Oleh: Nicko Pratama

Konsep Tuhan yang seperti apa yang kalian tanamkan sekarang ini? Tuhan yang berada pada zaman post-modernisme. Tuhan yang masih hidup-kah? Atau-kah Tuhan yang serasa sudah kita kubur-kan dalam-dalam dan masih teringat betul wangi tanah akan kuburannya.

Inilah keresahan pada zaman post-mo. Apakah Tuhan itu benar-benar masih dipercayai tentang adi kodratinya. Konsep ini sama seperti Nietzsche yang dahulu sempat membuat tulisan dengan judul Orang Gila. Terdapat pemikiran nihilisme Nietzsche yang berarti tentang sebuah renungan kebudayaan, khususnya kebudayaan Jakarta pada masa sekarang ini. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam arti sempit matinya Tuhan menunjuk pada runtuhnya jaminan absolut, yaitu Tuhan, yang merupakan sumber pemaknaan dunia dan hidup manusia.

Manusia saat ini berbondong-bondong menutupi diri mereka dari berbagai kengerian eksistensi. Eksistensi yang merupakan bagian dari Tuhan yang kini belum mati. Eksistensi yang merupakan dewa dari segala dewa. Bahkan, pemuja eksistensi rela bertelanjang dada demi mengharap tingkatan yang lebih di dalam diri mereka. Tuhan yang dimaksudkan di sini ialah ilmu pengetahuan, prinsip logika, rasionalitas, serta kemajuan alat-alat canggih saat ini. Tuhan hanyalah suatu model untuk menunjuk setiap bentuk jaminan kepastian untuk hidup dan dunia. Karena itu sekalipun orang membunuh Tuhan, orang-oran lainnya belum tentu bisa menghidupkan Tuhan-Tuhan lainnya. Sekalipun orang menciptakan Tuhan yang baru, konsep Tuhan yang lama jelas lebih berguna dan tidak ditinggalkan begitu saja.

Runtuhnya identitas budaya yang dulu ditanamkan sejak lahir, kini berganti dengan pemujaan-pemujaan eksistensialisme. Yang kini sedang ramai. Manusia seolah didorong oleh hasil-hasil ciptaan hidup yang muncul, untuk mengembangkan eksistensi itu sendiri. Manusia tersungkur oleh rajutannya itu sendiri. Singkatnya, telah terperangkap dalam situasi dekadensi. Kita kadang-kadang memerlukan nilai-nilai baru, namun kadang-kadang pula kita harus melepaskan nilai-nilai yang sudah kita punyai. Orang sudah begitu terbiasa hidup dalam suasana, di mana tujuan harus dipasang, diberikan dan dituntut dari luar oleh suatu kekuasaan adi kodrati.

Saat ini, seorang pengarang yang teramat dikagumi. Seno Gumira, merupakan sebuah ke-aduhaian ilhami ketika mendengar nama-Nya. Buku yang baru diterbitkannya, serta bertemakan tentang kebudayaan, khususnya masyarakat Jakarta. Ya, tentu saja tulisan Seno tidak terlepas dari konsep post-modernisme. Yang menarik dari esai ini ialah Seno benar-benar menceritakan, bagaimana budaya eksistesnsialis yang dianggap Tuhan oleh para Jakartans (Masyarakat Jakarta).

Masyarakat Jakarta seolah dibuat memuja eksistensi. Saat ini hanya teruntuk masyarakat Jakarta yang terkasih, dikarenakan keterbatasan bahan bacaan, dan juga wawasan tentang budaya kota-kota post-mo lainnya. Dan juga, untuk membatasi permasalahan ini, sehingga tidak menyebar luas ke hal-hal lainnya. Kembali lagi, bukan-kah kita sesama masyarakat Jakarta, atau-pun kita yang hanya menumpang hidup di Jakarta seolah merasa buta, gila, bahkan seolah tidak nyawa di dalam diri kita. Sebab saat ini masyarakat seolah tidak mempedulikan apapun, bahkan jika kita lihat di dalam tulisan Seno, masyarakat Jakarta yang mempunyai dunia ke-tiga, yaitu kehidupan di dalam mobil.

Mobil yang menjadi dunia bagi masyarakat Jakarta, tahukah? Jika kita berada di dalam mobil, tidak ada penolakan tentang kengerian eksistensi Jakarta. Manusia dan mobil, melahirkan sebuah konsep Tuhan yang baru. Sebuah konsep, jika orang yang dikatakan ber-konsep, harus-lah dengan mobil cara penjemputannya.

Dan tiba-lah saat di mana kita harus berpikir dan terlepas dengan Tuhan. Tuhan yang menciptakan sebuah eksistensi, di mana kita harus hidup di zaman orang gila saat ini. Dan saat ini kita hidup di mana konsep Tuhan yang sebenernya, harus dikritisi lebih dalam lagi.

 

Advertisements

One thought on “MATINYA TUHAN MASYARAKAT JAKARTA DALAM ESAI KEBUDAYAAN POST-MODERNISME TIADA OJEK DI PARIS KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA.

  1. Tapi, indikator yang tepat untuk memvonis seseorang menjadi masyarakat Jakarta itu apa, ya? Apa harus yang ber-KTP Jakarta? Bagaimana dengan para commuter dari Bogor, Depok, Bekasi yang melipir ke Jakarta? Pun dengan para pendatang dari luar provinsi? Dan, apa dengan menjadi masyarakat Jakarta maka otomatis juga menjadi pemuja eksistensi?

    Salam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s