Oleh: Yogo Harsaid

ABSTRAK

Era pergerakan (1904-1926) merupakan tonggak kemunculan paham realisme-sosialis di indonesia. Realism-sosialis muncul sebagai aksi perlawanan terhadap kolonialisme dan kapitalisme. Tirto, Mas Marco, dan Semaoen, menjadikan paham ini – meskipun mereka tidak mengenalnya, kecuali Semaorn – sebagai alat perlawanan dalam karya-karya sastranya. Oleh karena itu, karya ketiga tokoh memiliki peran besar dalam arus kemunculan realisme-sosialis.

Kata kunci: realisme-sosialis, Tirto Adhi Soeryo, Mas Marco Kartodikromo, Semaoen

 

PENGANTAR

Istilah muncul setelah terjadinya peristiwa, seperti ilmuwan yang mengungkapkan teori setelah melihat realitas. Begitu pula dengan istilah realisme-sosialis yang sering disangkut-pautkan dengan bidang keilmuan sastra. Kemudian seiring berkembangnya kesusastraan modern, realism-sosialis menjadi salah satu aliran ideologi sastra. Istilah realism-sosialis muncul sekitar awal abad 20. Tepatnya ketika Bapak realism-sosialis Maxim Gorki memimpin Koran Bolsjewik (Hidup Baru) pada tahun 1905. Secara implicit Maxim Gorki memberikan konsep realism-sosialis sebagai berikut:

“…realisme dapat memenuhi tugasnya yang teramat berat bila di dalam proses pembentukan kepribadian menuju sosialisme dari individualism liar, realism itu tidak hanya melukiskan manusia sebagaimana keadaan yang sebenarnya, tetapi  juga bagaimana keadaan yang seharusnya, dan bagaimana pula keadaan di hari esok.” (Hardjana [Dinuth, 1997:303])

Kemudian mari kita tengok karya-karya sastra Indonesia yang muncul sebelum konsep realism sosialis muncul di Uni Sovyet. Sebut saya novel Mas Hvelaar karya Multatuli yang terbit di abad-19, jauh sebelum konsep realism-sosialis hadir. Secara bernas Multatuli menggambarkan bagaimana kolonial menjajah Indonesia. Multatuli dengan berani menggugat kolonialisme yang telah membuat manusia tertindas. Dan memang, dikemudian hari para ahli mengatakan kalau novel Msx Havelaar merupakan representasi kenyataan sosial di abad-19.

Dari paparan tersebut saya bermaksud untuk meninggalkan logika ontologism. Saya tidak ingin terjebak pada pembahasan soal pengkategorian sastra. Apakah karya sastra Multatulis itu dikategorikan realism-sosialis, saya tidak membahasnya. Karena seperti yang sudah saya paparkan di atas. Multatuli berkarya tidak mengekor pada sebuah aliran sastra. Multatuli berkarya sesuai apa yang dia lihat dan apa yang dirasakan. Hal ini juga di anut oleh sastrawan ‘agung’ Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Bila kita melihat karya-karyanya maka kita langsung mengecap Pram sebagai sastrawan realism-sosialis yang dekat dengan ideology komunisme. Namun, Pram sendiri mengaku kalau dirinya tidak paham banyak teori komunisme. Hal ini bisa dilihat dari bukunya yang berjudul Sejarah Modern Indonesia. di situ Pram tidak menunjukkan kelihaiannya dalam menggunakan argumen teoritiknya. Pram justru memperlihatkan ketajaman analisisnya dari studi empiriknya. Bahkan dalam tujuan sosialisme, Pram berbeda dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) – Partai yang kerap dikaitkannya dengan dirinya. Dalam hal ini Pram lebih terlihat satu nafas dengan Multatuli yang anti-komunis. (Hilmar Farid, 2016;23)

Untuk itu kembali saya tegaskan, dalam makalh ini saya tidak bermaksud untuk mengkategorikan karya sastra ini masuk ke kategori aliran sastra yang mana, serta tidak pula menggambarkan realisme-sosialis seperti salah satu tema yang dikehendaki oleh seminar ini. Saya akan lebih membahas bagaimana karya sastra ditampilkan di era pergerakan (1908-1920), serta membongkar kepentingan sebuah karya sastra di era pergerakan.

Setidaknya ada tiga tokoh yang menjadi fokus utama pembahasan. Ketiga tokoh itu ialah Tirto Adhi Soeryo, Mas Marco Kartodikromo, dan Semaun. Menurut hemat saya, ketiga tokoh ini merupakan tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia, termasuk sejarah kesusastraan modern Indonesia. nantinya ketiga tokoh ini akan saya jadikan corong penglihatan bagaimana sastra itu ditampilkan di era pergerakan. Sebelum jauh membahas ketiga tokoh ini, saya akan menjelaskan situasi sosial-politik di era pergerakan. Sebab realitas sangat berpengaruh terhadap kemunculan ketokohan seseorang.

Era pergerakan merupakan lipatan sejarah yang menandai “kemajuan”. Berkaitkelindan dengan politik etis yang diterapkan oleh kolonial terhadap kaum pribumi. Mengenai politik etis, terjadi dialektika argumen. Pendapat pertama menganggap politik etis dijadikan alat oleh kolonial untuk mempertahankan status-quo. Tiga unsur politik etis – irigasi, emigrasi, dan edukasi – dikontrol langsung oleh kolonial. Dalam edukasi, misalnya, kolonial hanya memberi ilmu-ilmu adminstratif, bahasa belanda, serta baca-tulis kepada kaum pribumi. Maka tidak heran bila di zaman itu kaum pribumi banyak bekerja menjadi juru tulis dan pegawai administrasi pemerintah. Selain itu, yang berhak mengenyam edukasi hanyalah kaum priyayi, bangsawan, dan kaum yang selevel. Pendidikan belum bisa dirasakan oleh semua masyarakat terjajah.

Tokoh yang menjadi anti-tesis terhadap politik etis ialah seorang indosianis Douwes Dekker. Dalam vergadeering (pertemuan) di Bandung, Douwes Dekker mengumumkan tujaun terbentuknya Indishe Partij (IP). Tujuan berdirinya IP adalah “pernyataan perang”, yaitu sinar yang terang melawan kegelapan, kebaikan melawan kejahatan, peradaban melawan tirani, budak pembayar pajak kolonial melawan Negara pemungut pajak Belanda. (Van Der Veur, 1969:63)

Tentu hal ini berkebalikan dengan bahasa politik etis. Politik etis menganggap cahaya datang dari peradaban barat, yang kemudian menerangi rakyat pribumi yang dianggap  hidup dalam kegelapan. Seperti yang diperlihatkan etisi Belanda Abendeno ketika memberi judul buku kumpulan surat R.A Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pendapat kedua dari politik etis ialah mereka yang menganggap politik etis berkontribusi memajukan rakyat pribumi. Tjokroaminoto menjadi tokoh yang menganut pendapat ini. Seperti ang diungkapkan dalam pidatonya saat vergadeering di Semarang sebagai berikut:

Ya, itulah kerajaan Belanda, oleh karena itu menurut syarat agama islam juga, kita harus menurut perintahnya kerajaan Belanda, kita mesti menetepi baik-baik dan setia baik-baik dan pengaturan Belanda yang diadakan buat hajat kerajaan Belanda. (Sinar Djawa, 18 Maret 1914)

Dan kitapun tidak menutup mata, politik etis membawa pengaruh besar terhadap kemunculan orang-orang radikal. Dalam hal ini edukasi berperan banyak. Edukasi secaara tidak langsung telah membuka cakrawala cara pandang masyarakat pribumi. Setidaknya dengan dasar kemampuan membaca, menulis, dan berbicara bahasa Belanda, kaum pribumi dengan sendirinya mengekpolrasi kemampuan dasarnya. Dari sinilah muncul orang-orang radikal seperti Tirtho, Mas Marco, dan Semaun. Dan kemunculan orang-orang radikal menjadi semacam boomerang tersendiri bagi bangsa kolonial. Karena orang-orang radikal seperti merekalah yang menjadi orang terdepan dalam menentang kolonialisme.

Penentangan mereka bisa dilihat dari pekerjaan mereka. Tirtoadhisoeryo memimpin media Medan Prijaji, Mas Marco memimpin media Doenia Bergerak, serta Semaun yang memimpin media Sinar Djawa. Terbukti dari tulisan-tulisan yang muncul dari media-media tersebut. Tulisan yang muncul kebanyakan berisi gugatannya terhadap rust en orde (ketertiban dan kenyamanan) kolonial. Media ini tidak hanya dijadikan ruang tulisan jurnalistik, tapi juga sastra.

 

PEMBAHASAN

Tampaknya kesadaran akan hak-hak kemerdekaan sudah mulai muncul di era ini. Meminjam istilah Paulo Freire, ketiga tokoh ini sudah sampai pada ‘kesadaran kritis’. kesadaran yang tidak berhenti sampai pikiran, tapi sudah sampai tahap aksi. Melalui tulisan, mereka menerapkan aksi-aksi menuntut kesamaan hak.

Tirto dengan Nyainya.

Tirtoadhisoeryo lahir di Blora pada tahun 1880. Ayahnya, R.Ng. Hadji Muhammad Chan Tirthodhipuro, seorang pegawai kantor pajak. Ketika masa kanak-kanak, Tirto kerap mengalami pindah-pindah tempat. Ketika neneknya meninggal, dia pindah ke Madiun, ikut saudara sepupunya. Saudara sepupunya adalah seorang bupati di Madiun, namanya R.M.A Brotodiningrat. Di madiun Tirto sekolah, tapi tidak selesai, karena kemudian dia pindah ke Rembang. Di Rembang Tirto ikut bersama kakaknya, R.M. Tirto Adi Koesoema, seorang Jaksa-kepala Rembang. Setamat SD, pada umur 14 tahun ia meneruskan di sekolah dasar STOVIA selama 6 tahun. Selama 6 tahun itu Tirto hanya sampai tingkat empat

Bila menelisik karya-karya fiksi Tirto, kita akan menjumpai cerita tentang kehidupan nyai-nyai. Tjerita Nyai Ratna, Membeli Bini Orang, Seitang-Koening, Nyai Isah, merupakan cerita fiksi tentang para nyai-nyai yang ditulis oleh Tirto.

Nyai adalah wanita pribumi yang menjadi ‘piaraan’ oleh orang Eropa. Nyai mirip selir di kalangan kerajaan yang menjadi piaraan raja pribumi. Letak perbedaan yang paling mencolok ialah anak-anaknya. Bila anak nyai kerap disekolahkan oleh ayahnya, maka anak selir tidak demikian. Minimal anaknya bisa pandai berbahasa Belanda. Tujuannya agar anaknya tidak menjadi bodoh, karena dengan kebodohannya anak tersebut bisa terserap ke dalam budaya pribumi. Bahkan bisa sampai disebut kaum pribumi. Di era itu kebodohan dan pribumi sudah melekat erat. Oleh sebab itu, para nyai dan anaknya termasuk golongan yang tidak mengalam masalah dalam ekonomi. Dalam status sosial pun, para nyai tidak dipandang sebagai kejahatan. Nyai sudah menjadi kenyataan umum. (Pramudya Ananta Toer, 1985,296)

Terlebih di masa Tirto hidup, nyai mengalami pergeseran kultur dari abad-19. Di abad-19 nyai hanya sebatas menjadi pemuas nafsu tuannya. Sementara di abad-20 nyai merambah dunia perbisnisan. Seorang nyai kerap mengurus perusahaan milik tuannya. Dengan kemampuannya dalam mengurus perusahaan sebenarnya nyai sudah mampu hidup mandiri.

Hal ini tidak lepas dari politik terbuka yang diterapkan oleh pemerintah kolonial. Pemerintah kolonial membuka pintu modal asing masuk ke wilayah Hindia-Belanda. Politik terbuka ini dimaksudkan untuk menanggulangi krisis yang menimpa Hindia-Belanda. Karena itu, nyai bisa menjadi simbol atau tonggak dari emansipasi wanita.

Bahkan para nyai lebih memiliki kemerdekaan ketimbang istri-istri sah kaum pribumi. Nyai bisa meinta lepas dari tuannya bila sudah mencapai titik jenuh. Hal ini bertolak-belakang  dengan istri kaum pribumi. Para istri sah kaum pribumi tidak bisa minta lepas kalau bukan suaminya sendiri yang menghendaki.

Terlalu pagi memang menyimpulkan nyai sebagai simbol emasipasi wanita. Namun setidaknya dari cerita-cerita tentang nyai yang diuraikan oleh Tirto menunjukan bagaimana wanita memiliki kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri. Kebebasan inilah yang tidak ditemui pada wanita-wanita pribumi kala itu.

Dan di sisi lain kita pun melihat nyai sebagai simbol kritik terhadap social-ekonomi kala itu. Memilih menjadi nyai merupakan tuntutan ekonomi. Karena dengan menjadi nyai, ekonomi seseorang bisa naik. Dari sini kita bisa melihat bagaimana buruknya kondisi perekonomian yang dialami oleh kaum pribumi, sehingga harus mengekor kepada orang Eropa.

Menjadi sedikit terbongkar mengapa Tirto mengangkat kehidupan nyai dalam cerita-ceritanya. Dengan cerita-ceritanya tersebut Tirto terlihat ingin memperjuangkan dan membela kaum-kaum yang hak-haknya ditindas oleh kolonial.

Mas Marco dengan Satria Sejati-nya

Marco Kartodikromo lahir di Cepu pada 25 Maret 1890. Ada beberapa pendapat berlainan tentang asal-usulnya, tapi yang pasti ia adalah anak seorang priyayi kecil yang bekerja pada pemerintah. Ia bersekolah di Tweede Klasse School di Bojonegoro dan kemudian melanjutkan ke sekolah swasta di Purworejo. Pada usia limabelas tahun ia sudah bekerja sebagai juru tulis di perusahaan kereta api di Semarang sambil belajar bahasa Belanda. Enam tahun kemudian ia pindah ke Bandung dan bergabung dengan Medan Prijaji yang dipimpin oleh Tirto Adhi Soerjo. Di sini ia berjumpa dengan Suwardi Surjaningrat yang kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Selepas dari Medan Prijaji Marco bekerja sebagai jurnalis di suratkabar Sarotomo, medianya Serekat Islam (SI)  (Hilmar Farid, 2012)

Marco adalah salah satu sosok yang tidak ingin berkompromi dengan Belanda. Hal ini bisa dilihat dari kritiknya atas Tjokoraminoto yang percaya pada pihak pemerintah Hindia-Belanda yang mampu memberi perlindungan dan kemajuan kaum bumiputra. Sementara itu dalam artikelnya di Sarotomo yang berjudul “Soerat Terboeka”, Marco menganggap pemerintah sebagai Boeto Hidjo alias Boeto Pengoeng. Masih dalam artikel yang sama, bahkan Marco tak segan menyebut Tjokro sebagai “satria cari enak” dan “satria palsu”, (Sarotomo, 1915:126)

Artikel itu pula yang membawa Marco mendekam di penjara. Bagi Marco masuk penjara adalah jalan yang memang harus ditempuh oleh satria sejati. Pada saat itulah makna penjara berubah. Penjara dilihat sebagai tempat bertapa atau semadi, tempat satria muncul dengan moral yang bertambah kuat. (Takashi Sirashi, 1990:118)

Terbukti, di penjara Marco menghasilkan karya sastra yang adiluhung: syair ‘Sama Rasa Sama Rata”. Frase “Sama Rasa Sama Rata” pada kemudian hari menjadi slogan perjuangan komunis di Indonesia.

Menurut saya hal yang paling penting dari syair ini ialah pandangannya tentang sama rasa sama rata dan peradaban ketimuran. Sedikit sekali orang yang berpandangan bahwa tiap manusia harus sederajat. Bagi Marco, kaum Eropa, bangsawan, priyayi, sama saja. Bahkan diartikel lainnya yang berjudul “Pro-kontra Dr. Rinkes”, Marco mengatakan bahwa semua adalah manusia dan sama. Mulai dari Paduka  Toean Dr. Rinkes – kaum Eropa – sampai kromo memiliki “status orang kecil” dan tidak berpendidikan. (Marco, 1913:7)

Konsepnya tentang kesamaan rasa membawa kita menuju pemikiran Marxis tentang sosialisme, di mana tidak ada penindas dan tertindas. Semua manusia berposisi sama. Inilah mengapa Marx menentang sistem feodalisme, kolonialisme, imperialism, dan kapitalisme. Sebab, dalam sistem-sistem tersebut masih terdapat masyarakat yang mengalami penindasan.

Kemudian, masih dalam syair yang sama, Marco sepakat dengan gagasan Douwes Dekker yang menyebut peradaban Barat sebagai peradaban yang penuh kegelapan. Oleh sebab itu Marco berpesan, “Pertjajalah soedara-soedara, menoedjoe kearah Timoer sadja, disitoe betoel tempatnja tjahaja, jang bisa menerangi doenia.”

Kemudian di novelnya yang berjudul Mata Gelap kita akan menemukan sosok Marco yang memiliki cara pandang baru dalam kesusastraan. Di sini Ia memang tidak membuat cerita tentang pahlawan atau teladan dalam masyarakat, tapi justru mengangkat kehidupan sosial yang nyata secara verbal ke dunia sastra yang justru mengingkari kenyataan (munafik). Ia bercerita tentang seorang nyai yang memilih berpisah dari orang Eropa yang menjadi majikannya untuk kemudian berhubungan dengan seorang pemuda pribumi. Alurnya sangat sederhana tapi penuh dengan kejadian yang tidak dibicarakan dalam kesoesastraan. (Hilmar Farid, 2012)

Semaoen dengan Marxismenya

Semaoen muncul sebagai bumiputra pertama yang menjadi propagandis serikat buruh. Lahir pada 1899 di Mojokerto sebagai anak buruh kereta api, Semaoen bukanlah keturunan priyayi, namun karena dibesarkan pada zaman etis, ia turut menikmati pendidikan dasar gaya barat. Ia lulus dari SSekolah Bumiputra Angka Satu dan bergabung dengan SS sebagai juru tulis pada 1912 di usia tiga belas tahun. Tahun berikutnya, ia bergabung dengan SI afdelling Surabaya. Kemudia ia bertemu dengan kaum Marxis Sneevliet. Dari sneevlit ia belajar membaca, menulis, dan berbicara bahasa Belanda. (Takashi Siraishi, 1990:134)

Semaoen kerap memimpin dan mengorganisir kaum buruh untuk melakukan aksi-aksi pemogokan. Melihat kedekatannya dengan buruh, tentu kita melihat gema Marxis di sana. Dan memang, Semaoen adalah orang Bumiputra yang mempelajari Marxisme. Terlebih bila kita membaca karya sastranya yang berjudul Hikayat Kadiroen.

Hikayat Kadiroen menceritakan seorang priyayi Marxis yang sangat peduli kepada kepada rakyatnya. Priyayi yang bernama Kadiroen ini pada akhirnya bergerak bersama rakyat untuk melepaskan belenggu kemiskinan. Dalam pergerakannya, Kadiroen menerima paham Marxis yang membiarkan kapitalisasi merasuk ke wilayah Jawa. Bagi marxisme, kapitalisasi merupakan sistem yang membuat rakyat miskin. .

Antara latar belakang hidupnya dengan karya sastranya, terjadi keterkaitan. Semaoen yang berkawan dengan kaum komunis, mengaplikasikan paham komunismenya ke dalam karya sastranya. Prinsip pokok dalam kerangka berpikir Marxis, corak dan isi karya sastra ditentukan oleh struktur ekonomi yang melatarbelakangi dan ideologinya. (Sophan Ajie, 2013:256)

Namun bagi George Lukacs, penganut neo-Marxis, karya sastra tidak berarti semata-mata merepresentasikan keadaan sosial-ekonomi atau ideologi, dalam kenyataannya karya sastra juga bisa mengkritik ideologi dan kondisi sosial-ekonomi. Karya-karya realis abad ke-19, misalnya, tidak hanya mereproduksi kelas sosial, melainkan juga mengkritiknya, memperlihatkan kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat borjuis misalnya, maka genre tersebut menurut Lukacs lebih tepat disebut “Realisme Kritis”. (George Lukacs, 1963:96)

Inilah yang dilakukan oleh Semaoen, dia menjadikan karya sastra sebagai kritiknya atas situasi penjajahan. Semaoen tak peduli tentang standar karya sastra yang diterapkan oleh Balai Pustaka kala itu. Ketika Balai Pustaka menerbitkan tulisan-tulisan tentang kesehatan, keterampilan bertani, perjodohan, dan sebagainya, Semaoen justru menampilkan tulisan-tulisan pemberontakannya terhadap kolonialisme dan kapitalisme.

KESIMPULAN

Dari ketiga karya sastra yang ditampilkan oleh tiga tokoh di atas, kita mendapat sebuah gambaran bahwa karya sastra di era pergerakan tidak hanya merpresentasikan keadaan saat itu, tapi juga menjadi kritik terhadap kondisi saat itu. Tirto dengan tema-tema seputar nyai-nya ingin menggambarkan ketertindasan wanita pribumi, sekaligus mengkritik feodalisme dan kolonialisme. Marco dengan tema-tema seputar satria ingin mebggambarkan sekaligus mengkritik segala kemunafikan tokoh yang mengakunya satria sejati padahal justru menindas. Sementara Semaoen, dengan tema-tema marixisme-nya, ingin menggambarkan bahwa terjadi pemiskinan struktur, sekaligus mengkritik sistem yang memiskinkan rakyat tersebut: kolonialisme dan kapitalisme.

Dan mereka semua, kecuali Semaoen, boleh dikatakan tidak paham akan sastra realisme-sosialisme. Mereka hanya berpikir bagaimana melepas belenggu penjajahan dan kemiskinan. Semua dijadikan alat untuk melepas belenggu tersebut, termasuk melalui karya sastra. Dan ternyata apa yang mereka lakukan sejalan dengan paham realisme-sosialisme, yang kemudian dikenal luas dengan terminology “seni untuk rakyat”. Jejak realism-sosialis mulai terlihat di era pergerakan ini.

Kembali saya tekankan di sini, jangan buru-buru berdebat soal estetika dalam sebuah karya sastra. Jangan terburu-buru mengejudge “seni untuk rakyat” mengabaikan estetika, atau karya “seni untuk seni” itu berestetika. Lihat dulu siapa pembuat standar estetika tersebut dan apa kepentingannya. Jangan sampai kebeneran tertutupi oleh standar estetika. Jangan sampai kita menganggap tema tentang roman picisan lebih indah tentang kemiskinan. The essence of art…is the setting-itself-into-work of truth, kata Heidegger. (Heidegger, 1978:148)

 

Yogo Harsaid, 2016

Catatan: Makalah ini disampaikan dalam Seminar Nasional Memperingati Hari Kelahiran Karl Marx pada 10 Mei 2016.

 

Daftar Pustaka  

Ananta Toer, Pramodya. Sang Pemula. Jakarta: Hasta Mitra, 1985.

Heidegger, Martin. The Question Concerning Technology. London: Routledge, 1978)

Siraishi, Takashi. Zaman Bergerak. Jakarta: Grafiti, 2005

Ajie, Sophian. Untuk Apa Seni. Bandung: Matahari, 2014.

Lukacs, George. Critical Realism and Socialist Realism. London: The Merlin Press,        1963.

Freire, Paulo. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: LP3ES, 2005.

Farid, Hilmar. Kata pengantar buku Realisme-Sosialis George Lukacs karya Ibe Karyanto. Jakarta: Gramedia, 1997)

. Kolonialisme Budaya: Balai Pustaka di Hindia Belanda. Jurnal Prisma edisi       Oktober 1991.

. Marco Kartodikromo Jejak Radikalisme dalam Gerakan Nasionalis. Makalah       yang disampaikan dalam Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPBB)      Megawati Institute Angkatan II pada 1 Maret 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s