Oleh: Ganesa Sangga Buana

(2125140281)

Program Studi Sastra Indonesia

Fakultas Bahasa dan Sastra

Universitas Negeri Jakarta

 

Dwilogi dari novel Saman dan novel larung, yang membawa citra perempuan keluar dari ketabuan yang ada.Larung,seorang laki laki yang diawal novel sedang berangkat untuk membunuh neneknya.Seeorang wanita tua yang sudah seperti zombie tapi nyawanya tak kunjung lepas dari tubuhnya.Banyaknya susuk yang dipakai oleh neneknya membuat tubuh yang tua semakin renta bagai mayat hidup.Larung yang menjadi cucu kesayangan neneknya dan larung yang membenci wanita itu.

Mas bade tindak pundi mawon?”lalu ia seperti mengalihkan pembicaraan.

“Aku arep mateni simbahku.”Aku mau membunuh nenekku.

“Lho,kenapa?”

“Tidak apa-apa.Dia terlalu bawel aja,dan dia sudah waktunya meninggal.”

Setelah itu kami tidak bicara lagi. (Larung , hlm.7-8)

 

Saya ingin mengulas novel Larung ini dalam kajian Feminisme yang Radikal dan kemudian ditinjau dengan Sosiologi Sastra.Dengan penulis yang kita kenal dengan tokoh Feminisme Indonesia,akan lebih menarik bila dihubungkan dengan kajian Sosiologi sastra. Ayu utami yang dikenal dengan tulisan tulisannya yang fulgar dalam hal berbau seks.Seperti halnya Djenar,Ayu Utami mengangkat ketabuan perihal perempuan dimuka umum lewat tulisan- tulisannya . Akan diterangkan sedikit tentang feminisme radikal dan sosiologi sastra disini.

Sastra muncul karena masyarakat menginginkan keterangan kehidupan sosial budayanya. Tepatnya keterangan keberadaan kehidupannya. Sehingga munculah pesan-pesan dalam karya sastra, sebagai bentuk nilai moral yang hendak disampaikan oleh pengarang. Nilai-nilai yang ada berhubungan dengan nilai-nilai yang terdapat pada latar belakang sosial budaya masyarakat ketika pengarang hidup dan menjadi salah seorang anggotanya. Di sisi lain faktor subjektivitas pengarangnya akan menentukan bentuk karya sastra yang akan dihasilkan. Sosiologi dalam sastra merupakan gabungan dan sistem pengetahuan yang berbeda. Sosiologi adalah bidang ilmu yang menjadikan masyarakat sebagai objek materi dan kenyataan sosial sebagai objek formal. Dalam perspektif sosiologi, kenyataan sosial dalam suatu komunitas masyarakat dipahami dalam tiga paradigma utama, yaitu fakta sosial, definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial. Sosiologi sebagai suatu pendekatan terhadap karya sastra yang masih mempertimbangkan karya sastra.Lewat pendekatan sosiologi sastra, keberadaan pengarang dan karyanya sering tak bisa dilepaskan dari lingkungan dan jamannya. Padahal, ada saja pengarang yang tidak terikat oleh perubahan lingkungan, termasuk momentum penting dalam perubahan politik.

Radikal dalam kamus KBBI berarti dasar.Feminisme adalah kajian yang membahas tentang perlawanan kaum perempuan untuk meminta kesetaraan hak dengan kaum lelaki. Fokus dari feminisme Radikal adalah tentang tubuh,seks dan gender . Kaum feminis radikal meneriakkan slogan bahwa “yang pribadi adalah politis”, yang berarti penindasan dalam lingkup privat adalah merupakan penindasan dalam lingkup publik. Mereka ingin menyadarkan perempuan bahwa “perempuan adalah pemilik atas tubuh mereka sendiri”, mereka memiliki hak untuk memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh mereka, termasuk dalam hal kesehatan dan reproduksi. Para feminis radikal juga memberi perhatian khusus pada isu tentang kekerasan laki-laki terhadap perempuan.

Dikaitkan dalam novel Larung karya Ayu Utami ada 4 tokoh perempuan yang menunjukan perlawanan kepada kaum lelaki.4 tokoh ini adalah Laila,Chok , Shakuntala dan Yasmin.Sebenarnya bukan perlawanan dalam artian melawan atau perang dengan kaum lelaki.Hanya mereka menganggap misal hal yang berbau seks itu tidak tabu dan masalah perselingkuhan pun bukan masalah yang besar.Hanya mesti melakukannya seperti air yang mengalir. Ayu utami membawa ke empat tokoh ini pada hal yang sebenarnya masih dianggap tabu di masyarakat.Masalah perselingkuhan suami istri,hubungan intim dengan lawan jenis dan imajinasi-imajinasi liar akan pikiran perempuan.

Tokoh pertama yang dikaji adalah chok.Chok yang memiliki sifat yang jujur tapi Bengal dan liar. Diawali dengan tulisan diary yang ditulis oleh Chok.

  1. Cerita ini berawal dari selangkangan. Selangkangan teman-teman sendiri : Yasmin dan Saman, Laila dan Sihar.

“hahaha.Elu nggak suka,ya,cara gua mengawali diary ini?

“Norak.”

“Ah,Yasmin,dasar lu munafik.Emang kamu piker apa yang bikin berencana ke New  York nengok si Shakuntala?Laila ngebet sama laki orang itu,dan elu mau ngentot sama mantan pendeta itu.

“Ya ampun,Cok.Kasarnya mulutmu!”Kita mau lihat pertunjukan Tala di Lincoln Center.Dan gue punya urusan advokasi dengan Human Rights Watch dan The Free World Forum.”          (Larung ,hlm.87)

Dari kutipan diatas,bisa dilihat sifat dari chok yang liar dan jujur.Dia kalau berbicara apa adanya tapi tuturannya memang kasar.Cok menggambarkan gambaran bahwa apapun yang terjadi pada dirinya,bebas.Cok sering berhubungan intim dengan pacarnya.Dia beranggapan bahwa bila lelaki itu melakukan hal bejad dan hina,lelaku itu malah mendapatkan seperti kebanggaan.Lain halnya dengan perempuan yang melakukan hina,wanita itu akan mendapat pandangan negatif dan dipandang buruk.

Yasmin adalah tokoh yang bisa dibilang lebih sempurna dari ketiga teman lainnya. Tapi sisi negatifnya adalah dia memiliki imajinasi yang liar.

Lihatlah temanku Yasmin Moningka.Wanita sempurna. Cantik, cerdas, kaya, beragama, berpendidikan moral pancasila , setia pada suami.Paling tidak itulah yang dia mau akui tentang dirinya.Yang dia tidak akui :perselingkuhannya dengan Saman.(Larung , hlm.88)

Kutipan diatas adalah diary yang ditulis oleh Chok.Dalam hidupnya Yasmin mengakui hanya melakukan perzinahan hanya satu kali. Sebenaranya Yasmin melakukan dua kali perzinahan.Itupun dengan Lukas sebelum akhirnya merekapun menikah.

“Cok,pasti elu girang sekali deh,akhirnya bisa menemukan kelemahan gue.Tapi,sumpah,dalam hidup ini gue berzinah baru sekali.”

“Enak aja!sedikitya elu berzinah dua kali.Pertama dengan Lukas,sebelum kalian kawin.

“Itu nggak bisa ikut dihitung,dong!Gue kan nggak mengkhianati siapapun waktu itu.”

“Ah,bagi Tuhan zinah ya zinah aja.au selingkuh atau nggak,maksiat tetap maksiat.Lagipula,dengan keduanya kamu berzinah berkali-kali.

“Itu bukan maksiat.Gue pake cinta.Nggak kaya elu.Nafsu doang.” (Larung,hlm.88-89).

Tokoh Chok menggambarkan seseorang yang tidak ingin memiliki keluarga dan Yasmin sosok yang meruntuhkan patriarki itu.

            “Kenapa sih elu nggak mau cari suami atau pacar yang rada tetap ? supaya elu dapat seks yang aman dan halal.”Yasmin

            “Aku bosenan kali.Tapi aku nggak mau hipokrit dan berkhianat kayak elu.”Chok

            “Yah,ada dua kemungkinan.Lelaki tidak ada yang tahan punya hubungan panjang dengan elu,atau you’re a maniac.” Yasmin (Larung ,hlm.101)

Dari kutipan diatas yang bertajuk feminisme radikal,apabila disangkutpautkan dengan sosiologi sastra menggambarkan budaya perilaku wanita yang sangat dianggap tabu.Kehidupan sosial yang terbangun oleh pertemanan 4 seorang wanita itu memberikan banyak pandangan kita terhadap mereka.Wanita sebelum menikah akan lebih bebas dengan apapun yang akan dikerjakannya.Tidak ada tanggung jawab yang perlu dikerjakan.Paling sebagai wanita,hanya perlu menjaga keperawanannya dari dunia lelaki.Tapi saat,wanita sudah menikah,ia akan terpaku oleh patriarki yang ada.Sebagai istri yang harus patuh terhadap perintah suami.

Sakuntala pun memiliki pandangan bahwa dia disebut perempuan karena orang tuanya memanggil dia sebagai perempuan. Masa kecil Shakuntala diwarnai dengan berbagai aturan yang diterapkan ayahnya berdasarkan gender. Mitos yang dipegang oleh orang tuanya adalah bahwa pria rasional dan perempuan emosional. Pria dapat memakai otak dan badan mereka untuk mengontrol dunia, sementara wanita tak mampu melakukan itu semua.

            “Gimana laila?”Sakhuntala.

            “Sihar menelpon.Dari Odessa.”Barangkali saya gembira.”Laila

            “Ia mengajak saya kesana .Apa yang harus saya lakukan,Tala?”Yasmin

            Ia menghela napaas dan dudk di sebelah saya,meneyruput dari mugnya. ”Laila, tahukah kamu hubungan seks tidak selalu menyenangkan buat perempuan?”Thala

            Saya diam.Sebab saya masih perawan.

            “Kadang menyakitkan.”Thala

            “Kamu nakut-nakuti saya!”Yasmin

            Ia mengangkat bahu.”Kalau kamu bersama orang yang kamu suka dan kamu tahu cara menikmatinya,seks juga menyenangkan tanpa orang yang kamu suka.”Thala (Larung ,hlm.145-146)

Dalam kajian sosiologi yang didapat dari berbagai kutipan diatas adalah tokoh perempuan tersebut berusaha mematahkan patriarki yang ada.Mereka yang menganggap akan lemah jika mereka berkeluarga.Mereka yang bosenan sehingga memilih untuk tidak berkeluarga dan yang berkeluarga berusaha selingkuh dengan kedok mereka tidak menggunakan nafsu tapi hanya dengan cinta.Dan dalam novel Larung karya Ayu Utami ini merepresentasikan masyarakat atau pola sosial yang terjadi pada saat itu dimana wanita dengan bebasnya melakukan apa yang dia hendaki dengan tubuhnya.Dan kembali lagi seperti dikatakan diata dengan slogan “yang pribadi adalah politis”, yang berarti penindasan dalam lingkup privat adalah merupakan penindasan dalam lingkup publik. Pernyataan dimana ingin menyadarkan perempuan bahwa “perempuan adalah pemilik atas tubuh mereka sendiri”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s