Oleh: Agustiana Fajri

(2125140286)

Sur-el : agustianafazri37@gmail.com

Program Studi Sastra Indonesia

Fakultas Bahasa dan Sastra

Universitas Negeri Jakarta

 

Sosiologi sastra sering kali didefinisikan sebagai salah satu pendekatan  dalam kajian sastra yang memahami dan menilai karya sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan (sosial) (Damono, 1979:1). Sesuai dengan namanya, sebenarnya sosiologi sastra memahami karya sastra melalui perpaduan ilmu sastra dengan ilmu sosiologi (interdisipliner). Oleh karena itu, untuk memahami konsep sosiologi sastra, berikut ini diuraikan hubungan antara sosiologi sebagai sebuah ilmu dan sastra sebagai fenomena masyarakat yang ditelaah secara ilmu sastra dalam hubungannya dengan ilmu sosiologi.

 

Sosiologi sastra, yang memahami fenomena sastra dalam hubungannya dengan aspek sosial, merupakan pendekatan atau cara membaca dan memahami sastra yang bersifat interdisipliner. Oleh karena itu, sebelum menjelaskan hakikat sosiologi sastra, seorang ilmuwan sastra seperti Swingewood dalam The Sociology of Literature (1972) terlebih dulu menjelaskan batasan sosiologi sebagai sebuah ilmu, batasan sastra, baru kemudian menguraikan perbedaan dan persamaan antara sosiologi dengan sastra. Swingewood (1972) menguraikan bahwa sosiologi merupakan studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses sosial. Sosiologi berusaha menjawab pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup. Apa yang diuraikan oleh Swingewood tersebut tidak jauh berbeda dengan definisi mengenai sosiologi yang dikemukakan oleh Soerjono Sukanto (1970), bahwa sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat. Demikian juga yang dikemukakan oleh Pitirim Sorokin (Soerjono Sukanto, 1969:24), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain. Baik sosiologi maupun sastra memiliki objek kajian yang sama, yaitu manusia dalam masyarakat, memahami hubungan-hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan-hubungan tersebut di dalam masyarakat. Bedanya, kalau sosiologi melakukan telaah objektif dan ilmiah tentang manusia dan masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial, mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung, dan bagaimana ia tetap ada; maka sastra menyusup, menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya, melakukan telaah secara subjektif dan personal (Damono,1979). Swingewood (1972) memandang adanya dua corak penyelidikan sosiologi yang mengunakan data sastra. Yang pertama, penyelidikan yang bermuladari lingkungan sosial untuk masuk kepada hubungan sastra dengan faktor di luar sastra yang terbayang dalam karya sastra. Oleh Swingewood, cara seperti ini disebut sociology of literature (sosiologi sastra). Penyelidikan ini melihat faktor-faktor sosial yang menghasilkan karya sastra pada masa dan masyarakat tertentu. Kedua, penyelidikan yang menghubungkan struktur karya sastra kepada genre dan masyarakat tertentu. Cara kedua ini dinamakan literary of sociology (sosiologi sastra). Dalam paradigma studi sastra, sosiologi sastra, terutama sosiologi karya sastra, dianggap sebagai perkembangan dari pendekatan mimetik, yang dikemukakan Plato, yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan. Pandangan tersebut dilatarbelakangi oleh fakta bahwa keberadaan karya sastra tidak dapat terlepas dari realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Seperti yang pernah dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono (1979), salah seorang ilmuwan yang mengembangkan pendekatan sosiologi sastra di Indonesia, bahwa karya sastra tidak jatuh begitu saja dari langit, tetapi selalu ada hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karya sastra pun harus selalu menempatkannya dalam bingkai yang tak terpisahkan dengan berbagai variabel tersebut: pengarang sebagai anggota masyarakat, kondisi sosial budaya, politik, ekonomi yang ikut berperan dalam melahirkan karya sastra, serta pembaca yang akan membaca, menikmati, serta memanfaatkan karya sastra tersebut.

Dalam kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang cerpen NH. Dini yang berjudul Daun-Daun Waru di Samirono. Setelah penulis menjelaskan sedikit tentang bagaimana sosiologi sastra itu, apa saja yang menjadi titik fokus pembahasan dari sosiologi sastra itu pastinya tidak akan jauh dari kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi, dalam hal ini kita akan disuguhkan dengan hal yang sedikit berbeda, bukan lagi membicarakan potret kehidupan yang real dari sebuah kehidupan masyarakat dalam suatu daerah. Disini kita akan mengkaji potret kehidupan masyarakat jawa yang digambarkan NH. Dini dalam karyanya Daun-Daun Waru di Samirono. Karya sastra setelah dipublikasikan tentu akan menjadi sebuah kajian bagi pembacanya. Dalam sosiologi sastra ini ada beberapa yang bisa dijadikan titik fokus penelitian, yaitu sosiologi sastra ditinjau dari pengarangnya, pembacanya, dan karya sastra itu sendiri. Dalam kesempatan kali ini saya akan mengkaji kehidupan sosial masyarakat jawa dalam cerpen Daun-Daun Waru di Samirono.

Sedikit membahas tentang cerpen Daun-Daun Waru di Samirono. Secara garis besar, cerpen Daun-daun Waru di Samirono karya NH. Dini ini menceritakan tentang seorang nenek yang biasa dipanggil dengan Mbah Jum sesuai dengan perubahan bentuk fisiknya yang mulai kelihatan berubah terutama warna rambutnya. Mbah Jum merupakan seorang yang hidup sebatang kara akibat dari korban kecelakaan bis dan juga korban merapi yang menghancurkan seluruh kampung di lereng merapi. Kecelakaan itu pula yang menyebabkan Mbah Jum hilang ingatan dan tidak tahu siapa keluarganya. Kemudian Mbah Jum diajak oleh keluarga Bu Guru untuk tinggal bersamanya.

Seiring berjalannya waktu, Bu Guru pun meninggal dunia dan kini Mbah Jum tinggal bersama cucunya Bu Guru. Tidak ada yang tahu berapa usia Mbah Jum yang sebenarnya, kepala desa setempat juga hanya memberi tanggal dan tahun kelahiran yang dikira-kira saja. Mbah Jum sangat dikenal oleh masyarakat desa sekitar, kecuali orang-orang yang baru pindah pada kampung tersebut. Pekerjaan utama yang dimiliki Mbah Jum adalah mencari daun waru untuk dijual kepada pembuat tempe gembus di kampungnya. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman nasib Mbah Jum sebagai pencari daun waru kini mulai tersisihkan, karena para pembuat tempe tidak lagi menggunak daun waru untuk pembuatan tempenya. Akhirnya Mbah Jum pun mulai kebingungan mencari pengasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Potret kehidupan dalam cerpen ini merupakan hal klasik dalam kehidupan, akan tetapi jika kita kaji ulang kembali dengan membandingan kehidupan tradisional di masa peralihan zaman pada masa itu, tentunya hal tersebut merupakan sebuah kecemasan yang digambarkan pengarang, bahwasannya zaman mulai keras, kepedulian mulai menghilang karena tuntutan zaman yang makin canggih dan modern.. Dalam hal ini zaman mulai masuk menggerus kehidupan tradisional di daerah-daerah. Khusunya daerah jawa, zaman seperti tidak pernah mau tau siapa mereka dengan kehidupan dan penghasilannya. Semua orang dituntut mengusai teknologi untuk kelangsungan hidupnya. Akan tatapi, disamping itu ada nilai-nilai yang mulai menghilang dari kehidupan bermasyarakat. Kecanggihan teknologi mulai mengikis nilai kepedulian jika tidak di kuasi pada tempatnya. Zaman boleh saja berkembang, teknologi boleh saja canggih, akan tetapi pedulian harus tetap di perhatikan, bahwasannya tidak semua kalangan masyarakat bisa megambil keuntungan dalam perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi tersebut. Terutama para orang tua dulu yang sudah kuno akan pengetahuan.

Begitu banyak pesan moral yang ingin disampaikan pengarang dalam cerpennya ini. tidak ada hal yang istimewa dalam kehidupan bermasyarakan selain saling tolong menolong. Peka terhadap kehidupan disekitar merupakan hal yang harus tetap diperhatikan dalam kehidupan bermasyarakat, karena dengan itu ada nilai-nilai yan tetap dilestaraikan yang tentunya mempertahankan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s