Oleh: Yudha Prasetya

Jika membicarakan tentang sosiologi, tentu akan banyak pakar yang berperan dalam bidang ini. Misal saja Agustu Comte dan Karl Marx. Untuk nama yang terakhir tentu lebih fenomenal karena merupakan nama yang sangat tabu apalagi di Indonesia. Meskipun begitu, keduanya memiliki pengaruh yang besar dalam ilmu sosiologi.

Ada banyak aspek yang bisa dibahas dalam kajian ilmu sosiologi. Di sini saya hanya ingin membahas garis keturunan saja, yaitu yang meyangkut tentang patrilineal, matrilineal, dan bilateral. Di Indonesia ketiga sistem ini digunakan untuk semua daerah. Sebagai informasi saya akan memberitahu pengertian dari keduanya ini. Matrilineal merupakan sistem garis keturunan yang mengikuti garis keturunan milik ibu. Kata ini sebenarnya berasal dari dua kata latin, yaitu mater yang artinya ibu dan linea yang artinya garis. Dengan begitu artinya adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Lalu  yang lainnya adalah patrilineal. Sama dengan matrilinea, patrilineal juga berasal dari dua kata latin yang digabungkan, yaitu pater dan linea. Pater sendiri memiliki arti ayah. Jadi artinya adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah. Yang terakhir ialah bilateral. Sistem ini menarik dua garis keduanya yaitu milik ayah dan ibu.

Alasan saya ingin membahas tentang patrilineal, matrilineal, dan bilateral adalah novel Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono. Ada hal unik di dalamnya di mana  ada tokoh yang memiliki dua suku yang berbeda, yaitu Pinkan. Tak hanya itu, masalah yang lainnya adalah pernikahan beda agama. Hal-hal seperti ini tentu sangat menarik perhatian apalagi di era sekarang, di mana hal itu banyak dilarang. Sapardi seakan ingin menggambarkan masalah sosial yang sebenarnya tabu tapi seakan enteng saat digambarkan. Berikut adalah sinopsis yang dikutip dari website Nasirullah Sitam.

Sosok Sarwono adalah dosen muda yang mengajar Antropolog yang lihai dalam membuat baitan puisi memenuhi sudut surat kabar ini menjalin hubungan dengan Pingkan, Pingkan sendiri merupakan dosen muda di prodi Jepang. Pada dasarnya mereka sudah kenal sejak lama, apalagi Sarwono sendiri adalah teman dari kakak Pingkan, Toar. Mereka pun bingung sampai kapan hubungan ini dapat berlanjut ke pernikahan. Sebuah prosesi yang membutuhkan pemikiran dan tahap lebih dewasa. Sementara pada saat ini, mereka masih asyik dengan status pacaran sekarang.

Ada banyak likuan hidup yang dihadapi Sarwono dengan Pingkan. Terlebih mereka adalah sosok yang berbeda dari kota, budaya, suku, bahkan agama. Sarwono yang dari kecil hidup di Solo, sudah pasti orang Jawa. Sedangkan Pingkan adalah campuran antara Jawa dengan Menado. Ibu Pingkan adalah keturunan Jawa yang lahir di Makassar, sedangkan bapak Pingkan berasal dari Menado. Di sini mereka berdua tidak mempersoalkan apa itu suku beda, atapun keyakin yang berbeda. Ya Sarwono yang sangat taat pada agamanya (Islam), dan sosok Pingkan yang juga meyakini agama (Kristen) sepenuh hati.

Permasalahan tentang agama ini dicuatkan oleh keluarga besar Pingkan yang di Menado. Dengan berbagai cara mereka selalu bertanya pada Pingkan tentang hubungannya dengan Sarwono. Pertanyaan yang terlihat berniat menyudutkan, berharap Pingkan tidak melanjutkan hubungan dengan Sarwono.Harapan keluarga besarnya adalah dia menikahi sosok dosen muda yang pernah kuliah di Jepang dan sekarang mengajar di Menado. Sosok pemuda yang dari dulu juga menaksir Pingkan. Namun dengan berbagai upaya, Pingkan tetap bersikukuh mempertahankan hubungan itu dengan serius. Bahkan, dia berencana kalau menikah akan meninggalkan Menado dan tinggal selamanya di Jakarta. Tempat dia berkerja sebagai dosen.

Hubungan asmara Pingkan dan Sarwono ini tidak hanya mendapatkan aral dari keluarga besar Pingkan saja. Ketika Pingkan berhasil mendapatkan beasiswa ke Jepang, Sarwono merasa kehilangan dan ketakutan. Ketakutannya bukan dari keraguannya atas cinta Pingkan, namun lebih pada kehidupan dan orang yang ada di Jepang. Yah, di Jepang ada sosok sontoloyo Katsuo. Katsuo sendiri adalah dosen Jepang yang pernah kuliah di UI, tempat Sarwono dan Pingkan mengajar sekarang. Dan selama di Indonesia, Katsuo sangat dekat dengan Pingkan.

Tergambar jelas ada dua permasalahan di dalamnya seperti yang telah disebutkan, yaitu masalah suku dan agama. Pertama saya ingin membahas tentang suku dari tokoh Pinkan.

Pinkan merupakan keturunan dari Manado dan Jawa. Meskipun kebanyakan orang Sulawesi menganut sistem bilateral, tetapi Pinkan menolak untuk dianggap sebagai orang Manado. Dia ingin dianggap Jawa oleh orang sekitanya dengan mengikuti garis keturunan ibunya. Tetapi bagi mereka yang orang Jawa seperti Sarwono, masih menganggap bahwa Pinkan adalah orang Manado. Di sini terdapat konflik sosiologis di mana Pinkan ingin mengikuti sistem matrilineal namun masih dianggap Manado yang mana dimaksud mengikuti sistem patrilineal. Padahal untuk daerah Jawa dan Sulawesi mereka kebanyakan menganut sistem bilateral karena pada umumnya mereka menikahi sukunya sendiri. Dengan begitu Pinkan seharusnya masih dianggap menganut sistem matrilineal meskipun ia menolak untuk menjadi suku Manado.

Berlanjut ke masalah agama. Terkadang kita jatuh cinta pada orang yang berbeda agama. Konflik sosiologis ini juga menjadi tema besar dalam novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono ini. Pertama adalah masalah pernikaha Ayah dan Ibunya Pinkan. Ayah Pinkan menganggap bahwa Ibu Pinkan dulu adalah beragama Islam karena mayoritas agama di Jawa adalah Islam. Untuk itu Ayah Pinkan meminta untuk Ibu Pinkan mengikuti agamanya. Hal tersebut merupakan sesuatu yang salah karena sudah memberikan penilaian di awal dan tak terlalu mengenal agama apa saja yang ada di Jawa. Lalu permasalahan intinya adalah Sarwono dengan Pinkan. Sarwono adalah Islam dan Pinkan adalah Kristen. Dalam kedua agama tentu tak boleh untuk menikah lintas agama. Pinkan sempat dapat pertanyaan dari sepupunya apakah ia siap untuk berhijab dan Pinkan lalu membentaknya. Tentu Pinkan sedikit risau dengan masalah agama ini tapi ia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Sarwono dan tak akan menolak jika sudah dilamar. Sekali lagi masalahnya adalah agama. Dengan begitu, maka Pinkan harus terpaksa pindah agama jika ingin menikah dengan Sarwonno.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s