Oleh: Ulya Yurifta

2125143340

 “Sepanjang hidup, saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi, atau kerbau. Berbulu serigala, landak, atau harimau. Dan berkepala ular, banteng, atau keledai.” Begitu awal dari cerpen Mereka Bilang Saya Monyet karya Djenar Maesa Ayu yang sering dipanggil Nay ini di halaman pertama dalam cerpennya. Dalam kesempatan ini, saya akan mempapari akan pembahasan yang saya sudah tulis di judul. Kali ini, saya akan membahas ideologi pengarang yang membuat cerpen Mereka Bilang Saya Monyet ini dan mengapa seorang Nay dapat membuat sebuah cerpen Mereka Bilang Saya Monyet dengan beberapa nama yang diganti dengan nama binatang. Di awal ini saya akan mengulas sedikit akan sejarah dan pengertian ideologi.

 

Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat, ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya. Sosiologi sastra adalah karya sastra para kriktikus dan sejahrawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang di pengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat yang berasal, idiologi politik dan sosialnya, kondisi ekonomi serta khalayak yang ditujunya.

Menurut pendekatan sosiologi sastra, sebuah karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. Maka dari itu, pendekatan sosiologi sastra berujung ke aspek dokumenter sastra.

Masih hangat dalam pikiran kita begitu terdengar orang berkata tentang pengarang wanita. Bayangan tentang karya-karya Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, dan Oka Rusmini pun seakan tak mau pergi. Mereka Bilang Saya Monyet, Supernova, jendela-jendela dan Tarian Bumi telah menghipnotis pikiran pembaca, alhasil saat ini semakin banyak pengarang wanita yang muncul dengan karya-karyanya yang fantastis meski adapula karya yang biasa-biasa saja. Kali ini, ideologinya pengarang yang sudah tidak asing bagi kalangan masyarakat pencinta sastra yaitu, Djenar Maesa Ayu dalam cerpen Mereka Bilang Saya Monyet. Dalam bahasan ini, saya mengkaji dengan menggunakan sosiologi sastra yang mengarah ke ideologi pengarangnya. Pada penjelasan ini akan saya jelaskan profil akan Nay. Djenar Maesa Ayu, kelahiran Jakarta 14 Januari 1973 ini adalah anak tunggal dari dari sutradara kondang Syuman Djaja dan artis terkenal Tuti Kirana. Ia ingin disebut sebagai ibu rumah tangga, yang memiliki dua orang anak yaitu Banyu Bening dan Btari Maharani. Djenar memulai masuk didunia sastra dengan ajaran guru besarnya yaitu Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, dan Sutardji Calzoum Bachri. Karya-karya Djenar banyak mendapat kritik dan disela itu juga mendapatkan pujian karena kontroversi. Namun, hal itu tidak membuat ia goyah akan kreativitasnya. Ia tetap menulis apa yang ingin diekspresikannya. Salah satu ciri karyanya adalah temanya dunia perempuan dan seksualitas. Karya pertamanya adalah cerpen “Lintah” (2002) yang bertema feminisme dan dimuat di Kompas. Walaupun karyanya banyak mendapat kritik, tetap saja karyanya yang terutama cerpen masuk ke dalam Kompas, The Jakarta Post, Republika, Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, dan  Lampung Post. Setelah membuat cerpen “Lintah”, Djenar membuat buku kumpulan cerpen pertamanya yaitu Mereka Bilang Saya Monyet pada tahun 2004, dan mendapatkan penghargaan sepuluh buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003. Saat itu bukunya diterbitkan kedalam bahasa inggris.

Dalam ideologi pengarang menurut saya ini, Karya Djenar yang terbit selalu disertai kontroversi, pujian, dan kritikan pedas. Namun ia tetap berani dalam mengekspresikan tulisannya, dan ada beberapa penerbit yang mau menerbitkannya, dan banyak dipublish oleh beberapa media seperti Kompas dll. Djenar berpendapat bahwa setiap pembaca pasti membutuhkan diskusi tentang hal-hal yang selama ini selalu dianggap tabu. Disamping ia membuat cerita-cerita yang banyak digunjing orang, ada orang yang terbuka membebaskan ia untuk kritis, berani bicara dalam hal apapun, termasuk seks, yaitu kedua orang tuanya. Bilamana dalam karya-karyanya ia mengusung persoalan seks, ini terjadi karena dalam dirinya seks bukan sesuatu yang “mewah”. Bagi Nay, naluri seksual baginya adalah sesuatu yang amat alamiah dan perlu. Ditilik secara medis pun, diakui bahwa seks dibutuhkan oleh metabolisme tubuh. Baginya, pemahaman seks bebas bukanlah sekadar seks di luar nikah.

Dengan mengaitkan ideologi Djenar kedalam cerpen Mereka Bilang Saya Monyet ini, ada maksud ketersendirian mengapa Djenar memberi nama binatang dalam cerpen Mereka Bilang Saya Monyet (MBSM)  ini, dalam kutipan saya sebutkan;

“Saya tahu persis siapa dirinya. Saya tahu persis Si Kepala Anjing berhubungan dengan banyak laki-laki padahal ia sudah bersuami. Saya tahu persis Si Kepala Anjing sering mengendus-endus kemaluan Si Kepala Srigala. Bahkan Si Kepala Anjing juga pernah mengendus-endus kemaluan saya walaupun kami berkelamin sama. Tapi tidak di depan umum”

Dalam kutipan yang saya paparkan, maksud dari nama Si Kepala Anjing itu adalah seorang wanita yang sering berhubungan dengan banyak lelaki, padahal status wanita itu sudah mempunyai suami, bahkan, ia tertarik pula dengan Monyet yang sama-sama wanita seperti dirinya.

“Mata saya bertubrukan dengan mata Si Kepala Buaya yang berekor kalajengking itu. Perempuan berkepala ularnya masih berasyik masyuk dengan laki-laki berkepala buaya lain. Mungkin laki-laki itu gigolo, pikir saya. Mana mungkin laki-laki sejati rela menyerahkan kekasihnya ke dalam pelukan laki-laki lain?”

Yang dimaksudkan Si Kepala Buaya, berekor kalajengking itu dalah seorang pria yang bermata keranjang.

Jadi, dalam cerpen Mereka Bilang Saya Monyet ini, ada maksud tertentunya yaitu suatu keberanian akan kehidupan dunia politik, pejabat, penguasa, pengusaha dengan tokoh yang disamarkan berupa sekelompok manusia berwajah binatang yang dimaksudkan menyindir tingkah laku manusia yang berhati binatang alias amoral. Dalam cerpen ini, Nay yang selalu mengikuti Ayahnya ketika sedang syuting itu adalah mengupas unsur moral, sosial dan politik.

Sama halnya akan cerpen Lintah, yang ada didalam buku kumpulan cerpen Mereka Bilang Saya Monyet. Dunia anak-anak adalah dunia yang kaya dengan penuh imajinasi. Maha, tokoh dalam cerpen Lintah adalah wajar dalam menghadapi penindasan dari ibunya dan sang pacar sang ibu, Maha dalam cerpen “Lintah” langsung melebih-lebihkan ikhwal, “Ibu saya memelihara seekor lintah“ dan seterusnya ia mendongeng tentang kecintaan sang ibu kepada lintah lebih dari pada diri sang anak, tentang lintah yang bisa membesar menjadi ular atau membelah dirinya menjadi banyak ular, tentang hubungan intim antara lintah itu dengan ibunya, tentang lintah yang itu menggerayangi tubuhnya diam-diam dan memperkosanya. Dan bahkan akhirnya lebih dari itu, sang ibu mengandung karena lintah dan berniat mengawininya hewan tersebut.

Dalam cerpen  “Lintah” imajinasi berperan sebagai  pembesaran terhadap realitas. Dengan pembesaran ini sang anak mengharapkan simpati dari para pendengar kisah, yang mungkin akan membebaskannya dari realitas yang pedih. Maka wajar jika penggambarannya (imajinasi) “Lintah” mendapatkan pemebesaran (Hiperbola) dan cenderung karikatural.

Berdasarkan uraian di atas tentang cerpen “Lintah” maka dapat disimpulkan bahwa dalam membuat cerpen, Nay sangat memperhatikan nilai estetisnya sehingga banyak ditemukan gaya bahasa dan bahasa kiasan. Walaupun gaya bahasa yang digunakan Nay  terkesan vulgar dan sedikit berani. Ini yang membedakan Nay dengan penulis yang lain. Karena Nay sendiri memberikan pemahaman mendalam kepada pembaca. Makna tersebut memberikan gambaran terhadap pembaca mengenai kehidupan yang dialami oleh tokoh-tokohnya yang dibentuk dari imajinasi pengarang yang terkadang mendapatkan pembesaran atau hiperbolik dengan mengkaitkannya pada realitas atau kenyataan hidup yang ada. Pada film Mereka Bilang Saya Monyet adalah hasil adaptasi dari dua cerpen “Lintah” dan “Melukis Jendela” karya Djenar Maesa Ayu yang terdapat dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang Saya Monyet. Film dan cerpen merupakan dua jenis karya yang berbeda. Cerpen adalah rangkaian peristiwa yang dituangkan melalui tulisan sedangkan film merupakan medium audio-visual sehingga hal yang penting dalam film adalah gerak gambar

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s