Oleh: Riska Yuvista

2125142209

Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Sosiologi Sastra

Sur-el: yriska.ry@gmail.com

2 SASTRA INDONESIA SASTRA

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

 

Tulisan ini bertujuan untuk memahami Konflik Batin Tokoh Nila Dalam Cerpen Ada Seseorang Dikepalaku Yang Bukan Aku  Karya Akmal Nasery Basral: Suatu Kajian Sosiologi  Sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini  ialah metode kualitatif.sehingga dapat menunjukan beberapa gejala yang menimbulkan beberapa pertanyaan dan diulas melalui pemaparan, yaitu: 1) Teori      Sosiologi Sastra dalam Cerpen, 2) Pemaparan Cerita 3) Analisis . Ketiga hasil tersebut menjadi sorotan dalam menganalisis psikologi Tokoh Tokoh Utama Dalam Cerpen Ada Seseorang Dikepalaku Yang Bukan Aku  Karya Akmal Nasery Basra

Cerpen merupakan salah satu karya sastra berbentuk fiksi yang pada umumnya menarik perhatian pembaca dalam penyajian cerita. Faktor cerita ini dapat mempengaruhi sikap dan selera orang dalam menanggapi(menulai)  sehingga menimbulkan berbagai presepsi yang berbeda-beda tentang cerita tersebut. Dalam cerpen tercakup unsur peristiwa sebagai sesuatu yang diakukan dan atau ditimpakan kepada tokoh (-tokoh) cerita sebagai pelaku dan penderita berbagai peristiwa yang dikosahkan melalui latar, alur dan sebagainya yang kemudian akan tercakup dalam unsur substansi yang menyediakan sumber  persoalan dan memberikan model (-model) kehidupan sebagaimana  yang terdapat di semesta ini yang ditampilkan dalam cerita (Nurgiantoro,2013:144).

 

Pentingnya peranan tokoh yang dalam hal ini yaitu peran tokoh utama yang telah dibahas sebelumnya akan menjadi sorotan utama dalam penelitian ini. Perspektif Konflik batin yang dihadapi Nila dalam cerpen tersebut tadi akan dilihat melalui kacamata Sosiologi Sastra, sebgaimana aspek-aspek Sosial, masyarakat, kehidupan dan keluarga tokoh mempengaruhi perilaku tokoh tersebut yang berimplikasi pada perilaku tokoh yang mengalami tekanan hingga merasakan konflik batin yang amat dalam.

Sebagaimana dijabarkan dalam buku The Social Contruction Of Reality karya Peter Berger dan Thomas Luckman, seorang ahli sosiologi dan ahli sejarah, bahwa kenyataan bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah kenyataan yang telah ditafsirkan sebelumnya, yang dialaminya secara subjektif sebagai duni yang bermakna koheren (1976:31). Kenyataan bukanlah sesuatu yang dapat kita tinjau, amati dan tafsirkan secara indovidual, tanpa praanggapan.

Peralatan yang terkuat dalam pengarahan manusia ialah bahasa, dalam bahasa bertumpuklah ejumlah pengetahuan sosial yang terus menerus menentukan dan menguasai interaksi dengan orang lain. Sebagaimana sastra yang baik yang menciptakan kembali rasa kehidupan, bobotnya dan susunannya. Menciptakan kembali seluruh hidup yang dihayati, kehidupan emosi, kehidupan budi, individu maupun sosial, dunia yang sarat objektif. Hal ini diciptakan bersama-sama secara berjalinan, seperti yang terjadi dalam kehidupan kita sendiri. Sastra baik menciptakan kemedesakan hidup.

 

Dalam penelitian Konflik Batin Tokoh Nila Dalam Cerpen Ada Seseorang Dikepalaku Yang Bukan Aku  Karya Akmal Nasery Basral: menggunakan Suatu Kajian  Sosiologi Sastra, tokoh Nila telah telah memiliki budaya kehidupan yang dipengaruhi oleh  pemikiran keluarganya yang berpandangan bahwa laki-laki selalu berkuasa dibandingkan seorang wanita. Hal tersebu yang membuat Nila, seorang gadis pintar, ia mampu menyelesaikan kuliah dalam 7 semester, akan tetapi ia terjerat dengan omongan laki-laki dan membuatnya tak bisa melakukan hal lain kecuali mengikuti keinginan suaminya. Paradigma tersebut terbawa ke dalam kehidupannya sehingga menghantui pikiran-pikiran Nila.

“Aku selesaikan kuliahku dalam 7 semester mendapatkan beasiswa ke luar negeri, tapi tak pernah berangkat  karena terlanju dijadikan sapi perah di rumah. Aku seharusnya bahagia, dengan suami dan anak yang lucu. Tapi ternyata tidak”.

“Kamu sih masih percaya bahwa tugas perempuan cuma di rumah?”

“Aku tidak keberatan. Ibuku dulu juga di rumah, tapi beliau punya kehidupan meski pendidikannya tidak setinggiku”.

Nila adalah tokoh yang cerdas dan berpendidikan. Ia mampu membuktikan kepada keluarganya bahwa seorang wanita berhak meperoleh pendidikan yang sama dengan seorang laki-laki. Akan tetapi, semua itu berhasil dikalahkan dengan cinta. Semua pencapaian yang ia raih tehambat oleh perasaannya sendiri yang membuanya tidak bisa melawan. Nila menuruti perintah suaminya dan harus mengikuti semua keinginannya. Ia berfikir bahwa dikeluarganya telah diterapkan bahwa seorang wanita itu tempatnya di rumah, sehingga ia mengikuti ibunya. Namun, kondisi yang ia hadapi tidak seperti apa yang dibayangkan olehnya dan menjadi beban psikis bagi Nila.

Selain itu, tokoh utama mendapat implus dari dalam pikiran tokoh itu sendiri, ia selalu berhalusinasi dan membayangkan ada orang lain yang mengarahkannya di dalam bertindak, sesosok tokoh cantik nan muda menemaninya dan memutar-mutar isi kepalanya. Sosok dipikirannya berhasi membuatnya bertindak melebihi batas keinginannya. Terkadang ia merasa tepat dalam bertindak, sewaktu-waktu pun tindakan ia berubah 180 derajat menjadi sesuatu yang salah. Ia sulit mengendalikan dirinya, ia tak bisa menentukan arah pikirannya. Ia menuruti kehendak sosok imajinasinya, hingga membuatnya menyiksa tokoh Surti yang begit dekat dengannya dan dihantui rasa bersalah akan pembunuhan terhadap anaknya.

Tiba-tiba ratusan jarum yang biasa menghujani kepalaku datang lagi. kali ini bersama gadis cantik dengan kulit seputih cahaya yang tersenyum di ujung lorong, melambai-lambaikan tangannya. “Anakmu sudaj terbebas dari penderitaan dunia. Suamimu sudah menemui hukuman yang pantas atas kesombongannya. Kamu perempuan hebat, Nila. Kamu bis menentukan jalan hidupmu sendiri.”        

Berdasarkan analisis Konflik Batin Tokoh Nila Dalam Cerpen Ada Seseorang Dikepalaku Yang Bukan Aku  Karya Akmal Nasery Basral: menggunakan Suatu Kajian Sosiologi Sastra dapat disimpulkan bahwa tokoh mengalami konflik batan yang luar biasa, konfik batin tersebut berasal dari kondisi keluarganya, ibu, ayah, suami, lingkungan rumah bahkan ketika ia di dalam penjara. Kondisi tersebut berdampak pada perilaku tokoh yang kerap kali merasakan pusing dan seolah-olah ada tokh lain yang menguasai seisi kepalanya, dan sesungguhnya tokoh dalam kepalanya tdak lain bersumber dari kecemasa, kekhwatiran dan ketakutannya sendiri terhadap perilaku dan keputusan yang telah ia ambil.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s