Oleh: Faisal Fathur

Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta

Surel: surel.faisalfathur@gmail.com

 

Abstrak: Memahami novel karangan J.D. Salinger melalui kaitannya dengan kenyataan sosial, The Catcher in the Rye mampu menunjukan beberapa gejala Marxisme meliputi: 1) tema utama dalam cerita, 2) penokohan tokoh utama, Holden Caulfield, 3) Amerika Serikat sebagai latar fungsionalis, dan 4) budaya reifikasi. Keempat hasil tersebut menjadi aspek penting untuk melihat novel tersebut sebagai cerminan dari kenyataan sosial.

 

Kata kunci: The Catcher in the Rye, J.D. Salinger, Marxisme, Realisme Sosialis

 

PENDAHULUAN

Sebagaimana dunia ketahui, Karl Marx membawa pengaruh yang sangat besar lewat upayanya dalam menentang kapitalisme. Sebagai mana kalimat pembukanya dalam Communist Manifesto, dikatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah pertentangan kelas. Secara historis, pertentangan Marx hadir seperti saat feodalisme menegasi perbudakan, kapitalisme menegasi feodal, dan, Marx, lewat segala pemikirannya bersama Friedrich Engels, menganggap kapitalisme akan runtuh untuk digantikan dengan komunisme. Sebuah paham yang diproyeksikan sebagai solusi terbaik bagi sistem kehidupan masyarakat dunia.

Pun di luar itu, tersebar anggapan bahwa komunisme adalah paham yang menyimpang. Mempelajari Marxisme, sebagaimana pondasi komunis, tak lain dikatakan sebagai upaya untuk melakukan pemberontakan. Ketakutan terhadap “hantu-hantu Marxis” itu membuat Marxisme sendiri kian tabu di lingkup masyarakat. Padahal, apa yang lebih menyeramkan dibanding membenci sesuatu tanpa mengetahui apa yang kita benci? Maka dari itu, mempelajari Marxisme adalah upaya memahami terlebih dahulu sebelum memvonis benci ataupun mengagumi.

Dalam tulisan ini, ada usaha untuk menelusuri jejak Marxisme dan kaitannya dengan kenyataan sosial. Usaha itu akan diurai dan disintesiskan pada sebuah novel fenomenal karangan Jerome David Salinger berjudul The Catcher in the Rye. Melalui objek tersebut, sekiranya akan dilihat berbagai pemikiran Marxis dan relevansinya dengan kenyataan sosial yang ada. Juga sekaligus mempertanyakan pemahaman-pemahaman mimesis bahwa apakah karya sastra benar merefleksikan sebuah kebenaran dalam kehidupan.

Terlebih ketertarikan pemilihan objek novel The Catcher in the Rye dilandasi sejarah ketakutan bangsa Amerika Serikat di tahun 1960-an yang menganggap bahwa karya J.D. Salinger tersebut merupakan corong dari paham komunis di Amerika Serikat. Pun melalui sisi sosiologisnya, The Catcher in the Rye mampu memengaruhi jiwa Mark David Chapman untuk menembak mati John Lennon di tahun 1980. Merujuk klaim sensasionalnya ketika ditangkap:

“Saya yakin, sebagian besar dalam diri saya adalah Holden Caufield (tokoh utama dalam novel The Catcher in the Rye) dan sebagian kecil dari saya adalah setan.”

Di luar termasuknya The Catcher in the Rye menjadi bagian dari 100 buku terbaik sepanjang masa versi Times, kita perlu mengetahui bahwa novel tersebut menjadi penting dalam lingkup pergaulan kesusastraan dunia. Beruntung dalam naungan Penerbit Banana, di tahun 2005 The Catcher in the Rye telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yang tentu, membuat khazanah kesusastraan kita semakin kaya. Terlebih itu semua membuat pembelajaran sastra menjadi titik tolak yang kian komprehensif.

Tentu pemahaman memahami Marxisme menjadi sebuah jalan kompleks di tengah ketabuan yang sedang melanda masyarakat. Kompleksitas dari setiap pemikiran menuntut kita untuk lebih peka dengan segala persoalan yang ada. Muaranya, bisa kita lihat dalam sebuah konstruksi kenyataan sosial, apakah sebuah karya benar-benar mencerminkan realitas, atau jangan-jangan, hanya menjadi pemuas nafsu di siang bolong.

 

TEORI

STRUKTURAL

            Melihat sebuah karya dari rancang bangun pembentuknya adalah ciri kuat dari pendekatan struktural. Sebagaimana menurut Nurgiyantoro (2013:57) bahwa struktural menunjuk pada pengertian adanya hubungan antarunsur (intrinsik) yang bersifat timbal-balik, saling menentukan, saling memengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh.

Dari sekian banyak unsur pembangun yang ada, dipilihlah tiga unsur paling dominan untuk mendukung pemahaman lebih mendalam yakni: tema, penokohan, dan latar. Ketiga unsur tersebut diupayakan akan menguatkan pemahaman mengenai kaitan sebuah karya dengan permasalahan dalam lingkup kenyataan sosialnya.

 

Tema

Menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2013: 114), tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Dalam kasus ini, akan coba kita pahami bahwa itu berasal dari suatu pemaknaan yang timbul dari masalah kehidupan nyata. Secara singkat tema bisa dianggap pula sebagai ide utama ataupun tujuan utama pada cerita.

 

Penokohan

Penokohan adalah penghadiran tokoh dalam cerita fiksi atau drama dengan cara langsung atau tidak langsung dan mengundang pembaca untuk menafsirkan kualitas dirinya lewat kata dan tindakannya (Baldic dalam Nurgiyantoro, 2013: 247). Melalui definisi tersebut tugas kita, sebagai pembaca, adalah melakukan tafsir akan berbagai hal yang dilakukan oleh sang tokoh.

 

Latar

Dalam hal ini, unsur latar akan difokuskan pada latar fungsional. Menurut Nurgiyantoro (2013:308), latar fungsional adalah unsur latar yang memiliki fungsi menonjol dalam kaitannya dengan cerita secara keseluruhan. Latar fungsional bahkan mampu memengaruhi dan bahkan ikut menentukan perkembangan plot dan pembentukan karakter tokoh.

 

MARXISME

Pemahaman Marxis tercetus di tahun 1848 ketika Communist Manifesto menjadi sebuah teks yang begitu berpengaruh. Beberapa tuntutan yang dikeluarkan Karl Marx dan Friedrich Engels itu menjadi pijakan revolusioner yang menggerakkan banyak pihak. Terlebih Das Capital seperti membuka kejahatan monopoli dan ekploitasi yang dilakukan oleh kapitalisme. Bagi Marx dan Engels, kapitalisme harus ditentang dan segera diganti dengan sistem sosialis. Sebuah tawaran untuk menghapus sistem kelas yang dirasa menyiksa. Tujuan utamanya adalah melakukan revolusi dan mengambil alih alat kerja dari para borjuis. Tentu itu cita-cita kaum Marxis yang menginginkan hilangnya hak pribadi lalu menjadikannya milik bersama. Di sini, ada 2 konteks besar yang mendukung pemahaman Marxisme Sastra pada The Catcher in the Rye, yaitu persoalan dialektika dan alienasi.

 

Dialektika

Diakui Karl Marx, dialektika merupakan bekal pemikiran dari G. W. F. Hegel mengenai proses bagaimana ide-ide atau penjelasan saling menentang satu sama lain, dan seterusnya, kemudian akan memunculkan teori lain yang lebih baik (Woodfin dan Zarate: 2008). Seperti bagaimana penjelasan mengenai benda jatuh bisa terus mengalami perkembangan teoretis yang semakin memuaskan. Contohnya dari teori tradisonal hambatan material, disangkal dengan teori gravitasi ala Newton, selanjutnya oleh relativitas Einstein, hingga kemungkinan baru nanti untuk merevisi teori Einstein tersebut.

Hanya saja, Marx mengambil titik tolak yang berbeda dengan Hegel. Jika Hegel memandang bahwa realitas terbentuk berkat ide-ide, maka Marx tidak demikian. Baginya realitas lahir dari cara pandang materialis manusia. Bermodal itu, perdebatan dan kontradiksi yang dipikirkan Marx selalu bersangkut-paut pada hal-hal material. Seperti menyangkut determinasinya dalam ekonomi.

Bersama Engels, Marx mengambil tiga hukum di mana dialektika dioperasikan. Pertama, mengenai perubahan dari kuantitas menuju kualitas, atau dalam bahasa kaum Marxis dikenal sebagai revolusi. Kedua, mengenai pertentangan. Bagi para Marxis, kelas borjuis adalah musuh bagi proletar. Walau keduanya tidak bisa eksis tanpa adanya satu sama lain. Ketiga, hukum negasi terhadap negasi. Itu seperti ketika feodal menegasi perbudakan dan kapitalisme menegasi feodal. Dalam setiap negasi, beberapa hal buruk ditinggalkan dan beberapa yang baik dilanjutkan. Tentu, apa yang dituju para Marxis adalah menegasi kapitalisme dengan sosialisme.

Melalui itu semua, kita bisa mengonstruksi landasan berpikir melalui dialektika yang sangat identik dengan Marx dan Engels, yakni mengenai dialektika materialis dan dialektika historis. Dialektika materialis muncul ketika infrastruktur, yakni alat kerja dan modal, harus bertentangan dengan suprastruktur (tatanan sosial), seperti agama, budaya, dan sebagainya. Sedangkan dialektika historis merupakan keberlangsungan dialektika materialis dalam konsep sejarah. Yakni keberlangsungan secara riil pertentangan pihak borjuis dan proletar.

 

Alienasi

Alienasi merupakan keterasingan yang, menurut para Marxis, paling parah menjangkit para kelas pekerja (proletar). Para pekerja secara tidak sadar telah terasing dari hakikatnya sebagai manusia secara utuh. Mereka dibuat terpisah dari bagian-bagian penting dalam kehidupan, mulai dari aktivitas, benda, hingga hubungannya dengan manusia itu sendiri.

Kapitalisme memisahkan kelas pekerja dari segala sesuatu yang dibuatnya. Secara sederhana, para pekerja tidak bisa memiliki barang-barang yang telah dibuatnya. Mereka dibuat terpisah. Di lain itu, barang-barang yang dihasilkan malah dijual demi memperoleh keuntungan para borjuis semata. Maka dari itu, sebetulnya perlu kesadaran dari kaum buruh akan alienasi mereka sendiri.

Dalam kasus The Catcher in the Rye, bentuk alienasi paling konkret adalah reifikasi. Reifikasi – yang sering dikutuk oleh banyak intelektual Marxis sebagai penyakit masyarakat di bawah kekuasaan kapitalisme – adalah sebuah kondisi dimana kualitas manusia, tindakan manusia, hubungan antar manusia dan bahkan manusia itu sendiri ditransformasikan menjadi benda atau komoditas ([Bottomore et al 463, Roberts 39, Walker and Grey 254-256] dalam Iko, 2011).

 

REALISME SOSIALIS

Secara langsung, karya sastra bersinggungan dengan dinamika masyarakat yang di dalamnya memuat ideologi tertentu. Keterlibatan sastra dalam ideologi realitas masyarakat mengakibatkan sastra mempunyai keberpihakan atau terlibat secara langsung dalam dinamika masyarakat. Dengan demikian, sastra menjadi corong kepentingan ideologi, mengggambarkan kondisi sosial masyarakat dan sebagai “media propaganda” perjuangan mewujudkan gagasan atau ide. (Emzir dan Saifur, 2015:107)

 

HASIL

  1. Tema dalam The Catcher in the Rye

Kepalsuan merupakan tema utama dalam pembentukan cerita The Catcher in the Rye. Bagaimana sejak halaman pertama Holden Caulfield sudah melabeli tipuan ala pesulap David Copperfield sebagai sampah. Pun pada bagian lain misal ketika Pak Spencer mengatakan bahwa orang tua Holden adalah orang besar (hlm. 13). Bagi Holden, itu kepalsuan dan pelipur lara belaka. Sejak pertama cerita disajikan kita, sebagai pembaca, sudah disuguhkan untuk peka terhadap kepalsuan. Dan memang, umpatan “palsu” ala Holden terus berlangsung secara konsisten sampai akhir. Kepalsuan-kepalsuan yang sangat identik dengan sifat dan cara pandang materialis manusia.

 

  1. Penokohan Holden Caulfield

J.D. Salinger dengan apiknya menggambarkan Holden Caulfield sebagai pemuda yang tidak menyukai sikap palsu dari orang-orang dewasa. Bagi Holden, semakin dewasa orang-orang terlihat semakin menjengkelkan. Dengan gaya khas anak muda yang sedang tumbuh dewasa, banyak narasi-narasi sang tokoh yang merepresentasikan kebiasaan seumurannya. Salah satu yang paling menonjol adalah berbagai umpatan yang ia keluarkan seperti: sialan, gila, dan sebagainya. Dengan modal penokohan seperti itu, Holden mulai mengeluhkan berbagai pandangan yang berkaitan dengan materil, kebendaan, dan uang.

 

  1. Amerika Serikat sebagai Latar Fungsional

Latar Amerika Serikat sudah terdeteksi sejak halaman pertama ketika Holden Caulfield menceritakan D.B. (kakaknya) yang berkarir di Hollywood. Penguatan yang lain adalah penyebutan Pennsylvania (hlm. 2) yang mana merupakan sekolah Pencey yang baru saja ditinggalkannya. Pun New York (hlm. 4) yang menjadi tempat bertanding hanggar. Semuanya mendefinisi The Catcher in the Rye coba mencerminkan kehidupan yang terjadi Amerika Serikat.

Namun, pada pembahasan ini, fungsi terpentingnya adalah mengetahui Amerika Serikat sebagai negara kapitalis. Dengan begitu, pemahaman akan kegelisahan dan kekesalan sang tokoh utama bisa dikaitkan dengan segala efek yang ditimbulkan oleh sistem kapitalis. Seperti cara pandang kebanyakan masyarakatnya yang bersifat kebendaan, hak-hak pribadi, hingga sistem liberalisasi yang ada.

 

  1. Budaya Reifikasi (Pasca Alienasi)

Menganut definisi bahwa reifikasi merupakan kemenangan benda dan komoditas terhadap manusia (Iko, 2011), maka pada The Catcher in the Rye muncul berbagai kebiasaan masyarakat Amerika Serikat yang berlaku demikian:

  • B. melacurkan diri dan menulis semata-mata demi uang (hlm. 2).
  • Label orang miskin karena tidak punya pembantu (hlm. 8).
  • Pak Spencer memamerkan selimut tuanya (hlm. 9).
  • Pak Haas memperlakukan seseorang menurut gaya berpakaiannya (hlm. 20).
  • Ossenburg dijadikan nama ruangan di Pencey sebab sering memberi uang (hlm. 24).
  • Bekerja sama dengan Maurice, Sunny melacurkan diri untuk mendapat uang. (hlm. 141).

Walaupun jika digali lebih mendalam, ada banyak reifikasi lain yang menjangkit berbagai tokoh yang ditemui oleh Holden Caulfield. Mulai dari lingkup teman sepermainan, orang yang dituakan, pejabat, lingkup dunia malam, dan sebagainya. Secara tidak langsung, Holden membenci sikap kebendaan seperti itu dan dengan gaya khas anak muda ia menentangnya. Holden menganggap bahwa reifikasi adalah sebuah kepalsuan yang entah mengapa gemar diumbar-umbar oleh orang yang mulai dewasa.

 

KESIMPULAN

Melalui penjabaran di atas, sedikit bisa diketahui berbagai aspek yang berkaitan erat antara paham Marxis dan novel karangan J.D. Salinger, The Catcher in the Rye. Cukup wajar jika peredaran novel tersebut sempat ditakuti bahkan dilarang di Amerika Serikat pada periode 60-an. Namun, apakah novel tersebut mampu menggerakkan jiwa seseorang masih perlu dibahas lebih mendalam lagi. Hanya saja, sekiranya pembahasan mengenai kaitan The Catcher in the Rye dengan kenyataan sosial, mampu menjadi angin segar bagi dunia akademis sastra di tengah ketabuan akan paham Marxis yang masih merajalela.

 

DAFTAR RUJUKAN

J.D. Salinger. 2015. The Catcher in the Rye. Depok: Penerbit Banana.

Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada      University Press.

Woodfin, Rupert, dan Oscar Zarate. 2008. Mengenal Marxisme. Yogyakarta:         Resist Book

Fromm, Erich. 2004. Marx’s Concept of Man atau Konsep Manusia Menurut Marx, terj.     Agung Prihantoro, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Emzir dan Saifur Rohman. 2015. Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta:      RajaGrafindo Persada.

Djoko Damono, Sapardi. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas.         Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Rasak, Iko. “Di Bawah Kekuasaan Benda-benda”. 27 April 2011. http://indoprogress.com/2011/05/di-bawah-kekuasaan-benda-benda.

Advertisements

3 thoughts on “Realisme Sosialis The Catcher In The Rye

  1. ya artinya dalam novel the carcher in the rye ini yang saya tangkap bisa mencerminkan keadaan masyarakat amerika kala itu yang suka mengeluarkan umpatan dan kata-kata kasar seperti sialan dan gila dan sebagainya.
    serta di sana yang mendewakan uang yang tercermin dari pepatahnya yaitu time is money atau waktu adalah uang

    Like

  2. Dalam pembahasan saudara, dituliskan mengenai sedikit alasan Anda mengangkat novel ini sebagai objek penulisan, akan tetapi tulisan ini diluar ekspektasi saya. Mulanya, saya pikir Anda akan membahas sedikit ataupun mencantukan kutipan-kutipan novel yang mempertegas argumen Anda. Sebagai contoh: Dalam tulisan ini, ada usaha untuk menelusuri jejak Marxisme dan kaitannya dengan kenyataan sosial. Usaha itu akan diurai dan disintesiskan pada sebuah novel fenomenal karangan Jerome David Salinger berjudul The Catcher in the Rye. Melalui objek tersebut, sekiranya akan dilihat berbagai pemikiran Marxis dan relevansinya dengan kenyataan sosial yang ada. Juga sekaligus mempertanyakan pemahaman-pemahaman mimesis bahwa apakah karya sastra benar merefleksikan sebuah kebenaran dalam kehidupan.

    Dalam kutipan yang saya ambil dari tulisan Anda tadi, anda paparkan bahwa jejak Marxisme dan kaitannya dengan kenyataan sosial diuraikan dalam novel The Catcher in the Rye., sementara Anda tidak menguraikan kondisi sosial seperti apa yang Anda angkat. KemudaianAnda pun menyebut perihal pemahaman mimesis yang justru menimbulkan sebuh pertanyaan baru.
    Diluar dari hal di atas, saya sepakat dengan beberapa penjabaran Anda.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s