Oleh: Nopriandi Saputra

(2125143345)

Kelas:  2 SI Sastra

            Cerpen yang berasal dari kumpulan cerpen kompas tahun 2013 ini mungkin cerpen yang terunik karena dari judulnya saja sudah unik yaitu “Amin” . Walaupun banyak cerpen yang lebih menarik lagi di kumpulan cerpen kompas tahun 2013. Cerpen ini menceritakan tentang laki-laki yang berusia setengah baya, berperawakan biasa, berkulit biasa, berwajah biasa, berambut biasa, berbaju dan bercelana biasa, mengenakan sepatu yang juga biasa-biasa saja yang berada di depan Istana Merdeka, laki-laki itu selalu mengucapkan amin pada siapapun dan kapanpun. Laki-laki itu sedang berada di jalan trotoar, hadapannya tertuju ke pintu Istana Merdeka. Semua orang yang bertanya kepada ia dijawabnya dengan jawaban amin. Seperti pada kutipan berikut:

 “Salah satu di tentara mereka membawa tongkat komando, mendekati laki-laki yang duduk bersila itu, lalu bertanya: “Anda ini siapa dan maunya apa?” Dijawab: “Amin”. “O, jadi nama saudara Amin?” Dijawab: “Amin”. “Saudara Amin, Saudara telah melanggar Perda Nomor 8 tentang Ketertiban Umum dan juga Pasal 6 UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Apakah Saudara bisa mendengar saya?” Dijawab: Amin.”

 

“Massa itu datang dari Sentiong, Salemba, Kramat, Kwitang, Tanah Abang, ada yang berkaus merah, ada yang berbaju kuning, ada yang berkolor hijau, mereka mengacung-acungkan tangan sambil berteriak-teriak: “Amin, Amin, Amin…!. Rombongan berkaus warna-warni itu mendekat, salah seorang di antara mereka naik ke pundak dua orang temannya, lalu dengan megaphone di tangan ia berorasi: “Saudara-saudara semua, di depan kita ada ‘satrio piningit’. Lihatlah, ia sakti, matanya terarah lurus ke pintu Istana Merdeka, ialah Ratu Adil yang akan memimpin negeri ini.” Laki-laki itu menjawab: Amin.”

Dilihat dari judul cerpen ini yaitu “Amin”, 1) Tema yang terkandung didalam cerpen ini ialah tentang “Kemerdekaan yang belum sampai”. 2) Tokoh di cerpen ini hanya terdapat satu orang yaitu seorang laki-laki berusia setengah baya, tokoh yang lain hanya berupa figuran. 3) Alur yang digunakan dalam cerpen ini ialah alur maju dikarenakan tidak adanya flashback didalam cerita. 4) Latar tempat di cerpen ini berada di depan Istana Merdeka. 5) Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam cerpen ini ialah orang ketiga serba tahu.

Saya akan menganalisis cerpen ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Abrams mengatakan sosiologi sastra dikenakan pada tulisan-tulisan para kritikus dan ahli sejarah sastra yang utamanya ditunjukan pada cara-cara seseorang pengarang dipengaruhi oleh status kelasnya, ideologi masyarakat, keadaan-keadaan ekonomi yang berhubungan dengan pekerjaannya, dan jenis pembaca yang dituju.

Sastra dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya.

Tokoh laki-laki ini adalah perumpamaan untuk masyarakat kita yang hanya bisa melihat para petinggi di negeri ini melakukan hal yang sewenang-wenang tanpa melihat kedudukan masyarakat kelas bawah. Banyak petinggi-petinggi di indonesia yang khususnya di Istana Merdeka yang melakukan hal-hal yang membuat masyarakat kita hanya bisa mengucapkan “amin”. Mungkin maksud amin disini adalah masyarakat kita hanya bisa mendoakan yang terbaik kepada negeri ini atas apa yang dilakukan oleh pemerintahan di negeri ini.

Cerpen ini memang memiliki banyak nilai yang tersirat tentang keadaan negeri saat ini yang semuanya di kuasai petinggi-petinggi di negeri ini yang serakah dan hanya mementingkan kepentingan individu tanpa memikirkan keadaan masyarakat. Seperti keadaan  pemerintahan di indonesia saat ini masih banyak yang sangat mencintai dunia dan akhirnya menjadi seorang yang hedonis atau sangat suka bersenang-senang secara berlebihan.

Kita ambil saja contoh dari kasus korupsi. Korupsi di negeri ini bukanlah hal yang tabu lagi melainkan sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan para petinggi dan pejabat negeri ini. Mungkin kita sudah sangat bosan mendengar kasus ini yang selalu “update” dan ada saja kasus yang baru. Menurut saya, koruptor adalah orang yang hedonis, jelas mereka mementingkan kepentingan dan kesenangan dunia. Mereka juga orang-orang yang tidak bisa mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Jika para koruptor ini memang orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, seharusnya ia takut dan mengerti bahwa perbuatannya tersebut pasti akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Sebenarnya tidak hanya kasus korupsi, kasus-kasus kriminal yang prosentasenya juga tidak menurun itu pun juga dapat dijadikan contoh.

Seharusnya kita sebagai rakyat Indonesia lebih baik menjadi masyarakat yang heterogen, masyarakat yang kritis dan pandai menyaring segala hal baru yang masuk ke Indonesia. Yang dapat merubah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik hanyalah masyarakat Indonesia itu sendiri. Janganlah kita hanya mengeluh, bercuap-cuap tanpa aksi, saling menyalahkan, dan pesimis dengan keadaan bangsa Indonesia. Penanaman nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang sesungguhnya sepertinya memang harus lebih dibudidayakan sejak masih kanak-kanak, karena jika mereka sudah dewasa, agak sulit untuk merubah pandangan dan paradigma orang tersebut.

Tokoh laki-laki dalam cerpen amin itu sekali lagi dapat kita tangkap sebagai orang yang benar-benar pasrah dengan keadaan negeri ini ia hanya bisa diam terpaku melihat Istana Merdeka, keadaan pejabat dan petinggi yang ada di negeri ini dan ia tidak bisa berbuat apa-apa walaupun aparat polisi dan tentara memukuli dan menendanginya karena ia hanyalah orang biasa yang cuma menjadi penonton atas kerusakan negeri ini dan mendoakan supaya negeri ini tidak hancur. Dengan mengakatan: “Amin”.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s