, padahal ia hanya seorang ronggeng dari desa yang amat miskin dan tak mengerti apa-apa.

Selain penderitaan rakyat miskin karena dituduh sebagai PKI, Ahmad Tohari juga gemar menulis tentang masalah yang dihadapi orang-orang miskin dalam kehidupannya sehari-hari. Masalah yang bagi sebagian orang dianggap sebagai masalah kecil, namun orang-orang miskin menganggap masalah-masalah tersebut sebagai masalah yang amat besar. Seperti dalam cerita pendek berjudul Senyum Karyamin yang menceritakan tentang sosok Karyamin, orang miskin yang dikejar-kejar hutang dan bahkan untuk makan pun sulit karena kemiskinan yang melandanya, sampai akhirnya ia meninggal dalam keadaan kelaparan.

Ada juga cerita pendek berjudul Sayur Bleketupuk, yang diambil dari buku kumpulan cerita pendek yang berjudul Mata yang Enak Dipandang, menceritakan tentang keluarga miskin Kang Dalbun dan Parsih beserta dua anaknya yang bernama Darto dan Darti. Dua anak tersebut sangat senang karena dijanjikan akan menaiki jaran undar setelah Kang Dalbun pulang dari pekerjaan kuli-nya. Namun, karena Kang Dalbun tak kunjung datang, Parsih akhirnya memasak daun bleketupuk yang menyebabkan kedua anak mereka terlelap sangat nyenyak, sehingga mereka tidak akan bertanya lagi tentang jaran undar.

Mengapa Ahmad Tohari sangat mahir menceritakan kehidupan orang miskin? Bahkan tindak-tanduknya, perilakunya, cara berbicaranya, dan pekerjaan sehari-harinya pun mampu digambarkan dengan baik oleh Ahmad Tohari dalam setiap karyanya. Itu semua karena ia sesosok orang yang amat mencintai desanya, desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, yang jauh dari hingar-bingar dan dinamika masyarakat urban. Di saat masyarakat pedesaan berbondong-bondong meninggalkan desanya menuju ibukota, ia tetap betah tinggal di desa dengan beternak unggas. Hal itulah yang membuat Ahmad Tohari sangat mengenal kehidupan orang-orang miskin sehingga ia mahir melukiskannya dengan simpati dan empati sehingga kisah-kisah tersebut memperkaya batin pembaca.

Sejak remaja, pria berperawakan kecil yang lahir di Banyumas pada 13 Juni 1948 ini memang hobi menulis catatan harian. Namun ia tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penulis. Baginya menulis hanya sekadar hobi. Ia pun tak pernah berpikir bahwa hobi menulisnya kelak akan membawanya menjadi seorang penulis ternama seperti saat ini. Awalnya, pria yang menamatkan pendidikan sekolah lanjutan atas dari SMAN II Purwokerto ini ingin menjadi seorang dokter atau menjadi ekonom. Pada tahun 1967-1970, ia tercatat sebagai mahasiswa pada Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta, namun karena keterbatasan biaya, ia akhirnya berhenti. Kemudian pada tahun 1974-1975 ia juga tercatat sebagai mahasiswa pada Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto dan pada tahun 1975-1976 sebagai mahasiswa di Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman, namun karena keterbatasan biaya, lagi-lagi ia tak dapat menyelesaikan pendidikannya. Karena hambatan itulah, akhirnya ia mengasah bakat menulis.

Meski ia telah menjadi salah satu sastrawan yang terkenal di negeri ini, ia tetap menjadi seorang yang rendah hati dan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, sehingga ia selalu muak ketika melihat sebuah pembangunan yang hanya menguntungkan segelintir orang saja di negeri ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s